Arus

Arus
Salah Taxi


__ADS_3

Wati membantu Ila berjalan, Ila masih belum bisa berjalan seperti biasa, ia masih perlu menginjakkan kakinya secara perlahan agar tidak terasa nyeri pada bagian kaki yang dijahit.


Wati tidak perlu mengurus lagi atas prosedur rawat jalan yang akan Ila lakukan, sebab saat ia keluar tadi, ia sudah menyelesaikan semuanya dengan cepat.


Dengan telaten Wati memapah nya hingga menuju ke mobil Taxi yang tadi sudah dipesankan oleh Cinta. Tanpa waktu lebih lama lagi, Wati dan Ila sudah masuk kedalam mobil yang telah terparkir tepat didepan Lobby Rumah Sakit. Sebab kata Cinta tadi mobil telah berada diluar dan menunggu kedatangan keduanya.


"Siap Bu? Kita jalan ya" Ucap supir Taxi online tersebut, dengan perlahan mobil yang mereka tumpangi telah meninggal area Rumah Sakit.


Didalam mobil, Wati dan Ila sibuk memakan makanan yang dibeli oleh Wati sebelumnya. Bukan nasi, melainkan beberapa macam roti dan juga gorengan untuk mengganjal perut yang lapar.


Wati berpikir jika ia membeli nasi, maka itu tidak akan sempat mereka makan, karena nasi bungkus dan cara makannya lebih ribet saat dimakan didalam mobil. Kenapa tidak dimakan didalam ruangan Ila tadi saat masih dirumah sakit? Jawabannya adalah waktu mereka sudah mepet, apabila mereka disana lebih lama lagi, maka biaya yang harus dikeluarkan juga lebih banyak lagi.


Memang benar, jika Ila mendapatkan perawatan tersebut dengan gratis, karena bantuan dari pemerintah. Namun tetap saja, ia harus segera dikeluarkan dari sana, sebab waktu yang disepakati oleh Wati dan pihak Rumah Sakit adalah sampai pukul 07:00 WIB. Dan ruangan tersebut harus dikosongkan dalam waktu yang sudah ditetapkan, sehingga Wati harus segera membawa Ila pulang setelah itu.


Mereka asik menghabiskan makanan mereka, tanpa memperhatikan jalan yang mereka lalui. Hingga suatu ketika, Wati mendongakkan kepalanya kearah jendela mobil, dan ia menyadari sesuatu. Ini bukan jalan untuk menuju ke rumah mereka. Bahkan Wati saja tidak mengenali tempat yang mereka lalui saat ini.


Merasa suasana sedikit tegang akibat gerakan gerakan gusar dari Wati, Ila pun ikut mendongakkan kepalanya. Ah, sepertinya ini ada yang tidak beres. Ila memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak supir.


"Pak, ini sepertinya bukan jalan menuju ke rumah kami deh" Tanya Ila dengan hati-hati.


"Benar kok Bu, ini jalan yang sesuai dengan yang ada diaplikasi" Supir tersebut membelokkan mobilnya saat sampai dengan tempat yang mereka tuju.


"Tapi ini, ini bukan rumah kami Pak" Pak supir segera memberikan Handphone nya kepada Ila untuk menunjukkan bahwa ia benar dalam mengambil jalan. Benar, dilayar handphone tersebut menyatakan tempat tujuan mereka adalah disini. Tapi ini bukan rumah mereka, bahkan nama jalannya saja sudah berbeda.


"Loh Pak, kok Jalan Kertajaya? Rumah saya kan di Jalan Kita Berdua"

__ADS_1


Ketiganya saling menatap dan agak sedikit melotot, seakan mereka tahu isi hati dari masing-masing. Apakah yang mereka semua pikirkan benar, bahwa Wati dan Ila salah menaiki mobil, dan Supir tersebut salah menjemput customer nya?


"Dengan Ibu Meliana bukan?" Supir tersebut ingin memastikan bahwa ia tidak salah. Namun, fakta berkata lain


"Saya Wati Pak"


Wajah kaget dari ketiganya semakin terlihat, sudah jalan sejauh ini tapi mereka baru menyadari bahwa mereka sama-sama salah.


