
"Emang kenapa Mah? Kenapa kalian mau manggil Dukun kesini?" Dengan polosnya Rebecca bertanya.
"Itu karena Kakak kamu tiba-tiba menjadi aneh sayang, makanya kita mau manggil Dukun untuk bertanya kenapa Kakak bisa seperti ini" Jelas Recka dengan lembut kepada sang putri bungsunya.
"Ooo, Mama sama Papa mau manggil Mbah Dukun buat ngusir setan tapi Mbak Asih malah manggil Dukun buat lahiran" Kedua orang tua itu hanay menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sang putri.
"Huuhhhh dasar Mbak Asih!!" Teriakan dari Rebecca mengganggu indera pendengaran Fedri, Ia menoleh kearah sang Adik dengan tatapan tajam nan menusuk.
"Ngapain teriak-teriak, disini nggak ada yang budek!!" Sini Fedri, namun masih berani dibalas oleh Rebecca.
"Ini semua tuh gara-gara Abang!! Abang ngapain senyum-senyum kayak orang gila dari tadi, bahkan sampai bikin Mama sama Papa pada ketakutan karena ngira Abang lagi kesambet nenek gayung!"
Mengingat dirinya yang sedari tadi menampakkan senyum, membuat Fedri kembali tersenyum dan hanya membalas kalimat panjang yang Rebecca ucapan dengan "Oh".
Rebecca memukul keras lengan Kakaknya itu karena kesal, kalimat panjang yang ia keluarkan tidak mendapatkan feedback yang baik oleh Fedri.
Tak menghiraukan apa yang dilakukan oleh Rebecca, kini Fedri malah mulai membuka mulutnya untuk mengobrol dengan sang Mama.
__ADS_1
"Mah, temen Abang ngelamar pekerjaan di Salon Mama, Abang yang nerima dia tadi"
"Kok Abang nggak bilang sama Mama dulu, lagian temen Abang kan kebanyakan pada nakal, nanti nasib Salon Mama gimana kalo temen Abang yang kerja?"
"Enggak Ma, Abang jamin, dia itu baik, pekerjaan keras juga, dan sekarang lagi butuh pekerjaan. Dan juga dia cewek kok bukan cowok yang biasa Abang ajak kesini"
Ketiga orang yang berada dimeja makan sontak menatap Fedri dengan senyuman menggoda, Fedri yang merasa diperhatikan menjadi kikuk dan sedikit salah tingkah.
"Kalian kenapa ngeliatin Abang gitu?"
"Nggak papa, jadi temen yang Abang maksud itu cewek toh. Terus yang bikin Abang senyum dari tadi juga cewek yang ini?" Ucap Recka yang dengan gencarnya menggoda sang putra, selama ini Fedri tak pernah mengenalkan temannya kepada kedua orang tuanya, bahkan meskipun itu cowok.
Untuk menghindari beberapa pertanyaan serta godaan dari keluarga, Fedri memutuskan untuk kembali ke kamarnya, namun sebelumnya ia meninggalkan pesan untuk sang Mama. "Oh ya Ma, jangan sampai ngakuin aku sebagai anak Mama sama dia ya"
Sesaat kemudian Fedri telah menghilang dibalik pintu yang sudah tertutup rapat. Recka marah, dia menggedor-gedor pintu kamar Fedri. "Kenapa? Kamu malu punya Mama seperti Mama? Hah? Jawab Muhammad Rafkha Alfedri!!!!"
"Enggak!!! Abang cuma nggak mau dia tahu kalau ternyata Salon itu punya Mama, dan Abang anak Mama. Pasti nantinya dia bakalan mikir yang aneh-aneh sama Abang!!"
__ADS_1
Ibu dan anak itu saling berteriak diantara pembatas kamar yaitu pintu. Sedangkan Ayah dan anak satunya, saling menatap mereka secara bergantian.
Tak mendengar sahutan lagi dari sang Mama, Fedri akhirnya memutuskan untuk membuka sedikit pintu kamarnya dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat kondisi di dalam rumahnya. Ia kembali berteriak, "Mama janji ya, jangan akuin Abang sebagai anak Mama oke?"
"Iya-iya anak pungut, cerewet banget sih jadi cowok!!" Sarkas Recka sebelum meninggalkan ruang makan.
Didalam kamar, Fedri sedang menyibukkan diri untuk men stalk akun Instagram milik Ila, yang tentunya menggunakan akun anonymous miliknya.
Ia kembali ke aplikasi galerinya, kemudian menatap lama sebuah foto yang memperlihatkan gambar antara dirinya dan juga Ila. Ia tersenyum amat tulus kala mengusap layar ponselnya itu.
"Akhirnya, Gw bisa ikut berkontribusi dalam kehidupan Lo La, ya meskipun Lo nggak bakalan tahu kalau Gw yang ngatur semua ini. Tapi nggak papa, yang penting Lo bahagia aja Gw udah seneng banget"
Foto tadi menjadi salah satu bingkai foto yang menghiasi meja belajar milik Fedri, tak seorangpun dirumah yang mengetahui hal tersebut, sebab Fedri selalu menyimpannya kala ia akan meninggalkan kamarnya tersebut.
Seperti contoh saat ia akan pergi keluar rumah, maka bingkai foto tersebut akan ia simpan dibalik lagi meja kerja tersebut dengan kunci yang selalu tergantung bersama dengan kunci motor.
Sebelum memastikan bahwa perasaannya itu sungguh-sungguh kepada Ila, Fedri belum siap untuk memperkenalkan maupun menceritakan Ila kepada keluarganya, bahwa Ila adalah wanita yang ia sukai.
__ADS_1
Sebab keluarganya ini merupakan orang yang sedikit agresif, jika melihat sedikit saja celah, mereka akan langsung dengan sigap menyerang. Seperti tadi, dengan gencar keluarganya menggodanya karena merekrut karyawan baru secara tiba-tiba.