
Matahari dan bulan silih berganti bertugas untuk menerangi bumi dan biintang tak henti untuk menemaninya setiap saat, meski terkadang keberadaannya ditutupi oleh segumpal awan hitam yang siap menurunkan semua bebannya ke bumi.
Kamar yang senantiasa setia mendengarkan semua keluhan kesah serta menjadi tempat untuk meningkatkan energi di keesokan harinya.
Setelah kekalahan Resthi oleh Ila tidak membuat kehidupan Ila damai, justru setelah menyelesaikan satu masalah, masalah lain silih berganti berdatangan menghantam Ila.
Seperti halnya lusa kemarin, Ila berniat untuk bermain dirumah sepupunya sebagai silaturahmi, lagi-lagi ia malah dituduh mengambil uang dari sang Bibi.
Hal ini seperti Dejavu bagi Ila, ia seperti pernah berada diposisi seperti ini dulu.
Flashback
lebih tepatnya 10 tahun yang lalu, Ila dan Axel bermain masak-masakan bersama anak tetangga bersama Inuk.
Saat itu Inuk tengah menggenggam uang senilai 10 Ribu, sebagai anak yang paling tua disana, Ila sudah mengingatkan Inuk untuk pulang dan menyimpan uangnya terlebih dahulu dirumah agar tidak hilang. Namun Inuk tidak mendengarkan saran dari Ila, ia justru malah melipat uang tersebut hingga berbentuk persegi panjang yang kecil.
Hingga waktu berputar menunjukkan pukul 12.00 WIB dimana saatnya adzan dhuhur dikumandangkan. Di daerah Ila memiliki mitos turun temurun yaitu waktu beduk atau adzan dhuhur semua harus berada di rumah. Tidak diketahui alasan pastinya apa, karena setiap bertanya kepada orang tua hanya jawaban Pokoknya nggak boleh, pamali.
Mendengar itu, mereka segera membersihkan tempat mainan mereka. Inuk lupa dimana ia menyimpan uangnya tadi, ia memberitahu kepada Ila dan Axel mengenai masalah ini, dan mereka juga telah membantu sebisanya, namun apalah daya kurang lebih selama 15 menit mereka mencari tidak juga kunjung ketemu.
Setelahnya Inuk pulang, iya sudah putus asa mencari uang tersebut, ia berniat untuk meminta maaf kepada Ayahnya karena ia telah menghilangkan uang pemberian dari beliau.
Naas, reaksi Supra - Ayah Inuk malah diluar gudaan, kini Supra berjalan menuju ke rumah Ila dengan wajah marahnya. Tepat didepan pintu utama, ia memanggil nama Ila berkali-kali hingga akhirnya Ila pun keluar.
__ADS_1
"Balikin duid anak gw yang udah Lo ambil!!"
"Om, Ila nggak ngambil uang Inuk, Inuk tadi juga sudah saya kasih tahu buat nyimpan uangnya dirumah dulu biar nggak hilang, tapi dianya nggak nurut"
Ila mencoba untuk menenangkan Supra dengan cara menjelaskan semuanya secara detail. Namun semua itu sia-sia, Supra terlanjur dikuasai oleh amarah, penjelasan Ila hanya seperti angin lalu ditelinga Supra, bukannya membenarkan kesalahan pahaman dia, justru malah seperti arang yang semakin membuat dirinya memanas.
"Alah pasti lu ambil! Kan lu miskin makanya liat duid segitu aja ijo matanya! Pasti Lo diajarin sama Bapak Lo kan? Woi Bambang ngajarin anak tuh yang bener!! Ngajarin kok nyolong!"
Ila menatap Bambang sambil menggelengkan kepalanya, mereka berinteraksi hanya lewat tatapan mata, Ila memberikan isyarat bahwa dia benar-benar tida mengambil uang tersebut.
"Yasudah, berapa uang anak kamu yang hilang? Biar aku ganti"
Bambang mencoba menengahi masalah ini dengan mengalah, ia percaya bahwa Ila benar tidak mengambil itu, namun jika diteruskan masalah ini tidak akan ada selesainya. Mengenal sifat Supra yang sombong dan suka merendahkan orang kecil seperti mereka.
Meskipun dalam keadaan pas-pasan, Bambang tetap iklas memberikan uang yang seharusnya bukan ia ganti. Melihat itu Ila protes akan tindakan yang diambil oleh Bambang.
"Sudah biarkan saja, anggap saja sedekah"
"Nggak bisa gitu dong Pak! Masa sedekah sama orang kaya!"
"La dengerin Bapak, kalau itu memang rejekinya kita, mau orang ambil berapapun atau dengan cara apapun akan tetap kembali ke kita. Jadi, kalau memang Allah takdirkan uang itu untuk kita, pasti nanti Allah akan menggantikan nya, bahkan bisa jadi ganti yang diberikan Allah bisa berlipat-lipat daripada uang kita yang hilang tadi, syaratnya satu kita harus. berdoa, ikhlas dan juga terus berusaha agar rejeki itu kembali atau datang ke kita."
Emosi yang awalnya sudah berada di ubun-ubun dan siap meledak, serta nada tinggi yang telah ia ucapkan kepada Ayahnya. Kini Ila telan, meskipun sudah terlanjur keluar. Hatinya tiba-tiba menjadi tenang setelah mendapatkan nasehat dari sang Ayah. Pikirannya menjadi sedikit terbuka, sadar akan kebesaran Allah yang ia lupakan sejenak.
__ADS_1
Kun Fa Yakun : Maka jadilah
satu kalimat yang paling ia ingat, tidak ada yang mungkin jika Allah sudah berkehendak.
Flash off
Kenapa harus dia? Hanya karena miskin semua orang menganggapnya rakus akan uang? Sehina itu kah menjadi orang miskin? Ini bahkan bukan keinginan Ila untuk terlahir atau menjadi orang miskin.
Sadar akan dunianya saat ini, Ila masih mendengar hinaan yang Bibi lontarkan kepadanya.
DASAR ANAK MISKIN!! TUKANG NYOLONG LAGI!!
Dengan menarik nafas dalam-dalam, Ila mencoba tenang dan meluruskan semua ini.
"Bi, emang tadi Ila sudah berpindah tempat dari sini? Bahkan untuk pergi ke toilet saja tidak, bagaimana bisa Bibi menuduh aku seperti itu? Apakah karena aku anak dari orang yang kurang mampu jadi Bibi menuduh aku mengambil uang itu? Meskipun aku anak yang kurang mampu, tapi untuk mengambil 1 peser pun hak orang lain itu tidak pernah terlintas dipikiran ku. Bukankah itu terlalu kejam Bi? Bahkan Bibi tidak melihatnya secara langsung, dan Bibi lah yang selalu menemani ku di depan TV sambil mengobrol tadi? Coba ingat-ingat siapa yang sudah beranjak dari tempat ini?"
Sang Bibi diam seribu bahasa, ia mencoba mengingat siapa yang telah beranjak. Tatapannya terpaku kepada seorang gadis berambut pendek yang duduk didepannya dengan gerakan kikuk yang lainnya menjadi curiga.
Masita?
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like komen fav and vote..
__ADS_1
Hwaiting puasanya, bentar lagi lebaran. Apa yang kalian takutkan dengan lebaran tahun ini?
Berkurangnya thr karena udah gede atau paket kalian yang masih proses pengiriman? :v