
Plakk...
Suara tamparan itu sangat nyaring ditelinga setiap orang yang berada di lorong.
Perih, namun ada rasa bingung yang menyelimuti hati Ila, kenapa tiba-tiba ia ditampar? Bukankah dia sudah mendapatkan pendonor?
"DASAR ANAK NGGAK GUNA!!
"DI SURUH NYARI PENDONOR AJA LAMA BANGET!!"
"Bbukannya masih aada waktu bbesok Bu?"
Ucap Ila sambil memegangi pipinya yang sangat perih akibat tamparan tadi.
"Lo nyari pendonor ka? Kenapa nggak ngomong sama Gw? Biar lebih cepet nyarinya, oh iya Ayah nyariin Lo buat yang terakhir kalinya tapi Lo nggak ada"
Boommm...
Suara Axel terdengar sedikit bergetar, mungkin ia sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi, dia terlihat sangat bersedih dan sangat ingin menangis, terlihat dari matanya yang sangat merah dan air mata berada di pelupuk mata.
"Tterakhir kalinya?"
Axel hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia sudah tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata lagi.
"Terakhir kalinya?..
"Terakhir kalinya Nan?..
"Lo bohong sama Gw kan kali ini?..
"Nanan!! Jawab pertanyaan Gw!! Lo bohong kan sama Gw?..
"JAWAB ADNAN AXEL BUANA!!!"
Ila mencengkeram kerah baju Axel, dan mengombang-ambingkan tubuh sang adik, berusaha terus meminta jawaban dari Axel, ia masih berdoa agar Axel berbohong padanya kali ini.
Axel hanya bisa diam dan menjawab pertanyaan Ila dengan anggukan dan gelengan kepala.
Tubuh Ila luruh kebawah, dan Axel ikut berjongkok guna menjadikan dirinya sebagai sandaran bagi Ila.
"Nanan....
"Ayah nggak pergi ninggalin kita kan?
"Ayah masih didalam nungguin Kakak bawa pendonor kan?
__ADS_1
"Nanan, Ayah udah sadar belum tadi pas Kakak pergi?
"Dia ngomong apa saja Nan? Kasih tau Kakak.."
Suara Ila semakin lama semakin tidak terdengar, ia menangis dalam pelukan Axel. Dunia seakan tengah menguji keluarganya dengan segala cara agar mereka bisa putus asa.
Dalam waktu singkat, Axel sudah harus menjadi lelaki yang melindungi keluarganya, yang menjadi Imam, yang harus menggantikan posisi Ayahnya.
Tidak terdengar suara dan pergerakan dari Ila, Axel mengecek keadaan Ila dipelukannya.
Pingsan..
Kedua wanitanya sama-sama jatuh pingsan setelah mendengar kabar duka ini, Wati telah dibawa ke ruang rawat jalan, dan sekarang Ila. Axel membopong tubuh Ila menuju ke ruangan yang sama seperti Ibunya.
Muhammad Rafkha Alfedri atau yang sering dipanggil dengan Fedri, pria yang dibawa Ila beberapa menit yang lalu.
Ia belum beranjak dari tempat awal, dia melihat betapa hancurnya keluarga Ila, terutama perlakuan Wati terhadap Ila. Meskipun mereka hanya kenal sekilas, bahkan tidak mengetahui nama satu sama lain, namun hati Fedri tergerak seakan memiliki simpati terhadap Ila.
8 Agustus 2022
Rumah yang biasanya ramai dan ribut karena banyak pembeli, kini berubah menjadi ramai namun penuh tangisan.
Pagi sekali jenazah Bambang telah selesai diotopsi dan dipulangkan ke rumah duka.
tetangga berdatangan dari pagi buta untuk mendoakan agar tenang di sisi Tuhan. Teman Ila dan Axel datang tepat saat jenazah akan dibawa ketempat peristirahatan terakhirnya.
Pelukan dan genggaman tangan tak lepas dari Ila, bukan dari sang Ibu, namun dari kerabat dan temannya.
Disinilah tempatnya, tanah yang rata digali dan diisi dengan raga manusia yang sudah ditinggalkan oleh jiwanya.Tangisan keluarga terus pecah saat jenazah Bambang ditutup dengan tanah.
Setelah semua ritual pemakaman selesai, doa-doa telah dipanjatkan meminta keterangan dan surga untuk tempat Bambang diakhirat nanti.
"Ayah..... Ayah.... Jangan tinggalkan Kaka, Kaka mau sama Ayah...
"Kenapa Ayah pergi tanpa mengajak Ila disamping Ayah...
"Ila sama siapa nanti yah... Ila nggak punya orang yang dengerin Ila selain Ayah...
Ila menangis dengan memeluk batu nisan yang tidak bisa bicara itu, orang-orang yang ikut mengantar pemakaman sudah pulang satu persatu, tersisa Axel, Cinta, Rico
dan Aertha. Mereka ikut menangis melihat betapa kehilangannya Ila terhadap sang Ayah.
"La..
"Ayo pulang yuk, jangan nangis di atas makam Ayah..
__ADS_1
"Nggak baik, nanti kalo Ayah tau kamu nangis terus gimana? Dia pasti bakalan sedih La...
"Kita juga sedih ditinggal Ayah, tapi Tuhan lebih sayang sama Ayah dibandingkan kita, Tuhan nggak mau Ayah ngerasain sakit lebih lama..
"Yuk pulang"
Bujukan demi bujukan tidak berpengaruh bagi Ila.
"Kalian nggak ngerti perasaan Gw, diem deh! Gw mau nemenin Ayah Gw disini, kasian dia sendirian. Kalian kalau mau pergi, pergi aja duluan Gw nggak mau pergi dari sini".
Axel sudah tidak tahan lagi melihat kondisi Ila yang amat menyedihkan. Axel menggendong paksa Ila untuk pulang.
"Lepasin Gw Nanan!!!
"Gw mau nemenin Ayah!!
"Ayah... Ayah bantuin Ila... Nanan paksa Ila Ayah... Marahin Nanan Ayah..."
"Nanan... Ayah Nanan..
"Ayah sendirian disini.. Biarin Kakak nemenin Ayah disini kalo Lo nggak mau nemenin dia"
Ial digendong paksa Axel hingga didepan pintu mobil yang sudah dibuka sebelumnya oleh Rico. Ila didudukkan di kursi penumpang kemudian sampingnya diisi oleh Axel agar Ila tidak bisa kabur. Ila memukul kaca jendela mobil meminta untuk keluar.
"Nanan awas!!! Gw mau nemenin Ayah disana!!"
"LA SADAR!! AYAH UDAH NGGAK ADA LAAA!! KITA IKHLASKAN BIAR DIA BISA TENANG DISANA!!
"Ayah udah nggak ada?"
"Nan...
Ucapan Ila terpotong karena ia kaget saat tiba-tiba Axel memeluk erat tubuhnya.
Ia merasakan bahunya yang basah, ditambah badannya sedikit bergetar, apakah Axel menangis dipelukannya?
Benar, isakan kecil terdengar dari mulut Axel, pria yang selalu tampak tenang saat bersama siapapun tiba-tiba menangis di dalam pelukan Ila.
Pria yang tampak acuh ini ternyata juga bisa merasakan kehilangan saat Ayahnya tiada?
Ila membalas pelukan Axel dengan tak kalah erat. Mereka saling menguatkan satu sama lain lewat pelukan ini.
Bersambung...
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih:)
__ADS_1