
Manusia itu hanya Berusaha... Hasil Allah yang menentukan.
Kalimat yang begitu klise terdengar, akrab. Kerap kali menjadi penguat ketika orang mengalami kegagalan, keterpurukan atau perolehan yang mengecewakan. Tidak sebanding dengan usaha yang telah dilakukan.
Berdoa perlu, berusaha wajib. Hingga Ketika satu kenyataan pandangan memilukan terhidang, kepasrahan menjadi akhir dari segala ikhtiar.
Hidup Mati itu Allah yg tahu kapan masa nya.
Tidak ada jaminan yang Tua yang lebih dahulu Mati.. karna Bayi yang baru terlahir bakan belum sempat terlahir pun bisa menemui ajal nya... jika Allah sudah menentukan itu lah waktu nya.
.......
"Dar... kamu mandi dan ganti baju dulu ya sayang....yuuk" ajak mama
"iya sayang, lihat baju kamu sudah penuh dgn darah gini....biar kamu lebih nyaman, tenang ada Papa , Ayah Arya dan kak Alif, dan pak Yoga juga ada,kamu berbersih dulu dan istirahat ya" ucap Papa seakan tahu isi hati nya yang enggan untuk meninggalkan sang kakak ipar.
"baik lah pa..."
Mama dan Adara menuju ruang Aditya untuk mandi dan berganti pakaian.
Semua yang di luar ruangan menunggu dengan harap-harap cemas.
bahkan bukan hanya anggota keluarga.
__ADS_1
Staf2 RS.Harapan pun begitu.
Kabar keadaan Kianara begitu cepat menyebar, karna di saat Aditya dan Dr.Silfi berbicara ada staf yg lewat dan mendengarkan nya.
Semua Staf tau bagaimana sosok Kianara, Sikap nya yang ramah dan rendah hati membuat Staf-Staf mengagumi nya.
walau tak memungkiri tetap ada yang tidak menyukai nya juga.
"Kasian ya bu Kianara, baru juga akan memiliki momongan... sudah begini"
"Bu Kianara itu wanita hebat, dia menjunjung tinggi Agama, Keyakinan nya kepada Allah melebihi diri nya sendiri. Allah pasti akan menolong nya"
"kalau aku di posisi Dr.Aditya, aku gak akan sanggup"
Ayah masih mondar mandir sembari menatap lampu merah yang ada di atas pintu ruang operasi, yang menandakan operasi sedang berlangsung.
"Kianara wanita kuat, dia akan selamat begitu juga calon cucu kita" Papa pranaja merangkul Ayah Arya.. mereka saling menguatkan
Bunda masih pingsan, Zahra masih setia menemani ibu mertua nya. Sedangkan Hafidz di rumah Aditya bersama bi Tuti.
#Di ruang Operasi
Semua perlengkapan Siap...
__ADS_1
Aditya memandang wajah sang istri yang sudah pucat, namun masih ada pancaran senyuman walau tipis. seakan tampa di sadari itu menjadi penguat Aditya.
Di elusnya pipi putih pucat sang istri, cadar nya sudah di lepas, karna ada alat medis yg terpasang, bahkan mereka yang di ruang operasi yg belum pernah melihat sosok nya pun terkagum-kagum...
"Kamu harus kuat.. Kita berjuang bersama, ingat sayang... ada calon anak kita yang sudah lama kita dambakan... kita berjuang bersama ya... bantu aku... kamu bisa sayang dan harus bisa.... (air mata itu tak terbendungkan)"
Salah 1 dokter menepuk-nepuk pundak Aditya memberi kekuatan
"Ayo...semua sudah siap... Yakin lah Allah bersama kita....Kamu harus Kuat"
Aditya menghapus air mata nya.
dan berusaha tersenyum sambil mengangguk kan kepala tanya sudah siap.
Sebelum memulai operasi mereka pun tak lupa berdoa. itu memang selalu mereka lakukan tampa terkecuali siapapun pasien nya.
Aditya membaca "Laa Haula wa laa quwwata illaa billaah...."
Tiada Daya dan Upaya Kecuali Kekuatan Allah...
Zikir itu selalu ia lafadz kan dalam hati...
Semua usahanya ia kembalikan kepada Allah... Allah yang maha Menolong.
__ADS_1
"Ya Allah ku pasrahkan hasil nya pada Mu... besar Keyakinan ku akan pertolongan Mu... Aku yakin Engkau akan memberikan kebaikan,Kesehatan utuh untuk Istri dan Calon Anak kami....Ialah Amanah yg Engkau titipkan... dan Saat ini engkau sudah mulai menguji kami, seberapa kuat kami mampu menjaga nya.. Akan ku lakukan sekuat kemampuan ku.. akan ku jaga amanah mu.... Ku yakin itu dan Ku percaya Pertolongan Mu.... Biznillah...." batin Aditya