
"Yaudah sana pulang, Gw liatin dari sini" Ucap Ila dengan sedikit terkikik.
"Lo ngusir Gw?"
"Lo kalo nggak diusir nggak bakalan balik, makanya sono buruan pulang"
Didalam hati, Fedri membenarkan ucapan Ila. Ia tidak akan pergi jika Ila masih disini, dan mungkin saja Ila masih belum berani memberitahunya tentang alamat pas rumahnya. Sehingga ia cepat-cepat ingin Fedri pulang, baru ia akan pulang juga.
"Ya sudah, Gw pulang dulu ya, hati-hati nanti salah nginjek batu, kasihan batunya" Pamit Fedri dengan sedikit mengacak rambut Ila.
"Idih, dah lah sono buruan balik" Fedri benar-benar memutar balikkan motornya setelah Ila mengucapkan kalimat terakhir. Namun sebelumnya, ia melambaikan tangannya untuk kembali berpamitan.
Kini hanya ada Ila sendiri disana, tidak ada lagi orang selainnya. Ila kini berbalik badan dan berjalan menuju kesebuah gang lain disampingnya, tepat sebenarnya perumahan tempat tinggalnya berada.
Jalan sudah sepi, lampu-lampu disetiap rumah juga sudah mulai mati. Hingga sampailah ia di salah satu rumah yang masih terang benderang lampunya.
Ila mulai mengetuk, karena biasanya Ibunya sudah mengunci pintu dari dalam saat setelah isya. Saat pintu terbuka, Wati terlihat begitu cemas dan mencari keberadaan adiknya Axel.
"Nanan mana?" Sergah Wati, tepat ia hanya melihat Ila, bukan Axel.
"Nanan mana!!!!!" Ucap Wati dengan mencengkeram kuat kerah jaket beserta baju yang dipakai Ila. Kenapa? Apa yang telah terjadi?
"Nanan nggak jemput Ila Bu"
__ADS_1
Plak...
"Gimana bisa Nanan nggak jemput Lo!! Dia dari tadi sore belum pulang!!" Emosi Wati tetap saja menggebu jika ada sesuatu yang membuat pikirannya menjadi tak enak karena Axel.
Orang yang dulu Ila kira telah berubah, dan memberikannya sebuah kasih sayang yang sama. Nyatanya hanya sementara. Dan Ila masih menjadi lampiasan dari emosinya.
Ila tak menanggapi perilaku Wati, ia hanya menundukkan kepalanya sembari berjalan menuju ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya sebentar untuk sekedar meluruskan punggungnya.
Kamar yang awalnya tidak ia tutup dengan rapat, kini terbuka lebar dengan suara keras diakibatkan dari benturan keras antara gagang pintu dengan tembok.
"Dasar nggak tahu diuntung!! Kamu itu jangan bikin Ibu emosi terus kenapa? Hah!! Aku sudah capek bekerja seharian ini, dan begini cara kamu memperlakukan orang yang sudah melahirkan kamu?!!"
Wati masuk dengan amarah yang semakin memuncak, bahkan tangannya sudah berada di kepala Ila dan menjambak rambut yang awalnya tertata rapi tadi, sampai membuat Ila yang awalnya berbaring secara tengkurap kini menjadi mengangkat kepala serta lehernya.
Cekitt...
Sebuah cubitan mendarat di paha mulus Ila. Tak hanya sekali, namun lebih dari 5 cubitan telah membekas menjadi ungu kehitaman disana.
"Cepat keluar!!! Cari adik kamu!!!" Teriakan Wati terdengar begitu nyaring dirumah. Ila khawatir tetangga sebelah rumahnya akan terbangun karena kaget mendengar suara teriakan itu.
Ila masih berdiam diri di dalam kamar kurang lebih 15 detik setelah teriakan dari Wati tadi. Ia ingin menenangkan pikirannya sebentar kemudian keluar mencari adik satu-satunya itu.
"Masih tidak keluar?!! Lo punya kuping nggak sih?!!"
__ADS_1
Bukan lagi cubitan maupun jambakan yang Ila dapatkan. Untuk kali ini, sebuah sendal bermerek kan A***r itu telah melayangkan mengenai pipinya hingga memerah dan mengeluarkan sedikit darah.
Ila mengangkat tubuhnya dengan berat, ia menyambar sebuah jaket yang masih tersampir di kursi tempat meja belajarnya dan segera merapikan rambut yang sudah acak-acakan itu.
Ila menutup badannya menggunakan jaket, bahkan kupluk yang ada di jaket juga ikut ia pakai agar semakin menutupi beberapa bekas lukanya.
Tak ada kendaraan apapun untuk Ila bawa pergi. Ia hanya bisa mengandalkan kakinya yang sebenarnya juga sudah sangat lelah ini.
Ketakutan saat keluar dimalam hari, dengan terpaksa Ila lawan. Demi adiknya dapat segera ditemukan, ia tak mengindahkan semua rasa sakit yang ada.
Mata yang rasanya sangat berat, ia paksakan untuk tetap berjaga. Tidak lucu rasanya jika ia pingsan sekarang, adiknya saja masih belum ditemukan. Akan lebih merepotkan lagi jika ia pingsan juga disini. Dan belum lagi kalau Ibunya sampai tidak istirahat karena dua anaknya sakit.
"Kak...." Suara itu terdengar sangat sayu dan kecil, bahkan di suasana malam saja suara tersebut hampir tak bisa didengar. Namun suara tersebut seperti sangat familiar ditelinga Ila.
Ila mencoba mencari dari mana arah suara tadi. Hanya dengan berbekal ponselnya, Ila kemudian mengaktifkan senter yang ada pada ponsel tersebut. Dijalankan tidak ada siapapun, di trotoar juga tidak ada.
Hingga tak sengaja matanya menangkap bayangan hitam yang berada dibawah pohon beringin di pinggir jalan.
Ila berlari kearah sosok tersebut, jalan yang ia pijak terasa begitu licin. Ia mengarahkan senter ponselnya ke jalanan. Terlihat seperti cairan kental namun tak tahu cairan apakah itu.
"Kak..." Panggilan dari orang yang sama kembali terdengar ditelinga Ila, yang membuatnya tersadar dan menghiraukan cairan yang berceceran di jalanan tersebut.
Seorang pria, dengan wajah lebab serta darah bercucuran di kepala, telinga, serta ujung bibirnya. Hingga membuat wajah yang sepertinya tampan itu tertutupi oleh darah yang terus saja mengalir.
__ADS_1
Setelah 10 detik mematung disana, Ila akhirnya dapat mengenali sosok yang tengah kesakitan didepannya itu.