
Wati masih berbincang-bincang dengan Ibu yang sudah menjaga Ila hari ini di rumah sakit, ia menanyakan bagaimana kondisi Ila agar ia dapat mengetahui apa yang harus ia lakukan sekarang.
Ibu tersebut menginstruksikan agar Wati segera mendatangi Dokter yang bernama Dokter Heru yang menangani Ila hari ini mendapatkan penjelasan yang lebih detail.
Ibu tersebut segera pamit undur diri untuk pulang ke rumah karena pihak keluarga Ila sudah datang di sini. Ia ke sini tadi sekedar untuk menemani Ila agar tidak merasa kesepian, sehingga ia sesekali mengajaknya mengobrol dan melupakan rasa sakit yang Ila derita.
Setelah kepergian Ibu tersebut, Wati segera mendatangi Dokter yang bernama Heru itu untuk meminta penjelasan serta langkah apa yang akan Rumah Sakit ini ambil untuk menangani putrinya Ila.
Awalnya Wati bertanya kepada bagian Resepsionis di manakah letak ruangan dokter Heru, tidak mudah bagi bagian Resepsionis untuk menunjukkan ruang pribadi Dokter mereka sehingga perlu ada alasan yang jelas untuk memberitahunya. Baru kemudian bagian Resepsionis memberitahukan kepada Wati setelah mendengar penjelasan yang Wati berikan kepada mereka. Setelahnya ia kemudian menuju ke ruangan yang ditunjukkan oleh bagian resepsionis tersebut.
Diketuknya pintu ruangan tersebut untuk mendapatkan izin masuk atau tidak. Setelah orang yang berada di dalam ruangan tersebut mengizinkan hati untuk masuk, Wati masuk kedalam ruangan dan dipersilahkan duduk oleh Dokter yang ber- name tag Heru Prasarana itu.
Tanpa basa-basi, Wati menanyakan perihal kondisi Ila yang baru saja ditangani oleh beliau.
"Begini Dok, saya adalah Ibu dari pasien bernama Ila yang mengalami kecelakaan tepatnya sore tadi"
Dokter Heru yang mengerti arah pembicaraan dari Wati, dengan segera menjelaskan apa langkah apa yang seharusnya ia ambil untuk menangani Ila.
"Begini Bu, karena di kaki anak Ibu ini terdapat besi berkarat, jadi kita harus melakukan tindakan operasi untuk menghindari terjadinya infeksi pada kaki anak Ibu. Tadi kami hanya bisa membersihkan luka luarnya saja, untuk besinya masih berada di dalam sana kita akan melakukan tindakan Rontgen terlebih terdahulu untuk mengetahui di mana letak pas posisi besi tersebut"
"Ibu mohon tanda tangan dan berkas yang dibutuhkan harap segera dikumpulkan di bagian Resepsionis agar kami dapat melakukan tindakan operasi secepatnya"
Wati membaca surat tersebut sebelum menandatangani nya. Wati mohon undur diri setelah menandatangani surat tersebut.
...----------------...
Didalam ruangan Ila, disana hanya ada Ila sendiri dan Adiknya Axel. Mereka ini terhitung jarang bercanda, karena Axel adalah orang yang cukup kaku dalam hal bercanda, mungkin ini adalah sifat bawaan lahirnya, sama halnya dengan Wati.
"Sakit nggak La?"
"Kakk!!"
Ila membenarkan urutan panggilan yang dilontarkan Axel kepadanya tadi.
Axel memutar bola matanya dalam menanggapi koreksi yang Ila berikan kepadanya.
"Iyaa,, sakit nggak Kak?"
__ADS_1
"Ya sakit lah goblok!!"
Tangan Ila melayang ke atas kepala Axel guna untuk menjitak kepala Axel karena terlampau bodoh. Namanya luka ya pasti sakit lah, ya kali luka rasanya nikmat.
"Anji..
"Ngmmmm..
Sekali lagi, kini Ila menepuk bibir Axel yang akan melontarkan kalimat kotor kepadanya. Meskipun Ila tahu bahwa kalimat tersebut keluar dengan tidak disengaja, namun jika membiarkan mulut tersebut melontarkan kalimat kotor setiap kali ia refleks, itu tidak baik bukan?
