
Sosok hijau berjalan lesu dengan pedang perak yang ternodai darah sesamanya, ia kembali pada kurungan penjara yang selama ini adalah tempat tinggalnya. Sebuah piring berisi makanan yang enak serta bergizi terlihat begitu menggoda
Perut yang mulai menggeliat dengan lahap ia memakannya. Tenaga serta fisiknya sangatlah lelah karena harus bertarung dengan sesamanya, rasa bersalah jelas begitu terlihat. Namun, dengan terpaksa ia harus lakukan ini untuk kehidupannya, makanan enak yang selama ini ia cicipi tidaklah cukup untuk membayar nyawa sesamanya
Namun apalah daya, ia hanyalah Goblin. Makhluk pecundang diantara para pecundang, didunia ini tidak ada tempat untuk seorang pecundang. Kekuatan serta kekuasaan adalah cikal bakal berdirinya sebuah rantai makanan. Sementara itu, ia sama sekali tidak memenuhi keseluruhan aspek
Tapi sudahlah, untuk saat ini ia memilih menikmati makanan enak yang majikannya berikan. Walaupun ia tahu makanan ini hanyalah zat bergizi untuk menjaga tubuhnya untuk selalu prima, agar ia bisa membunuh sesamanya didalam lingkaran kejam yang bernama Arena
Mata sipitnya melirik kearah pedang berbilah perak miliknya, darah yang begitu kental cukup menganggu pikirannya,
***
"Tolong... jangan... bunuh... aku..." Suara serak memohon terdengar sayu pada telinga runcingnya.
Tubuhnya begitu rapuh, tangan kanan yang merupakan dominannya telah terpisah pada tubuh utama, air mata kesakitan menetes deras. Membuatnya merasa iba terhadap sesamanya, pedang perak terlihat bergetar pada kedua tangan mungilnya
"Kumohon..." Kembali terdengar namun jauh lebih dalam, suaranya begitu sayu namun juga begitu tajam jauh lebih tajam dari bilah peraknya
Sakit begitu sakit ketika ia harus melihat sesamanya, tidak lebih tepatnya saudaranya yang begitu kesakitan. Pedang peraknya masih bergetar dengan begitu hebat, nafasnya beradu dengan paru-paru yang memompa tidak beraturan. Namun, ia tahu ini sudah menjadi takdirnya. Pedang peraknya menukik kebawah dan menusuk begitu dalam pada tenggorokan saudaranya
"Kenapa..." Sebuah kata terakhir terlontar pada mulut mungilnya
Tidak ada lagi denyut nadi berdetak pada tangan kirinya, yang menandakan ia telah menyelesaikan tugasnya.
"Maaf aku hanya melakukan ini untuk bertahan hidup" Ucapnya dengan nada yang bersalah
Mencabut paksa pedang peraknya yang kini telah penuh dengan darah kental saudaranya, ia berdiri tenang namun bukan berarti jiwanya tidak bergeming. Tangannya begitu gemetaran, matanya mulai berkaca-kaca, luapan rasa bersalah jelas begitu terasa pada hatinya. Namun ini semata-mata untuk membuatnya bertahan hidup, kalau tidak maka akan menunggu giliran ia akan mati oleh saudaranya, sama seperti saudaranya yang malang ini
Tapi
"Haha!, Kau lihat bukan Goblin ku jauh lebih hebat. Sekarang kau harus bayar 100 keping emas!" Suara bangga terdengar jauh di atas bangku arena
Sosok pria gendut dengan sebuah daging potong pada tangan kanannya mencoba menagih pada pria disampingnya yang berpenampilan tak jauh berbeda.
"Cih, kau cuman beruntung!" Ucapnya kesal. Namun dengan lambang sportif ia memberikan kantong emas yang berisi total taruhan
Bagi mereka disana, rasnya hanyalah hewan pertaruhan. Mereka akan merawatnya dengan baik supaya bisa memenangkan pertaruhan, dan hanya itu nilai dari seorang Goblin. Ia tahu itu, tapi bukan berarti ia menerimanya begitu saja
Baginya mereka hanyalah babi rakus yang haus akan harta, kekuasaan, dan kesenangan semata. Ia tidak pernah peduli tentang apapun kecuali diri mereka, membuatnya begitu tahu kalau mereka jauh lebih busuk dari rasnya yang hanyalah pecundang.
