
Ila dibangunkan oleh Axel tepat disaat adzan magrib berkumandang. Suara adzan yang saling bersautan ini seakan menjadi lantunan merdu ditelinga pengagumnya. Tak hanya untuk mengingatkan waktu untuk solat, namun juga mengingatkan waktu untuk beristirahat.
Tak sedikit mitos Jawa yang berisi tentang beberapa larangan disaat waktu magrib. Salah satunya, tidak boleh berada diluar rumah, jika bukan untuk berangkat ke masjid maupun musholla. Tak dijelaskan apa tujuan pamali tersebut, namun banyak juga orang tua yang mendefinisikan arti pamali tersebut, dan kenapa begitu dihindari. Yaitu, karena waktu magrib adalah waktu dimana perpindahan antara siang dan malam, yang mana begitu banyak roh maupun setan yang mulai keluar dari tempatnya.
Bahkan sangking dipercayainya mitos tersebut, jika waktu magrib, seluruh jendela maupun pintu rumah harus ditutup, terlebih lagi jika penghuninya adalah Ibu hamil, bayi maupun balita. Kondisi ini merupakan kondisi yang paling disukai makhluk halus, sebab sangat rentan sekali untuk merasukinya. Sehingga untuk menolak bala tersebut, banyak orang tua yang menyarankan hal itu kepada anak-anaknya, dan itu sudah seperti tradisi turun-temurun yang masih dipercayai hingga sekarang.
Tradisi Jawa memiliki begitu banyak mitos yang beredar dimasyarakat Indonesia, Bukan hanya Mitos Jawa yang memiliki arti mendalam, namun beberapa mitos dari daerah Indonesia lain pun tak kalah pentingnya.
Berbeda daerah, berbeda pula suku, tradisi dan kepercayaannya, namun jangan pernah sekalipun melanggar mitos yang dipercayai oleh daerah tersebut, terlebih lagi jika kalian hanya sebagai turis. Jika kalian melanggar bukan hanya akan berdampak untuk diri kalian saja, bisa jadi itu juga berpengaruh untuk masyarakat sekitar kita.
Ial mulai mengerjapkan matanya kala mendengar suara Axel yang tepat berada disamping telinganya, serta beberapa kali tepukan pelan terasa di pipinya, hingga membuatnya terpaksa bangun.
__ADS_1
"Bangun, mandi dulu sono! Ibu sudah nyiapin makan malam buat kita, tapi kita solat dulu" Axel meninggalkan kamar Ila begitu saja setelah mengucapkan beberapa kata pada Ila.
Tak langsung mandi, Ila memilih untuk meregangkan sedikit badannya yang pegal karena lama tertidur.
Setelahnya ia mula berjalan menuju ke almari untuk mengambil pakaian baru dan pergi untuk mandi.
Semua tampak biasa, rutinitas Ila tidak ada yang berbeda dari hari sebelumnya, bedanya hari ini ia hanya tidak memasak bersama dengan Wati.
Hingga hari yang dinantikan oleh Ila pun datang, yakni hari pertama ia masuk kerja. Ia seperti biasa bangun awal untuk membantu Ibunya.
Di kehidupan sekolah dan kehidupan kerja, tak membuat rutinitasnya berbeda. Jika biasanya Axel akan mengantar dan menjemput Ila saat masih sekolah, kini berubah. Jam kerja Ila dimulai ada pukul 08:00 WIB, yang mana itu lebih siang dibandingkan jam masuk sekolah Axel.
__ADS_1
Namun meskipun tak mengantarkan Ila untuk bekerja, Axel tetaplah menjemput Ila saat pulang. Terlebih pulang Ila sudah termasuk malam dan angkutan umum sudah mulai tidak beroperasi lagi.
Kini Ila tengah membereskan barang dagangannya dan mulai membersihkan wadah serta rumah mereka, tak terkecuali membantu Ibunya untuk mencuci beberapa baju pelanggan.
Sampai kini jam sudah menunjukkan pukul 07:38 WIB. Ila sudah siap berangkat bekerja dengan mengenakan atasan putih serta bawahan rok hitam. Tas ransel kecil yang berisi bekal untuk makan siangnya kini menambah penampilannya seperti menjadi seorang anak magang. Tapi memang begitulah faktanya, Ila tengah menjalani masa training nya selama 3 Minggu kedepan.
Ila berada ditengah beberapa penumpang yang tengah bergesekan karena tempat duduk yang sempit. Ini adalah pemandangan yang biasa Ila lihat saat menaiki sebuah angkot. Ini adalah satu-satunya kendaraan umum yang paling murah dikantong Ila.
Ia tidak berhenti tepat didepan salon tempat kerja barunya, melainkan ia berhenti depan Mall besar yang ada di kota ini. Ia sempat kaget, meskipun ini bukan pertama kalinya ia memasuki salon ini, namun rasa takjub selalu muncul kala ia memperhatikan beberapa furniture yang terpasang disini sebagai hiasan.
Ia awalnya sempat tak percaya diri saat mendaftarkan diri kesini, namun semuanya ia paksa, jika belum mencoba bagaimana ia bisa tahu hasilnya.
__ADS_1
Dan semua usahanya membuahkan hasil, ia dapat diterima di salon ini dengan rasa tak percaya ia sampai bolak-balik mematikan ponselnya dan mencuci wajahnya beberapa kali karena takut kalau ia sedang berhalusinasi. Namun semuanya nyata, salon se elit ini dan pelanggannya bukanlah sembarang orang dapat menerima dirinya yang hanya tamat Sekolah Menengah Atas, tak ada yang tidak mungkin jika Tuhan telah berkehendak.