Arus

Arus
Berhasil bersama


__ADS_3

Malam harinya, Fedri kembali menunggu kepulangan Ila, seperti biasa ia akan menawarkan jasa ojek gratisannya. Meskipun malam-malam sebelumnya ia ditolak secara mentah-mentah, namun ia tidak akan menyerah dan mengalah demi pria yang entah siapa namanya, pria yang selalu menjemput Ila dan yang anehnya Ila tak pernah menolaknya.


Hingga kurang lebih 10 menit Fedri menunggu Ila, akhirnya orang yang telah membuatnya menunggu itu menampakkan batang hidungnya. Wajah yang biasanya selalu tampak ceria itu kini menjadi redup, tak ada senyuman yang menghiasi wajah cantiknya kali ini.


Ini bisa dijadikan sebagai peluang bagi Fedri, ia menghampiri Ila dengan senyuman hangat, dan mengajaknya untuk sekedar pulang bersama, atau ingin menikmati malam sembari meluapkan lelahnya siang.


"Pulang yuk, udah malem nih. Mau nungguin siapa?" Tanya Fedri kala ia telah memarkirkan motornya tepat didepan Ila berdiri.


Tak ada respon dari Ila, Ila justru malah terlihat semakin lelah karena kehadirannya, buktinya ia tengah menarik nafas berat disana.


Disisi lain, Ila tengah menahan emosi yang sedari tadi hampir meledak. Pekerjaan melayani orang, terkadang membuatnya sedikit menguras tenaga dan emosi. Banyaknya permintaan dan protes akan step yang ia lakukan membuatnya kesal sendiri.

__ADS_1


Ingin rasanya marah, namun mereka adalah pelanggan, apabila diperlakukan dengan emosi, akan mempengaruhi tempatnya bekerja. Jangankan menggunakan emosi, jika berbelanja dan pegawainya terlihat tidak mood saja bisa mempengaruhi mood kita juga, bahkan kita segan untuk membeli barang disana lagi.


Karena itulah Ila berusaha mengontrol moodnya, meskipun ia tenagh tidak baik-baik saja, ia harus tetap memperlihatkan keadaannya yang baik dan ramah.


Ila tidak ingin bertemu atau bahkan mengobrol dengan siapapun malam ini. Ia begitu lelah dan ingin cepat pulang dan istirahat, mengisi kembali tenaga serta moodnya yang sudah terkuras habis hari ini.


Beberapa kali ia menelpon dan mengirim pesan kepada Axel, namun tak ada balasan ataupun diangkat olehnya. 20 menit Ila menunggu jemputan dari Axel, tetapi tak ada tanda-tanda kedatangannya.


Disisi lain, Fedri dengan tabah dan sabar menunggu Ila untuk menerima ajakannya. Wajah gelisah dan khawatir begitu tercetak jelas di wajah Ila. Fedri merasa Ila tengah tidak baik-baik saja hari ini. Apakah ia merasa tidak nyaman karena malam-malam berdua dengannya.


Jika tadi ia khawatir karena Axel tidak segera datang, dan membuatnya takut akan terjadi sesuatu kepada adiknya itu. Kini ia malah dibuat khawatir karena akan ditinggal sendirian disini. Ingin rasanya menahan kepergian Fedri, namun gengsi lebih mendominasi.

__ADS_1


Disaat Fedri mulai menyalakan mesin motornya, sebuah kekhawatirannya semakin bertambah kalau dirinya sendirian disini.


"Fer..." Panggil Ila, suasana sekitar yang sepi dan jarang dilewati orang, membuat Ila berpikir yang tidak-tidak.


Merasa Ila memanggil namanya, meskipun salah. Fedri kembali mematikan mesin motornya dan turun untuk menghampiri Ila.


"Fed.." Koreksi Fedri. Tak lagi mendengar suara jawaban dari Ila, membuat Fedri kembali bertanya, "Kenapa mil"


Ila mendongakkan kepalanya dan menatap Fedri "Gw pulang bareng Lo aja ya" Ucapnya setelah mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


"Hah?" Fedri mendadak menjadi budek karena jawaban dari Ila. Sebuah hari dimana ia bisa berboncengan dengan Ila akhirnya dikabulkan oleh Tuhan.

__ADS_1


"Nggak jadi"


"Ahh iya-iya, buruan naik"


__ADS_2