Arus

Arus
Pernyataan


__ADS_3

Keduanya menyusuri jalan yang dihiasi dengan lampu-lampu kota yang membuatnya semakin terlihat indah. Angin sepoi juga ikut menyempurnakan suasana hati Fedri.


Sedangkan dibelakangnya, Ila masih terus memikirkan tentang Axel, mengapa ia tak memberikan kabar apapun kepadanya. Axel tak biasa mengingkari janjinya, terlebih Axel kini malah berperan seperti dialah yang menjadi anak pertama. Ia selalu mengantar jemput Ila bekerja, dihari libur ia mengantar Ibunya ke pasar. Bahkan tak jarang ia juga ikut membantu membersihkan rumah serta membantu Ibunya memasak, ya meskipun hanya sekedar memotong-motong.


"Mil, mau ke taman kota dulu nggak? mumpung sampai disini dan itung-itung refreshing otak lah" Pertanyaan dari Fedri berhasil memecahkan kesunyian malam ini. Ila juga sudah kembali ke dunia nyatanya, ia tidak lagi melamun, namun memikirkan ajakan dari Fedri tadi.


"Emm nggak dulu deh Fer, Gw mau cepet-cepet sampai rumah. Takutnya Nanan nungguin Gw disana"


Nanan lagi Nanan lagi... Sekali aja Lo nggak usah mikirin dia kenapa sih Mil?


"Nanan Nanan itu siapa Lo sih Mil? Kok nungguin Lo dirumah? Nyokap Lo tau?" Tanya Fedri dengan nada yang dibuat selembut mungkin.


Ila tampak melihat Fedri dengan lekat melalui kaca spion. Helm full face miliknya berhasil menutupi semu merah yang sudah hinggap akibat tatapan Ila.l kepadanya.


"Cowok Gw, nyokap Gw juga udah tau, ngapain Lo nanyain soal dia?"


Citttt.....


Motor yang dikendarai oleh Fedri berhenti seketika, hingga membuat Ila terdorong ke depan dan tubuh bagian depannya menabrak punggung Kokoh milik Fedri. Tangannya yang secara tak sengaja memeluk tubuh Fedri berhasil merasakan bagaimana cepatnya jantung Fedri berdegup saat ini.


Keduanya terdiam selama beberapa detik, setelah Ila sadar akan posisi mereka yang sangat ambigu ini, ia segera menjauhkan tubuhnya dari Fedri.


Plak...

__ADS_1


Tangan Ila terasa sedikit panas karena memukul kepala Fedri karena asal mengerem dan tidak melihat kondisinya yang belum siap untuk berpegangan. "Lo kalo mau mati jangan ajakin Gw!!"


"Kalaupun Gw mau mati, Gw juga tetep milih mati bareng Lo Mil"


"Cuih nggak sudi Gw mati barengan sama Lo!"


"Mil, kok muka Lo merah gitu? Lo kesemsem ya sama Gw?"


"Idih, ini dingin pinter!! Jantung Lo tuh suruh diem, berisik amat dari tadi, heran Gw"


"Ya Gw masih idup ya pasti deg-degan lah pinter..."


"Gw juga deg-degan, tapi jantung Gw masih normal dibandingkan Lo tadi, kayak orang lagi lari maraton, atau jangan-jangan Lo suka ya sama Gw?"


Fedri kaget kala Ila mengetahui ritme jantungnya saat ini. Sudah kepalang basah bagaimana cara mengembalikan image nya sebagai cowok cool yang digandrungi jutaan wanita.


Eh? Apakah Ila tidak salah mendengar? Ia tadi hanya berniat untuk bercanda, ah pasti pria ini juga sedang membalas candaannya.


Meski pikirannya mengumpulkan hal tersebut, namun hatinya yang tak bisa diajak kompromi ini ingin berkata lain. Ritmenya kini sama seperti ritme jantung Fedri tadi.


Dan sekali lagi ia disadarkan oleh realita, bahwa Fedri adalah anak dari seorang Bosnya di salon. Tidaklah pantas jika dirinya memiliki hubungan yang lebih dengannya. Rasanya seperti tidak sopan jika ia memikirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi di masa depan..


Bukan hanya sekedar harta dan derajat tinggi yang dimiliki oleh Fedri. Fedri adalah definisi anak sulung kaya raya, visual menarik, kecerdasan tidak perlu diragukan lagi.

__ADS_1


Hal apa yang menggambarkan Ila untuk bisa bersama dengannya? Harta? tentu tidak bisa dibandingkan, kecantikan? Banyak wanita yang lebih cantik daripada dirinya diluar.


Tak ingin memikirkan hal yang tidak mungkin. Ila memutuskan untuk tertawa saja menanggapi pertanyaan dari Fedri tadi.


Hahaha


Ila melihat raut wajah Fedri yang awalnya menegang tadi menjadi lesu. Ternyata pernyataannya itu hanya dianggap candaan Ila saja, pikirnya.


"Gw serius Mil!" Ucapnya dengan sungguh-sungguh guna meyakinkan Ila bahwa dirinya tengah tidak bercanda kali ini.


"Udah ah, yuk pulang"


Ajaknya yang direspon langsung oleh Fedri. Suasana kali ini lebih canggung dari sebelumnya. Ila dan Fedri sama-sama tak ada yang ingin membuka mulut.


Ila duduk sedikit kebelakang untuk memberikan ruang agar tidak terlalu berdekatan dengan Fedri. Bahkan ia lebih memilih berpegang pada besi dibelakang jok nya, daripada berpegangan pada jaket Fedri seperti sebelumnya.


Hingga tiba di suatu gang, tepatnya gang masuk ke perumahan Ila. Fedri hanya menghentikan motornya disini, sesuai dengan instruksi yang diberika oleh Ila tadi.


"Makasih" Ucap Ila dengan melepaskan helm yang menutupi kepalanya.


"Mil, jangan jauhin Gw ya? Oke tadi anggep aja cuma bercanda ya, nggak serius" Fedri juga ikut melepaskan helm yang dipakainya. Ia menatap Ila dengan serius, namun hanya dibalas senyuman kecil disertai anggukan oleh Ila.


"Kita temenan mulai sekarang ya?" Ajak Fedri untuk menghilangkan kecanggungan antara mereka.

__ADS_1


"Oke deal, kita temenan" Dan lagi-lagi Ila tak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya kata terimakasih, tidak lebih. Ia hanya memberikan anggukan serta senyuman untuk membalas pertanyaan Fedri.


"Lo jangan senyum sambil angguk doang!!" Fedri sedikit frustasi karena Ila tidak bertingkat seperti biasanya. Ila yang normal adalah Ila yang selalu membantah apapun yang dikatakan Fedri, namun kali ini, ia malah menurutinya.


__ADS_2