Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Toko Buku


__ADS_3

Diaz memacu motornya dan suara deru motor Diaz berhenti disalah satu rumah. Rumah besar dan mewah jelas sekali terlihat begitu kokoh diatas tanah, halaman yang luas juga terlihat begitu asri dan terlihat begitu dirawat dengan baik oleh pemiliknya


Diaz mematikan mesin motornya dan membuka helmnya, namun ia tidak memiliki niatan untuk memasuki halaman rumah tersebut. Diaz rasa ia tidak layak untuk menginjak kakinya dirumah yang terkesan mewah itu, dibanding kamar kostnya maka ini seperti gubuk tua melawan sebuah istana megah


Diaz kemudian membuka ponselnya, untuk memberi kabar kalau ia telah sampai ditempat yang dijanjikan. Diaz menghubungi salah satu nomer kontak di ponselnya


"Halo, aku sudah sampai Melody"


"Eh, iya bentar aku siap-siap dahulu"


Diaz menutup teleponnya, sebelumnya Melody menghubungi Diaz lebih tepatnya saat ia baru selesai olahraga. Melody meminta Diaz untuk mengantarkannya ke toko buku untuk membeli buku yang akhir-akhir ini cukup populer


Kesampingkan hal itu, Diaz juga mendapatkan berita tepat ketika single terbaru Melody rilis, kalau Melody telah rehat dari dunia hiburan untuk kurun waktu yang cukup lama, hal ini cukup mengejutkan fansnya karena keputusan yang diambil cukup terburu-buru menurut mereka


Namun dilihat dari sudut pandang Diaz, maka ini merupakan hal yang bagus dan merupakan keputusan yang bijak. Baik secara fisik dan mental, Melody perlu beristirahat dan melupakan hal-hal yang merepotkan bagi seorang idol atau penyanyi


Lagipula Melody juga menyanyi hanya hobi, dan ketika hobinya menjadi pekerjaan maka akan sangat menyenangkan namun disisi lain juga penuh akan tekanan. Berhenti sesaat merupakan keputusan yang paling bijak yang dapat diambil


Lagipula Melody juga tidak perlu mengkhawatirkan masalah ekonomi, ia pasti memiliki tabungan yang banyak ditambah lagi keluarganya juga memiliki segi ekonomi yang tinggi. Jadi ia tidak terlalu khawatir tentang masalah ekonomi ataupun finansial


Lupakan itu


Diaz sebenarnya cukup terkejut dengan ajakan Melody yang tiba-tiba, ini pertama kalinya ada seorang perempuan mengajaknya pergi, atau lebih tepatnya ini pertama kalinya Diaz bisa sedekat ini dengan perempuan


Karena saat sekolah rata-rata murid adalah laki-laki, jadi Diaz tidak terlalu peduli dengan hubungan perasaan atau semacamnya. Diaz lebih suka berkumpul dengan sahabat-sahabat walau hanya sekedar duduk diwarung dan bermain gitar ataupun catur sambil bercanda ria


Saat lulus, Diaz juga tidak langsung mencari perempuan untuk ia santap. Melainkan dibawah didikan Reno, Diaz berlatih beladiri dan berbagai ajaran untuk Diaz menjadi pribadi yang baik untuk kedepannya


Setelah itu, Diaz juga berlatih ilmu teknisinya dengan berbagai kursus yang ia ikuti, baik itu Las, Bubut, Cnc dan lain sebagainya. Membuat bakat murni Diaz menjadi terasah. Oleh karena itu Diaz sebenarnya tidak cukup pengalaman untuk bersama perempuan, karena pengalamannya yang sibuk akan dirinya sendiri


"Hai..."


Suara lembut membangunkan lamunannya, Diaz kemudian menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang gadis yang sedang menyapanya dengan senyum yang begitu indah


"Hai juga" Ucap Diaz sambil tersenyum sebagai balasannya


Mata Diaz melihat Melody dengan pakaian yang cukup tertutup, celana jeans panjang serta jaket Hoodie berwarna hitam bertudung serta topi dan masker yang ia bawa ditangannya. Diaz yang paham hanya bisa tersenyum kecil melihatnya


'Dia sangat terkenal, sampai berpergian saja menjadi sangat merepotkan' Batin Diaz cukup geli dan lucu


Sementara itu Melody cukup terkejut, dengan sifat hangat yang Diaz berikan. Padahal kesan pertama Melody ke Diaz, adalah Diaz pribadi yang dingin dan cuek karena ekspresi datarnya yang cukup menyebalkan. Tapi sepertinya itu tidak sepenuhnya benar


"Mau berangkat sekarang?"


