
Sebuah wajah yang membuatnya lengah dan mengalihkan sebentar dunianya itu yang berlangsung lama. Ila tersadar bahwa pemilik wajah didepannya ini tak lain tak bukan adalah sosok manusia yang hampir saja bunuh diri dari rooftop rumah sakit dulu tempat Almarhum Bambang dirawat.
Dan dia pula yang berinisiatif untuk membantu kesembuhan Ayahnya dengan mendonorkan darah. Namun, belum saja niat baik itu ia laksanakan, Tuhan malah lebih dulu menjemputnya.
Ila sebenarnya bingung terhadap sosok didepannya ini, kata apa yang pantas ia ucapkan kepada-nya. Ia sungguh berhati baik karena ingin menolong Ayahnya, namun Allah tidak mengizinkan hal tersebut ia lakukan.
Ingin mengucapkan terima kasih, namun ia tak melakukan apapun. Ingin mengucapkan maaf, ia juga tak melakukan kesalahan apapun kepada pria tersebut. Dengan melihat pria ini, membuat Ila langsung teringat akan sosok Ayahnya yang ternyata lebih disayang oleh Tuhan mereka.
Hingga tak terasa air matanya menetes kala mengingat kejadian terakhir kalinya ia berada di rumah sakit yang sama. Sebuah kenangan pilu terus berputar di kepalanya. Ia telah merelakan, namun tuk mengiklas kan berat sekali bagi Ila. Terlebih Ayahnya adalah satu-satunya orang yang peduli kepada-nya. Dan Tuhan malah mengangkatnya untuk berada disisinya. Lantas tempat seperti apalagi yang bisa Ila jadikan rumah?
Pundaknya ia paksa seperti baja, egonya ia kubur sedalam-dalamnya, tenaganya ia paksa lebih dari kekuatannya. Hidup benar-benar tidak adil untuk Ila. Ia selalu bertanya kepada Tuhan, kenapa ia ditakdirkan untuk menjadi Kakak dan juga anak yang seperti tidak diinginkan oleh keluarganya.
Tidur pria tersebut sedikit terganggu karena adanya tetesan air yang berjatuhan dipunggung tangannya, ia mulai mengerjapkan matanya agar terbuka secara sempurna untuk memastikan apa yang ia lihat adalah nyata. Ya, melihat Ila saat ia terbangun adalah sebuah mimpi baginya.
Pria tersebut mulai mengucek matanya hingga membuat masker yang tadinya menutupi separuh wajahnya kini menjadi terlepas secara sempurna. Merasakan adanya pergerakan dari tangannya, membuat Ila sontak menatap kearah tersebut. Ila segera menghapus jejak air matanya dan berpura-pura untuk kaget setelah melihat wajah pria tersebut.
"Lo?.."
Pria tersebut sontak kaget mendengar penuturan Ila, ia kemudian meraba bagian bibirnya dan ternyata maskernya terlepas, dan ia baru saja menyadarinya. Dan semuanya terlambat, Ila sudah mengetahui bahwa ini adalah dirinya.
__ADS_1
Ila menarik paksa tangan yang sedari tadi digenggam oleh pria yang tak lain adalah Fedri. Fedri yang mendapatkan perlakuan seperti itu lantas menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Siapa nama Lo?" Pertanyaan Ila membuat mata Fedri membola secara sempurna. Apa? Ada seseorang yang melupakannya? Dari sekian banyaknya wanita yang pernah bertemu dengan Fedri, mereka semua mengenalinya. Namun ini? Fedri sudah habis pikir memikirkan itu semua
"Fedri" Jawabnya singkat.
"Ohh.. Jadi dari tadi Lo mau modusin Gw? Hah? Mana pake pegang-pegang tangan Gw lagi. DASAR FERDI KADALLLLL!!!"
"FEDRI... F. E. D. R. I" Fedri menekan setiap kata bahkan huruf yang ia ucapkan agar Ila tak lagi salah dalam memanggil namanya.
"Aish nama Lo susah banget sih, yang lebih gampang nggak ada kah?"
"Apa?" Tanya Ila dengan wajah polos.
"Sayang" Fedri semakin menarik garis bibirnya setelah mengeluarkan kata tersebut.
"Sayang?" Ulang Ila.
"Iya sayang, ada apa?" Jawab Fedri yang sudah merubah posisi tidurnya yang kini menjadi tengkurap dengan kedua tangan menopang dagunya.
__ADS_1
Ila yang melihatnya menjadi merinding, bahkan di pipinya berasa ada getaran sangking merindingnya dia. Fedri melihat gerak gerik Ila yang seperti ulat kepanasan, sebab diruangan yang sudah difasilitasi AC ini masih bisa membuat wajah Ila berubah menjadi memerah, keringat juga muncul diarea dahi serta dagunya. Fedri dibuat khawatir oleh kondisi Ila saat ini, hingga tanpa sadar ia meletakkan punggung tangannya diatas dahi Ila untuk memeriksa suhu tubuh wanita itu.
Ila tersadar dan refleks menjauhkan tubuhnya dari Fedri. Degup jantungnya sudah tak beraturan sekarang, hawa panas semakin ia rasakan disini. "Gw nggak papa, dan juga treatment meni pedi Lo udah selesai jadi Lo udah boleh pergi dari sini"
Ila mengusir Fedri secara terang-terangan, namun apalah daya manusia ini bukanlah orang yang peka, sehingga bukannya pergi namun malahan semakin mendekatkan dirinya kearah Ila yang sudah memunggunginya.
Fedri membalikkan badan Ila untuk melihat kembali wajah wanita ini. Rona merah di pipinya masih belum berkurang dan itu membuat Fedri kasihan terhadapnya.
"Udah sana njir, jangan deket-deket Gw!"
"Oke, tapi kenapa muka Lo merah gitu?"
Pertanyaan dari Fedri sungguh membuat Ila naik darah. Bukan karena apa, tapi hanya dengan melihat kehadirannya saja sudah dapat membuat Ila kesal, dan juga ditambah beberapa pertanyaan yang ia lontarkan adalah sebuah pertanyaan konyol bagi Ila.
"Ini semua gara-gara Lo!!"
"Kenapa Gw? Lo treatment in Gw terus jadi cape?" Tanya Fedri dengan polos.
"Gara-gara muka Lo njir!!! Lo kalo senyum kek orang mesum makanya Gw takut!!" Ila terus berteriak setiap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Fedri lontarkan. Untungnya ruangan ini adalah ruangan yang kedap suara, jadi tidak ada yang bisa mendengarkan mereka. Sebab Sista sendiri sedang mengurus satu masalah dilantai bawah.
__ADS_1
Fedri meraba setiap bagian wajahnya didepan cermin, ia tak merasakan apapun yang berbeda dari wajahnya, namun kenapa bisa membuat Ila takut saat melihatnya? Pertanyaan itu terus berputar dikepala Fedri. Sayangnya tak satupun pertanyaannya itu dapat dijawab.