
Pagi dengan cuaca sedikit mendung menarik siapapun untuk tetap berbaring ke kasur mareka yang memberikan kenyamanan dan juga kehangatan. Ditambah hari Sabtu yang merupakan hari libur semua pekerjaan, sehingga menambah alasan untuk tetap bermalas-malasan didalam selimut.
Suara adzan subuh berkumandang bersamaan dengan ayam yang mulai berkokok bagaikan alarm bagi semua. Beberapa orang telah memulai aktivitasnya dipagi buta ini, entah melaksanakan kewajiban solat maupun yang lainnya. Seperti halnya Wati, ia telah memulai paginya sejak pukul 03.00 dini hari. Dapur sudah mulai aktif kembali, berbeda dari biasanya, ia kali ini bekerja hanya dibantu oleh anak bungsunya Axel. Bahan masakan yang biasa Ila ambil alih telah Wati kerjakan semalaman, sehingga untuk pagi ini ia hanya tinggal memasaknya langsung.
Ila sebenarnya sudah bangun sejak tadi, niatnya ingin membantu pekerjaan Ibunya seperti biasa, namun kali ini ia benar-benar tidak diizinkan untuk bekerja, ia disuruh untuk istirahat dan istirahat. Lebay menurutnya, ia tidak sakit parah hanya sekedar alergi yang kumat namun kenapa se protektif ini? Pikirannya.
Bosan, satu kata yang sedang Ila rasakan saat ini, ia tidak terbiasa untuk duduk santai berdiam diri. Seperti tak kekurangan akal untuk mencari sesuatu yang bisa dikerjakan, Ila kini tengah disibukkan dengan handphone yang bertengger di tangannya, ia menulis beberapa rangkai kalimat untuk memenuhi keinginan pembaca setia novel buatannya.
Sudah cukup lama ia tidak meng update cerita kelanjutan novel tersebut, banyak pembaca yang sudah men spam akunnya, namun apalah daya ia tidak mengetahui hal tersebut karena ia tidak mengizinkan aplikasi tersebut untuk memberikan nya sebuah notifikasi.
Cukup lama ia menggelincirkan jarinya diatas keyboard handphone hingga suara panggilan untuk sarapan dari Ibunya yang bisa menghentikan pergerakan indah tersebut.
Keluar dari kamar, ia disuguhi pemandangan meja makan yang sudah penuh dengan lauk pauk namun tidak ada sang Ibu melainkan Axel adiknya yang duduk manis di kursi meja makan.
Mereka menikmati makanan dengan hikmat, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk mengantarkan situasi canggung seperti ini.
Kebungkaman mereka ini biasa terjadi jika tidak ada orang tua mereka yang memperlihatkan, namun saat salah satu orang tua mereka berada didekatnya, jangan harap ketenangan seperti ini akan hadir. Bagaikan kucing ber meong meong ketika kehilangan ikan asin karena diambil oleh tikus kecil, begitu pula gambaran kakak beradik ini jika sudah bertengkar.
Mereka ini suka bercanda, namun terkadang bercandaan itu sedikit kelewat batas. Tak jarang Wati sering marah akan candaan mereka.
Pernah dulu mereka bercanda dengan Axel mencekik leher Ila saat adzan magrib sedang dikumandangkan dibeberapa musholla maupun Masjid.
"Ibuuuuuuu!! Uhuk Uhuk.. Axel Buuu!!"
Mendengar teriakan dari putrinya, spontan Wati menoleh kearah keduanya, ia dikejutkan dengan posisi dimana Ila tengah dipojokkan oleh Axel dan tangan kekarnya bertengger dileher sang kakak.
"AXELL LEPAS!!"
"MAGRIB BANYAK SETAN YANG LEWAT!! JANGAN PERNAH MAIN-MAIN SEPERTI ITU!! KALAU MAGRIB TUH DIEM KALAU NGGAK YA PERGI KE MUSHOLLA BUAT SHOLAT BERJAMAAH BUKAN MALAH MAIN KAYAK GINI!"
__ADS_1
Wati benar-benar tidak habis pikir dengan cara bercandaan anaknya, bagaimana bisa bercanda dengan kematian, bagaimana kalau Ila sampai kehabisan napas dan meninggal karena bercandaan Axel? Gerutunya dalam hati.
...***...
Waktu berlalu dengan cepat, tugas matahari untuk menyinari bumi kini sudah digantikan oleh bulan bersama teman setianya bintang. Bintang selalu ada disamping bulan, namun kehadirannya sering kali ditutupi oleh awan yang seolah tak mengizinkan orang untuk memandangi betapa indahnya cahaya bintang.
