Arus

Arus
Ceramah dadakan


__ADS_3

"Kenapa kalian bertengkar diluar tadi? Pengen diliatin tetangga? Atau pengen semua orang tau kalau kalian sedang sedang bertengkar dan Ibu yang disalahkan karena tidak bisa mendidik anak-anak Ibu?"


Sesi sidang telah dimulai dengan rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Wati.


"Kalian ini sudah besar, kenapa masih bertengkar seperti anak kecil. Umur kalian itu sudah tidak kecil lagi, apa masih pantes gitu bertengkar kayak anak masih umur 15 tahun?"


"Tapi Bu, aku kan masih umur 14 tahun" Setelah sekian lama ia berdiam diri dan menundukkan kepalanya. Akhirnya Axel memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan itu ditengah puncak kemarahan Wati.


Eh benar juga kata tuh anak, dia kan masih 14 tahun, njir salah ngomong kan Gw. Tapi masa iya Gw kalah omong sama bocah ingusan itu. Wati bertengkar sebentar dengan isi hati dan juga kebodohan mulutnya.


"Diam kamu Nanan!! Nggak sopan, orang tua ngomong malah dijawab!!!"


Axel kembali menciutkan nyali serta bibirnya. Ia sedikit tersenyum menahan tawanya, Marah saja pakai typo mulutnya. Batin Axel.


Sedangkan disampingnya, Ila yang melihat gerak-gerik Axel yang sangat ingin memuntahkan tawanya pun sontak menyenggol lutut Axel menggunakan lututnya sendiri, matanya berkedip seolah memberikan sinyal untuk fokus dan jangan membuat keributan lagi agar sidang ini cepat selesai dan mereka bisa segera istirahat.


"Kalian ini membuat Ibu malu, nanti apa kata tetangga kalau tahu kalian sedang bertengkar? Mereka pasti bakalan mikir kalau Ibu nggak bisa ngajarin anak Ibu. Dan pasti Ayah kalian bakalan geleng-geleng diatas sana melihat tingkah kalian!!"

__ADS_1


"Kakak juga, Kakak tuh sudah besar!! Sudah 19 tahun masa ia berantem sama adeknya, Kalian tadi berantem gara-gara apa coba?"


Tak satupun dari Axel maupun Ila berniat untuk menjawab pertanyaan dari Wati. Mereka benar-benar ingin semua ini selesai dan segera membaringkan tubuhnya keranjang.


"NANAN, ILA!! JAWAB!!!! DITANYA ORANG TUA KOK NGGAK JAWAB!!" Bentak Wati yang hingga spontan membuat kedua anak tersebut menegakkan posisi duduknya.


"Tadi kata Ibu, nggak boleh jawm....."


"Nggak ada Bu, kita tadi cuma bercanda kok. Ya kan Nan?" Ucap Ila dengan tangan kanan yang membekap mulut Axel karena ingin mengeluarkan kalimat yang akan membuat Ibunya semakin marah.


Melihat Axel yang tak segera memberikan respon, Ila menjadi geram. Ia memelototkan matanya kearah Axel guna mengancam bocah ingusan ini.


"Enggak Bu, tadi Nanan ngejek dan nggak ngebolehin Kakak buat nikah sama Seungcheol nanti"


"Seungcheol siapa? Anaknya siapa? Kampung mana dia? Penghasilannya berapa? Sudah mapan atau masih jadi beban keluarga?" Tanya Wati yang terkesan memberondong kepada Ila.


"Alah si Ibu kayak nggak apal aja sama si Ila, dia tuh...."

__ADS_1


"Kakak!!!" Semprot Wati karena putranya ini sungguh tidak sopan kepada kakaknya. Bukannya membenarkan cara berbicaranya, Axel justru malah diam sejuta bahasa setelah mendapatkan koreksi dari Ibunya.


Wati dan Ila menunggu kelanjutan dari omongan Axel yang sempat terpotong tadi. 2 menit mereka menunggu tak mendapatkan sinyal bahwa Axel akan melanjutkan pernyataannya lagi, hingga membuat keduanya geram kepada bocah ingusan ini.


Sedangkan Axel, yang merasa suasana tiba-tiba sudah menjadi sunyi, ia mulai mengangkat tubuhnya dan berjalan memasuki kamar miliknya.


Settt.... Aduhhhh.....


Dengan gesit Wati telah menarik telinga kanan milik Axel, sehingga membuatnya mau tidak mau harus menghentikan langkahnya. Sungguh dasar manusia tidak tahu diberi hati. Sudah ditunggu lama malah ingin pergi.


"Aduh.. Ibu kenapa narik telinga Adek" Tanya Axel dengan sedikit meronta meminta untuk dilepaskan.


"Lanjutkan omongan kamu tadi!!" Suara Wati kini berubah menjadi sedikit serak karena sangking geramnya.


"Yang mana Bu, Aduhhh telinga Adek sakittt...."


"Sebelum kamu menjelaskan siapa itu Seungcheol, Ibu tidak akan melepaskan tangan Ibu dari telinga kamu!!"

__ADS_1


Melihat Ibunya yang tengah menjewer sang Adik, dan sang Adik yang terus saja merengek meminta untuk dilepaskan, menjadi sebuah tontonan lucu bagi Ila.


Kapan lagi ia akan melihat wajah merah Axel yang sangat menggemaskan dimatanya ini. Ila bahkan sempat memotret ekspresi Axel tadi untuk ia jadikan kartu As nya kalau saja Axel akan melawannya dimasa depan.


__ADS_2