Arus

Arus
Menunggu persetujuan


__ADS_3

Bruak...


Sore yang membuat hati Axel gundah karena pikirannya sendiri itu, membawanya pula dalam malapetaka. Motor yang ia kendarai bersama dengan Ila, telah terpental sejauh 100 meter ke arah persawahan.


Sedangkan ia sendiri terpental ke arah pohon di pinggir jalan hingga mengenai kepalanya, nasib baik masih berpihak kepadanya, bersyukur Axel memakai helm hingga melindungi kepalanya dari benturan yang keras tersebut. Hanya beberapa luka goresan di bagian lengan serta kakinya, celana yang dipakai Axel robek dan darah mengalir deras pada kakinya.


Untuk Ila, ia terlempar kearah tanggul untuk irigasi, ia mengalami beberapa luka goresan dan juga kaki serta tangannya tertusuk besi yang terdapat di pinggiran tanggul.


Darah mengalir dijalanan, Axel di dibantu beberapa warga untuk dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil yang melintasi jalan tersebut.


Warga yang lain mengejar Ila yang masih terbaring di atas tanggul irigasi, ia menangis sambil memegangi kakinya yang tertusuk besi dan besi tersebut masih menancap di kaki Ila.


Warga berlari dengan membawa beberapa alat yang bisa digunakan untuk memotong besi tanggul tersebut.


Beberapa Ibu-ibu membantu memegangi badan Ila agar sendiri rileks dengan tujuan kakinya tidak kaku dan proses pemotongan besi menjadi lebih mudah.


Bahkan salah satu warga membawakan sebuah kursi plastik untuk tempat duduk Ila. Serta membawakan air minum untuknya.


Darah, keringat dan air mata terus mengalir di dahi, tangan serta kaki Ila.


"Huhuuuu Ayah, Ibu, sakit...


"Bu, Adik saya mana..."


Tanya Ila kepada Ibu-ibu yang tengah memegangi bahu nya, Ini tersebut mengusap kembali bahu Ila untuk menenangkannya, karena Adiknya sudah aman.


"Tenang nak, adik kamu sudah dibawa ke Rumah Sakit untuk diobati, sekarang kamu rileks saja biar Bapak itu mudah melepaskan besi ini"


Ila menganggukkan kepala, sesekali ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara tangisannya agar tidak keluar lagi. Sungguh, ini rasanya panas, perih, bahkan seperti kelu dan mati rasa.


30 menit kemudian, besi berhasil terpotong dan Ila segera dibopong untuk dibawa ke Rumah sakit untuk ditangani pihak yang lebih mengerti akan hal seperti ini.


Salah satu warga yang ikut mengantar Axel ke Rumah Sakit tadi sudah bilang kepada pihak rumah sakit bahwa ada kecelakaan di kampung mereka, sehingga dengan segera mobil Ambulans melaju untuk menjemput Ila disana.

__ADS_1


Ila dibantu Bapak-bapak untuk dibawa kedalam mobil Ambulans tersebut. Di dalam, ia ditemani oleh Ibu yang sedari tadi menenangkan dirinya.


Ila disuruh Ibu tersebut untuk menelfon Ibunya memberikan kabar buruk ini. Namun, saat Ila menelfon Ibunya, Handphone Ibunya dalam keadaan mati, tertera hanya tulisan memanggil disana.


Sesampainya di rumah sakit Ila segera dibopong oleh salah satu perawat laki-laki untuk dibawa ke ruang UGD agar cepat mendapatkan penanganan.


Untuk Ibu yang mengantarkan Ila ke rumah sakit tadi, kini ia berada di Resepsionis untuk memberikan data diri Ila, ia sedari tadi menggendong tas sekolah milik Ila yang di sana terdapat KTP dan lain-lain.


Dokter sedang memeriksa keadaan Ila, ia melihat masih ada sisa besi yang tertancap di kaki kiri Ila. Besi ini harus segera dikeluarkan dan dibersihkan agar tidak mengakibatkan infeksi.


Dokter hanya membersihkan luka ringan dibeberapa lengan Ila. Namun untuk kalinya, ia tidak berani mengambil tindakan yang beresiko karena ini termasuk dalam kategori luka berat.


Satu-satunya cara untuk mengeluarkan besi tersebut adalah dengan menggunakan metode operasi, yang mana hal ini harus mendapatkan tanda tangan dari keluarganya. Namun Ibu Ila kini tidak bisa dihubungi, apalah daya itu harus menunggu untuk persetujuan tersebut.


...----------------...


