
Angin berhembus diantara dedaunan yang bergerombol disatu ranting dengan ranting lainnya itu memberikan efek sejuk diantara rasa panas, gerah body serta gerah hati.
Tap... Tap... Tap...
Kaki Pak Marmo melangkah menelusuri lorong yang mengarah ke jalan menuju ruang BK dengan tangan kanannya yang menyeret Resthi.
Setelah dipikir lagi, jika dibawa ke Kepala Sekolah terlalu berlebihan karena ini hanya masalah kecil, ruang BK lebih cocok untuk mendisiplinkan Resthi. Gadis ini sebelumnya tidak memiliki jejak kenakalan apapun disana, Ia selalu mengancam korban bullying nya untuk tidak mengadu kepada guru BK agar orang tuanya tahu bahwa dia bersekolah dengan baik dan tidak macam-macam.
"Pak! Katanya mau ke Kepala Sekolah, kok malah ke BK sih?"
Ujar Resthi yang tidak mengerti isi hati Pak Marmo. Pak Marmo sendiri tidak ada mood untuk menjawab pertanyaan Resthi tersebut. Ia memilih terus berjalan dengan posisi yang sama yaitu menyeret Resthi.
Dibelakang, Rico diam-diam mengikuti kemana langkah mereka pergi. Untuk menghindari ketahuan karena kewaspadaan mereka, Rico memberi jarak langkahnya sekitar 50 meter dari tempat mereka berada.
Tujuan Rico mengikuti mereka adalah untuk mencegah terjadinya suap yang bisa jadi dilakukan oleh Resthi untuk membersihkan namanya dari poin BK.
Dhuk...
Sangking fokusnya Rico mengamati Pak Marmo dan Resthi, sampai ia tak melihat ada pohon beringin didepannya.
Saat itu ia baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun belum saja 1 kata keluar, bibinya sudah lebih dulu mencium pohon.
Bibir yang awalnya berwarna pink muda itu berubah menjadi hitam dan kemerahan akibat kejadian tak terduga. Hitam karena batang pohon sudah agak kering dan sedikit mulai mengelupas, hingga pada akhirnya lupasan tersebut dibersihkan oleh air liur serta bibir Rico tadi.
Rico dengan cepat menyembunyikan dirinya dibalik pohon beringin besar itu, ia sadar suara yang baru saja ia hasilkan tadi cukup keras dan feeling nya mengatakan bahwa orang yang ia ikuti akan segera menoleh kearahnya.
Benar, mendengar ada suara yang berasal dari belakang mereka, Pak Marmo dan Resthi otomatis menoleh kebelakang, namun tidak ada apapun dibelakang mereka kemudian melanjutkan jalannya.
Gagal, Rico memilih berlari menuju tempat Ila dan Cinta saja sambil mengusap bibirnya untuk membersihkan dari kotoran hitam dari pohon tadi.
Sesampainya di UKS Rico langsung membaringkan tubuhnya di atas bangkar samping tempat duduk Ila, ia meminta Ila untuk mengobati bibirnya yang agar tergores.
"Ila... Bibir Gw.."
"Lo kenapa dah? Eh puft..
__ADS_1
Ila dan Cinta tertawa ngakak saat melihat kondisi bibir Rico, merah, agar jontor, serta ada kotoran yang masih belum bersih dibersihkan.
"Jangan ketawa Lo pada, huaa Mak... Bibir seksi ku sudah dinodai oleh pohon beringin Mak... Maafkan bibir anakmu yang sudah tak perawan lagi... La maafin Gw ya, Gw nggak bisa jaga bibir Gw buat Lo"
"Dasar goblok..
Plak...
Bukan Ila, melainkan Cinta yang menampar pipi Rico. Ia sangat gemas dengan Rico, entah dimana ia meletakkan otaknya ini, atau jangan-jangan temannya yang satu ini tidak memiliki otak karena otaknya sudah digoreng dan ditumis sama Tante Leha.
"Cinta anj...
