Arus

Arus
Kekalahan Resthi


__ADS_3

"Kenapa kalian nggak mencurigai Ila? Kan dia yang paling miskin disini, uang segitu sudah banyak dimatanya"


"Astaga, aku beneran nggak ngambil uang nya Bela"


"Halah, terus tadi gw liat lu dikelas sendiri, ngapain lagi kalau nggak nyolong?"


"Aku tadi cuma ngambil makanan aja di laci terus pergi ke rooftop buat makan bareng sama Cinta dan teman aku yang lainnya"


"Cuih maling kalau ngaku penjara penuh!!"


Satu kelas sudah termakan oleh omongan Resthi, suara bisikan hingga teriakan mulai terdengar. Suara kecewa mendominasi gendang telinga Ila. Apalagi ini? Fitnah yang dilontarkan oleh Resthi sungguh kejam, ia bahkan tidak pernah menyentuh uang orang lain, lantas bagaimana bisa ia mengambilnya.


3 orang mulai menggeledah isi tas Ila, ia hanya pasrah demi membuktikan bahwa tuduhan yang Resthi tunjukan padanya adalah salah besar.


Salah satu orang menemukan uang sejumlah 20 Ribu, melihat itu Resthi semakin gencar untuk memojokkan Ila dalam masalah ini. Sebenarnya yang mengambil uang tersebut adalah dirinya sendiri, dan diberikan kepada antek-anteknya, setelahnya dengan sengaja ia menuduh Ila sebagai pelaku. Mulutnya ini sungguh pintar memutar balikkan fakta.


"Nah kan bener, dia yang sudah mengambil uang tersebut terus dibuat beli makanan untuk Lo Lo Lo dan juga Lo!!"


Ucapnya sambil menunjuk satu persatu wajah sahabat Ila.


"Benar-benar ya Lo! Kalau bukan karena beasiswa, nggak mungkin Lo bisa ada disini! Eh bukannya memberikan kesan ataupun prestasi yang baik malah nyolong! Kekurangan duid banget ya Lo sampe berbuat kek gitu?"


Ucapnya begitu menggebu seolah dia tau semuanya, namun bukankah itu malah membuat orang lain mencurigai nya? Bagaimana bisa tahu tanpa melihat ataupun mendengarnya dari dekat? Bahkan dengan mendengar atau melihat pun orang bisa tetap salah paham, lah ini hanya melihat dari jauh.

__ADS_1


Rico berdiri diujung kerumunan tersebut, ia menatap nyalang kearah Resthi, tangan ia lipat didepan dada, bukan senyum ataupun wajah ramah yang ia tampilkan, melainkan senyuman smirk yang ia perlihatkan saat ini. Ia mengamati gerak gerik Resthi dari tadi, ia ingin tahu sampai mana Resthi mencoba bermain-main dengannya, ia sudah cukup berbaik hati dulu membiarkan Resthi lolos begitu saja dari tangannya.


Namun sepertinya ia sudah melewati batas sekarang, Rico menatap wajah merah Ila, dada yang naik turun serta mulut yang terus mengeluarkan karbondioksida guna menenangkan diri, terlihat ia tengah berusaha mati-matian untuk menahan amarahnya agar tidak meledak. Ia paham betul, Ila juga hanya manusia biasa, kadar kesabarannya ada batasnya, sependiam apapun ia pasti dalam hatinya ada rasa ingin membalas semua perbuat Resthi yang telah menorehkan luka di hati.


"Dasar nggak tau diuntung!! Ibu Lo ngajarin Lo buat nyolong yah guna mencukupi kebutuhan sehari-hari?"


Rico maju ke depan, sungguh ia tidak akan memaafkan maupun membiarkan Resthi kembali lolos darinya. Namun langkahnya terhenti.


