
Sekelompok orang dengan pakaian khusus bergerak cepat kearah bangunan yang sangat dicurigai. Mereka tidak datang dengan jumlah sedikit melainkan cukup untuk membuat satu kota merasakan ketakutan jika mereka menentang mereka.
Dengan koordinasi yang rumit mereka dengan waktu yang bersamaan masuk kearah sebuah bangunan yang nampak seperti penyimpanan. Mereka datang dari pintu depan, datang dari atap, dan bahkan meledakkan salah satu tembok sebagai pengalih perhatian.
Namun mereka tidak menemukan tanda kehidupan apapun, sesuatu seperti uang yang merupakan bukti pun sudah lenyap. Dengan kesal salah satu dari mereka menendang kursi disana, menyadari mereka telah terlambat.
***
Sekitar tiga hari setelah pembakaran kebun Demiana yang mengegerkan para orang penting di kota Westburg. Mereka semua akhirnya mengadakan sebuah pertemuan West yang sebagai bentuk pembahasan dan kewaspadaan.
Diantaranya, Walikota Westburg yaitu Count Aldiron, tiga Baron yang memimpin tiga wilayah berbeda yaitu Baron Allair, Baron Reksai, dan Baron Rock. Diantara para pemimpin resmi, ada seorang pemimpin dengan kerajaan bawah tanah Westburg yang sangat kuat. Yaitu Falconi dengan Black Swan miliknya.
Mereka semua berkumpul diatas meja bundar bersama para penjaganya, disiang hari dan diadakan dibawah tempat isolasi besar berwarna putih. Didepan mereka terhadap sebuah layar batu yang dipenuhi sihir sebagai pusatnya. Layar itu memperlihatkan seorang pria dengan penampilan cukup mewah.
Ketika semua orang berkumpul Count Aldiron segera memulai pembicaraan ini.
“Situasi cukup serius, kita kehilangan cukup banyak lahan dan Rph.” Ujar Count Aldiron sebagai pembuka.
*Note : Rph adalah mata uang di Athanor.
“Kalau begitu bagaimana dengan biji bunga Demiana?, Kita seharusnya memiliki cukup banyak persediaan.” Ujar Baron Allair.
“Itu benar, tapi yang menjadi masalah. Kita kekurangan lahan, setidaknya butuh waktu untuk memulihkan ladang yang terbakar itu.” Jawab Baron Reksai dan dikonfirmasi oleh Baron Rock dengan anggukan ringan.
Itu benar, kerusakan yang ada cukup besar. Bukan hanya lahan bunga Demiana melainkan juga seisi bangunan didekatnya yang merupakan tempat penyimpanan bunga Demiana siap pakai. Membuat kerugian mereka cukup besar.
Dengan kerugian itu, banyak hal yang membuat semuanya terhambat. Mengingat hampir semua pejabat dikota Westburg ini merupakan bajingan korup maka mereka akan sangat kehilangan ketika sumber uangnya hangus terbakar.
“Tapi siapa yang melakukan tindakan ini?, Apakah para kelompok Sarah?” Ujar Baron Rock.
“Tentu saja siapa lagi!, Tindakan ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh kelompok kecil.” Ujar Count Aldiron.
Tentu saja ini masuk akal. Sarah cukup terkenal didunia bawah kota Westburg. Kerajaannya berpusat pada rumah bordil, penyewaan penjaga, dan tentunya berbagai tindak kotor. Bisa dibilang kerajaan Sarah satu tingkat dibawah kerajaan Falconi.
Dan tentu saja Sarah merupakan kandidat terjelas. Dia memiliki power yang cukup, koneksi yang banyak, dan tentunya merupakan musuh Falconi. Tentunya sebagai musuh mereka saling menghancurkan.
Berganti topik, Count Aldiron kembali membuka topik.
“Dre, kami ingin mendengar laporan darimu.” Ujar Count Aldiron pada sosok dilayar sihir itu.
Dre yang merupakan pemegang uang hasil kerjasama. Bisa dibilang dia merupakan orang yang dipilih oleh kelima orang yaitu Falconi, Count Aldiron, dan para Baron. Dan dia juga adalah pembagi uang diantara kelima sosok kuat itu.
“Aku mendapatkan sebuah informasi, kita kehilangan sekitar 50.000Rph beserta dengan 3Kg emas batang. Lebih tepatnya dikediaman Baron Reksai.” Ujar Dre.
