Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Nakroth I


__ADS_3

Para mata-mata dari kekaisaran Azeroth telah mengkonfirmasi rumor yang selama ini mengganggu mereka. Bangsa Trixter telah mengetahui tempat persembunyian senjata Darkin legendaris, kekuatan yang jauh lebih kuat dari seluruh sihir di wilayah First Land.


Sebuah detak jantung penuh kebencian terdengar dari pedang tersebut, mencari sosok terkuat yang pantas membawanya ke medan peperangan. Sebelumnya, tidak ada yang pernah bisa membuktikannya. Semua yang menyentuhnya akan langsung menderita rasa sakit dan termakan oleh kegelapan, itulah mengapa pedang itu dibalut oleh kain tebal berantai, dan dijaga oleh banyak prajurit Lothar, prajurit khusus bangsa Trixter.


Nakroth sadar akan hal yang akan diperintahkan padanya. Ini adalah sebuah misi penting demi kelangsungan kekaisaran Azeroth yang sedang dalam posisi genting.


Dia telah sampai di pesisir kota Landor, bersama dengan para prajurit Lothar yang membentuk sebuah karavan demi melindungi benda sakral didalamnya. Nakroth melihatnya dari jauh dibalik pohon yang gelap bersama rekannya, Zeroth.


Karavan itu beristirahat sejenak mengingat perjalanan yang mereka lewati cukup jauh. Menyerang musuh di tanah mereka sendiri bukanlah hal yang mudah. Nakroth juga sadar akan hal itu.


Tapi tidak ada yang bisa menandingi bakatnya, tidak ada lagi orang yang pantas menerima kepercayaan sang kaisar Azeroth selain dirinya, dan tidak akan ada kata ragu karena Nakroth ditakdirkan untuk sesuatu yang besar.


"Nakroth, apa rencanamu kali ini?." Lirih pelan Zeroth pada sahabatnya. Nakroth menatap menyelidik kearah karavan yang sedang beristirahat. "Kau alihkan perhatian mereka, lalu aku akan menyelinap dari belakang." Balasnya


Tanpa ragu Zeroth menyetujuinya. Ia segera memisahkan diri, begitu juga dengan Nakroth. Zeroth bergerak kedepan karavan, ia menutupi wajahnya dengan jubah gelap segelap langit malam. Ia berjalan terhuyung-huyung mendekati karavan. Menyadari ada seseorang mendekat pasukan karavan segera bersiaga.


"T-tolong aku tuan, aku terluka parah." Ujarnya penuh tipu daya


Para karavan langsung bersiaga demi melindungi kereta yang menyimpan sesuatu yang paling berharga. Namun, salah satu prajurit mendekat, merasa iba terhadap Zeroth. Ia mendekat, ketika hendak membantu, kepala prajurit itu terpenggal oleh sebuah tebasan pedang. Melihat itu, para prajurit Lothar segera bersiaga


Zeroth membuka tudung jubahnya, rambut hitam dengan mata bermanik ungu terlihat. Ia tersenyum culas, bersamaan dengan tarikan dua pedang panjang dipunggung.


"Perlihatkan kemampuan kalian!." Ujar Zeroth menerjang kedepan.


Sementara diwilayah depan terjadi kekacauan, Nakroth menyelinap dari belakang demi mencari senjata itu. Dia bergerak halus melewati bayangan cekungan bebatuan itu, menemukan penjaga pertama yang lengah. Nakroth dengan gerakan yang gesit melompati berbagai pohon. Dia bisa melihat siluet para penjaga itu, mencoba mencengkeram tombak mereka erat-erat dengan kedua tangannya.


Nakroth melompat dari pepohonan tersebut dalam kegelapan, mengambil kehidupan dari kedua penjaga dengan tangan kosongnya. Sebelum penjaga ketiga bisa bereaksi, Nakroth mengendap menjadi sebuah kegelapan sejati dan muncul tepat di depan korbannya, memutar lehernya hingga tak bernyawa dengan mudahnya.


Penjaga lain mendengar suara tubuh yang terjatuh, lemah dan tak bernyawa, kemudian berbalik ke arah Nakroth.


Assassin itu hanya tertawa, mencari waktu yang tepat untuk ikut membunuh penjaga yang tersisa. “Kau tidak bisa bergerak, bukan?” bisiknya, menghilang ke dalam bayangan gelap sekali lagi. Panik, penjaga itu berniat pergi, namun sebuah belati panjang menusuk dalam jantungnya.


“Tak sekuat yang aku bayangkan.” Ujar Nakroth


Nakroth melihat kedepan, sebuah kereta kayu dengan pintu yang terkunci. Karena kesibukan wilayah depan, membuat tidak ada siapapun yang menyadari keberadaan Nakroth. Berterimakasih lah pada Zeroth untuk hal ini. Berpindah, kini Zeroth berdiri ditengah pasukan Lothar yang kini menjadi mayat.