Mereka yang berada diatas selalu bergerak sesuka jiwa, membuatnya begitu marah seolah-olah nyawa dari saudaranya bukanlah hal yang berarti. Ia tahu tapi bukan berarti ia menerima, dalam hatinya ia bersumpah akan membalas apa yang ia lihat
***
__ADS_1
Melihat bayangan pertarungan tadi membuatnya tidak nafsu makan. Ia kemudian mengambil pedang bilah peraknya dan segera membersihkan darah yang menempel begitu lengket. Ia membersihkannya dengan kasar dan cepat, mencoba untuk membuat benar-benar bersih
Setiap ia melihat noda darah pada bilah peraknya, ingatan tentang hal yang tidak mengenakkan kembali membekas dan seolah dipaksa untuk mengingatnya. Memang ia adalah seorang pengecut yang lari akan ketakutannya, dan mencoba selamat diatas penderitaan saudaranya
Ia terus-menerus membersihkannya dengan kain kusam miliknya, kalau saja ia tidak bisa, maka ia tidak akan pernah tidur dengan nyenyak.
"Hah.. hah.." Ia menaikan tempo pernafasannya, terburu-buru jelas terlihat
Noda darah yang terlanjur kering serta sudah mulai menghitam, membuatnya semakin sulit untuk dibersihkan. Namun, ia terus mencoba lebih keras lagi untuk mencegahnya dari mimpi buruk.
Tangannya kembali gemetaran, rasa bersalah semakin menusuk, tangisan serta suara memohon masih begitu membekas dalam ingatan. Tanpa sadar air mata menetes pada retinanya, rasa bersalah sudah tak kuasa ia bendung. Dan tangis ini adalah bentuk rasa bersalahnya
'Aku bersumpah akan aku balas mereka semua!' Sambil merapatkan gigi runcingnya, ia berjanji pada dirinya sendiri
Tangan mungilnya tak lagi membersihkan noda pada bilah peraknya. Sengaja meninggalkannya sebagai pengingat sekaligus simbol akan sumpahnya.
*Tap Tap Tap
Langkah kaki terasa samar mendekatinya, terasa begitu sayu namun ia tahu sosok siapa itu. Langkah semakin terdengar jelas, sedikit demi sedikit sosoknya terlihat dalam balik bayangan gelapnya ruangan.
Sosok gendut berpakaian putih serta berbagai ornamen khas dua belati yang menyilang, terlihat dengan begitu elegan dimata. Namun baginya itu hanyalah karung yang dipakai oleh seekor babi.
Sang Duke menatapnya menyelidik, sedikit lebih dalam lalu kemudian tersenyum. Ia memanggil salah satu pelayan yang sembari tadi mengekorinya
Sang Duke begitu dingin, membuat sang pelayan bergemetar dan segera menjalankan tugasnya. Sama seperti sang pelayan, ia juga tidak berani menatap sang Duke. Ia memang sudah berjanji akan membalaskan semuanya secara setimpal, tapi setidaknya bukan sekarang waktunya
Sang Duke sendiri menatapnya dengan begitu jijik. Saat ini ia tidak jauh berbeda saat menatap sesuatu seperti belatung. Namun karena ia adalah salah satu sumber serta kesenangannya maka, sudah sewajarnya ia ingin melihat asetnya walaupun harus siap muntah
Dibalik dalam jeruji, ia menyadari tatapan sang Duke. Kebencian semakin menjadi dalam hati bersihnya, ia melirik kearah pedang perak bermaksud mengambilnya namun memilih untuk tidak melakukan hal yang beresiko setidaknya untuk saat ini
Sang pelayan datang dengan sebuah botol ramuan yang misterius, sang Duke mengambil dan melemparkannya kedalam jeruji, ia tak sudi tangan sucinya harus bersentuhan dengan jeruji kotor.
Ia kemudian mengambil dan meminum ramuan botol didepannya, karena ia tahu ramuan itu adalah penambahan kekuatan serta tenaga. Ramuan inilah yang membuatnya begitu superior di rasnya. Ia tinggal meminum ramuan itu dan menjadi lebih kuat, dan ketika pada titik yang ia harapkan, maka rencananya akan segera dimulai
*Tap Tap Tap
Suara langkah kembali terdengar, baik sang Duke dan pelayanannya tidak menyadari langkah tersebut. Namun tidak dengan nya. Langkah terdengar sangat senyap tapi hawa keberadaannya begitu terasa, bagi seseorang yang telah melewati berbagai hal ia tahu kalau keberadaan ini begitu dingin
Sang Duke dan pelayan segera meninggalkan tempat tersebut. Namun, sebuah belati hitam panjang menusuk jantung sang pelayan hingga menembus keluar. Terkejut, sang Duke terpeleset jatuh
Pakaian putih yang merupakan kebanggaannya ternodai oleh kotornya lumpur. Sang Duke menatap sang pelaku dengan penuh ketakutan sekaligus tanda tanya
"Kenapa kau melakukan ini!?, Kau seharusnya tahu posisimu!" Ucapnya tinggi
__ADS_1
Sang Duke memang mencium aroma penghianatan, namun ia tidak menyangka kalau sosok didepannya adalah seorang penghianat. Tidak lebih tepatnya, sang Duke tahu kalau ia adalah seorang penghianat namun ia tidak menyangka kalau orang yang pertama kali ia incar adalah dirinya
Tapi itu tidak membuatnya bergeming, sang penghianat berjalan dan mencekik leher sang Duke dengan kuat. Tatapan serta luapan amarah terlihat menusuk begitu dalam pada retina sang Duke
"B-berapa yang kau mau? Aku pasti bayar. Jadi tolong jangan apa-apakan aku.."