“Orang bodoh mana yang berani mencuri dari kita.” Ujar Baron Allair pada Baron Reksai.
“Orang tinggi, berpakaian militer, memakai topeng gas, dan dia bukanlah siapa-siapa. Tapi yang lebih penting lagi uang kita berhasil dilacak oleh Viscount Nodero, orang dengan keadilan tinggi pasti tidak akan berhenti mencari bukti korupsi kita.” Ujar Baron Reksai.
“Terima kasih telah menjelaskan tuan Baron Reksai. Saya sudah menyadari tentang algoritma aneh dari pemerintah atas, dan dari itu saya menduga mereka telah mengetahui tempat, nominal, serta sejarah dari uang itu. Dan dengan berbagai pertimbangan saya memindahkan semua uang ketempat yang saya ketahui.” Ujar jelas Dre.
“Dimana?” Ujar Count Aldiron sebagai tanggapan.
“Disuatu tempat dimana hanya saya yang mengetahui.” Jelas Dre.
“Percayalah saya hanya takut, diantara kalian ada salah satu pengkhianat, karena dari pemikiran saya berkata demikian.” Tegas Dre.
Itu cukup masuk akal. Informasi yang sangat dalam bisa diketahui maka hanya ada beberapa kemungkinan. Dan salah satu kemungkinan itu adalah salah satu dari pihak yang mengetahui hal itu membuka mulut tentangnya.
Dan mungkin ada alasan lain mengapa hal itu juga bisa terjadi. Namun, untuk menjadi sebuah bendara dalam grup kotor. Dre dituntut untuk mempertimbangkan segala kemungkinan dan mengantisipasinya.
Oleh karena itu Dre, memilih untuk bungkam. Setidaknya ia akan membuka suara perihal tempat penyimpanan uang itu pada waktu yang tepat.
“Dan jika aku memberitahu kalian tentang dimana uang itu, dan memang benar dia diantara kalian. Maka uang kalian akan terlacak dan semua kebusukan kita akan tercium.” Ujar Dre.
__ADS_1
“Lalu bagaimana denganmu?” Ujar Baron Allair.
“Saya bersih, dan jika saya kotor maka saya sudah terbunuh jauh-jauh hari oleh tuan Falconi.” Ujarnya tegas.
Itu benar, Falconi memiliki jaringan serta koneksi informasi yang tinggi. Dengan kekuatan itu penciumannya tentu sangatlah tajam, bukan hal yang sulit baginya untuk menemukan sesuatu seperti ini. Dan mengingat sosok Falconi seperti apa, mungkin Dre tidak berani berbuat kotor karena nyawa lebih penting dari uang.
“Lalu bagaimana caramu untuk menghapus jejak yang kau tinggalkan?” Ujar Baron Rock.
“Saya melakukan pencucian uang, dan tentunya saya juga pergi cukup jauh dari kota Westburg.” Jelas Dre.
“Kapan kau akan memindahkan uang itu?” Ujar Count Aldiron. Dan dibalas Dre dengan santai.
“Saya sudah melakukannya, untuk berbagai alasan saya tidak bisa menunggu cukup lama lagi. Ayo bersepakat, uang kalian aman.” Jelas Dre.
Ketika semua cukup jelas, suara gesekan benda serta langkah yang begitu berat terdengar dari luar. Dia menendang pintu masuk keruangan yang seharusnya terisolasi itu. Ditangan kirinya ia menyeret sebuah kursi dan ditangan kanannya dia menyeret salah satu prajurit milik mereka yang telah mati.
Dia berpenampilan cukup gagah dan menarik. Terlihat pakaian militer Jerman pada Perang Dunia kedua berserta dengan mantel panjang berwarna hitam dan lengkap dengan topi khasnya, terlihat juga sebuah topeng gas berwarna hitam juga. Mengingatkan semua orang dibumi tentang kejadian itu.
“Selamat siang semuanya!” Ujarnya riang dibalik topeng gas, beserta dengan gestur lengan kanan yang ia angkat keudara.
Melihat gerak-gerik aneh dari orang berpakaian militer itu, cukup membuat semua orang yang disana terganggu. Melihat itu membuat Baron Reksai menanggapinya orang aneh itu dengan serius, sebelum para temannya merasa terganggu.
“Kasih satu alasan kepadaku sebelum anak buahku membunuhmu?” Ujarnya Baron Reksai dingin.
Dia yang berpakaian Jerman itu berfikir sebentar, hingga akhirnya membuka mulutnya.