"Kekuatan prajurit Lothar hanya omong kosong belaka, kah?." Ujarnya sambil menyabet kedua pedangnya yang penuh akan darah.


Setelah sekiranya selesai, Zeroth segera menemui Nakroth yang berada diwilayah belakang. Untuk menyelinap dan mengambil benda sakral itu.

__ADS_1


Nakroth membuka pintu kereta kayu tersebut. Namun ia tidak melihat barang yang ia cari, tidak ia tidak ingin gagal. Kaisar Azeroth mempercayakan misi ini kepadanya, jikalau ia gagal maka nama baik dirinya serta keluarganya akan sangat tercoreng.


"Kau menemukannya?." Ujar Zeroth dibalik bayang, dan dijawab dengan gelengan kepala dari Nakroth.


"Jadi ini kegagalan kita yang pertama?." Ujar Zeroth dan dibalas dengan senyuman getir dari Nakroth, "Yah begitulah, sungguh mengecewakan." Balasnya.


Menyadari tidak ada hal yang bisa mereka lakukan. Akhirnya mereka berdua keluar dari kereta kayu tersebut. Namun, sebuah sabetan pedang mengincar leher Zeroth. Menyadari nyawa sahabatnya terancam, Nakroth segera menendang keras Zeroth untuk menghindari tebasan itu.


"Bisa kah kau melakukan lebih halus lagi saudaraku!?."


"Salahkan dirimu yang lengah, dasar bodoh!."


Tidak ingin berdebat terlalu larut. Mereka menatap kedepan, Seorang prajurit Lothar muncul membawa senjata yang dicarinya, dengan mata merah dan bersinar melambangkan kemarahan yang tidak manusiawi. Mata dari prajurit itu membesar seiring dengan kekuatan besar yang keluar dari dalam pedang itu. Dia benar-benar terlihat tidak bisa mengendalikan kekuatan itu, rasa sakit itu terlalu kuat untuk dikendalikan.


Rumor itu ternyata benar.


Tak sampai disana, sebuah hentakan kuda terdengar dibelakang mereka. Mengerti bala bantuan akan datang, Nakroth dan Zeroth saling membelakangi. "Aku akan urus karavan itu." Ujar Zeroth dengan kedua pedang ditangannya, "Maka aku urus prajurit ini." Balas Nakroth.


Kesabaran adalah hal yang tidak dimiliki oleh Zeroth, dia langsung menerjang prajurit yang ada didepannya. Berbeda dengan Nakroth selalu merencanakan sesuatu dengan hati-hati.


Dengan kedua belati panjangnya, Nakroth beradu dengan prajurit Lothar itu. Belati panjangnya berbenturan dengan pedang sakral itu. Dan dalam momen yang sangat singkat tersebut, dia melihat lewat matanya sebuah sosok yang abadi, menyaksikan bagaimana ratapan akan rasa sakit dan juga penderitaan selama ribuan tahun. Ini pasti adalah sosok iblis yang akan terus terlahir kembali. Iblis yang sesungguhnya, dan ini harus segera dihentikan.


"Buktikan kalau kau layak...."


Merespon bisikan itu, dengan mata tertutup Nakroth mencoba untuk mengambilnya. Sementara Zeroth masih berusaha menyingkirkan musuh terakhirnya.


“Saudaraku, jangan!” tangisnya, dengan kedua pedangnya yang penuh dengan darah. “Apa yang kau lakukan?, Kau lihat apa yang dialami oleh prajurit itu!. Benda itu harus dihancurkan!.”


Nakroth menatap wajahnya. “Tidak. Ini milikku.”


Tiba-tiba mereka berdua terpental, tidak ada yang bisa berdiri. Di tengah kota terdekat, lonceng peringatan akan bahaya berbunyi. Sepertinya sesuatu yang besar akan segera terjadi.


Tidak ada yang selamat dari ledakan itu, yang hanya menyisakan Zeroth dan Nakroth. Zeroth menyarungkan pedang miliknya. “Apa yang akan terjadi, saudaraku?”


Pedang iblis itu berbicara pada Nakroth. Seperti membisikkan sesuatu pada pikirannya, dan terlihat sepertinya saudaranya itu juga ikut mendengarnya.


“Kau sungguh diluar dugaan.” Ujar pedang itu dengan tertawaan kecil.