"Oke, tapi jangan cepat-cepat ya.." Ucap Melody sambil tersenyum simpul dan hanya dijawab anggukan oleh Diaz


Sebagai wanita, Melody tidak suka berkendara dengan kecepatan tinggi, apalagi ketika Diaz membawa motor sport keluaran terbaru yang terkenal akan kecepatannya, membuat Melody cukup khawatir. Itu adalah hal yang normal, dan Diaz cukup memakluminya

__ADS_1


Diaz kemudian mengambil helm dan memasangnya dikepala Melody agar aman kalau ada apa-apa dijalan. Sementara itu, Melody sangat menyukai dengan perlakuan Diaz yang begitu lembut dan hangat membuatnya begitu nyaman didekatnya.


Melody naik ke motor Diaz, Melody melihat punggung Diaz dari belakang, rasanya ia ingin sekali mendekapnya namun hal itu segera ia lupakan, karena ia tidak ingin membuat Diaz tidak nyaman dengannya. Entah bagaimana, akhir-akhir ini pikiran Melody selalu tentang Diaz


Contoh saja kali ini, ia bisa saja meminta supirnya untuk mengantarkannya ke toko buku, tapi Melody meminta Diaz untuk melakukan. Sebenarnya alasan utamanya adalah untuk bertemu dengan Diaz


Semakin memikirkannya semakin merah juga wajah Melody. Ini baru pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini, yang jujur saja sangat menganggu tapi disisi lain juga sangat bahagia


"Sudah?"


Ucap Diaz membuyarkan lamunan Melody, untung saja ia memakai helm kalau tidak maka wajah merahnya akan sangat terlihat dengan jelas, dan Melody yakin kalau Diaz melihatnya maka ia akan malu dan ingin sekali mati


"Sudah"


"Kalau begitu pegangan"


Melody cukup ragu, namun Diaz memegang tangannya dan melingkarkan di pinggangnya, Diaz tidak ingin terjadi apa-apa kalau di jalan terjadi sebuah masalah oleh karena itu ini merupakan sebuah tindakan pencegahan


Diaz menginjak gigi dan koplingnya dan segera menarik gas secara perlahan. Sementara itu, disebuah sudut rumah milik Melody itu, terlihat seorang pria paruh baya dengan tubuh kekarnya seperti pensiun pegulat UFC berdiri dan melihat Diaz dan Melody pergi dengan sebuah teropong


Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya kesal


"Bocah tengik ini siapa?"


***


Diaz dan Melody turun dari motor dan segera memasuki toko buku tersebut. Tanpa Diaz sadari, mereka menarik perhatian cukup besar. Perawakan Diaz yang begitu menarik, serta motor sport yang mewah yang ia bawa membuatnya tidak luput dari perhatian semua orang


Karena Melody tidak nyaman dia dan Diaz begitu diperhatikan, Melody kemudian menarik tangan Diaz dan segera memasuki toko buku yang sudah cukup terkenal akan pelayanannya itu. Diaz cukup terkejut dengan Melody yang menarik tangannya begitu cepat, namun ia memilih diam saja


"Maaf.." Ucap Melody kikuk, menyadari ia sembari tadi menarik tangan Diaz, membuatnya takut kalau Diaz merasa tidak nyaman


"Tidak usah khawatir..." Ucap Diaz sambil tersenyum kecil untuk membuat Melody tidak terlalu kikuk


Diaz tidak menyangka kalau penyanyi yang melejit ini, yang seharusnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi malah bisa bersikap seperti ini, membuat Diaz sedikit terkekeh lucu didalam hatinya


Melody berjalan melalui beberapa rak untuk mencari buku atau novel yang ia cari, sementara Diaz hanya berjalan dibelakangnya. Sebenarnya Diaz juga ingin mencari buku yang ia cari, namun karena Diaz dan Melody satu arah maka Diaz hanya berjalan dibelakangnya


Melody berhenti disalah satu rak dan mengambil salah satu buku dari sana, ekspresi Melody sangat berseri-seri ketika melihat buku yang ia cari akhirnya ketemu. Walaupun Melody memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya, namun Diaz masih bisa melihat kalau ekspresi Melody cukup bahagia sekarang


Penasaran, Diaz kemudian melirik judul buku yang dipegang Melody, melihat judul buku Melody membuat Diaz sedikit tertawa kecil. Melody yang menyadarinya, tanpa sadar mengangkat bukunya keatas, hingga menutupi hampir sebagian wajahnya menandakan kalau ia malu


"Tidak usah malu-malu ini normal kok, buat kamu baca novel romance"


Diaz tidak habis pikir kenapa Melody bisa se-kikuk ini, entah itu idol atau penyanyi, Melody masihlah seorang perempuan, menurut Diaz untuk seorang perempuan membaca novel romance itu adalah hal yang lumrah dan wajar, Diaz tertawa kecil karena melihat bagaimana lucunya ekspresi Melody saat mendapatkan buku yang ia cari


Sementara itu, Melody juga cukup kebingungan ketika ia merasa malu saat Diaz melihat judul novel yang ingin ia beli, padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti ini, bahkan ketika ia membeli novel dengan gendre yang sama tepat didepan ayah, ibu, teman-temannya, bahkan saudaranya. Hal ini membuat Melody cukup kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengannya

__ADS_1


'Kenapa sih dengan aku?!' Batin Melody masih menutupi wajahnya yang merah dengan sebagian buku


Tidak ingin terbawa rasa malu yang semakin larut, Melody dengan cepat langsung merubah arah pembicaraan


"Kamu kesini mau beli buku juga kan Diaz?" Ucap Melody dengan pelafalan yang cukup cepat


"Iya begitulah"


"Sudah ketemu?"


Menanggapi pertanyaan Melody, Diaz kemudian mengambil salah satu buku dibarisan rak yang berbeda, namun tidak terlalu jauh dengan barisan buku yang sebelumnya Melody ambil. Diaz mengambilnya dan memperlihatkan judul bukunya ke Melody


Melody cukup terkejut dengan buku yang ambil Diaz


"Ini kan..."


"Iya, begini-begini aku nge-fans sekali sama ayahmu Melody" Ucap Diaz sambil tersenyum kecil


Buku yang Diaz ambil tidak lain adalah salah satu buku keluaran terbaru dari Adnan Yanu Poetry yang dilihat dari nama marganya maka itu adalah ayah Melody. Buku yang Diaz ambil adalah kumpulan puisi, sastra Indonesia, serta berbagai kesenian tradisional lainnya


Melody cukup terkejut, tidak seperti pemuda seumurannya yang suka dengan novel action, misteri, ataupun fantasi. Pilihan Diaz membuat Melody cukup terkejut. Ini membuat Melody cukup yakin mengapa pemikiran Diaz begitu dewasa lebih dari umurnya, tidak seperti dengan dirinya yang bisa dibilang kekanak-kanakan


"Yuk ke kasir"


"Oke"


Diaz dan Melody memutuskan pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah mengantri beberapa saat, Mereka keluar dari toko buku tersebut dan memutuskan untuk ke parkiran untuk segera pulang. Namun...


*Krucuk-Krucuk


Gemuruh suara terdengar cukup keras, namun itu bukanlah suara petir melainkan suara dari perut seseorang. Diaz yang mendengar itu menoleh ke sampingnya dan menemukan Melody yang sedang memegang perutnya dengan keras


'Kenapa harus sekarang sih!!'


Melody memaki perutnya yang tidak memiliki waktu yang pas dimana ia harus berbunyi, padahal ia sedang bersama Diaz, tapi perutnya malah membuat Melody ingin sekali mati


Melody sedikit mendongak keatas karena postur tubuh Diaz yang lebih tinggi darinya. Melody melihat Diaz yang sedang menahan tawanya, hal ini membuat Melody malu dan menatap Diaz dengan tatapan marah namun matanya sedikit mengeluarkan air mata


"Eh, jangan marah" Ucap Diaz masih menahan tawanya


Merasa malu, Melody kemudian mempercepat langkahnya dan berjalan mendahului Diaz. Namun tangannya tertahan oleh sesuatu, sesuatu bertekstur seperti kulit namun sedikit kasar dan besar darinya. Melody menyadari kalau Diaz sedang memegang tangannya


Melody kemudian menoleh kebelakang dan melihat Diaz. Berbeda dengan yang tadi, Diaz sudah bisa menahan tawanya


"Mau makan dahulu?"


__________________________

__ADS_1


Min naho n'athaparan ivawbanan!


__ADS_2