Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Monarch Of War


__ADS_3

Dalam jeritan, darah, serta tangis kesakitan. Sosok yang kuasa tertunduk lemas dengan sebuah bilah hitam panjang menusuk dadanya. Rambut putihnya tergerai tak beraturan, tubuhnya begitu lemas. Ia tidak kuat menahan rasa sakit pada perutnya.


Matanya melirik kearah bawah. Ia melihat sosok iblis yang begitu bengisnya membantai setiap bala tentaranya. Pedang panjangnya menusuk, melibas, menyayat habis setiap dari mereka. Dia telah terbangun dari tidurnya, sebuah sosok yang paling bengis, kuat, serta kejam.


Dia adalah jelmaan dari sosok mimpi buruk disetiap malam disaat anak-anak Athanor tertidur lelap. Sebuah dongeng tentang sosok bengis yang tertidur disebuah lembah kedalaman Abyss, cukup menakutkan dan mereka menggunakan dongeng ini untuk menakuti setiap anak untuk tidak tidur terlalu malam ataupun keluar rumah terlalu larut.


Namun, dongeng itu nyata. Sosok iblis paling bengis membantai bala tentara dewa seorang diri. Bahkan untuk dirinya yang merupakan sosok yang dipilih oleh cahaya, ragu bisa mengalahkannya.


"Apa yang kau khawatirkan, guru Bright?."


Suara berwibawa terdengar ditelinga sang guru sekaligus titisan cahaya Bright. Bright mendongak keatas melihat sosok iblis yang memegang pedang panjang yang terhubung dengan perutnya. Sosoknya begitu berbeda dengan dirinya dahulu. Dengan patahan kata Bright menjawab.


"Omen, kau seharusnya tidak membawanya kemari."


Sosok iblis itu melirik kearah bawah melihat salah satu, tidak satu-satunya makhluk terbengis dibelahan Athanor yaitu Omen. Sosok itu tersenyum kecil,


"Tanpanya aku tidak bisa memenangkan perang ini, Guru Bright."


Sosok itu tersenyum puas, namun seketika menghilang ketika ia melihat raut kekecewaan yang terlihat dalam raut wajah sang guru. Sosok itu sangat menghormati gurunya jauh lebih dari apapun didunia ini, namun perbedaan pola pikir serta ideologi memisahkan diantara mereka.


"Aku tahu kau kecewa melihatku jatuh kedalam kegelapan yang sangat dalam ini, guru Bright."


Mendengar itu membuat sang guru tertawa sayu. Sebuah pernyataan yang mengejutkan dari sang murid, cukup membuat sang guru tertawa dalam kesaksiannya. Melihat itu membuat sang murid terdiam, jarang sekali sang guru tertawa lepas seperti ini, membuatnya bingung apa yang lucu dari pernyataannya.


"Kau adalah murid terbaik yang pernah aku dapatkan, Volkath." Berhenti sejenak, sang guru berbatuk darah. "Hanya saja apakah jalan yang kau pilih itu benar?, Apakah kekacauan yang kau buat, sepadan dengan apa yang kau dapatkan?."


Volkath merenung sejenak, perkataan sang guru menyentuh nuraninya. Walaupun dirinya telah termakan oleh Dark Andura Stone, namun hatinya masihlah seorang dewa. Ia terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang coba sang guru sampaikan.


Pikiran Volkath sangatlah rumit dan sangat sulit untuk dibaca, bahkan oleh sang guru sekalipun. Ide serta gagasan yang Volkath sampaikan jauh berbeda dan sangat bertentangan dengan Archon itu sendiri. Pikirannya yang ingin bebas dari segala penjara peraturan Archon yang menurutnya telah menyimpang.


"Lihatlah kebawah Volkath." Menuruti kata sang guru, ia melihat bala tentara dewa serta miliknya hancur tak bersisa. "Lihat berapa nyawa yang hilang untuk ideologi milikmu, Dark Andura Stone sangatlah berbahaya bahkan untukku sekalipun."


Mendengar itu Volkath tidak bergeming dan tetap teguh dengan ideologi miliknya. Pedang panjang berukuran dua kali lipat tubuhnya, ia tancapkan jauh lebih dalam pada tubuh sang guru. Membuat Bright kembali merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.

__ADS_1


Mata Volkath terbakar nafsu untuk bebas. Kekangan Archon serta sebuah ambisi mencapai kesempurnaan sejati dan dunia yang ideal, setidaknya untuk dirinya sendiri.


"Sebuah perubahan harus ada yang namanya pengorbanan." Ujar dingin Volkath.


Sang guru mencoba untuk tersenyum melihat ambisi milik murid terbaiknya ini. Sebuah ambisi yang kuat sama seperti dirinya dahulu kala, ia tidak jauh berbeda dengan Volkath. Mereka berdua sama-sama memiliki ambisi untuk membawa Athanor kearah yang lebih baik. Namun ideologi mereka saling bertentangan satu sama lain.


Layaknya dua sisi koin yang bersebrangan. Bright memilih untuk berkerja sama, menyatukan seluruh ras serta berbagai kerajaan untuk membentuk sebuah kedamaian.


Sementara Volkath ingin menguasai Athanor, dan membuat semua ras tunduk padanya dan membuat dirinya satu-satunya raja, dan ketika itu terjadi tidak ada lagi perang, tidak ada lagi permusuhan diantara para ras. Memaksa mereka untuk tunduk dan patuh atas nama ketakutan itu sendiri.