Pedang itu terbang, melunak dan berganti menjadi sebuah belati panjang. Nakroth dengan jarinya meleleh menuju kegelapan dan bersatu dengan belati itu, seperti masuk ke sebuah gerbang menuju malam yang sangat gelap. Rasanya senjata itu sekarang adalah bagian dari dirinya, seolah dia dilahirkan bersamanya. Nakroth mengayun-ayunkan belatinya, lalu diarahkan sejajar dengan leher Zeroth.

__ADS_1


Melihat itu Zeroth segera menyiapkan kuda-kudanya. Senjata itu adalah sesuatu yang terkutuk, dan harus segera dimusnahkan. Tapi yang dilakukan oleh saudaranya benar-benar diluar dugaannya.


"Apa aku harus membunuhmu saudaraku?." Ujarnya sedih ketika melihat Zeroth yang nampak telah terpengaruh oleh senjata itu. Namun, "Haha.. Tenang aku hanya bercanda." Ujar Nakroth sambil tertawa ketika melihat ekspresi wajah Zeroth yang nampak imut ketika khawatir dengannya.


"Ku buat kau mati berdarah!, Dasar manusia bajingan."


"Kemarilah!, Monyet dengan dua pedang tidak mungkin bisa mengalahkan ku!."


Hanya sebuah rutinitas yang dilakukan keduanya setelah selesai dalam melakukan misi. Namun kali ini. Nakroth berdiri dengan begitu pilu di dalam kegelapan malam, dikelilingi oleh para prajurit yang mati, tersenyum dalam sebuah ironi. Bendera hitam berbentuk busur ini dibangun untuk menandakan kekuatan kerajaan terbengis, melahirkan ketakutan dan juga penunjukkan kekuasaan pada mereka yang melewat di bawahnya.


Sekarang, bendera itu tak lebih dari kain kotor berdarah, sebuah bukti sekaligus monumen bisu yang mempertunjukkan kekuatan palsu serta ego, simbol dari meraka yang tamak dan mengorbankan kaum sapi perah yang terbelenggu oleh ketakutan untuk berontak. Tapi sekarang ketakutan itu berbalik kearah mereka.


Nakroth senang dengan ketakutan itu. Itu adalah sebuah senjata khas, dan sementara para tentara Blood Knight telah menguasai pedang dan busur mereka, Nakroth menguasai rasa takut.


Nakroth baru kali ini menginjakkan kakinya di medan pertarungan tanpa rasa bangga pada kekaisarannya, berada di tengah mayat-mayat prajurit musuh yang mencoba melawan ketakutan mereka sendiri. Ketakutan itu seperti udara yang ada di dalam sebuah badai, mengemis untuk dilepaskan.


Rodant. Rekan, sahabat, serta senjata yang selalu berada digenggaman. Membalikkan pedangnya dan bersiap untuk bergelut dengan dirinya sendiri. Ia menatap serta merasakan genggaman tangan yang gemetar dari Nakroth, ia yang berbentuk belati hitam mencoba berkomunikasi.


"Ada ketakutan pada cengkeramanmu dan keraguan di hatimu, Nakroth" Ujarnya


Tak menjawab, ia melihat lautan merah didepannya. Benar, ialah yang membuat lautan merah ini, dan benar ialah yang membantai semua yang hidup. Namun, darah begitu menakutkan, warna merah gelap serta kentalnya membuat Nakroth takut.


Bersamaan ia juga sadar, untuk apa dia harus melawan rasa takut untuk mereka yang tamak?. Mereka memeras kaum jelata demi memperkaya diri dengan petisi perang sebagai dalih. Rasa kagum serta patriotisme pada rusuk Nakroth semakin pudar seiring dengan perang yang ia jalani.


Nakroth menjatuhkan bendera kekaisarannya. Bendera yang selama ini ia kibarkan, selama ini ia bela dengan nyawanya. Tapi sekarang bendera itu jatuh ketempat yang paling bawah, menginjaknya dengan rasa amarah yang tinggi. Bisa Rodant bayangkan, cengkeraman ini sungguh tidak mengenakan.


"Aku tidak punya hati, dan itu yang harus kau takuti. Rodant." Ujarnya dingin


Rodant masih ingat kejadian itu. Namun kini adalah era baru, sosok manusia memegang dirinya. Sebuah perasaan nostalgia merasuk disetiap lekuk bilahnya. Seolah-olah dirinya sedang dipanggil oleh Nakroth. Ia tersenyum dengan perasaan yang familiar ini


"Buktikan kalau kau layak..."


______________________


Trivia : Perubahan sifat Nakroth dilandasi oleh penghianatan dari Kekaisaran, Istri, serta Bangsawan dan Kaisarnya. Hanya Blood Knight, Zeroth, Rodant, dan seorang Elf ber ras peri yang setia padanya.


Shunizu ba vawhor!.


Beradaptasi dan mengatasi!.

__ADS_1


__ADS_2