"Diem Lo njir, banyak banget drama Lo... Mata Lo nggak liat tuh si Ila kagak bisa bergerak karna kakinya lagi diperban sama Putri"
"Putri teh saha Cin"
"Ya yang itu goblokkk.. itu yang lagi merban kaki Ila Putri namanya... huaaa goblok goblok goblok"
Ucap Cinta sambil menekan serta mendorong kepala Rico kesamping atau dalam bahasa Jawa artinya di jenggung.
Rico tak pernah gagal dalam membuat Cinta frustasi. Dimata Cinta sendiri, Rico adalah spesies manusia tengik yang hidup bersebelahan dengan nya, iya bangku Rico terletak tepat disamping tempat duduk Ila dan Cinta. Nah si Ila, manusia yang dikejar oleh manusia yang bernama Rico itu tidak mau duduk ditepat sebelah Rico. Ia memilih untuk duduk di dekat tembok, yang berarti orang yang duduk di tepat samping Rico adalah Cinta.
Ucap Cinta dalam hati, sudah bukan lelah lagi, namun lelah, lemah, letoy yang Cinta rasakan saat menghadapi Rico.
Cinta mengambil beberapa peralatan di samping Putri untuk membersihkan luka di bibir Rico. Rico sendiri masih nyaman dengan rebahan nya.
"Sini mangap...
"Nggak mau Cin, ntar Lo apa-apain lagi bibir Gw, Gw maunya diobatin sama Ila, bukan sama Lo!"
Cinta menarik nafas untuk menyetok kembali stok sabarnya dalam mengahadapi Rico yang lemah dan manja ini.
Melihat tanda-tanda akan ada boom dari mulut Cinta, Rico kemudian menarik tangan Cinta untuk mendekat dan mengobatinya.
Ila dan Putri melihat adegan pertengkaran hingga perdamaian antara Rico dan Cinta dari awal hanya bisa terkikik menahan tawa.
__ADS_1
Cinta ini adalah satu-satunya teman yang stok sabarnya paling banyak. Ia terlihat jutek dan galak, namun sebenarnya ia memiliki sisi lembut yang jarang orang lain lihat.
Bisa dilihat sekarang, ia mengobati luka Rico dengan sangat telaten dan hati-hati.
Sama seperti Ila, ia tidak terlalu mempercayai laki-laki dengan mulut manis, terbukti bahwa ia tidak pernah dekat dengan cowo manapun kecuali Rico dan Aretha sahabatnya.
Cinta mulai memberikan obat merah pada luka di bibir Rico, rasa perih mulai menjalar disana. Ia tak hentinya mengomeli Rico yang berada dibawahnya.
"Lo kalo mau ciuman sama kucing aja, kan kucing Lo banyak tuh, jadi mayan kan tiap hari bisa gantian dengan kucing yang beda, ngapain malah milih sama pohon"
"Aa Cintaaa...
Rico menepuk tangan Cinta yang sedang mengobatinya karena Cinta menekan lukanya agak keras. Bukannya terlepas dan rasa sakit nya mereda, Tangan Cinta justru malah semakin menekan bibir tersebut, karena Rico bukannya menghempaskan tangan Cinta tapi malah menepuknya hingga semakin tertekan pula bibirnya.
"Cintaaaa.....
"Goblok tangan Lo awasin njir, ini tangan Gw Lo teken kedalem makanya bibir lu sakit!"
"Oh..
Selain goblok, Rico ini mengidap penyakit tolol dan lemot, tak heran ia melakukan sesuatu diluar nalar kita seperti tadi.
Rico melepaskan tangan Cinta, dan benar rasa sakit dan perihnya sudah mereda.
"Udah Cin udah perih banget"
"Dari tadi juga harusnya udah, Lo nya yang memperlambat gerakan Gw pas mau selesai.
"Ngapain Lo nggak bilang kalau udah mau selesai anjir"
"Lo udah teriak dulu Jubaedah...."
"Oh hehe...
Ucap Rico dengan wajah cengengesan nya yang minta buat ditampol tuh muka.
__ADS_1
Bersambung...
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih :)