
Flash back...
Fedri kini tengah melakukan rutinitas paginya, yaitu olahraga di taman rumahnya. Yang disana terdapat kolam ikan, air mancur serta beberapa bunga dan pepohonan yang rindang menghiasi tempat tersebut.
Tempat ini didesain khusus oleh Mamanya yaitu Recka, Mulai dari jenis bunga dan pohon, hingga bentuk model tersebut. Udara pagi sejuk karena banyaknya tumbuhan disini. Dan tempat ini merupakan tempat favorit untuk Fedri dan juga Mamanya.
Fedri telah menyelesaikan sesi push up serta sit up nya. Ia tengah duduk diantara kursi yang ada di taman ini. Angin yang berhembus ditambah dengan embun pagi merupakan suasana yang sulit ditemukan di wilayah kota yang padat akan kendaraan.
Ia sesekali memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosan karena kesepian. Ia yang awalnya tak begitu tertarik dengan apa yang tertera di ponsel, tiba-tiba ia begitu memelototkan matanya saking kaget dan juga tak percaya akan apa yang ia baca.
Dengan cepat ia menghubungi beberapa cabang perusahaan milik keluarganya untuk mencari informasi apakah masih kekurangan tenaga kerja atau tidak. Namun tidak satupun dari itu yang memperlukan tenaga kerja tambahan.
Namun sifat keras kepala Fedri muncul, bisa tidak bisa mereka harus membuka lowongan pekerjaan untuk 1 orang saja yaitu Ila. Selain dia tidak boleh ada lagi yang ikut melamar pekerjaan di perusahaannya.
Fedri kemudian mengalihkan akun utamanya ke akun anonymous yang baru saja ia buat beberapa minggu yang lalu. Ia menyuruh salah satu asistennya untuk menuliskan beberapa syarat untuk melamar di salah satu perusahannya dan kemudian dikirimkan ke akun media sosial milik Ila.
Setelahnya, ia memutuskan untuk meninggalkan salah satu komentar dipostingan Ila yang membuatnya kaget tadi.
Tak sampai 24 jam setelah mengirimkan pesan, beberapa laporan mulai masuk kedalam email pribadi milik Fedri. Disana ada beberapa pesan dari berbagai anak cabang perusahaannya yang melaporkan bahwa target telah mengirimkan beberapa syarat yang tadi Fedri minta.
Tidak hanya 1 atau 2 perusahaan saja, melainkan 8 anak perusahaan yang ia infokan kepada Ila, semuanya ia datangi untuk mengumpulkan berkas lamaran pekerjaan.
__ADS_1
Fedri seketika tersenyum kala membaca beberapa laporan yang dikirimkan oleh bawahannya. Dengan begini caranya ia dapat membantu Ila tanpa harus ketahuan olehnya.
Fedri memutuskan untuk memasukkan Ila kedalam salah satu cabang salon kecantikan yang dahulunya didirikan oleh Recka (Mama Fedri). Salon tersebut merupakan salon andalan untuk beberapa wanita yang ada di Ibukota ini. Salon ini biasanya dikunjungi oleh beberapa orang yang berdompet tebal. Untuk harga memang tidak kaleng-kaleng, namun kualitas dan juga pelayanannya pun bukanlah main-main.
Fedri menginstruksikan kepada Asisten yang telah membantunya mengirimkan pesan kepada Ila tadi untuk memberitahu pihak cabang Miss Beauty untuk besok mengirimkan pesan yang berisi tentang diterimanya Ila di salon tersebut.
Hingga malam hari, Fedri tak hentinya menarik ujung bibirnya hingga tersenyum. Hal yang tak biasa ini membuat orang rumah merinding melihat senyum Fedri yang tak ada hentinya.
"Abang kenapa Mah?" Tanya Adik Fedri yang berna Rebecca itu. Usianya terpaut 4 tahun dengan Fedri, meski usia sudah remaja namun pemikirannya masih amat polos.
Kedua orang tuanya hanya mengangkat bahu mereka tanda tak mengerti juga.
Hingga Fedri duduk diantara mereka, mereka masih tak mengalihkan pandangannya pada putra sulung keluarga Rafkha itu.
Recka memberikan isyarat kepada Candra sang suami berserta Ayah dari anak yang sedang tidak waras ini. Ia memberikan isyarat menggunakan tangan serta mulutnya, tentu saja dengan tanpa suara.
Tangan Recka digerakkan seakan tengah bertelepon dan juga mulutnya seakan tengah menyemburkan sesuatu. Candra yang paham akan kode tersebut segera meminta tolong kepada asisten rumah tangganya untuk mengikuti instruksi dari Recka.
Dengan segera salah satu asisten rumah tangganya tersebut mengambil ponselnya dan mulai untuk menelepon orang yang selama ini ia percaya.
"Iya, Alamatnya di Perumahan Bumi Biru nan Hijau, Blok A3"
__ADS_1
30 menit kemudian, ada seseorang yang tengah memencet tombol bel rumah tersebut. Mereka menebak bahwa orang yang dihubungi tadi telah sampai.
Seorang pria tua dengan usia yang lebih dari setengah abad itu muncul dengan membawa beberapa kain jarik khas Jawa. Kumis dan juga jenggot tebal nan panjang namun dikuncir kepang, pakaian yang serba hitam ditambah dengan rambutnya yang sedikit gimbal menyempurnakan penampilannya sebagai dukun beranak.
Ia masuk rumah dengan begitu tergesa-gesa. "Kamarnya dimana Nduk?"
Candra segera membawa Dukun tersebut kedalam kamar milik Fedri. "Orangnya mana?" Tanya seorang Dukun tadi.
"Ya tadi, anak cowok yang duduk dikursi tadi Mbah" Jawab Canda dengan sungguh-sungguh.
"Loh? Yang hamil loh, orangnya dimana?" Pertanyaan dari dukun tersebut membuat seisi rumah bingung, mengapa malah mempertanyakan orang yang tengah hamil.
"Nggak ada yang hamil Mbah" Ucap Recka, yang membuat Dukun tersebut bertambah bingung.
"Lah? Kalau ndak ada yang hamil mau lahiran, ngapain manggil saya? Saya ini Dukun beranak, Huh kalian ini, ngabisin uang saya saja, mana transportasi naik lagi harganya huh!" Dukun tersebut segera meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan atau mengucapkan salam.
Mereka yang ada di ruang makan melihat kearah pintu utama rumah dengan pandangan linglung. Mereka membutuhkan Dukun yang bisa menghilangkan setan, bukan malah Dukun beranak.
Pandangan mata Candra memicing kearah salah satu asisten rumah tangganya yang usianya masih tergolong muda. Orang yang tengah ditatap tak sengaja menangkap tatapan tajam dari Candra dan membuatnya menjadi takut.
Recka berjalan mendekati Asih sang asisten rumah tangga tadi. Kemudian ia menjewer telinga wanita yang usianya masih dibawahnya itu. "Mbak Asih!!! Ngapain malah nyuruh Dukun beranak datang kesini hah? Kita mintanya Dukun setan bukan Dukun beranak!!!"
__ADS_1
"Aduh Aduh Bu, Tadi Bapak tidak bilang kalau Dukun buat setan, dia bilangnya cuma Dukun saja, kan saya jadi tidak tahu" Jelasnya dengan sedikit meringis karena sakitnya telinga yang masih berada di genggaman tangan Recka.