"Aku ingin lihat wajah Athanor ketika berada di genggamanmu Volkath, tapi aku tahu aku hanya menghalangi tujuanmu." Ujar Bright yang bahkan bijaksana diakhir hayatnya.


Berbarengan dengan itu, tubuh Bright memudar berubah menjadi partikel cahaya secara perlahan. Volkath yang melihat itu hanya diam membisu, melihat akhir dari gurunya oleh tangannya sendiri.


"Aku akan melihatmu sampai akhir." Ujarnya.


Bright menghilang layaknya cahaya yang redup. Volkath menarik nafasnya dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Pedang panjangnya ia sarungkan, namun sebelum itu. Volkath melihat bilah pedangnya, tidak ada noda darah terlihat.


"Kau suci guru, bahkan ketika kau pergi."


"Volkath, ayo cepat pergi dari sini sebelum Omen semakin menggila."


Suara bengis terdengar dari mahkluk besar bersayap itu. Ia menunggu jawaban dari pemimpin sekaligus sahabatnya ini. Namun ia tidak kunjung mendapat jawaban, ia memegang bahu Volkath untuk sekedar membangunkannya. Tapi kejadian mengejutkan terlihat pada matanya.


"Volkath kau..."


"Ah, Maloch. Ayo segera pergi dari sini."


Maloch melihat sosok yang tegar dan kuat seperti Volkath menangis, Maloch sangat memakluminya karena bagaimanapun Bright merupakan sosok penting bagi Volkath. Kehilangan guru tentu membuat hati Volkath tersayat.


Tapi jelas seorang pemimpin tidak boleh menunjukan kelemahannya dihadapan anak buahnya. Volkath segera mengalihkan pembicaraan. Ia menatap kebawah melihat Omen yang semakin lama semakin menggila.


Omen adalah sosok yang tidak Mengenal kawan maupun lawan. Bukannya ia seorang pengecut yang lari dari medan pertempuran, tapi Omen merupakan sosok yang tidak boleh disentuh. Oleh karena itu Volkath memilih untuk tidak berurusan dengannya.

__ADS_1


Volkath memanggil kudanya dan segera pergi dari situ, bersama dengan Maloch yang mengikutinya dari belakang. Meninggalkan Omen yang sedang menikmati kesenangannya sendiri bersama bala tentara dewa yang tersisa.


***


Disebuah ruangan gelap yang disinari lilin biru, sosok berambut merah panjang terbangun ketika mendapatkan sebuah mimpi dari masa lalunya. Ia melihat kedepan, kosong hanya kehampaan yang ia lihat. Walaupun ia telah berjuang untuk mengambil alih Athanor dari cengkeraman sang guru, tapi hanya kegagalan yang ia dapatkan.


Walaupun begitu ia tidak menyerah, sesuatu yang besar harus ada resiko yang sepadan. Kepakan sayap kembali terdengar, sesosok iblis bersayap dengan tubuh besarnya datang melalui pintu raksasa.


"Maloch, ada apa kau datang kesini?." Ujarnya


"Apa tidak boleh aku berkunjung kesini?, Bukan sebagai ajudanmu melainkan sahabatmu?."


Ia tersenyum kecil, Maloch sangat loyal kepadanya. Sembari kecil mereka berdua besar bersama, mengenal satu sama lain jauh dari yang mereka bayangkan. Berbeda dengannya yang memiliki bakat sihir yang hebat, Maloch sangat buas dalam kekuatan fisik.


Maloch mengambil dua anggur gelas untuk ia nikmati dengan sahabatnya.


Namun


"GROAA!."


Maloch sontak terkejut, hingga secara tidak sadar ia menjatuhkan gelas berisi anggur. Wajahnya terlihat panik, sayap besarnya bergemetar ketika mendengar suara raungan itu. Suara itu bukanlah suara tantangan apalagi permusuhan. Suara itu adalah peringatan bagi mereka


"Volkath..." Ujarnya masih sama dengan raut wajah yang khawatir dan pucat. "Nakroth?, Bukan. Ini Rodant." Balas Volkath


Baik keduanya mengerti, raungan itu ditujukan kepada siapa. Bukan hanya mereka namun entitas tertinggi yang ada dimuka Athanor ini. Sekali lagi, bukan sebagai raungan itu bukanlah tantangan ataupun permusuhan. Melainkan peringatan.


Karena hari ini adalah, hari dimana Raja dari segala raja perang kembali bangkit. Benar, lahirnya Monarch Of War.


_______________________


Trivia : Selain dengan Volkath, Maloch juga cukup segan dengan Nakroth. Karena dia satu-satunya yang berhasil merobek sayap kirinya.


Author : Maaf baru bisa update, jujur saya sedang tidak ada inspirasi pertarungan Zephys melawan Errol. Karena itu saya kasih selingan Background masa lalu tokoh penting dalam cerita ini, yaitu Volkath. Dan kalau kalian tahu, saya menegaskan kalau ceria ini termasuk Fanfic jadi akan ada persamaan nama atau Lore dari Hero yang saya singgung itupun jika kalian bermain AOV. Yah, apapun itu. Stay safe jangan keluar rumah kalau tidak penting dan jikalau terpaksa pakailah masker dan selalu patuhi protokol kesehatan!.

__ADS_1


G'vunnÉ™!.


From The Abyss!.


__ADS_2