
Ila menyenteri tubuh seorang pria yang tergeletak lemas dibawah pohon beringin tersebut. Dilihatnya dari ujung kaki hingga ke rambut, perawakan pria ini tidak asing, ataukah memang benar ia mengenali pria ini.
Kini Ila lebih fokus menyenteri wajah pria tersebut dengan ditatap secara lekat, garis rahang, bentuk alis dan matanya, serta bibirnya, ada kemiripan dengan dirinya.
"Kak..... Buruan bantuin Nanan...."
"Lah? Ini Nanan?" Ucap Ila dengan terburu-buru ia memasukkan ponselnya kedalam saku jaket. Ia membantu menepikan tubuh Nanan agar bisa bersandar dengan pohon dibelakangnya.
"Sebentar, Kakak cari pertolongan orang dulu"
Ila kembali merogoh ponselnya yang tadi berada didalam saku. Tanpa pikir panjang ia mencoba untuk menelepon orang terakhir yang menghubunginya hari ini. Ia tidak tahu siapa dia, karena ia hanya asal memencet saja karena terburu-buru.
Tertera laporan memanggil sedari tadi, Ila berpikir apakah dia sedang sibuk, makanya tidak mengangkat telepon darinya.
Kurang lebih 3 menit ia bergelut dengan ponselnya dan mengontak-atik ponsel itu. Ternyata Ila lupa untuk menyalakan data seluler, karena itu panggilannya tidak tersambung dari tadi.
__ADS_1
Sebuah suara mulai terdengar dari dalam ponsel Ila yang bertanda bahwa panggilan tersebut sedang tersebut. Ila kemudian memberitahukan maksud ia menelpon tadi, serta memberikan alamat mereka berada sekarang.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat disamping keduanya. Ila sempat terkaget karena kehadiran sosok pria yang baru saja keluar dari mobilnya.
Wajah terkejut Ila dapat dilihat jelas oleh Fedri, namun bukan itu yang Fedri pentingkan saat ini. Yang terpenting adalah sosok dibawah pohon beringin itu cepat diobati dengan baik di Rumah Sakit.
Fedri membopong bocah yang usianya 5 tahun dibawahnya itu kedalam mobil.
"Ayo cepetan masuk" Ucap Fedri saat berpapasan dengan Ila yang masih bengong.
Di jok depan hanya ada Fedri yang tengah sibuk memperhatikan jalan karena sedang menyetir. Ia beberapa kali melihat dua manusia dibelakangnya melalui spion tengah. Terlihat jelas kekhawatiran serta kesedihan di wajah Ila. Terbukti air matanya tidak berhenti menetes sedari tadi.
Rasa cemburu kembali mencuat dalam hati Fedri. Namun karena peri kemanusiaan akan keselamatan sesama manusia, dengan kasar ia menepiskan perasaan tersebut.
Sesampainya di Rumah Sakit, Axel segera dibawa ke ruang UGD untuk segera ditangani. Sedangkan Ila, ia menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan oleh pihak Rumah Sakit, dengan Fedri yang masih setia menemaninya.
__ADS_1
Ila sudah menyuruhnya pulang untuk istirahat, namun Fedri dengan keras kepala menolak dan memilih untuk menemani Ila disini.
Mata Fedri sudah begitu lelah dan perih karena masih terjaga di jam segini. Ia tak biasa begadang karena ia ingin menjaga kesehatan kulitnya dengan tidur dan istirahat tepat waktu.
Namun, semua kebiasaannya ia hilangkan untuk hari ini demi sosok Ila. Teman yang baru saja ia rekrut beberapa jam yang lalu ini sedang mengalami musibah pada keluarganya. Sebagai teman baru yang masih harus membangun citra, ia mengorbankan waktu tidurnya ini.
Fedri pergi dari rumah tanpa sepengetahuan keluarganya, ia hanya meninggalkan pesan kepada satpam rumahnya.
"Duduk Mil, istirahatin badan Lo! Lo sudah bekerja seharian, kasih istirahat buat badan Lo!"
Mendengar perintah dari Fedri, Ila pun menurutinya. Namun bukan duduk untuk beristirahat, ia justru mengeluarkan ponselnya yang berada didalam saku jaket untuk menghubungi seseorang.
Beberapa kali tidak mendapatkan jawaban dari sana, Ila tak menyerah. Ila terus saja mencoba menghubungi orang yang entah siapa Fedri juga tidak tahu.
Setelah 5 kali percobaan, akhirnya orang yang berada di seberang telepon pun mengangkat panggilan dari Ila.
__ADS_1
"Halo, Bu"