Arus

Arus
Curahan hati


__ADS_3

Stok kesabaran Resthi telah habis, ia tak habis pikir dengan orang disampingnya, kenapa sekedar disuruh untuk senyum saja sudah. Sangking gemasnya Resthi sampai memegang kedua pipi tidur milik Rico, sesaat kemudian ia menarik kedua ujung bibir Rico agar membentuk sebuah senyuman.


Momen tersebut tak dilewatkan oleh Fedri sebagai photografer, ia memfokuskan kameranya pada dua manusia tersebut. Hasilnya sangat bagus, ia memperlihatkannya pada Ila. Dan Ila akui foto yang Fedri ambil sangatlah menakjubkan meskipun itu adalah sebuah candid.


Rico melepaskan tangan Resthi dari wajahnya, ia segera memberikan senyum terpaksa nya kearah kamera, kemudian ia menarik pergelangan tangan Ila agar ia mengikutinya.


Ila yang tidak terbiasa mengenakan high heels membuat kakinya agak sempoyongan dalam menahan badannya sendiri. Sebab secara kasar ia membalikkan badannya dan membuat ia terbelit oleh kakinya sendiri.


"Hihh pelan-pelan anjer, saya pake sendal jinjit ini, bukan sendal swalloe" Ucapan tersebut diiringi dengan pukulan keras pada punggung Rico.


Sebelumnya,Ila merapikan roknya yang sedikit berantakan, Ia sedikit merasa kesusahan berjalan dikarenakan rok yang ia kenakan pas membentuk tubuhnya. Ila kembali berjalanan menghampiri Cinta dan Aertha yang tengah asik memperhatikan foto mereka hari ini.


Acara berjalan dengan lancar, meskipun beberapa persembahan puisi serta lagu yang dibawakan oleh adik kelas mereka membuat orang yang tengah memperhatikan menjadi berderai air mata.


Sebuah pertemanan yang baru saja mereka jalani, dengan terpaksa harus mereka akhiri karena mereka harus memilih jalannya sendiri untuk masa depan nanti.


...----------------...


Acara wisuda siang ini telah usai, semua orang telah kembali ke rumah masing-masing. Tak berbeda dengan Ila beserta Ibunya.

__ADS_1


Ila tengah termenung dikamar dengan ponsel yang bertepat didepannya, konten Seventeen terus berputar tanpa ditonton. Tak ada tawa kali ini, ia tengah sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Bahkan wajahnya sama sekali bum ia bersihkan dari polesan make up. Tangannya sudah memegang kapas yang telah ia basahi dengan micellar water, namun tak juga segera ia gunakan untuk membersihkan make up-nya.


Tepatnya 2 Minggu lalu, SNMPTN telah dilakukan, Ila tidak mengikuti seleksi itu dikarenakan kebimbangannya dalam mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikannya. Seleksi tersebut adalah seleksi masuk kedalam Universitas Negeri, yang mana kemungkinan besar ia harus selalu mengikuti kelas setiap hari, sedangkan beban di pundaknya kini bertambah setelah kepergian sang Ayah.


Ia tidak tega membiarkan Ibunya bekerja terlalu keras karena harus membiayai sekolah Axel. Uang kuliah yang harus dikeluarkannya bukanlah sedikit, meskipun tidak harus membayar setiap bulan, namun jumlahnya cukup besar untuk keluarga mereka. Meskipun begitu, ia bisa saja mengejarnya melalui jalur bidik misi ataupun beasiswa lainnya.


Namun perasaannya selalu bimbang meski ia telah mendapatkan titik terang dihatinya, ia begitu tak tega melihat Ibunya yang setiap hari Bermandi keringat guna menghidupi mereka.


Bagaimana bisa ia malahan fokus kepada mimpinya dibandingkan dengan kebutuhan keluarganya. Ia tidak ingin egois karena terlalu mementingkan diri sendiri, mungkin ini memang bukan takdirnya untuk mengejar mimpi tersebut.


Pekerjaannya sebagai influence tidak bisa ia harapkan, terlebih ia akan jarang sekali melakukan kegiatan streaming nya sekarang.


Ila menarik nafas dalam dan menghembuskannya melalui mulut, hari yang lelah ditambah pikirannya yang belum terarah.


Ila mulai mengusap wajahnya guna membersihkan sisa make-up. Pintu kamar terbuka keras, terlihat bahwa Axel masuk dengan tergesa-gesa untuk mengagetkan Ila.