Pintu ruangan terbuka, tanda orang dari luar akan masuk. Ila dan Axel serentak menoleh ke arah pintu tersebut, melihat siapa yang datang mengunjungi mereka.
Wati, senyum Ila terbit dengan seketika setelah melihat Ibu yang ia dambakan masuk ke ruangan untuk menjenguknya.
Wati menghampiri kedua buah hatinya, ia berdiri tepat disamping Ila. Diusapnya ujung kepala Ila, rasa nyaman mendera hati Ila, begini'kah rasanya dibelai Ibu?
Ila mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Wati, senyuman manis terukir diwajahnya. Ila memeluk erat tubuh Wati, ini rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata. Hal yang selalu ia inginkan kini Wati mengabulkannya.
Axel melihat kedua wanitanya yang begitu saling menyayangi membuat hatinya tenang, sesuatu yang ia tak pernah lihat selama ini akhirnya terwujud.
Bukan tak merasa bahwa Wati selalu membedakan ia dan Ila, ia sering kali melihat mata Ila bahwa ia juga ingin berada diposisi nya. Disayang oleh Ibu adalah keinginan semua anak, dan Ila dulu tak pernah merasakannya, bukankah wajar jika ini adalah hari sial serta keberuntungan baginya.
Dibalik semua musibah yang Ia berikan, Tuhan telah memberikan hikmah dari semuanya.
"Habis ini kamu Rontgen dulu ya, biar bisa dengan cepat ditangani lukanya dan cepet sembuh"
Ujar Wati kepada Ila dengan nada suara yang lembut. Ucapan Wati dibalas dengan anggukan kepala oleh Ila. Ada sesuatu yang tak Ila ketahui, ia akan menanyakan kepada Axel agar ia bisa paham.
"Nanan...
"Hmm"
"Rontgen sakit nggak?"
"Ya nggak lah goblok!!!"
Jawab Axel dengan tangannya yang menepuk luka yang berada di lengan Ila tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Aduhhh...
Ila menjerit kesakitan, luka yang baru saja diobati oleh Dokter, kini ditepuk oleh Axel. Meskipun menurut Axel itu tidak keras, tapi bagaimana Axel adalah laki-laki yang mana pasti tenaga yang dikeluarkan cukup keras untuk wanita.
"Nanan!!! Euh!!!"
Dengan refleks Wati memukul kembali lengan Axel karena kaget melihat ia menepuk luka Ila.
"Au.. Ya abisnya dia goblok Bu, masa di Rontgen sakit"
"Ya kan Gw nggak tau!!"
"Husssstttt kalian ini! berantem terus, sekali-kali akut kenapa sih hah?"
Mendengar menuturan dari Wati, Ila berinisiatif untuk berdamai dengan Axel.
"Sini Lo! Minta maaf sama Gw"
"Idih, nggak sudi Gw minta maaf sama Lo!"
"Adnan Axel Buana!"
Ila menekan setiap kata yang Ia keluarkan saat memanggil nama panjang Axel. Jika sudah begini, Axel tidak mau memperpanjang masala pplh ini lagi.
"Iya-iya, mian"
"Apa? Apa Lo bilang? Mian? Hahahahaha"
"Sejak kapan Lo jadi suka Korea? Hahaha"
Jangan disangka, wajah tampan itu sudah berubah menjadi masam sedari tadi, mulai dari Ila yang menyuruhnya untuk meminta maaf, dan kini saat ia keceplosan menggunakan bahasa korea, yang mana dulu Axel ini sering mengolok-olok orang yang menyukai hal yang berbau Korea.
Ia dulu sering menghina beberapa artis Korea bahwa mereka adalah plastik, hanya karena mereka tidak memiliki kumis serta jenggot, ditambah lagi wajahnya yang mulus bak tak memiliki pori-pori sangat tidak masuk akal di otaknya.
Namun, akhir-akhir ini ia keracunan oleh artis K-Pop yang menyanyikan lagu 'Bad Roman' dengan menggunakan deep voice nya. Lagu ini memiliki candu yang tak bisa dielakkan.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih :)