Arus

Arus
Kedatangan Wati


__ADS_3

Fedri yang sedari tadi duduk di kursi tunggu depan ruangan UGD tersebut sejenak menutup matanya dan tidak butuh waktu lama ia telah terlelap disana dengan kedua tangan yang dilipat.


Ia tak kuasa menahan rasa kantuk yang telah ia tahan mati-matian. Niat awal akan ikut mendengarkan obrolan Ila dengan Wati Ibunya itu sudah gagal karena kantuk.


Ila baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya dengan sang Ibu. Saat ia berbalik badan, ia dikejutkan oleh Fedri yang telah terlelap. Ada rasa kasihan saat melihat posisi tidur Fedri, saat bangun nanti pasti badannya akan terasa begitu sakit karena posisinya yang tidak nyaman.


Ila melepaskan jaket yang ia kenakan untuk dijadikan penutup badan Fedri agar ia tidak kedinginan dan berakhir sakit nantinya. Meskipun kini mereka berada dalam lorong yang tertutup dari alam secara langsung, namun udara malam yang dingin tetap saja menembus kulit Ila.


Pada pukul 00:13 WIB, mata Ila masih terjaga sembari menunggu sang Ibu datang. Dokter yang menangani Axel sudah keluar sejak 25 menit yang lalu, dan Ila juga sudah sempat melihat keadaan Axel tadi sebelum ia kembali keluar dan duduk diruang tunggu menemani Fedri beserta ingin membiarkan Axel istirahat dengan tenang tanpa gangguan malam ini.


Langkah cepat dari seseorang di lorong terdengar begitu nyaring karena kesunyian malam. Mendengar itu Ila langsung paham bahwa langka tergesa itu adalah langkah milik Wati Ibunya.

__ADS_1


Ila menyambut Wati dengan uluran tangan yang siap untuk memeluk tubuh ringkih milik wanita paruh baya tersebut.


Plakkk...


Wati menghempaskan tangan Ila dari hadapannya. Wajah hangat itu seketika berubah menjadi wajah bersalah setelah melihat reaksi dari Wati.


Pikiran Ila kembali berkelut kesebuah kemungkinan dimasa lalu yang bisa saja kembali, Ila tengah menyiapkan hati dan juga egonya agar tidak memuncak saat kemarahan Wati kembali meledak.


Fedri yang tadinya tertidur lelap telah terbangun kala merasakan pergerakan dari sisi kanannya. Ia memilih untuk berpura-pura tidur dan menyimak apa yang tengah terjadi diantara Ibu dan Anak ini.


Fedri tak ingin ikut mencampuri urusan yang ia anggap sebagai urusan keluarga ini. Namun, jika Wati melakukan hal diluar batasan, Fedri tidak akan segan-segan untuk membela dan melindungi Ila meskipun itu adalah Ibu kandung Ila sendiri.

__ADS_1


Fedri tidak pernah mengetahui seluk-beluk keluarga Ila, dan bagaimana kehidupan Ila selama ini. Yang ia tahu hanyalah Wati Ibunya Ila ini selalu berlaku kasar kepada gadis remaja satu ini. Rasanya seperti bukan Ibu kandung, melainkan seperti Ibu tiri yang senantiasa jahat kepada anak sambungnya.


Ceklek...


Suara tersebut berasal dari pintu yang dibuka, dan muncullah dokter beserta suster yang baru saja menangani Axel.


Wajah marah Wati itu berubah menjadi sayu kala melihat keberadaan sang dokter yang masih berdiri didepan pintu ruang inap Axel.


"Apakah ada anggota keluarga dari pasien?" Tanya sang dokter yang membuat Wati melangkah mendekat kearahnya dengan mengangkat tangan tanpa menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.


Dokter pun memberikan instruksi kepada Wati untuk berjalan mengikutinya menuju ke ruangan sang dokter.

__ADS_1


__ADS_2