Brakk


Semua yang ada dikelas terlonjak kaget mendengar gebrakan meja yang berasal dari Ila. Habis sudah kesabaran Ila kali ini, sikap Resthi sungguh tidak dapat ditoleransi lagi. Ia mencengkeram kerah baju Resthi


"Gw selama ini udah diem dan sabar nanggepin sikap Lo ya! Bahkan saat Lo bully gw karena alasan yang nggak jelas dari Lo itu! Lo kalau mau dapet juara ya belajar Man! Jangan main kotor kayak gini!" Ila menjeda kalimatnya


"Bukannya terlihat pintar maupun keren, tapi malah kelihatan norak dan nggak punya otak!! Coba dipikir deh gais, uang 50 Ribu bisa buat beli nasi bungkus ditambah gorengan dan sisanya 20 Ribu? Nasi perbungkus 5 Ribu dikali 5 jadi 25 Ribu, gorengannya itu sekitar 15 Ribu. Nah 25 ditambah 15 totalnya 40, harusnya kan sisa 10 Ribu, bagaimana bisa sisanya 20 Ribu?"


"Bukannya kalian tahu sendiri kalau Ibu gw tuh jualan nasi buat sarapan? Lagian bagaimana mungkin seseorang yang hanya melihat dari jauh bisa menilai sedetail itu kalau bukan menuduh? Atau jangan-jangan Lo ya Res yang sudah ngambil duidnya? Pantesan Bokap Lo nolak ketika Lo mau di drop out dari sekolah, soalnya anaknya ini malu-maluin banget kalau dibiarin keluar. Ya kalau di sekolah ini kan sudah pada tau lah ya gimana menjijikkan nya seorang Resthi"


Dilihat wajah Resthi yang merah padam karena menahan amarah.


"Apa? Mau gw bongkar semua kelakuan bejat Lo di luar sekolah sekarang juga? okay, Cin tolong dong rekamin adegan ini biar bisa dia jadikan kenang-kenangan dimasa SMA, nanti jangan lupa disebarkan di platform komunitas sekolah ya"


Ila melemparkan handphone nya kearah samping kanan dimana tempat Cinta berdiri. Dengan sigap Cinta pun menangkap handphone tersebut dan segera membuka kamera guna menayangkan siaran langsung disalah satu platform komunitas sekolahan.

__ADS_1


Mata Resthi mulai bergerak ke kiri dan ke kanan karena gemetar, takut apabila aib-aib nya tersebar begitu saja karena ulah Ila. Anjim, kayaknya gw salah mencari musuh. untuk beberapa saat ia bergelut dengan pikirannya sendiri.


Akan semarah apa Ayahnya jika mengetahui semua yang Resthi lakukan diluar sana. Akankah ia akan dikurung didalam kamar? Atau semua asetnya akan dicabut? Atau lebih parahnya akankah ia diusir dari rumah karena telah mempermalukan keluarga?


"Setiap mal-"


Ucapan Ila terhenti karena Resthi memotongnya, ia tidak kuasa mendengar aibnya dibuka didepan umum.


"Stop stop stop jangan diterusin lagi! Jangan! Matikan semua kamera jangan ada yang memvideokan ini!"


"Kenapa gw harus menuruti kemauan Lo? Siapa Lo?"


Penonton berseru meminta Ila untuk melanjutkan ceritanya, mereka sungguh diliputi dengan rasa penasaran terhadap apa yang dilakukan Putri dari seorang CEO diluar lingkungan sekolah. Seperti tidak lama lagi Pak Cakra - Ayah Resthi tidak lama akan bangkrut jika salah satu kliennya melihat video ini. Pikir beberapa orang yang diam-diam tidak menyukai Resthi.


"Gw bakal nurutin 1 kemauan Lo jika Lo mau tutup mulut!"


"Kok 1? Kayak jin aja 'Kuberi satu permintaan' 3 dong kalau berani, kalau nggak 3 jangan mau tutup mulut La, kita udah siap video in nih"


Aertha ikut memprovokasi keadaan yang memang sudah memanas dari tadi. Terbukti provikasian Aertha berhasil, kini semuanya berteriak '3' untuk semakin memojokkan Resthi. Sedangkan Ila disana memberikan senyuman bangga kepada Aertha yang telah membantunya.


"Oke-oke 3, sekarang apa kemauan Lo?"


Resthi ingin segera mengakhiri ini semua, ia muak dan malu pada dirinya sendiri. Awalnya ia ingin membuat Ila dibenci satu kelas, tapi kenapa dialah yang dipojokkan sekarang?

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like komen fav sama vote, sekian :)


__ADS_2