Senin, hari yang paling dibenci semua orang karena hari dimana mulainya semua kegiatannya mereka, sekolah, maupun bekerja. Dan yang paling sangat membosankan adalah Upacara, menunggu pembina upacara selesai berpidato dibawah teriknya matahari. Meskipun masih pagi, entah mengapa matahari dihari Senin adalah yang terpanas di antara hari yang lain.
Dengan udara yang kering ditambah tidak biasanya melakukan sarapan, banyak siswa maupun siswi yang berguguran diatas lapangan sana. Beberapa petugas PMR dan UKS silih berganti membantu membopong murid yang gugur.
Ila masih bertahan di barisan tengah, ia sadar bahwa dirinya merupakan golongan orang pendek, namun ia menolak keras apabila disuruh untuk berbaris didepan. Aku akan terlihat jauh lebih pendek kalau berbaris didepan, karena barisan depan biasanya ditempati oleh orang-orang yang bertubuh pendek. Sanggahan yang selalu ia lontarkan.
"Pemimpin barisan membubarkan barisannya"
Semua murid yang masih bertahan bernafas lega setelah protokol upacara membaca tersebut. Semua berboyong menuju ke surga sekolah, Kantin. Entah untuk membeli sarapan atau sekedar air dingin untuk melegakan tenggorokan.
Berbeda dengan Ila, saat membubarkan diri dari barusan tadi, ia berbicara kepada teman-temannya untuk tidak perlu kekantin, sebab Ibunya tadi sudah menyiapkan bekal sarapan kepada mereka.
Disana semua sudah duduk manis kecuali Cinta dan Lina, mereka baru saja terlihat dengan membawa beberapa kantong es plastikan, Jika pakai plastik, bawanya lebih mudah karena bisa diikat dengan karet kemudian dijadikan satu dalam satu kantong plastik besar. Alibinya.
Memang benar gampang dibawa, namun potensi untuk tumpah juga besar, karena plastik mudah mleyot seperti hatiku.
Mereka makan dengan diiringi canda tawa, serta pertengkaran yang terjadi diantara Cinta dan Rico. Cinta sangat amat bersyukur karena sebelum stress nya Rico kumat karena kelaparan, Ila sudah siap sedia memberinya makan.
Tepat saat mereka telah menyelesaikan makanannya, bel tanda masuk berbunyi. Dengan tergesa mereka merapikan tempat tersebut kembali setelahnya turun dengan sampah ditangan Ila untuk dibuang dibawah sekalian masuk ke kelas.
Kantuk dan bosan telah merasuki jiwa mager murid Ibu Laras - Guru Bahasa Indonesia. Bisa dilihat, Asep dan Kriwil sudah letoy karena tidak bisa menahan kantuk, tangan masing-masing dijadikan sebagai bantalan kepala. Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran termudah jika kalian mau mengarang. Kata yang selalu Ibu Laras ucapkan saat menutup jam pelajarannya.
Disaat semua ingin waktu berjalan cepat, justru kali ini waktu berjalan lambat rasanya. Bolak-balik melihat jarum jam, berdoa agar segera datang jam istirahat, nihil itu hanya angan-angan semata.
__ADS_1
Tring.. Tring.. Tring
Rasa kantuk seketika hilang setelah mendengar bel berbunyi.
"Hore!! Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatu"
Seru semua murid yang berniat untuk mengusir kehadiran Bu Laras dan segera pergi ke kantin. Untung saja wanita yang tengah berbadan dua itu sangat sabar menghadapi tingkah muridnya ini. Ia segera membereskan buku dan juga alat tulisnya dengan menjawab salam yang telah diberikan kepadanya.
Setelah kepergian Bu Laras, kelas kembali dihebohkan dengan teriakan Bela.
"Astaga! Duid gw dicolong orang!"
"Wah wah ternyata ada maling ya di kelas ini, nggak nyangka gw"
"Semiskin itu kah sampai nyolong dijadikan jalan ninjanya buat dapetin duid"
Semua hanya diam melongo ketika mendengar ucapan dari Bela, bagaimana mungkin ada yang mengambil uangnya orang setelah istirahat tadi tidak ada satupun orang yang berada di kelas.
"Lo lupa bawa duid kali dari rumah" sanggah Aertha.
"Mana mungkin, orang gw tadi udah liat dan inget kalau gw masukin duidnya di tas gw bagian depan"
"Emang duid Lo berapa yang hilang?"
"50 Ribu"
Tiba-tiba Resthi dan antek-anteknya masuk ke kelas Ila dan menuduhnya sebagai pelaku, karena disini dialah satu-satunya orang miskin, tidak mungkin kan orang lain yang mengambil, uang segitu tidak seberapa bagi mereka.
"Kenapa kalian nggak mencurigai Ila? Kan dia yang paling miskin disini, uang segitu sudah banyak dimatanya"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak seperti like komen fav sama vote, sekian :)