Di Rumah Sakit yang sama namun ruangan yang berbeda, Axel sudah selesai diobati dan akan segera dibawa pulang karena Wati sudah menunggunya sedari tadi.


Bukan Axel yang memberikan kabar kepada Wati, melainkan pihak Rumah Sakit lah yang menelfon nya tadi menggunakan ponsel Axel yang dititipkan dibagian Resepsionis.


Mereka berjalan melewati ruang UGD di mana terdapat Ila yang sedang menunggu persetujuan dari Wati, Wati sama sekali tidak mengetahui keadaan Ila saat ini.


Sebelumnya Axel juga sudah memberitahu Wati, bahwa ia terjatuh juga bersama dengan Ila, karena Ila berada di boncengannya. Bahkan sepertinya luka Ila jauh lebih serius daripada luka Axel.


Axel belum melihat keadaan Ila sama sekali, ia dibawa ke Rumah Sakit saat warga masih membantu Ila, dan ia pulang juga tak bertemu dengannya.


Axel pikir, Ila masih dibantu oleh beberapa warga di tanggul tadi. Namun salah, Ila kini sedang berada di dalam ruangan yang tengah mereka lewati saat ini.


Didalam ruangan, Ila melihat Wati yang tengah memapah Adiknya untuk pulang.


Jadi alasan Wati tidak bisa dihubungi adalah karena sedang menunggu Axel. Tapi ia sama sekali tidak menghawatirkan Ila. Bukankah mereka sama-sama terluka? Namun kenapa hanya Axel yang mendapatkan perhatian dari Wati? Kenapa ia tidak juga mendapatkan perhatian itu?


Dengan tak sadar Ila mengeluarkan suara lirih memanggil sang Ibu.

__ADS_1


Ibu yang sedang menjaga Ila seketika menoleh ke arah jendela yang terdapat dua sosok manusia yang tengah berjalan. Dilihat kembali Ila ternyata sedang menatap kedua sosok itu.


Ibu tersebut berpikir apakah mereka adalah anggota keluarga Ila? Namun kenapa mereka tidak menjenguk kondisi ini saat ini? Apakah seperti ini keluarga Ila memperlakukannya? Mereka tak menganggap Ila ada?


Ibu tersebut berlari menuju ke pintu ruangan ini, ia ingin mencegat Ibu Ila dengan adiknya itu untuk memberikan kabar bahwa Ila berada di sini dan membutuhkan mereka untuk dapat melakukan operasi guna mengeluarkan sisa besi yang masih tertancap di kaki Ila.


"Bu... Bu... Bu..."


Wati menoleh ke arah Ibu yang sedang memanggilnya, ia melihat sekitar apakah ada orang lain selain dirinya, ternyata tidak. Ibu itu sedang memanggil dirinya.


"Iya Bu, kenapa ya?"


"Anak Ibu, nak Ila, dia sedang berada didalam ruangan ini. Dia sedang menunggu persetujuan Ibu untuk dioperasi karena...


Axel berlari kedalam ruangan tanpa mendengarkan penjelasan ibu-ibu tersebut dengan lebih lanjut. Ia berlari dengan kakinya yang sedikit pincang namun ia paksakan, ia melakukan itu agar dapat dengan cepat bertemu dengan Ila dan melihat bagaimana kondisinya.


Bagaimanapun itu, semua terjadi karena ulahnya yang tidak fokus dengan jalan. Hingga mengakibatkan ia dan Ila terluka seperti ini.


Didalam terlihat Ila yang sedang berbaring dengan wajah yang meringis menahan sakit, itu pasti karena lukanya yang belum sempat dibersihkan secara total.


Axel kembali berjalan untuk lebih dekat dengan posisi Ila saat ini. Tepat disamping bankar tempat tidur Ila, Axel dapat melihat pipi Ila yang basah akibat menangis.


Rasa bersalah menyeruak dihati Axel, Axel mengusap rambut kepala Ila dengan lembut. Ila membuka matanya dan menoleh karena mendapatkan perlakuan tersebut dari seseorang.


"Sorry udah buat Lo jadi sakit kayak gini"


Pipi bekas air mata yang sudah akan mengering, kini kembali jatuh dan basah lagi.


"Nanan..."


Ila memeluk Axel dengan erat, akhirnya ia bisa melihat kondisi Adiknya, senang hati Ila saat melihat kondisi Axel yang baik-baik saja.


Axel membalas pelukan Ila, ia menepuk punggung Ila untuk menguatkan dan menenangkan Ila.

__ADS_1


Bersambung...


Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih :)


__ADS_2