“Bagaimana dengan es krim?” Ujarnya ceria.
Mendengar perkataan yang serasa merendahkan salah satu anak buah Baron Reksai berdiri dan mendekati kearah orang itu sebagai konfirmasi. Namun, saat jarak diantara mereka sudah dekat. Es lancip keluar dari telapak tangan pria berpakaian militer Jerman itu, dan dengan cepat langsung menusuknya tepat diwajah anak buah Baron Reksai, seketika membunuhnya.
Melihat itu semuanya langsung terdiam dan sedikit waspada. Berbeda dengan Falconi yang sembari tadi diam kini menunjukan mimik menarik.
“Ada yang mau es krim lagi?” Ujarnya kembali ceria.
“Duduk, aku ingin mendengar alasan orang ini.” Ujar Falconi dingin.
Pria berpakaian Jerman itu menatap kearah Baron Reksai dan jari telunjuknya mengarah kearah Falconi. Yang menandakan bahwa perkataan Falconi layak untuk didengar.
Mendengar itu Baron Reksai langsung duduk dengan mimik yang menunjukan amarah. Karena bagaimanapun juga Falconi merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam grup ini.
Pria itu kemudian meletakan kursinya dan duduk dengan kedua kaki yang ia angkat kemeja.
“Pertama panggil aku Zed, dan yang kedua aku berterimakasih kepada Baron Reksai tentang uang 50.000Rph dan 3Kg emas yang secara cuma-cuma diberikan kepada saya.” Ujarnya dengan perkataan yang seolah dibuat-buat se-formal mungkin.
Baron Reksai yang sembari tadi menahan amarah, kembali lagi dibuat emosi oleh Zed. Namun, karena tekanan yang diberikan Falconi, Baron Reksai hanya bisa terduduk sambil menahan emosinya. Tapi dia kembali berbicara.
“Ayo kita putar tahun lalu, beberapa bangsawan dan Viscount tidak berani melawan kalian. Tapi sekarang...., Apa yang terjadi?, Apa kalian sudah menjadi pecundang.” Ujar Zed percaya diri.
Namun perkataan itu ditanggapi dengan tenang oleh beberapa orang, namun tidak dengan Baron Reksai yang mulai sedikit terpancing.
“Aku tahu mengapa kalian begitu takut keluar dimalam hari, dan aku tahu mengapa kalian mengadakan curhat bersama disiang hari ini. Si Tongkat Api bukan?” Ujarnya.
Mendengar itu semua disana terlihat diam. Menandakan yang dikatakan Zed sepenuhnya benar atau setidaknya hampir benar. Pembakaran kebun Demiana merupakan sebuah kerugian namun itu tidak sebanding dengan permasalahan terlacaknya uang mereka.
Ditambah lagi sosok kuat yang dijuluki si Tongkat Api sering berkeliaran dimalam hari membuat semua gangster cukup khawatir. Dia tidak hanya mengincar anggota Black Swan tapi dia juga mengincar semua hal yang berkaitan dengan Black Swan, termasuk para petinggi kota ini.
“Lotte Reksai hanya baru permulaan.” Ujarnya melanjutkan kembali perkataan.
Lotte Reksai. Seperti namanya, dia merupakan salah satu Baron Reksai. Namun, si Tongkat Api berhasil membunuhnya dan membuat kekuasaan Reksai mengalami kekosongan. Hingga pada akhirnya adik dari Lotte Reksai mengambil alih keluarga dan meneruskan pekerjaan kakaknya. Yang kini Baron Reksai, Zed lihat.
“Dan semua hal tentang pencucian uang, cepat atau lambat pasti akan terdeteksi. Ingat Dre, Viscount Nodero, kelompok Sarah, dan si Tongkat Api memiliki tujuan yang sama.” Ujar Zed sambil menunjuk kearah Dre.
Mendengar itu Dre segera mematikan sambungannya. Sepertinya dia mengolah perkataan Zed.
__ADS_1
“Jadi apa yang kau usulkan?” Ujar Baron Allair.
“Itu sederhana kita bunuh mereka semua.”
“Jika sederhana kenapa kau tidak melakukannya?” Balas Count Aldiron.
“Aku tidak mau melakukannya secara gratis.” Ujar Zed tegas.
Mendengar itu semua terdiam. Mereka tidak gegabah dalam bertindak, berbeda dengan bangsawan yang bodoh mereka sepertinya cukup rapih dalam bermain. Sepertinya Falconi memiliki akses besar dalam hal ini.
