Arus

Arus
Hilangnya Ila


__ADS_3

Fedri terlihat melamun sedari tadi, lamunan tersebut bukanlah lamunan kosong, tatapannya seakan tengah berpikir dengan keras. Entah apa yang membuatnya berpikir begitu dalam dan juga lama.


Ila sudah menunggu sedari tadi, namun masih tidak ada gerakan yang Fedri ciptakan. Ila meninggalkan Fedri dari ruangan tersebut.


Ila melangkahkan kakinya menuju kearah satu ruang yang cukup kecil namun masih berada di ruangan yang sama dengan tadi. Ia mulai membaca beberapa produk yang ada disana. Mulai dari komposisi sampai dengan fungsi dan manfaat yang sudah tertulis rapi disebuah buku katalog.


Ia mulai mempelajari dari sebuah buku yang berisikan teori, baru nanti ia bisa untuk mempraktekkannya secara langsung dengan apa yang ia baca tadi. Baju kimono, sarung tangan karet, masker dan lainnya tertata rapi disatu ruangan yang lainnya lagi.


Dari luar Ila dapat mendengar suara teriakan yang dihasilkan oleh Fedri. Teriakan tersebut seakan menyiratkan sebuah kekhawatiran dan juga ketakutan. Ila tahu bahwa Fedri baru saja tersadar dari lamunan yang tiada akhirnya tadi. Dan setelah menyadari bahwa diruangan itu tidak lagi ada Ila, mungkin saja ia kaget dan refleks memanggil manggil namanya.


"La!! Ila!!! Lo dimana?? Mil!! Mila sayangggggg"Begitulah cara berteriak Fedri tadi.


Terlintas ide jahil diotak Ila untuk balas dendam terhadap Fedri. Ia mengambil sebuah kimono yang seharusnya dipakai oleh Fedri tadi, ia menaruhnya tepat diatas kepalanya sehingga dapat menutupi wajahnya serta badannya. Kini yang dapat terlihat hanyalah bagian kakinya saja. Ila tadi memakai rok span sepanjang lutut, kaki putih mulusnya menjadikan penampilannya menjadi sempurna.


Terdengar Fedri mulai membuka pintu beberapa ruangan yang terletak didalam ruangan itu. Hingga pintu terakhir yang ia buka adalah tempat persembunyian Ila. Fedri terkejut sampai memelototkan matanya dengan sempurna. Ia berteriak karena sangking ketakutannya.

__ADS_1


"ALLAH HU AKBAR!!" Teriak Fedri, ia berjalan mundur dengan cepat tanpa melihat sekitarnya. Sosok putih tanpa kepala, dengan kaki yang berwarna putih pucat, membuatnya sangat ketakutan.


Ila masih diam ditempatnya, ia hanya sesekali tertawa yang malah membuat Fedri semakin ketakutan. Tawanya bukan lah dibuat-buat, namun dalam kondisi seperti ini dan mendengar suara tertawa tanpa adanya satu manusia tetap saja membuat Fedri merinding.


Fedri terpojokkan oleh tembok dibelakangnya, Ila mencoba untuk mendekati Fedri, namun pria tersebut malah terus saja berteriak dan meminta tolong.


"Pait mbak, daging saya lebih pait daripada pare..... Woi tolong anjir!!!!!!" Mungkin benar kata orang bahwa orang yang tengah ketakutan otaknya tak dapat digunakan. Seperti contohnya Fedri, mau berteriak sampai tenggorokannya putus pun tak akan ada yang bisa menolongnya, karena ini adalah ruangan kedap suara.


"Ferdi!!"


"Mbakkk jangan mamam saya mbak, saya belom nikahhhhhhhhh" Fedri meringkuk dengan menutupi semua bagian tubuhnya dengan menggunakan tangan.


Seketika pikiran Fedri menjadi normal, tingkat ketakutannya pun juga sudah berkurang akibat panggilan typo yang disebutkan oleh setan tersebut. Ferdi mulai mengangkat kepalanya untuk menatap setan tersebut.


Sebuah kain berbahan handuk kimono, kakinya pun menyentuh tanah. Bukannya setan itu tidak dapat menapakkan kakinya diatas tanah. Itu tidak mungkin, Fedri memberanikan diri untuk berdiri dan menarik kain besar yang menutupi sebagian badan setan didepannya.

__ADS_1


"Baaaaa!!!" Sekali lagi teriakan Ila berhasil untuk mengagetkan Ferdi.


"Huwaaaa" Fedri refleks memukul paha Ila dengan pelan karena kaget. Ila terlihat begitu bahagia, itu terbukti dari pancaran wajahnya yang tertawa begitu riang seperti tidak ada masalah apapun dalam hidupnya.


"Hihhhh Milmil!!" Fedri berjalan menuju keluar ruangan tersebut tanpa meninggalkan sepatah kata lagi setelahnya. Ia sangat takut dengan hantu, dan Ila telah membuatnya begitu ketakutan dan terlihat lemah dihadapannya, itu membuat image nya sebagai cowok cool seketika tercemar dimatanya.


Fedri memilih untuk tidak langsung pulang kerumah, namun ia memilih untuk pergi dan menjalankan aksi balas dendam nya nanti.


Disisi lain, Sepeninggalan Fedri, Ila mematung sebentar, kemudian ia kembali melaksanakan tugasnya dan turun kelantai dasar untuk mencari Sista.


Pikiran Ila terus berkecamuk kala Fedri meninggalkan nya begitu saja, ia terus berpikir bahwa candaannya sungguh keterlaluan hingga membuat Fedri begitu ketakutan tadi. Ia juga baru mengetahui bahwa pria tersebut sangatlah penakut apalagi bila itu berbau tentang makhluk gaib.


Ia berpikir untuk meminta maaf, namun ia tak tau bagaimana caranya, sebab ia tak memiliki nomor telepon maupun tau dimana tempat tinggal pria itu.


Pintu lift terbuka, Ila kembali sadar akan sekitarnya. Ia ingin mendatangi Sista, namun bisa ia lihat beberapa pelanggan tengah mengerubungi mejanya untuk sekedar mengambil nomor antrian.

__ADS_1


Hingga kerumunan tersebut telah mulai bubar, Sista yang melihat Ila berdiri tepat disamping pintu lift segera ia hampiri dengan satu pelanggan disebelahnya.


"Mil, Yuk ada pelanggan lagi nih" Ajak Sista untuk menuju keruangan Reguler.


__ADS_2