Sang Duke tahu kalau rahasia para bangsawan dinegeri ini telah diketahui olehnya, ia juga tahu orang didepannya adalah sosok terkuat dinegeri ini, membuatnya begitu ketakutan. Tapi itu tidak masalah, dengan uang yang banyak maka pasti ia akan melepaskannya begitu saja.
Ia masihlah muda, oleh karena itu ia tidak bisa berfikir jernih. Menurutnya harta adalah segalanya, oleh karena itu ia pasti akan menerima tawaran yang menggiurkan. Tapi sepertinya itu malah membuatnya semakin emosi
Dorongan kekuatan jauh lebih besar mengarah pada leher sang Duke. Menyadari itu, sang Duke mencoba memberontak tapi karena perbedaan antara mereka yang terlalu besar, alhasil tidak membuat hasil sedikitpun
"D-dasar tukang jagal!" Dengan pelafalan yang terbata-bata sang Duke berhasil menyelesaikan perkataannya tapi disisi lain juga menyelesaikan nafas terakhirnya
Ia melempar badan sang Duke ketempat paling kotor dilantai, ia memperbaiki surai putihnya. Sementara itu sang Goblin menatap tak percaya, tapi tatapan itu malah menarik perhatian sang penghianat
Sang Goblin kembali menunduk menyadari tatapan sang penghianat yang terlalu menusuk. Mata sang Goblin secara kebetulan menatap sebuah bilah hitam yang sang penghianat pegang
Belati hitam dengan ukiran-ukiran dan indah serta bentuk yang unik menarik perhatian sang Goblin. Secara tidak sadar sebuah kekuatan masuk kedalam tubuhnya. Datang dari mana, sang Goblin pun tidak mengetahuinya
"Sebaiknya kau tidak bertingkah aneh Rodant" Ucapnya pada sebuah bilah hitam. "Tenang saja aku hanya sedikit tertarik" Sahut bilah hitam tersebut
Kebingungan, sang Goblin memutuskan untuk diam ditempat sambil menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan tajam sang penghianat. Namun sebuah portal hitam terbuka lebar dibelakang punggung sang Goblin
Ia menengok kebelakang, hembus angin serta udaranya terasa begitu berbeda ia rasakan. Sang Goblin menatap curiga, namun entah kenapa kakinya layaknya ditarik masuk kedalam
"Kau seharusnya tidak perlu melakukan hal yang konyol Rodant" Ia menyadari kalau belati hitam miliknya lah yang melakukan ini. "Aku hanya iseng..." Sahutnya tak terlalu peduli dengan protes sang pengguna
Sang Goblin memasuki portal tersebut. Sebuah atmosfer ruang begitu cepat berganti, aroma darah keluar secara menyengat. Tangan mungilnya gemetar ketakutan melihat apa yang didepannya. Sebuah hutan yang berada pada tempat paling asing serta tak terjangkau oleh cahaya matahari
Ia melangkahkan kakinya lebih jauh walaupun sekujur tubuhnya masihlah gemetar ketakutan. Karena ia tahu sekarang ia berada disebuah tempat yang bernama The Abyss
***
Ia membuka matanya, mengingat masa lalunya kini tak lagi penting. Lautan musuh terlihat jelas pada retinanya, ia turun dari kuda kehormatannya dan menarik pedang perak dari sarungnya
Langkahnya cepat memotong udara, ia menatap seorang manusia dengan armor hitam. Sudah seberapa banyak rasnya yang telah ia bantai?, Bahkan dirinya sekalipun tidak bisa menghitungnya. Sebagai jendral ia membenturkan pedang peraknya dengan pedang merah milik manusia berarmor hitam itu
"Kau akan berakhir disini!"
________________________
Zhamban ing-zhochonnga vonna. (Kekacauan adalah kekuatan sejati)
__ADS_1