“Seberapa banyak yang kau mau?” Ujar Falconi.
“Setengah harta kalian.” Ujar Zed.
Mendengar itu membuat hampir semua orang tertawa. Menyadari Zed ini tidak lebih dari orang gila. Semua yang dia usulkan terdengar cukup masuk akal namun disisi lain tidak bisa dilakukan oleh orang biasa. Uang yang diperlukan mereka untuk membayar Zed sebagai bentuk penanggulangan juga sangatlah besar. Apalagi mereka semua tidak tahu kredibilitas Zed.
Membunuh tiga orang dengan kekuatan yang besar harus membutuhkan kekuatan yang lebih besar pula. Dan melakukan tindakan itu sangatlah sulit. Jujur saja, membayar setengah harta mereka untuk menyewa Zed yang mungkin saja tidak becus dan berpikiran pendek merupakan lelucon yang buruk.
Mendengar tertawaan mereka, Zed memandang satu-persatu dari mereka dengan dingin. Hampir semua dari mereka tertawa, kecuali Falconi yang terlihat cukup tenang.
“Kau juga berpikir aku bercanda, Falconi?”
“Apa aku tertawa?” Balas Falconi masih dengan nada dingin.
Mendengar itu Zed tersenyum dibalik topeng gas miliknya. Dengan tertawaan yang semakin lama semakin kencang Zed memukul meja dengan keras. Gebrakan keras membungkam mereka semua, meja yang tadinya kokoh tampak remuk. Bahkan kayu berkualitas tinggi pun dengan mudah hancur olehnya.
Zed berdiri, dia menunjuk semua orang yang tertawa atas pernyataannya yang sama sekali bukan sebuah candaan.
“Aku datang kesini bukan untuk mencari musuh. Bukan, aku datang kesini untuk mencari teman baru!.” Ujarnya keras layaknya sebuah tanda permusuhan.
Semua yang disana segera melakukan kesiagaan. Namun, masih tidak ada tanda-tanda mereka untuk memulai perkelahian. Karena bagaimanapun juga Falconi masih belum memerintahkan mereka, atau mungkin mereka masih mengukur kekuatan Zed.
Zed melangkah dan menaiki meja bundar itu, dia berdiri diantara kelima sosok paling berpengaruh. Dia berdiri tegap, mantel hitamnya perlahan naik keatas begitu pula dengan suhu disana yang semakin lama semakin menurun. Asap dingin keluar dari tubuh Zed, menandakan dia juga sedang siaga.
Namun, Zed kembali melanjutkan perkataannya.
“Kalian yang tertawa, segera jadi yang pertama.” Ujar Zed dingin.
Langkah Zed kembali melaju. Zed melangkah turun beserta melanjutkan perkataannya.
“Jika kita tidak sepakat sekarang, diantara kalian yang tertawa, akan mendapatkan hadiah batu nisan dariku.”
“Cukup untuk omong kosongnya!” Ujar kesal Baron Reksai.
Anak buah Baron Reksai langsung menyerang Zed dengan cepat. Namun, sebuah pisau panjang keluar punggung kedua tangan Zed. Zed langsung menghindari serangan dari orang itu dan melanjutkannya dengan menikam jatungnya dengan dua bilah pisau.
Orang itu jatuh kemeja, dan mewarnai seisinya dengan warna merah. Zed kembali melangkah dan turun dimeja bundar yang terbilang besar itu. Namun, tatapan benci dari Baron Reksai terlihat jelas.
“Kau pikir kau bisa merendahkan kita lalu pergi begitu saja?” Ujar Baron Reksai keras. Namun, Zed hanya menjawabnya tidak terlalu serius.
“Tentu.” Ujarnya.
Tanpa memperdulikan semua orang yang berada dipertemuan West itu Zed beranjak pergi. Melihat itu Baron Reksai tentunya sangat marah.
“100.000Rph untuk orang gila ini, 500.000Rph kalau hidup-hidup jadi aku bisa mengajarimu sopan santun!” Ancam Baron Reksai tapi tidak mendapatkan respon positif dari Zed.
“Semoga beruntung.” Ujar Zed sambil melambaikan tangan.
Namun, Zed berpaling kebelakang sebelum dia mencapai pintu keluar. Tatapan matanya mengarah kearah Falconi.
“Hubungi aku jikalau kau tertarik dengan penawaranku.”
________________________
__ADS_1
Trivia : Topeng Zed terinspirasi dari sebuah Tragedi.