
Pelanggan pria ini segera menidurkan tubuhnya saat sampai diruangan yang telah Ila dan Sista berdiri.
Ila mendekati pelanggan pertamanya tersebut yang masih mengenakan masker dan juga topi hitam. Ila sedikit takut sebab pakaian pelanggannya ini yang semua serba hitam seakan seorang pencuri.
"Maaf Kak, saya masih dalam tahap belajar jadi mohon maaf kalau kurang nyaman untuk Kakak" Izin Ila kepada pria yang tengah berbaring dihadapannya itu. Pria tersebut hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Ila.
"Maaf Kak, boleh dibuka topi dan juga maskernya?"
"Nggak bisa Kak, saya sedang mematuhi peraturan social distancing" Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut pria tersebut.
"Kalau begitu kenapa Kakak datang kesini, kalau Kakak mau melakukan social distancing silahkan menjauhlah dari kami, atau bila perlu keluar dari salon ini" Ucap Ila dengan nada yang begitu lembut serta bibirnya yang ia paksakan untuk tetap tersenyum agar terlihat ramah kepada pelanggan.
"Kok Kakaknya ngusir saya?" Pria tersebut sedikit memelototkan matanya kepada Ila karena kesal. Dia ini pelanggan VVIP, bagaimana mungkin ada seorang pegawai disini yang memperlakukannya dengan begitu buruk.
Sutthhhhh...
" Jadi begini Kak, kalau Kakaknya tidak membuka masker, lantas bagaimana kami bisa melakukan beberapa treatment kepada Kakak?" Sista menengahi perdebatan kedua remaja yang tengah saling menatap tersebut.
__ADS_1
Sista dapat mengetahui bahwa pria itu masih dalam usia remaja sebab dari kulitnya serta matanya sudah menyiratkan jiwa muda dan juga tekstur kulitnya masih kencang dan belum keriput karena termakan usia.
"Saya mau meni pedi, bukan treatment kulit lainnya" Jelas sang pria.
"Mbak, kenapa nggak bilang dari tadi" Ucap Sista dan juga Ila bersamaan menatap seorang pegawai juga yang menatap mereka bertiga.
"Heheh kalian kan tidak tanya" Jelas salah satu pegawai tadi untuk membela diri.
"Lantas mengapa jika Kakak ingin melakukan treatment meni pedi malahan berbaring di ranjang yang biasa digunakan untuk treatment kulit yang lainnya?" Tanya Ila.
"Memangnya kenapa? Saya kan pelanggan, saya Raja disini, ya terserah saya dong" Ila dan Sista menarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut. Bahkan pria tersebut dapat mendengar sebuah helaan nafas dari keduanya.
Ila yang tadinya tengah menyiapkan beberapa peralatan untuk melakukan treatment dengan ditemani oleh Sista. Ia mendudukkan pantatnya diatas kursi yang terletak disamping ranjang tempat tidur pria itu.
Ila kini sudah berhadapan dengan kaki pria tersebut dan berencana untuk melepaskan sepatu serta kaus kaki yang ia pakai, namun belum juga Ila melakukannya sudah dicegah lebih dulu oleh pria tersebut.
"Saya tidak ingin kamu mengotori tanganmu dengan kakiku, kamu hanya perlu melakukan meni pedi terhadap tanganku, bukan kakiku. Jangan merendahkan dirimu dihadapan ku"
__ADS_1
Ucapan tersebut terdengar begitu lembut dan membuat telinga Ila meremang kala mendengarnya. Ia seakan ingin hanyut terbawa oleh perasaan tersebut, namun ia segera disadarkan oleh realita. Bahwa apa yang apa yang ada dipikirannya tidaklah mungkin menjadi nyata.
Ila memilih untuk menuruti permintaan dari pelanggannya itu. Ila mulai membelai jari tersebut dengan lembut menggunakan tangannya sendiri, meskipun itu menggunakan sarung tangan agar tetap menjaga kehigienisan diri.
Pria tersebut memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang diberikan oleh Ila kepadanya. Ini pertama kalinya ada seseorang yang memegang tangannya selain keluarganya. Lembut dan hangat, begitu yang dirasakan oleh pria itu.
Bahkan sangking nyamannya ia sampai tertidur pulas. Sentuhan tersebut seakan memiliki sebuah hipnotis tersendiri bagi tubuh pria tersebut. Hingga sampai pada step terakhir treatment meni pedi, pria tersebut belum juga membuka kedua matanya.
Ila dan Sista sudah beberapa kali memanggil dirinya, namun tidak ia dengarkan, bahkan posisi ia tertidur kini sedikit meringkuk menandakan sebuah kenyamanan.
Ila berjalan kesisi ranjang tersebut untuk melihat wajah dari seorang pelanggan pertamanya ini. Garis mata dan juga ketebalan alis dari pria tersebut seakan pernah Ila lihat, namun entah dimana ia lupa.
"Kak... Bangun, treatment-nya sudah selesai" Ucap Ila dengan sedikit menggoyangkan bahu pria itu. Namun pria itu hanya menggeliat dan kemudian kembali tidur dengan menjadikan tangan Ila sebagai bantalan.
Ila sedikit meremang, tangan hangat itu menggenggam erat tangannya, bukan sakit, namun nyamanlah yang Ila rasakan saat ini.
Terlintas ide jahil diotak Ila, ia menggerakkan jarinya yang tepat pada pipi pria tersebut. Ia terus saja menoel pipi tirus nan putih itu, hingga membuat yang Embu terganggu dan sedikit menggosok pipinya hingga membuat karet masker yang ia kenakan terlepas dari telinga kiri pria tersebut dan menampilkan wajah tampan dengan garis rahang yang kuat.
__ADS_1
Sosok ini seperti pria dialam imajinasi yang selama ini singgah dipikirannya kala membaca sebuah novel diaplikasi sebelah. Sungguh wajah real namun tetap saja terlihat unreal.