
"Anjirrrrrrrrrrrr,, sepatu baru Gw...
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut sekali?"
Ucap salah satu guru yang suaranya berasal dari mikrofon ruang BK. Salah satu guru lainnya berjalan menuju kearah Cinta and the geng.
"Cinta, kenapa wajah kamu hitam semua, dan juga itu kenapa baju rok kaos kaki kotor sekali, apa yang telah terjadi pada kamu? Oh iya sepatu kamu kemana? Kamu sekolah tanpa menggunakan sepatu? Hebat, berani sekali kamu ya"
Cinta sedang frustasi dan kesal, ia kesal karena didorong oleh teman-temannya, serta frustasi karena sepatu yang baru saja ia beli kemarin sudah tidak ada batangnya. Dan belum selesai sampai di situ, kini ia harus mendengarkan cerocosan guru BK yang tidak tahu tentang apa yang terjadi disini.
Sepatu tersebut tidak dapat diambil karena resikonya dapat membuat tangan orang yang mengambil tidak dapat dikeluarkan lagi.
Nasib buruk menimpanya bertubi-tubi untuk pagi ini, mungkinkah karena ini karma karena sering menyontek Entahlah, daripada memikirkan karma, lebih baik ia meratapi nasib sepatu yang ia beli dengan uang tabungannya selama 2 minggu.
"Buk, sepatu saya kecemplung disana, tolong ambilkan Bu"
"Lambemu, kalau saya ambilkan sepatu kamu, yang ada malah tangan saya yang terjebak di adonan semen itu lagi"
"Tapi Bu, itu sepatu yang baru saja saya beli kemarin dengan uang tabungan saya Bu"
"Tidak ada ya Cinta, saya tidak bisa membantu kamu kali ini. Sudah relakan saja, besok nabung lagi yah"
Dalam hati, Cinta mengumpati guru muda cantik tersebut, Nabung lagi lambemu no, masane gampang.. Hiiiihhh...
(Mulut mu, gampang sekali ngomongnya)
"Sudah, selesaikan sisa hukuman, kalian setelah itu kalian boleh istirahat"
"Bu, saya nggak bisa jalan Bu, kaki saya kaku ini gimana?"
Semuanya panik melihat kondisi Cinta, mereka melupakan kaki Cinta yang belum sempat dibilas dengan air hingga akhirnya mengering seperti ini.
Aertha dan Rico memapah Cinta menuju ke arah kran air terdekat. Aertha segera menyalakan kran tersebut agar dapat segera mengguyur kaki Cinta, dengan begitu sisa semen tersebut dalam sedikit melunak dan kaki Cinta bisa segera bebas bergerak.
Sorrrrr...
Air dari kran tersebut bukannya mengguyur kaki Cinta, justru malah mengguyur wajah Cinta. Wajah yang awalnya penuh dengan keringat sekarang berubah menjadi penuh air dengan ditambah lagi sunscreen nya mulai luntur akibat guyuran air kran tadi.
__ADS_1
"Anjim wajah Gw anjir"
Rico refleks langsung mengelap wajah Cinta dengan tangan kosongnya. Sesaat kemudian Rico dan Aertha tertawa terbahak-bahak setelah melihat wajah Cinta yang dipenuhi dengan lunturan sunscreen.
"Anjir muka Lo putih semua haha"
"Hah? Kenapa emang?"
"Sunscreen Lo luntur njir, udah kayak muka ondel-ondel aja Lo putih banget haha"
Cinta melotot kaget, ia segera membasuh wajahnya dengan air yang masih terus mengalir tadi. Ia dengan sekuat tenaga mengusap wajah untuk menghilangkan bekas sunscreen tersebut tanpa peralatan apapun.
Aertha melihat Cinta yang kesusahan dalam usaha membersihkan wajahnya tanpa melihat kaca, atas inisiatif diri sendiri, Aertha membantu Cinta mengelap sebagian wajah yang masih terdapat sisa sunscreen.
Cinta hanya dapat melongo melihat inisiatif Aertha kepadanya. Apakah ini Aertha teman satu kelasnya? Apakah ini Aertha yang terkenal dengan sifat dinginnya itu?
"Lo sekolah pake lipstik?"
Suara berat Aertha membuyarkan lamunan Cinta, Cinta dengan refleks mengedipkan kedua matanya dan mengangguk.
"Eh bukan, ini bukan lipstik tapi liptint"
"Gimana ya ngejelasinnya, ntar deh Gw kasih tau sekaligus Gw kasih buat Lo "
Aertha kembali membersihkan wajah Cinta, kali ini ia membersihkan bagian dagu dan juga bibir Cinta akibat liptint kebanggaan nya itu luntur.
Suara Rico menghancurkan momen romantis yang sedang terjadi pada Cinta dan Aertha.
"Njir.. Lipstik Lo merah banget Cin, udah kayak Tante-tante aja"
"Bacit Lo"
Tangan Cinta sudah berada di bibir Rico untuk meremas bibir lemes tersebut.
Rico ini selalu saja mengganggu dirinya, bukan hanya melalui mulut lemes milik pria tersebut, namun juga melalui tingkat tengilnya yang selalu membawa nama Cinta saat membuat rusuh. Alhasil, Cinta yang sedang tidur di kelas pun tak jarang tiba-tiba dipanggil keruang BK karena manusia kunyuk tersebut.
"Laki kan mas?"
__ADS_1
"Ya laki lah anjer"
"Nah, laki tuh mulutnya nggak seribu mas, laki tuh diem. Inget Adamm dibelakang ada huruf M nya yang berarti mingkem, oke? sampai sini paham kan?"
Rico memutar bola matanya jengkel dengan ceramah tiba-tiba yang diberikan oleh Cinta. Masalahnya bukan karena ia tidak mau mendengarkan ceramah, namun itu bukan lagi ceramah bagi Rico, melainkan kata-kata terakhir yang Cinta keluarkan saat ia sudah sangat tidak mood kepadanya.
Bila dihitung, kemungkinan Cinta sudah mengucapkan kalimat tersebut sebanyak 1356 kali, karena itu Rico sangat hafal.
"Aduh..
"Anjir Lo kalo mau gosok bilang dulu dong biar Gw nggak kaget"
Cinta sedang mengomeli Aertha yang tiba-tiba menggosok kaki bekas semennya. Cinta secara tidak sengaja menepuk pelan pincuk kepala Aertha. Bukan karena sakit, tapi ia kaget karena ada yang menyentuh kakinya secara tiba-tiba.
Setelah semuanya bersih, Rico berlari menuju ke lokernya mengambil jaket dan diberikan kepada Cinta untuk menutupi bajunya yang basah kuyup.
Walaupun jaket tersebut kebesaran, Cinta tetap memakainya sepanjang jalan. Cinta berjalan menuju ke ruang Tata Usaha untuk membeli satu set baju seragam putih abu-abu.
Ia kembali berjalan menuju ke toilet untuk mengganti seragamnya yang basah, ia mengenakan seragam barunya yang masih kebesaran itu. Untuk seragam yang basah, ia masukkan kedalam plastik bekas seragam barunya tadi.
Cinta menghabiskan cukup banyak waktu untuk membersihkan diri tadi, hingga tak terasa jam waktu istirahat sudah berjalan 5 menit.
Cinta menyusul sahabatnya ke kantin, ia dengan buru-buru membeli es untuk menghilangkan dahaga. Keadaan kantin saat ini sangat ramai, hingga akan memerlukan cukup waktu yang lama untuk mengantri. Dengan tidak sabar ia meracik es nya sendiri agar lebih cepat selesai.
Cinta berjalan menuju meja sahabatnya dengan menenteng es coklat yang berada didalam gelas. Ia melihat Ila begitu fokus terhadap ponselnya, sampai-sampai Ila tak menyadari kedatangan Cinta.
"Fokus amat ngeliatin hp nya neng"
Cinta sesekali melirik ke arah ponsel Ila untuk melihat apa yang sedang ditonton olehnya. Sayang sekali, Ila menggunakan Tempered Glass yang privasi, jadi Cinta sama sekali tidak dapat melihat layar ponselnya dari arah samping.
Cinta menepuk pundak Ila agar Ila dapat fokus melihat dan mengobrol dengannya.
"Eh anjirrrrrrrrrrrr Cinta....
"Lo viral njir...
Bersambung...
__ADS_1
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih :)