Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Darkin Yang Lain


__ADS_3

Disudut wilayah Athanor yang jauh akan sinar matahari diperlihatkan. Angin berhembus dan menghantui setiap pepohonan yang ia terpa, membuat sebuah suara akan kealamian sekaligus diamnya sebuah udara.


Selusin siluet terlihat menapaki hutan dengan sinar matahari yang tak dapat menembusnya. Ini bukanlah wilayah Abyss melainkan hanya wilayah yang ditinggalkan oleh para Terranian yang telah lama ditinggalkan.


Note : Terranian merupakan sebutan bagi orang yang mempunyai fraksi Terra. Layaknya Indonesia dan Indonesian.


Selusin itu melangkahkan kaki mereka dengan cukup ragu, mengingat hutan ini sudah lama ditinggalkan karena kutukan dari Marja.


Shadow Isles, sebuah tempat dimana hantu serta para penduduk Terra yang meninggal karena kutukan dari Mage Abysall bernama Marja. Dahulu wilayah ini terkenal dengan keindahan alam serta budaya, namun semenjak terbunuhnya Volkath the Dark Lord membuat wilayah ini menjadi suram.


Selusin pasukan tersebut terlihat memakai armor berwarna emas indah. Masing-masing mereka membawa sebuah senjata dengan kualitas terbaik, layaknya sebuah ekspedisi untuk meneliti wilayah yang telah lama ditinggalkan ini.


“Tuan Raka apa anda yakin dengan keputusan anda?” Ujar salah satu mereka.


“Tentu!, Jika aku mendapatkan pedang itu maka tinggal satu langkah lagi aku bisa menjatuhkan Tulen.” Ujarnya


“Iya tuan...”


Raka salah satu dari sosok yang terpilih dari para Archon, dia datang untuk mengambil sesuatu. Sebuah benda dengan kekuatan setara dengan apa yang harus dikorbankan. Dia membutuhkan hal itu untuk mengejar ambisi untuk melengserkan tahta yang selama ini dipegang oleh Tulen.


Pengikut itu hanya bisa mengangguk pelan. Mengerti ambisi tuanya begitu besar dan tidak dapat dibendung, didalam hatinya keraguan atas keputusan sang tuan begitu besar. Benda yang tuannya cari itu, begitu sangat terkutuk bahkan seseorang dewa tidak mau menyentuhkan.


Raka membuka sebuah catatan yang ia temukan pada mayat salah satu Terranian. Dalam catatan itu menyebutkan bahwa benda yang ia cari berada pada tengah hutan Shadow Isles, benda itu tertancap pada tanah dengan tidak ada tanda-tandanya pepohonan disekitarnya dalam radius puluhan meter.


Ia kemudian membuka peta sihir yang tersimpan dalam catatan itu. Raka tersenyum kecil.


“Sebentar lagi..” Ujarnya tersenyum puas.


Raka dan bawahannya kembali berjalan pada gelapnya hutan terkutuk itu, memang sihir cahaya mampu menerangi jalan didepan. Namun tetap hawa kegelapan hutan ini begitu mencekam.


Langkah demi langkah dan udara dingin mulai kembali mendingin. Namun dalam waktu cukup lama Raka akhirnya menemukan tempat itu.


Dalam matanya ia melihat pedang merah tua tertancap pada tanah yang menjulang tinggi, disekitarnya tidak nampak pepohonan bahkan rumput sekalipun. Dalam ciri-ciri ini maka Raka berhasil menemukan benda atau sebut saja pedang.


“Akhirnya!” Seru Raka.


Berbeda dengan Raka yang terlihat begitu gembira dan senang karena ambisinya. Pengikutnya hanya bisa menelan ludah ketika melihat pedang terkutuk sepanjang sejarah dunia itu.


“Tuan Raka lebih baik kita tinggalkan tempat ini.”


“Benar tuan Raka, pedang itu sangatlah terkutuk!”


Raka yang geram tanpa basa-basi langsung memukul kedua bawahannya dengan keras. Membuat mereka berdua jatuh kesakitan karena perbedaan kekuatan yang begitu jauh.


“Aku tidak pernah menyangka kalian sangatlah pengecut. Kalian sebut diri kalian sebagai prajurit Archon!” Seru geram Raka.


Tanpa memperdulikan sekitarnya, ia mulai berjalan mendekati pedang merah tua itu. Tidak mengindahkan tatapan cemas dari sedikit pasukannya, dirinya yang merupakan pribadi yang ambisius tidak bisa lagi menahan kesenangannya ketika melihat pedang itu persis didepan matanya.


Dengan senyum yang lebar ia memegang pedang merah tua itu, dan dengan sekuat tenaga ia menariknya hingga keluar dari tanah yang terperangkap itu.


“Dengan ini!, Tamatlah riwayatmu Tulen!” Seru Raka.