Axel tahu bahwa Ila masih bimbang dengan pikirannya, sebab kemarin pas Axel bertanya akan melanjutkan study dimana, Ila hanya menjawab dengan menaikkan bahunya tanda belum tahu.


"Uwaallahu Akbar" Teriakan Ila menggema di seluruh rumah, bahkan tetangga sebelah pun mungkin saja mendengar karena saking kerasnya teriakan itu, serta rumah mereka yang tidak besar dan lingkungannya yang rapat dengan rumah-rumah tetangga lain.

__ADS_1


"Anjir hihhh" Ila menjewer telinga Adik satu-satunya, ia gemas sekali karena Axel sering mengagetkannya saat ia tengah melamun kan suatu hal.


"Aduh sakit njir... Gw cuma mau ngajakin Lo buat solat bareng, malahan Lo jewer telinga Gw" Axel memajukan sedikit bibirnya karena kesal, Ia mengusap telinganya yang masih panas akibat ulah Ila Kakaknya.


Bukan niat untuk menganggu, Axel melakukan hal tersebut semata-mata untuk mengalihkan pemikiran Ila dari pikiran yang tak akan ada habisnya. Setelah kurang lebih 1 bulan mempelajari semua pelajaran mulai dari kelas 10 hingga kelas 12, Ila juga banyak belajar akan susahnya kehidupan tanpa adanya sosok Ayah. Meskipun kehadiran sosok Ayah sangat sedikit di kehidupan anak, namun perannya sangat tidak bisa diremehkan.


Disetiap malam setelah melaksanakan solat Maghrib, Wati akan mulai memotong bahan masakan untuk besok ia jualan, Ila membantunya hanya sampai adzan Isya berkumandang, setelahnya ia harus belajar untuk menghadapi Ujian yang sudah berada didepan mata.


Paginya, Wati akan bangun pagi sekali, bahkan adzan subuh belum dikumandangkan, ayam tetangga pun masih tenang didalam kandang. Ia memulai aktivitasnya sepagi itu agar tidak telat untuk menjajakan dagangannya, serta ia harus pergi ke pasar guna membeli keperluan jualannya untuk besoknya lagi.


Rutinitas itu sudah mereka lakukan kurang lebih selama 3 bulan ini, tiadanya sosok Ayah sebagai tulang punggung, memaksa Wati untuk bekerja lebih keras agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Dulu, sekecil berapa pun gaji yang didapatkan Almarhum Bambang, bisa mencukupi kebutuhan mereka, bahkan mereka masih bisa menabung setiap bulannya. Namun sekarang? Menabung 200 Ribu Rupiah per-bulan sangat sulit mereka lakukan, bahkan hampir dikatakan kurang meskipun kehidupan sederhana mereka tak berubah dari dulu.


Bagaimana mungkin, ditengah himpitan ekonomi pada keluarganya, Ila malah menghamburkan uangnya hanya sekedar untuk membayar uang kuliah? Keluarga nya saja masih sangat kekurangan saat ini.


Jika hidup itu bagaikan roda berputar, yang kadang kala berada dibawah ataupun diatas, lantas kapan waktunya Hamba berada diposisi atas tersebut Ya Allah


Engkau selalu memposisikan Hamba dan keluarga Hamba dalam posisi paling rendah, rencana apa yang telah Engkau persiapan untuk Hamba dan keluarga Hamba di masa depan, sehingga Engkau memberikan cobaan yang amat berat bagi kami? Hamba percaya Engkaulah yang Maha Adil dan Bijaksana, Hamba hanya lelah Ya Allah, Hamba hanya ingin menceritakan lelahnya Hamba, bukan berarti Hamba ingin menyerah. Jika bukan kepada-Mu, maka siapa yang bisa Hamba percaya, mereka adalah teman Hamba, tapi ia juga memiliki teman lain selain Hamba Ya Allah. Mulut Hamba terasa begitu berat saat akan menceritakan semuanya, sedangkan para mahkluk mu memiliki cerita yang tak lebih berat daripada Hamba. Hanya Engkaulah yang paling mengerti Hamba tanpa Hamba harus bercerita.

__ADS_1


Rentetan kalimat tersebut keluar dari mulut Ila, kala ia telah kembali kedalam kamarnya. Ia bersujud kembali dan berhasil menumpahkan semua beban dihatinya, ini adalah hidup yang berat, namun ia tidak akan meminta untuk dijemput oleh Sang Pencipta.


__ADS_2