"Ya sudah, puter balik saja Pak, nanti saya bayar kok" Wati mencoba menengahi suasana yang canggung dan absurd ini.


Cungkling


Suara pesan masuk dari dalam ponsel Pak Supir. Ila segera mengembalikan ponsel yang ia genggam tadi kepada pemiliknya.


Bapak dimana sih?


Saya sudah menunggu sejak tadi


Ini malah tertera bahwa Bapak sudah dalam perjalanan mengantar saya


Bapak mau makan gaji buta atau mau menghabiskan BBM Bapak saja?


Saya cancel saja, driver nggak bertanggungjawab!!


Setelah membaca rentetan pesan dari customer, Supir yang ber-name tag Sutiyo tersebut segera mengelus dadanya untuk lebih tenang dan sabar atas kelalaiannya hari ini.

__ADS_1


Salah mengambil penumpang, lagi sepi juga dan ditambah lagi harga BBM yang naik. Sempurna sekali cobaan Pak Sutiyo tersebut. Namun bersyukur nya, penumpang kali ini sangat baik hati. Wati meminta untuk putar balik saja menuju kerumah mereka. Untuk biayanya, ia akan mengganti semuanya. Meskipun mereka salah, mereka juga harus bertanggungjawab dan jangan merugikan orang lain.


Seperti hadist yang pernah Wati baca, kurang lebih artinya seperti ini :


“Ya Allah, barangsiapa yang diberi tanggung jawab untuk menangani urusan umatku, lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah hidupnya. Dan barangsiapa yang diberi tanggung jawab untuk mengurusi umatku, lalu ia memudahkan urusan mereka, maka mudahkanlah hidupnya.” (HR Muslim).


Dengan mengingat hadist tersebut, dapat menimbulkan rasa ikhlas dan sabar dalam hati Wati. Tuhan memberikan semua ujiannya untuk menaikkan derajatnya, bukan semata-mata karena iri kepada. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha Adil kepada umatnya.


Dengan ikhlas dan tawakal, Wati berdoa akan kesehatan untuk diri sendiri dan juga anak-anaknya, meridhoi jalan yang ia ambil, serta memberikan rezeki yang bisa ia manfaatkan untuk dunia dan akhiratnya.


Sesampainya di pelataran rumah mereka, Wati turun dari mobil lebih dulu untuk membuka pintu yang dikunci oleh Axel saat akan berangkat sekolah tadi.


Dibelakangnya, ada Ila yang tengah berjalan dibantu dengan Pak Sutiyo selaku Supir Taxi yang mereka tumpangi tadi. Wati memberikan 1 lembar uang berwarna merah kepada Pak Sutiyo. Dengan rasa syukur yang berlimpah, Pak Sutiyo mengucapkan banyak terimakasih kepada Wati.


"Makasih banyak Bu, semoga keluarga Ibu sehat selalu dan lebih dilimpahkan rezekinya oleh Allah, Saya pamit dulu Bu, makasih banyak atas rezekinya"


"Aamiin, sama-sama Pak"


Benar kata pepatah, jika kita berbuat baik kepada orang, maka orang tersebut akan kembali memberikan kita doa terbaiknya pula. Dan semakin banyak orang yang berdoa dan mengaminkan, maka doa tersebut akan segera diijabah oleh Allah.


Wati berbalik badan untuk masuk kedalam rumah, disana ia dapat melihat Ila yang tengah berusaha untuk berjalan sendiri menuju kedalam kamarnya dengan bertumpu pada tembok yang membatasi ruang tamu dengan ruangan yang lain.


Wati hanya melihat dengan tersenyum, benar kata Ibu yang mengantarkan Ila ke Rumah Sakit itu, bahwa Ila ini sangat tegar dan dengan ia yang tidak ingin merepotkan orang lain, ia selalu berusaha sendiri jika ia masih bisa mengatasinya sendiri, namun bila ia memang tidak dapat melakukannya, baru ia akan meminta tolong kepada orang lain.


(Nb. Tolong koreksi bila ada kesalahan dalam hadist diatas)

__ADS_1


__ADS_2