Raka menjunjung pedangnya tinggi, beserta dengan kekuatan yang mulai perlahan masuk kedalam tubuhnya. Raka merasakan kekuatan itu, tidak bisa lagi menahan senyum kemenangan pada wajahnya karena ambisinya segera dipenuhi.


“A-apa ini!?”

__ADS_1


Namun.


Kekuatan pedang itu menyalur ketubuh Raka terlalu deras. Perlahan jarinya mulai menunjukan tanda-tanda kerapuhan.


“Argh!”


Beserta dengan jeritan keras Raka, jari menuju ke tangan serta bahu berubah menjadi lengan yang begitu menyeramkan. Para pasukannya hanya bisa mematung dan tidak percaya apa yang mereka lihat.


Perlahan tapi pasti kegelapan pedang merah tua itu menggerogoti tangan lalu melaju kearah badan malang Raka. Tubuh kekar serta bersihnya tak lagi terlihat.


“Tolong aku!” Ujarnya keras


Pasukannya tidak bergerak sedikitpun. Bahkan suara gagahnya tidak lagi terdengar, hanya suara serak mengerikan yang begitu jelas. Nampaknya pedang merah tua itu menggerogoti tubuh Raka, layaknya parasit yang memakan habis inangnya.


Beserta dengan teriakan putus asa Raka, energi pedang itu menguasai secara penuh tubuh Raka. Dia yang merupakan ksatria elit dan bahkan sosok yang hampir setingkat dengan Penjaga Aula dari Temple of The Light, tidak bisa menahan energi kuno dari sang pedang merah tua itu.


Sosok Raka telah tiada. Kini tubuhnya berubah menjadi iblis merah tua dengan pedang yang berwarna sama. Iblis itu menatap pasukan Raka yang hanya sekitar satu lusin saja.


“Inikah Darkin...” Ujar salah satu mereka.


Namun itu adalah penampakan yang hanya bisa mereka lihat dalam sekali seumur hidup. Karena, iblis atau Darkin itu menyiapkan pedangnya dan dalam satu ayunan mereka semua tersapu bersih.


Darkin itu menatap langit malam yang penuh akan bintang. Dengan nafasnya yang lemah ia berfikir kedepan.


“Masih belum cukup...” Ujarnya.


Dirinya senang karena telah mendapatkan inang. Namun tetap saja dia butuh inang yang jauh lebih baik, supaya dia bisa mengeluarkan secara penuh kekuatannya. Namun dia tidak terpaku hanya dengan kekuatan namun ia sangat merindukan saudara-saudaranya.


“Darkush, Rodant dan Dextern. Aku tidak bisa menyebutkan kalian semua dan aku juga tidak tahu apakah kalian masih hidup-” Dia menunduk sejenak, setidaknya berdoa untuk rekannya yang telah gugur dalam perang besar itu.


“Tapi aku sangat merindukan kalian...” Ujarnya tulus.


Namun Darkin itu langsung bersikap siaga menyadari ada sosok kuat berada didekatnya.


“Aku tidak tertarik pada dirimu yang sekarang Edras.” Ujar sosok yang muncul dari gelapnya bayang.


Sosok layaknya manusia dengan satu tanduk pelipis sebelah kiri jelas terlihat, begitu pula rambut panjangnya yang berwarna putih. Dia berjalan mendekati Darkin itu atau sebut saja Edras sambil memanggul sebuah batang pohon besar.


Sosok itu kemudian melempar pohon besar itu dan duduk diatasnya. Dia memandang kearah Edras dengan bosan.


“Sayang sekali padahal dahulu kau satu-satunya orang yang mampu membuatku merasakan kesenangan.” Ujarnya kesal.


Edras mengenali orang didepannya cukup dalam. Sosok yang bahkan tidak bisa dikalahkan dan merupakan entitas yang membantai habis pasukan Archon sendirian paska perang Dewa dan Iblis pertama.


Melihatnya mendatangi Edras tentu membuat dia sedikit tidak nyaman. Walaupun begitu Edras sudah tidak lagi peduli apa yang akan terjadi padanya nanti, ia menarik pedangnya. Namun itu tidak mendapatkan respon positif dari sosok didepannya.


“Sudahlah kau pasti paham betapa lemahnya dirimu sekarang.” Ujar sosok itu sambil menghela nafasnya.


Edras benci mengakui hal itu, namun kebenaran harus ia terima dengan lapang dada.


“Aku ingin tahu kau mau apa?”


“Hanya melihat. Dunia semakin membosankan ketika aku melihatnya. Aku rindu disaat kalian Ascended God Warior masih ada.” Ujarnya dengan terkekeh kecil layaknya nostalgia yang panjang.


Edras hanya bisa menunduk sejenak. Mengerti dimana masa itu mereka begitu mendewa dari dewa itu sendiri, dimana kerajaan megah Shurima masih berdiri kokoh dan menunjuk keperkasaannya. Bahkan dewa yang tinggal di gunung suci itupun tak berani menyentuh mereka.

