Arus

Arus
Upacara


__ADS_3

Kucuk kucuk kucuk kucuk kucuk~~


Jaljinaesseoyo modu~~


Bogoshipeo urido~~


Eojjeom ireohke~~


Sigani anganeunji jeongmal~~


Beoseu aneseo going


Ibulsokeseo going~~


Urineun eonjena neoge going going~~


Suara alarm yang memekakkan telinga memaksa Ila untuk bangun, ini masih pukul 05:00 WIB. Warung Wati hari ini masih belum buka karena masih dalam keadaan berkabung.


Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, Ila pergi menuju ke dapur untuk membantu Ibunya menyiapkan makanan untuk mereka sarapan nanti.


Ila memasuki area dapur, ia mengambil wortel, kol dan kentang untuk dicuci terlebih dahulu sebelum dimasak. Wati menoleh ke arah Ila dengan mata memicing.


"Ngapain Lo masih disini?"


"Kenapa Lo nggak ikutan nyusul Bapak Lo aja sih?"


"Lo tuh pembawa sial di keluarga Gw!!"


"Gara-gara Lo!! Suami Gw mati La!!"


"Kenapa sih Lo bisa jadi manusia nggak berguna banget? Andai Lo dapetin pendonor darahnya cepet dikit, suami Gw pasti masih disini La...

__ADS_1


Ila meresapi semua perkataan Wati, ada benarnya juga, andai ia membawa pendonor darah lebih cepat, pasti Ayahnya juga akan sembuh dan berada disisi mereka sekarang.


Ngomong-ngomong tentang pendonor darah, dimana orang yang Ila bawa kemarin? Kenapa ia bisa melupakannya begitu saja setelah mendengar kabar duka?. Lucu sekali, ia yang membawa, namun ia juga yang melupakan.


"Sudah Bu, jangan diungkit lagi, biarin Ayah tenang disana dan juga kita harus kuatin diri tanpa Ayah sekarang..


"Jangan nyalahin siapapun, ini semua sudah takdir dari Allah".


Mereka berdua sama-sama membalikkan badan untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Ila tersenyum hangat kepada Axel, ia heran bagaimana Axel bisa sangat dewasa hanya dalam 1 malam?.


Sedangkan Wati, ia kembali melanjutkan acara memasaknya. Ia sangat kesal karena Axel membela Ila, jelas-jelas Ila lah yang membuat mereka kehilangan kepala keluarga untuk selamanya.


...~~~...


Saat disekolah, Ila menjadi sangat pendiam dari biasanya, apa mungkin ia masih dalam keadaan berkabung?. Namun, dilihat dari keadaannya kemarin, hari ini ia sudah terlihat lebih baik. Atau karena masalah lain makanya ia menjadi murung? Tidak ada yang berani bertanya apapun kepada Ila saat ini.


Cinta mencoba mencairkan suasana diantara mereka, ia mencoba mengalihkan pikiran Ila kedunia per K-Pop an.


"Episode 1 sama 2 udah, Lo bahas yang mana?"


"Episode 3 lah, kalo 1 sama 2 Gw juga udah kali, Gw udah tebak pasti Lo belom nonton kan? Nonton deh ntar kalo udah sampe rumah, please itmmm....


"Nggak usah spoiler, ntar nggak asik"


Ila membungkam mulut Cinta dengan tangan kirinya untuk mencegah mulut Cinta yang nggak ada rem. Ya kali nonton di spoiler in semua, belum nonton sudah tau semuanya kan garing.


Setelah berhasil menjinakkan mulut Cinta, Ila menjauhkan tangannya dari mulut Cinta dan mengusap nya dibagian lengan baju Cinta.


"Kena ludah Lo"


"Anjir jahat banget Lo La, udah ah buruan cabut ke lapangan, ntar si Botak keburu ngomel lagi"

__ADS_1


Hari ini adalah hari Senin, yang berarti upacara akan dilakukan seperti biasanya, ia bergegas mencari topi yang biasa ia simpan didalam tas. Ia sangat takut jika ia melupakan topi, karena ia tidak pernah membawa topi kecuali hari Senin saja. Namun kali ini ia benar-benar lupa bahwa ini adalah hari Senin.


'Aduh, mampus Gw'


"Emm Lo duluan aja deh Cin, Gw lupa bawa topi"


"Oalah, yaudah Gw duluan ya! Bye"


Ila berjalan menyusul Cinta, tetapi ia tidak ikut dalam barisan yang sama dengannya. Ila berbaris di bagian ujung lapangan tempat berbarisnya siswa yang tidak mengenakan atribut lengkap.


...~~~...


Didepan gerbang ada banyak anak-anak yang masih ditahan karena telat. Tak terkecuali Fedri, ia bahkan baru saja tiba disekolah saat upacara hampir selesai.


Fedri berbaris dibarisan paling belakang, matanya tak sengaja menangkap sosok Ila yang berbaris bukan dibagian barisan kelas.


Ia terus melihat kearah Ila, tanpa sadar ia tersenyum seperti orang gila, ia menggelengkan kepala untuk mengusir Ila dari pikirannya.


Fedri menyadari sesuatu, wajah Ila terlihat pucat hari ini, tetapi ia tidak meminta izin untuk istirahat kebelakang. Ia masih gigih dalam melawan sang surga yang sangat terik pagi ini hingga upacara selesai.


Semuanya sudah kembali ke kelas masing-masing, karena upacara sudah selesai. Berbeda dengan Ila, ia masih setia ditempatnya yang sekarang, ia tidak diperbolehkan meninggal lapangan karena telah melanggar peraturan sekolah, yaitu harus memakai atribut lengkap.


Brak... Brak... Brak...


Suara puluhan langkah kaki berjalan menuju ke barisan disamping Ila.


Fedri sengaja berdiri tepat disamping Ila, entah apa tujuannya, mungkin untuk modus.


Bersambung...


Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih:)

__ADS_1


__ADS_2