Arus

Arus
Debat saudara


__ADS_3

Disisi lain, angin malam terus berhembus menusuk kulit Ila maupun Axel. Jaket yang mereka gunakan, masih mampu ditembus oleh angin. Ila duduk dijok belakang sembari memegang erat kedua sisi jaket yang dipakai oleh Axel.


"Dia tadi cowok Lo?" Tanya Axel dengan sedikit teriak karena takut suaranya tak terdengar oleh Ila. Ila hanya menjawab dengan gelengan kepala dibelakang badan Axel, sehingga Axel bisa merasakan gelengan tersebut.


"Terus tadi Lo ngapain sok romantis sama Gw didepan cowok tadi La?" Tanyanya lagi.


"Dia maksa mau nganterin Gw pulang" Jawab Ila dengan sedikit berteriak juga.


"Terus kenapa Lo tolak? Kan lumayan gratis"


"Gratis matamu!! Demi gratisan kek gitu terus Gw harus merelakan diri Gw sama tuh cowok gitu?" Marah Ila pada jawaban yang diberikan oleh Axel tadi.


"Menurut Gw dia baik kok, buktinya dia ngapa-ngapain Lo"


"Orang bisa keliatan baik bila hanya dilihat dari wajahnya, dan Lo cuma bisa menilai wajah dia aja, berarti orang jahat dimata Lo tuh harus nyelakain Gw dulu baru Lo bisa nilai dia jahat?"

__ADS_1


"Ya sudah ya sudah, iya dia nggak baik buat Lo" Axel memilih mengalah untuk mengakhiri perdebatan yang terjadi diantara mereka berdua.


Bukan wanita namanya jika perdebatan harus selesai begitu saja. Sudahlah Axel mengalah, tetapi Ila masih saja ingin berdebat. Sehingga membuat perdebatan diantara mereka seperti tiada akhirnya.


"Sudahlah, besok-besok Lo nggak perlu jemput Gw lagi!!" Ucap Ila dengan nada yang masih menggebu-gebu.


"Kenapa? Lo pengen dianterin pulang sama tuh cowok tadi? Atau cowok Lo yang lain?"


"Lo kira Gw ini cewek apaan?!! Dari pada sama cowok yang jadi beban keluarga, mendingan Gw sama S-Coups aja!!!!"


"Kalo nggak mau ya Gw paksa lah!!"


Perdebatan mereka berlanjut bahkan saat sudah sampai dirumah. Ila melepaskan helmnya dengan mulut yang terus berucap. Axel pun yang tak mau kalah terus saja meladeni ucapan sang Kakak.


Suara mereka yang cenderung keras, membuat Wati yang tadinya sedang memotong beberapa bahan masakan didalam rumah kini keluar.

__ADS_1


Kurang lebih sekitar 5 menit, Wati sudah berdiri diambang pintu untuk memperhatikan keduanya putra dan putrinya. Seakan kehadirannya tidak dianggap oleh mereka, kini Wati mulai mengeluarkan dehemannya.


Satu kali masih tak didengarkan, Kedua dan ketiga kalinya ia lebih mengeraskan suara dehemannya, masih tak ada respon.


"WOI ANAK-ANAK!!! MAU SAMPAI KAPAN DISANA?!!"


Classs, teriakan dari Wati berhasil menembus gendang telinga kedua anaknya. Mereka berbondong-bondong untuk memasuki rumah dan menghentikan perdebatan mereka tadi.


Keduanya sama-sama mengerutuki kebodohan masing-masing. Bagaimana bisa mereka tak menyadari kehadiran Ibunya, kalau sudah seperti ini maka akan lebih panjang urusannya.


Bukan hanya akan dimarahi karena berdebat saja, namun masalah yang pernah terjadi dimasa lalu akan ikut diungkit lagi oleh Ibunya.


Bahkan jika sudah mulai memberikan ceramah, sang Ibu tak hanya memerlukan waktu 10 atau 15 menit, namun bisa sampai setengah jam, dan yang paling parah bisa sampai 2 jam ia akan marah dan menggerutu. Itulah mengapa mereka sangat ingin menghindari perdebatan didepan Ibunya.


Ketiganya sudah duduk diatas tikar, tepatnya didepan televisi. Bahan masakan masih berjejer disana, dan itu tak menjadi masalah bagi Wati.

__ADS_1


"Kenapa kalian bertengkar diluar tadi? Pengen diliatin tetangga? Atau pengen semua orang tau kalau kalian sedang sedang bertengkar dan Ibu yang disalahkan karena tidak bisa mendidik anak-anak Ibu?"


__ADS_2