Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Pemain berarmor hitam


__ADS_3

"Kau akan berakhir disini!" Teriaknya sambil mengayunkan pedang perak


Pedang peraknya tertahan cukup manis oleh bilah merah dengan panjang yang sama, benturan logam juga terdengar begitu nyaring di medan perang, membuat perhatian mereka sempat teralihkan


Ia yang berarmor hitam menatap dibalik topeng hitam baja dengan tatapan yang cukup ekstrim, dengan sedikit penambahan kekuatan pada lengannya, ia dengan mudah menghempaskan pedang perak sang Jenderal Goblin. Cukup terkejut dengan peraduan kekuatan yang tiba-tiba, namun dengan mudah bisa ia antisipasi


Setelah mundur mengambil jarak, sang Jenderal kembali melesat dengan tebasan menyilang, dengan kemampuan serta pengalaman menghadapi Goblin, ia dengan mudah menghalau serangan sang Jenderal dengan tingkat presisi yang tinggi


Tak menyerah, sang jenderal mengisi energi pada bilah perak. Energi yang disalurkan bereaksi pada pedang peraknya, aura kehitaman menyebar dengan cepat melapisi bilah perak yang indah. Aura gelap yang meliputi keseluruhan badan bilahnya, sudah cukup membuat sang jenderal tersenyum picik


Pedang hitamnya datang begitu presisi pada kecepatan yang tinggi. Ia yang berarmor hitam cukup terkejut dengan peningkatan yang secara tiba-tiba. Tapi dengan kelihaiannya ia mampu menahan serangan menusuk dari sang jenderal


*Trang!


Suara benturan logam terdengar kembali. Tidak berhenti disana, mereka kembali beradu. Serangan demi serangan mereka luncurkan, namun dominasi dari sang Jenderal Goblin begitu terlihat. Pedangnya datang dengan begitu cepat dan mempunyai efek destruktif yang tinggi, membuat pemain berarmor hitam itu sangat kewalahan


Mengerti lawannya sedang berada diujung tanduk, sang jenderal kemudian meningkatkan tempo serangannya. Berbagai serangan datang menghujani tubuh pemain berarmor hitam, namun karena banyak serta ketajaman serangan sang jenderal membuat pemain berarmor hitam itu membuka celah


Melihat celah yang begitu sayang untuk dilewatkan. Dengan tusukan penuh presisi, sang jenderal mengincar bahu kiri lawannya. Merasa kemenangan berada didepan mata, tapi tanpa sadar retina sang jenderal melihat sebuah tombak pendek pada tangan kiri lawannya


Dan seraya pedang hitam sang jenderal mengarah kearahnya, tombak pendek datang dari arah lainnya. Sebuah sayatan panjang melukis indah pada tubuh sang jenderal. Terkena serangan yang cukup fatal, sang jenderal menghentak kaki depannya untuk melompat mundur serta mengambil jarak


Meski demikian, area dadanya terkena sabetan yang cukup parah, bahkan baja ringan yang melapisi badannya tak mampu bertahan dari sayatan tajam tombak pendeknya. Bau amis dari dadanya keluar secara perlahan begitu juga dengan rasa sakit yang ia terima


"Sudah lama sekali..." Sang Jenderal Goblin tersenyum kikuk


Darah segar tak luput terlihat, sang jenderal memegang dadanya dengan tarikan nafas yang panjang. Sudah cukup lama dirinya terluka, namun sabetan tombaknya masihlah terbilang cukup dangkal dan tidak terlalu fatal untuk kehidupannya


Tak ingin membuat musuhnya mengambil nafas terlalu lama, pemain berarmor hitam itu kembali melesat. Dua buah tombak pendek ia genggam erat, dengan momentum yang tepat ia melayangkan tusukan secara beruntun.


Serangkaian hunusan tombak terlihat begitu mematikan seakan sebuah hujan yang tak kunjung reda. Namun dengan ketajaman yang ia latih di kedalaman Abyss, sang jenderal bisa mengikuti setiap serangkaian hunusan, walaupun harus mengorbankan setiap hembusan nafas yang terdengar berat


Melihat tak adanya perkembangan, pemain berarmor hitam meningkatkan tempo hunusan. Benturan logam terdengar kembali, sang jenderal terlihat begitu kesulitan menanggapi berbagai hunusan tombak pendek. Tak ingin terpojok untuk sekian kalinya, ia menambah energi pekat pada pedang peraknya.

__ADS_1


"!?"


Pemain berarmor hitam cukup terkejut dengan tekanan yang ia rasakan pada ujung tombaknya. Pedang sang jenderal terlihat jauh lebih pekat dari biasanya, membuat pemain berarmor hitam itu sedikit khawatir. Dengan pergerakan lengan yang sederhana, sang jenderal menghambat pergerakan lawannya dan membalasnya dengan tebasan menyamping


Melihat serangan fatal yang mengarah padanya, tak membuat fokus pemain berarmor hitam itu berkurang. Tatapan mata menyelidik terlihat pada balik helm bajanya, ia membalik tombak pendek dan menahan laju arah pedang sang jenderal dengan sisi tumpul tombak pendek


Namun tekanan yang dirasakan pada lengannya terlampau jauh dari perkiraan, ia secara terpaksa terlempar kebelakang dengan cukup kuat, ia kemudian memperbaiki postur jatuhnya dengan dua mata tombak yang ia tancapkan ketanah


"Kuh..!"


Erangan kecil terdengar cukup berat dibalik helm bajanya. Lengannya cukup bergetar karena menahan serangan yang sangat bertenaga apalagi dalam jarak yang terlampau dekat.


"Kena kau!"


Tapi lesatan pedang mengarah padanya dengan kecepatan yang tinggi, pedang hitam datang begitu bertenaga. Ia segera menahan laju pedang sang jenderal dengan dua tombak pendek yang ia silangkan


Namun tetap saja loncatan tenaga begitu terasa pada kedua lengannya, sang jenderal menambah beban pada pedangnya dan dengan satu momentum memukul mundur pemain berarmor hitam itu dan membuatnya tersungkur


Tak ingin membuat lawannya mengambil nafas, sang jenderal melompat tinggi ke udara. Dengan pedang perak yang telah ia perkuat, ia menukik tajam ke bawah. Ia yakin kalau manusia berarmor hitam itu tak akan berdaya dihadapan serangan mematikan yang ia lancarkan


Beberapa faktor tentang stamina serta senjata membuatnya begitu percaya diri. Menurutnya tombak pendek itu tak akan berdaya dihadapan serangan telaknya. Namun mata tiba-tiba memekik terkejut


"Tameng!?"


Benar sekali, pemain berarmor hitam itu mengembalikan kedua tombak pendeknya dan menggantinya dengan tameng bulat berwarna merah darah. Ia memposisikan tamengnya seolah menyambut hangat kedatangan pedang hitam


Serasa terpancing emosi, dengan bantuan gravitasi sang jenderal mengayunkan pedang peraknya kebawah dengan sekuat tenaga.


*Trang!


Layaknya raungan sang raja hutan, suara benturan logam baja terdengar dan menyita perhatian sekitar. Serangan pedang berhasil ia tahan dengan cukup baik, namun dampaknya jelas sangat terlihat. Tanah yang ia tapaki mengalami keretakan hal ini membuktikan kuatnya kualitas serangan sang jenderal


Lutut serta lengan juga semakin bergetar karena tidak mampu menahan beban lebih lama lagi. Walaupun serangannya gagal, tapi melihat keadaan lawannya yang semakin tertekan membuat senyum piciknya jelas terlihat. Ia ingin melihat ekspresi wajah apa yang lawannya tunjukan tapi helm armor sungguh menganggu

__ADS_1


Diluar dugaan, dibalik helm bajanya ia tersenyum. Walaupun bukan senyuman kemenangan tapi senyuman itu cukup berarti, setidaknya bagi sang jenderal. Karena sebuah tombak panjang dengan ujung matanya yang begitu tajam muncul pada tangan kanannya, ia melesat dan menusuk dalam tubuh sang jenderal


"Khuak!"


Sang jenderal sangat terkejut dengan ini, darah segar keluar dari mulut kotornya. Rasa sakit menyebar secara perlahan namun begitu menyiksa. Tak ingin kalah, sang jenderal mengayunkan pedang hitam kearah leher lawannya


Namun dengan kecepatan yang bagus ia dengan mudah menghindar sekaligus melompat mundur untuk mengambil jarak, tombak panjangnya juga telah ia cabut dari tubuh sang jenderal. Ini sebagian dari rencananya agar sang jenderal terus menerus kehilangan Hp atau darahnya karena ia kehilangan banyak darah dari luka tusukan parah yang ia lancarkan


Sang jenderal memegang bagian perut yang telah berlubang, darah panas mengucur cukup deras dan itu menganggu penglihatannya yang sembari tadi cukup terganggu karena kehilangan banyak darah. Ia menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa sakitnya, walaupun tak terlalu membantu


'Keahlian pedang, keahlian bertarung dua tombak, dan keahlian bertarung dengan tameng dan tombak. Monster macam apa ini?' Pikir sang jenderal


Berfikir keras benar-benar membuatnya merasa tak lebih baik apalagi luka yang diterima cukup menganggu. Ia menatap lawannya dengan tatapan mata yang cukup tajam.


Ia masih tak habis pikir, lawannya sangat pandai memainkan senjata baik itu pedang ataupun tombak. Ia bisa lihat itu karena ia memiliki banyak pengalaman, kalau saja ia tidak lengah maka luka pada perutnya pasti tidaklah ada


Namun nasi telah menjadi bubur, ia tak akan bisa bergerak leluasa kalau luka pada perutnya masih terbuka. Dengan kata lain kemungkinan menang sangatlah kecil. Tapi itu tidaklah masalah karena ia sudah lama tinggal di Abyss, yang berarti ia bukanlah Goblin biasa


Sang Jenderal Goblin mengumpulkan energi dan menjadikan tubuhnya sebagai pusat pendiri. Sebuah aura hitam menyelimuti setiap lekukan tubuh sang jenderal, tubuhnya menjadi sedikit lebih besar dan kulitnya berubah menjadi lebih gelap dari biasanya, dan dibalik punggungnya terlihat sepasang sayap berwarna hitam


Ia bisa merasakan aliran energi memenuhi setiap aliran darah pada tubuhnya, fisik serta luka yang diterima perlahan tapi pasti mulai membaik. Didalam mode ini, ia yakin kalau tak ada seorangpun yang bisa menghentikannya, dan itu mungkin bukanlah omong kosong. Yah mungkin....


Sang jenderal menatap lawan yang menurutnya sudah tak lagi memiliki kesempatan. Membayangkannya saja sudah membuat senyum menjijikkannya keluar


Pemain berarmor hitam itu tak menghiraukan tatapan milik sang jenderal Goblin. Namun ia membalas tatapan itu dengan sangat ekstrim, dengan tameng ditangan kirinya dan tombak panjang nan runcing ditangan kanannya, ia menatap sang jenderal dengan nafsu membunuh yang begitu terasa. Dibalik helm bajanya ia membuka sedikit mulutnya dan mengeluarkan suara dingin yang merupakan suara khasnya


"Kau sungguh memuakkan!"


________________________


Alhamdulillah sembuh


Min chonghoran iwing (Kita lebih kuat bersama)

__ADS_1


__ADS_2