
Siang ini, Ila dipanggil untuk menemui Recka di ruangannya setelah ia menyelesaikan tugasnya. Hal itu diberitahukan oleh Sista tadi saat tak sengaja bertemu di lobby salon.
Siang ini, tepatnya saat jam makan siang berlangsung, Ila pergi menemui Recka, dari luar ruangan sudah dapat ia dengar ada suara keributan kecil didalam. Namun Ila memilih untuk menunggu sebentar diluar agar tamu Recka bisa leluasa mengobrol dengannya tanpa gangguan dari Ila.
"Mama, pokoknya besok harus rekrut dia jadi pegawai tetap! Dan juga upah magangnya harus disamakan dengan gaji pokok, karena dia sudah berkerja keras walaupun dimasa magangnya"
Ila dapat mendengar suara bariton itu dengan sangat jelas, dikarenakan pintu ruangan tersebut sedikit terbuka sehingga memberikan celah untuk orang lain diluar ruangan tersebut dapat mendengar obrolan mereka.
Suara pria tersebut seperti tak asing bagi telinga Ila, ini seperti suara pria yang selama 3 minggu terakhir ini selalu mengganggu. Namun, mengapa ia masuk kedalam ruangan atasannya tersebut, bahkan ia memanggilnya dengan sebutan Mama?
"Iya, sudah yuk kita cari makan siang dulu" Recka keluar dari ruangannya dengan pria tersebut berjalan tepat dibelakangnya.
Saat keduanya sampai di depan pintu, keduanya dikejutkan oleh kehadiran Ila, terutama pria tersebut. Ia selama ini menyembunyikan identitas dirinya dari Ila, namun hari ini ia malah ketahuan.
"Selamat siang Ibu" Sapa Ila dengan sedikit membungkukkan badannya. Ila pura-pura tidak mengenal pria tersebut yang tak lain adalah Fedri.
__ADS_1
"Eh, halo selamat siang Bapak" Sapa Ila dengan pose yang sama seperti tadi. Fedri tampak sedikit canggung dan salah tingkah karena kehadiran Ila yang tiba-tiba ini.
Recka yang merasakan hawa kecanggungan ini, berusaha untuk memecahkan suasana tersebut. "Kamu sudah makan belum? Mau makan siang bersama kita?"
"Tidak perlu Ibu, saya sudah membawa bekal dari rumah tadi. Kalau begitu saya pamit dulu"
"Eh sebentar, kenapa buru-buru, kamu kesini tadi mau apa?" Cegah Recka saat Ila sudah mulai membalikkan badannya.
"Dia buru-buru karena malu sama Fedri Ma" Ucap Fedri dengan kepercayaan diri yang ia paksakan.
Merasa diacuhkan oleh Ila, Fedri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kedua wanita tersebut yang masih berdiri didepan pintu itu. Ia berjalan menuju kearah lobby dan keluar mencari restoran terdekat.
Fedri mengerutuki kebodohannya, mengapa ia datang kesini tanpa menggunakan atribut yang biasa ia pakai saat berkunjung. Ia malah menggunakan pakaian biasa tanpa topi dan juga masker
Ia begitu takut saat ini, bagaimana nanti kalau Ila malah menjadi semakin menjauhi dirinya, terlebih ia khawatir kalau Ila mendengarkan pembicaraannya dengan sang Mama tadi.
__ADS_1
Bisa jadi Ila malah semakin membencinya dan lebih menjauh, bahkan kemungkinan bisa saja Ila tidak ingin mengenalnya lagi. Sebuah kemungkinan-kemungkinan itu terus berputar dipikiran Fedri.
Hingga saat Mamanya sudah duduk tepat didepannya baru ia mendongakkan kepalanya dan menatap manik mata sang Mama. "Ma, kenapa Mama nggak bilang sama aku kalau Mama tadi manggil Ila buat kesana?"
Melihat raut wajah khawatir menghiasi wajah tampan putranya, membuat Recka sedikit tersenyum tanpa memedulikan keresahan hati sang putra. "Memangnya kalau tahu juga kenapa?"
Recka memang senang sekali memancing sang putranya agar stress dan berakhir bercerita kepadanya. Dan benar, setiap kali Fedri merasakan kekhawatiran sang putra, ia pasti akan bertanya seperti itu kepadanya. Bukan niat hati jahat ataupun lainnya, namun Recka selalu ingin merasa dekat dengan kedua anaknya meskipun waktu yang ia habiskan bersama sangatlah kurang.
"Ya Mama kan tahu, kalau Fedri nggak mau Ila tahu kalau Fedri ini yang menyebabkan dia masuk ke salon Mama dengan mudah. Ila itu nggak mau merepotkan orang lain ma, kalau dia tahu karena Fedri, Fedri takut kalau dia sampai resign dari sini"
"Mama lupa, dan semuanya juga sudah terjadi, terus mama harus bagaimana? Dan juga kamu mau apa?" Tanya Recka yang kembali berhasil membuat Fedri berpikir dengan keras.
Otaknya terlalu sibuk memikirkan beberapa kemungkinan yang mungkin tidak akan terjadi. Sehingga membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih dan menyerahkan semuanya kepada sang Mama.
Recka juga sama tak bisa berpikir tentang hal ini, ia tak biasa memikirkan hal-hal yang berbau seperti ini, sebab dulu dirinya seringkali dikejar, bukan mengejar cinta seperti putranya kini.
__ADS_1
"Mama juga nggak tahu, nanti kamu pikirkan lagi. Sekarang kita makan dulu" Makanan itu sudah tersaji sejak 5 menit yang lalu, tepatnya saat Recka memasuki restoran ini.