__ADS_1


Namun kini semuanya telah terbalik. Edras tidak memiliki informasi apapun mengenai dunia ini karena ia tinggal dihutan ini hampir selamanya. Kebodohan Raka lah yang membuatnya bebas, namun tetap ia masih tidak merasa senang.


“Kami punya banyak sekali nama, tapi sekarang kami adalah Darkin.” Ujar Edras dingin, sosok didepannya kembali mengeluh.


“Aku menginginkan sosok yang kuat. Sosok yang mampu mengalahkan diriku yang telah berjalan di Athanor ini.” Ujarnya menatap langit layaknya meminta permohonan.


“Bagaimana denganmu Edras?”


“Aku hanya ingin mati...”


Perkataan Edras tidak membuatnya terkejut, dia bukanlah rekan ataupun sahabat Edras. Dirinya merupakan musuh bebuyutan dari Edras itu sendiri, namun semakin lama keadaan semakin berubah. Dan kini beginilah hubungan diantara mereka.


“Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi Rodant masih hidup...” Ujarnya


Edras yang mendengar itu langsung berubah raut muka. Layaknya angin segar dia begitu senang didalam hatinya, tanpa sadar ia tersenyum kecil. Menyadari salah satu dari kita masih hidup. Walaupun begitu melihat wajah bahagia dari Edras membuat sosok itu muak.


“Dengarkan ini Edras. Aku ingin kau hidup lalu cari inang yang layak untuk membuatmu mampu bertarung kembali seperti dahulu.” Ujarnya serius.


Mengingat didunia ini hanya Edras yang mampu bertarung hampir setara dengannya. Dia ingin Edras kembali dengan kekuatan primanya dan bertarung berhadapan dengannya langsung.


Edras yang mendengar itu hanya bisa bersikap datar.


“Bagaimana dengan Jayawijaya?”


“Naga malang itu?, Sayang sekali dia masih terjebak di gunung es itu.”


Sosok itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai pesan negatif. Namun Edras tidak menunjukkan respon yang baik. Dia menancapkan pedangnya ditanah dan duduk ditanah kotor itu, dengan nada tidak karuan ia hanya menjawab.


“Aku sudah tidak berniat untuk mengangkat senjataku lagi.” Ujarnya.


Mendengar itu tidak membuat sosok itu terkejut. Dia sudah memperkirakan hal itu lebih lama dari yang Edras pikirkan. Ini bukanlah tentang keinginan pribadi ataupun kehormatannya, melainkan lelah dan menyimpang ideologi yang selama ini Edras pegang.


“Aku sudah memperingatkan mu saat berperang melawan Chaugnar. Mati sebagai pahlawan atau hidup untuk melihat dirimu menjadi iblis.” Ujar sosok itu sambil menghela nafasnya.


Dahulu Edras begitu berpendirian namun sekarang dia tak lebih dari singa tua yang kehilangan minat. Mendengar ucapan dari sosok itu membuat Edras sedikit termenung. Dia kehilangan arah dan segalanya tentang kehormatan, kerajaannya telah runtuh, gelarnya sudah tak lagi melekat, bahkan kekuatan perangnya sudah sangat memudar.


“Jika kau ingin mati, maka carilah inang yang mampu membunuhmu.” Ujar sosok itu dalam


Perkataannya cukup membuat Edras tertegun. Namun sosok itu kembali berbicara sebagai penyambung.


“Dahulu ada seorang manusia bernama Nakroth. Dia berhasil menguasai Rodant dan kalau dia serius, mungkin Rodant bisa terbunuh olehnya. Setelah kau dan Jayawijaya hanya dia yang layak melawan ku.”


“Jadi begitu. Kau cukup tau tentang keadaan Athanor sekarang, apa kau punya daftar nama?” Ujar Edras tertarik.


Mendengar itu membuat sosok itu tertawa lepas. Butuh waktu untuk membuatnya kembali fokus tapi ini merupakan angin segar baginya, layaknya seorang manusia Edras membutuhkan sebuah pengobatan.


Sosok itu kemudian memainkan jari jemarinya layaknya berpose menghitung.


“Para Primordial, Volkath, Jaecheondaeseong, Tell Annas, Lorion, Aleister, dan mungkin sosok yang berhasil menguasai Rodant sesudah Nakroth.”


Edras tersenyum kecil mendengar pernyataan itu. Ia bangkit dari duduknya mencabut pedang merah tua yang merupakan tubuh aslinya. Dengan helaan nafas panjang ia kemudian berjalan keluar dari hutan Shadow Isles yang terkutuk ini.


Namun sebelum itu.


“Terimakasih bantuanmu, Omen.”

__ADS_1


________________________


Trivia : “Aku Omen mengakui kau adalah yang terkuat!” Ujarnya pada Edras.


__ADS_2