
Salah satu tempat dimana pertarungan kelas atas terlihat, ring hitam yang berdiri kokoh menjadi saksi pertarungan sengit itu, kini di bar yang sama keduanya duduk sambil menikmati hidangan sebagai sebuah peristirahatan. Wanita itu memakan makanannya dengan begitu lahap dan juga luar biasa buas. Sementara Zephys hanya memandangnya heran.
Mereka berdua duduk disalah satu meja di bar itu. Terlihat banyak pasang mata yang melihat mereka dengan tatapan penasaran dan juga kekaguman, pertarungan yang belum pernah mereka liat selama ini bisa mereka nikmati. Rasanya mereka begitu beruntung bisa datang di bar ini.
“Jadi kau itu Sin?.”
Tepatnya setelah Zephys sadar dari pingsan, wanita itu memperkenalkan dirinya Sin. Seorang master beladiri yang selama ini Zephys cari, Zephys awalnya tidak percaya tapi mengingat bagaimana kemampuan wanita itu, membuatnya yakin kalau wanita itu adalah Sin.
Wanita itu sebut saja Sin, mengangkat salah satunya tangan. Mengisyaratkan untuk tidak mengganggunya saat makan, Zephys mengerti akan hal itu dan hanya menghembuskan nafas panjang. Sambil menunggu Sin mau berbicara, Zephys memilih untuk juga memakan hidangan didepannya.
“Dojo eh.”
Mendengar perkataan beserta nada yang cukup menjengkelkan membuat Zephys sedikit kesal. Namun, ia tidak ingin memperpanjang lagi keributan. Ia memilih menatap Sin, hingga jendela digital biru keluar dihadapannya.
___
Kamikaze Sin
Ras : High Human
Level :
Relasi : Stranger
___
“{Tingkatan Relasi untuk status yang lebih kompleks}.”
Setidaknya hanya itu yang bisa Zephys dapatkan, tapi ia menyadari kalau Sin memanglah dia. Tidak dalam waktu yang lama, Sin telah menyelesaikan makanan, yah bisa dilihat berapa piring yang ia tumpuk dimeja kecil ini.
“Bos, bocah ini yang bayar!” Ujar Sin sembari menunjuk kepada Zephys dengan raut muka tak bersalah. Beserta dengan jari telunjuk yang mengarah padanya, dan tatapan penjaga bar yang mengarah padanya. Zephys hanya bisa tersenyum pahit.
“Berapa?” Ujar Zephys lemas
***
Setelah keduanya cukup kenyang, mereka keluar dari bar dan mulai berjalan-jalan sebentar di wilayah perdagangan. Sementara Sin terlihat berjalan begitu riang gembira, Zephys malah berjalan tertunduk seolah kepalanya masih memproses pertarungannya melawan Sin. Bagaimana ia kalah?, Apa tendangan itu belum cukup kuat?, Apakah ia kurang presisi?, Mungkin seperti itu yang terjadi di pikirannya.
Sin menoleh kebelakang, melihat Zephys yang nampak berfikir keras. Sin tahu ia masih berfikir tentang pertarungan itu, mungkin kekalahannya cukup membuat Zephys tersentak. Sin tersenyum kecil, ia memukul pelan dahi Zephys untuk sekedar membangunkan lamunannya.
“Kau menemui ku untuk apa?” Ujar Sin
Zephys segera bangun dari lamunannya. Mendengar itu cukup membuatnya tersenyum kecil.
“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu.”
“Kalau begitu ayo ketempat ku.”
Zephys hanya mengangguk pelan, sepertinya Sin mengetahui kalau hal yang Zephys tanyakan adalah sesuatu yang cukup serius. Sewajarnya memilih tempat yang lebih privasi, tempat layaknya bar dan jalan sangatlah tidak cocok. Lagipula sangat konyol ketika membahas sesuatu yang penting ditempat umum.
__ADS_1
Keduanya berpisah dengan khalayak ramai beserta ruas toko, mereka berjalan pelan menuju celah sempit. Melewati berbagai jalan sepi serta setapak, keduanya masih terus berjalan. Hingga pada akhirnya sebuah keadaan mulai berubah.
Berbanding terbalik dengan distrik perdagangan yang begitu ceria. Kini Zephys berjalan cukup suram, dimana banyak sekali pengemis serta preman yang cukup garang. Zephys memandang sekitar dengan hati-hati, tidak mau menarik terlalu banyak perhatian.
Perbedaan atmosfer yang begitu jelas terasa, layaknya siang menuju malam. Sin yang melihat Zephys yang cukup bingung hanya bisa tersenyum kecil. Itu wajar, karena perbedaan yang tiba-tiba ini jelas merenggut rasa penasaran.
“Kau masih menggunakan topeng gagak itu?” Ujar Sin selagi terus melanjutkan melangkah.
“Apa itu masalah?” Ujar Zephys
“Tidak, itu mungkin lebih baik.” Ujar Sin pelan
Zephys kembali memandang sekitar. Sesuatu kasar seperti pemerasan, kekerasan, bahkan orang yang sedang bercinta, bisa Zephys lihat dengan jelas. Membuang senyum pahitnya, Zephys mulai bertanya.
“Sungguh perbedaan yang gila.” Ujarnya
Sin hanya bisa tersenyum pahit. Memang benar, adanya kesenjangan sosial antara mereka yang mempunyai uang dan kekuasaan jelas begitu terlihat. Namun, mereka yang melihatnya hanya bisa menutup mata tentang ini. Layaknya dua sisi koin, Westburg memiliki kesejahteraan yang berbanding terbalik.
Walaupun begitu keduanya masih terus berjalan. Semakin dalam mereka berjalan, semakin dalam juga aktifitas kegelapan ini. Zephys melihat kearah samping, sosok pria yang kurus meminum sebuah cairan berwarna ungu, Zephys curiga akan hal itu. Namun, hanya dalam sekilas Zephys memahaminya.
“Sepertinya ada penguasa lain dikota ini...” Ujar spontan Zephys, Sin tidak menunjukkan tanda-tanda penyangkalan. Dia malah tersenyum. “Itu benar..” Ujarnya
Zephys tidak begitu banyak bereaksi, namun kepalanya begitu dingin begitu pula dengan intuisinya yang mulai menajam. Zephys kembali melirik kearah sekitar, situasi disini kembali memburuk. Gerombolan orang yang kita sebut saja preman, mulai melirik Zephys. Bukan tanda persahabatan melainkan permusuhan.
Namun ketika mereka melihat Zephys berjalan dengan Sin, mereka langsung mengalihkan pandangan mereka. Zephys tersenyum dibalik topeng gagak, sepertinya ia mengetahui maksud tersembunyi Sin.
“Aku sepertinya tahu mengapa kau bawa aku kesini Sin." Ujar Zephys dengan nada yang cukup dingin. Sin kemudian berhenti, ia menoleh kearah Zephys. “Kita sudah sampai.” Ujarnya dengan senyum yang hangat.
Zephys membuka topengnya, ia cukup risih karena udara disini cukup panas. Lagipula tidak masalah, karena Sin juga telah melihat wajah aslinya. Zephys masih memandangi tembok yang penuh akan retakan tinju, ia menyadari kalau Sin merupakan seorang pekerja keras.
“Oi es krim, tutup matamu sebentar.”
Tapi mata Zephys seolah terbeku, ketika melihat sebuah lukisan naga ditembok rusak itu. Taringnya begitu tajam, begitu pula dengan warna tubuh hitam membuat sebuah kesan misterius dan garang. Zephys kagum oleh lukisan ini.
“Sungguh lukisan yang indah, kau membuat ini Sin!” Ujar Zephys terbelalak dan secara reflek menutup matanya.
Karena apa?, Tentunya saat ini keadaan Sin tengah tanpa kain. Karena terlalu larut mengagumi lukisan naga hitam ini, secara tidak sadar Zephys tidak memperhatikan sekitarnya. Dan saat Sin memperingatkan Zephys untuk menutup matanya, ia malah tidak mendengarnya.
Walaupun begitu Sin hanya tersenyum nakal.
“Sudah cukup berani kau mengintipku, eh es krim?” Ujarnya dengan nada perkataan yang cukup panas.
“Aku tidak sedang mengintip!.” Teriak Zephys dengan wajah merah tomatnya. Walaupun begitu, jari telunjuk Zephys terbuka lebar. Setidaknya cukup untuk melihat sesuatu indah didepannya.
Sin mengetahui itu tapi tidak terlalu bagaimana peduli. Walaupun begitu mata Zephys menatap punggung putih Sin. Kembali ia lihat tato naga menutupi punggung indahnya, berbeda dengan naga hitam yang berada ditembok. Naga pada punggung Sin berwarna biru, memiliki empat kaki, dan taringnya yang sangat runcing.
Zephys kembali terkagum, Zephys atau Diaz sangatlah menyukai seni. Oleh karena itu, ia sangatlah terpesona ketika melihat lukisan dan tato naga yang ia lihat. Saking kagumnya, Zephys tidak menyadari kalau Sin menatapnya cukup nakal. Zephys yang sadar langsung berbalik dengan canggung.
“Kau cukup nakal es krim.” Goda Sin
__ADS_1
“Panggil aku Zephys...” Lirihnya pelan sambil tergagap, mengetahui kalau dirinya lah yang salah kali ini.
Suasana kembali canggung. Zephys berdiri menghadap kearah berlawanan, sembari menunggu Sin berganti pakaian. Tidak perlu waktu lama, Sin memperbolehkan Zephys untuk melihatnya. Sepertinya ia telah selesai berganti pakaian.
“Maaf.”
“Tidak usah dipikirkan, langsung saja apa pertanyaanmu?.”
Zephys menggelengkan kepalanya untuk sedikit menghilangkan rasa malunya. Ia mulai berfikir, banyak pertanyaan yang cukup mengganjal. Antara Nakroth, Fraksi, atau Pusaka, setidaknya Zephys harus mengetahui informasi penting ini. Ia membersihkan tenggorokan dahulu, sebelum ia melangkah ke pertanyaan.
“Kamikaze Sin, Kamikaze?”
Hal yang pertama Zephys tanyakan bukanlah berhubungan tentang Nakroth ataupun yang menyangkutnya, melainkan tentang Sin itu sendiri. Zephys mengerti, nama marga Kamikaze cukup terkenal di Fraksi Archon. Zephys mengerti akan hal itu, nama Kamikaze merupakan keturunan murni tentara terbaik Archon.
Sin tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.
“Kalau kau mengetahui marga Kamikaze, maka kau adalah utusan cahaya setelah Bright. Bukan begitu Zephys?” Ujarnya Sin dan dibalas dengan anggukan kecil Zephys.
“Itu benar, aku putri ketua Clan Mist Island.” Ujar Sin sambil meminum air dalam gelas, sementara itu Zephys tengah berfikir. “Jika benar siapa ayahmu?, Aku tidak percaya Kapten Airi memiliki kekasih.” Ujar Zephys beserta naiknya pundaknya, sebagai isyarat tidak percaya.
Sin tertawa kecil, setelah itu menunjuk sebuah lukisan naga berwarna hitam yang terlukis indah ditembok. “Itu ayahku.” Ujarnya.
Zephys terdiam sejenak, namun ia mengerti akan hal itu. Suara Sin kembali terdengar.
“Aku tahu kau datang kesini untuk mencari informasi tentang pusaka Nakroth bukan?” Ujar Sin yang nampaknya mengalihkan pembicaraan, Zephys tahu bahwa Sin tidak terlalu nyaman membahas naga hitam itu atau tentangnya.
“Aku tidak tahu dimana letak pusaka Nakroth, tapi aku tahu siapa orang yang mengetahui pusaka itu dimana.” Ujarnya
Zephys kembali mengangguk kecil, memang sungguh disayangkan ia tidak dapat informasi yang jauh lebih layak. Tapi walaupun begitu, sepertinya Sin mengetahui banyak hal tentang Athanor, Zephys hanya sedikit bisa berasumsi sedikit.
Marga Kamikaze cukup mencurigakan. Kamikaze merupakan marga ketua Clan Orde Ninja Mist Island, yaitu Kamikaze Airi. Seorang ninja perempuan yang memiliki daya tempur yang sangatlah kuat, dia salah satu sosok manusia dengan kekuatan setara dewa. Tapi ketika ia memiliki putri maka Zephys mempertanyakan hal yang umum, umur manusia hanya disekitar 70 sampai 80. Dan Zephys percaya kalau rentan waktu Antharis Online ke Athanor Online lebih dari ratusan tahun. Dan Airi hidup pada era Perang Dewa dan Iblis kedua. Mungkin ras High Human berumur panjang.
“Siapa orang itu?”
“Guruku, Xiao Lee.”
Zephys tidak mengenal orang itu, dan sepertinya ia bukanlah berasal dari Mist Island. Zephys kembali berfikir, ia tersenyum dalam batinnya.
‘Sepertinya perang itu, membuat adanya konflik didalam Mist Island.’ Batin Zephys
Ia menyimpulkan ini karena ia memiliki sebuah asumsi. Xiao Lee bukanlah nama dari warga Mist Island, merupakan sebuah nama dari kebangsaan Lonia. Dan Zephys berfikir skenario seperti, ‘Keadaan Mist Island sedang genting, tolong bawa lari putri ketua clan.’ mungkin bisa terjadi. Tapi apa alasannya?, Zephys melirik kearah lukisan naga hitam. Dia tersenyum seperti tahu tentang jawabannya.
“Kebetulan aku juga berniat untuk mengunjungi guruku, mungkin kita bisa berangkat bersama.” Ujarnya tersenyum hangat, namun Zephys berfikir lain.
“Aku tahu ini tidak gratis. Katakanlah, apa harga yang harus dibayar?” Ujar Zephys dengan senyum getirnya.
Walaupun begitu Zephys tahu ini tentang apa. Warga dengan tingkat kekerasan yang tinggi, cairan aneh yang bersifat adiktif, serta para preman yang menatap Zephys dengan pandangan tak mengenakan, serta tatapan segan terhadap Sin. Jelas Zephys tahu tentang apa hal ini.
“Kau sungguh tajam es krim.”
__ADS_1
_________________________
Trivia : Mist Island merupakan tempat pasukan tentara Archon terbaik. Berisi jajaran Ninja dengan kekuatan Naga yang sangat melegenda.