Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Perbincangan Kecil


__ADS_3

Diaz dan Melody memilih untuk singgah sebentar disalah satu rumah makan untuk sekedar meredam rasa lapar Melody, rumah makan keluarga yang cukup sepi membuat Melody sedikit lebih leluasa


Walaupun begitu, Melody tetap makan dengan topi yang masih ia kenakan. Melody adalah figur yang cukup terkenal, oleh karena itu bepergian adalah hal yang cukup sulit. Apalagi penggemarnya yang begitu besar membuatnya tidak bisa bergerak leluasa, dan selalu mengenakan pakaian yang tertutup demi kenyamanannya.


"Kamu tidak lapar?"


Melody sedikit memecah suasana canggung yang terlihat sangat menganggu dimatanya. Mata Diaz juga tertuju kearah ponselnya, membuat Melody yakin kalau Diaz tidak sedang berusaha mencari topik pembicaraan. Alhasil Melody sendiri yang memulai


Melody sebenarnya sedikit kecewa dengan Diaz yang terbilang cukup fokus ke ponselnya. Namun disisi lain, Melody juga cukup bersyukur karena Diaz tidak menatap kearahnya, jika iya maka hal ini membuat Melody sedikit salah tingkah, jujur saja Melody cukup malu diperhatikan apalagi ketika ia sedang makan


"Aku belum lapar"


Diaz menanggapi pertanyaan Melody masih dengan fokus kearah ponselnya, membuat Melody sedikit menghela nafas. Ia sedikit berfikir 'Apakah dia seorang yang ketergantungan ponsel?'. Melody menghembuskan nafas lelahnya dan segera menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit lagi


"Sudah?"


Diaz bertanya dan segera mendapatkan konfirmasi dari Melody dengan gestur anggukan. Didalam hati Melody sedikit kecewa dengan Diaz yang selalu tertunduk ke ponselnya. Ia sedikit ingin berbincang-bincang untuk sekedar saling kenal


Ketika hendak ingin berdiri, tangan Diaz menyentuh tangan Melody, seolah-olah mengisyaratkan untuk tidak berdiri terlebih dahulu.


"Ada beberapa hal ingin aku bicarakan denganmu"


Ucapan Diaz berhasil membuat hati Melody sedikit lebih tenang, Melody membatalkan untuk berdiri dan memilih untuk duduk kembali dengan nyaman serta memperhatikan hal apa yang ingin Diaz sampaikan.


Diaz meminum teh tawar dingin, sebelum memulai percakapan untuk sekedar membasahi rongga tenggorokannya sembari tadi cukup kering.


"Aku lihat berita tadi pagi, apa kamu yakin dengan keputusanmu?"


Ucap Diaz cukup serius namun dibalas dengan respon tertawa kecil yang terbilang manis dari Melody. Hal ini membuat Diaz bingung, padahal ia sedang serius mengapa Melody malah menganggap bercanda padahal ini juga untuk dirinya sendiri


"Kamu bicara apa? Bukankah kamu yang memberi saran untuk beristirahat sejenak untuk diriku sendiri?"


Itu memang benar dan Diaz tidak menolaknya, menurut Diaz memang keputusan ini adalah yang terbaik. Namun setiap orang memiliki persepsi mereka masing-masing, dan dalam hati Diaz cukup khawatir karena Melody memilih persepsinya

__ADS_1


Tapi menurut Diaz persepsinya memanglah cukup buruk bagi karir Melody, namun disisi lain persepsi ini sangatlah penting atau berpengaruh dalam pribadi Melody sendiri. Dan daripada karirnya, Diaz memilih untuk Melody beristirahat dan menjauh sejauh mungkin dari karirnya, dan jika dipaksakan malah membuat Melody semakin tertekan dan tidak baik untuk mental dan fisiknya


Dan sekali lagi ini adalah persepsi Diaz semata, dan Diaz tidak yakin keluarga Melody menerima dengan terbuka


"Kamu khawatir denganku?, Dewasa banget padahal kamu itu cuman lebih tua 1 tahun"


Melihat perkataan Melody apalagi ketika senyum nakal terlihat melengkung di bibirnya, membuat Diaz sedikit menghela nafas


"Aku serius Melody"


"Aku juga serius, dan aku percaya sama kamu"


Masih dengan senyum nakal yang melingkar dibibir Melody, moodnya yang cukup bagus membuat Melody sedikit percaya diri berbeda dengan sebelumnya yang terasa kikuk. Sementara itu Diaz hanya bisa tersenyum kecut, namun dalam hatinya sedikit bertanya 'Sejak kapan dia bisa gombal'


Melihat sepertinya Diaz benar-benar serius menanggapi situasi ini, Melody memutuskan sedikit serius karena bagaimanapun juga ini tentang dirinya


"Aku sudah bilang ke keluargaku dan mereka menerima dengan senang hati, memang awalnya mereka terkejut namun setelah aku jelaskan keluh kesahku mereka menerimanya tanpa pikir panjang"


Diaz yang mendengar itu cukup tenang, karena sepertinya keluarga Melody benar-benar peduli dengannya. Dan didalam hati Melody pasti sangat bahagia karena keputusannya didukung secara penuh oleh keluarganya


Diaz yang merasa sedikit tenang kemudian meminum tehnya yang masih tersisa


"Aku juga memberi tahu tentangmu ke orangtuaku"


Perkataan Melody sukses membuat Diaz tersedak, Melody tertawa kecil melihat tingkah Diaz yang begitu lucu dimata manisnya dan kembali menjelaskan kalimat yang belum tuntas


"Karena orangtuaku tahu kalau aku itu tipe anak yang suka memendam masalah, jadi ketika aku mengeluarkan semuanya orangtuaku curiga kalau ada orang yang campur tangan dalam hal ini"


Diaz tidak terlalu terkejut sekarang, sudah sewajarnya kalau orang tua memiliki insting atau perasaan tentang anaknya, memahami serta mengerti pola pikir dan kegelisahan hati seorang anak adalah salah satu bukti sedalam apa kedekatan orang tua kepada buah hatinya. Walaupun Diaz tidak begitu dekat dengan kedua orangtuanya, namun Diaz tahu tentang hal mendasar seperti ini


Lengan Melody sedikit ditekuk untuk menyandarkan dagu kecilnya, ia memandang Diaz dengan tatapan mata yang penuh dengan arti, memandanginya dengan begitu dalam membuat jarak khayal diantara mereka semakin dekat


"Karena aku tidak bisa berbohong kepada orangtuaku maka aku menjelaskan semuanya tentangmu..." Ucap Melody masih dengan tatapan yang sama

__ADS_1


"Begitu yah?"


Menyadari tatapan penuh arti dari Melody, tidak membuat Diaz salah tingkah. Diaz menatap balik Melody dengan tatapan yang sama, wajah manis serta mata indah Melody membuat Diaz sedikit tertegun apalagi suara indah dan lembut membuat Diaz menyadari bagaimana mempesonanya perempuan didepannya ini


Mereka saling menatap satu sama lain, tidak ada dari mereka yang menutup matanya. Waktu seakan berhenti, tidak ada pembicaraan yang terdengar namun mereka semakin terlarut dalam. Jarak khayal yang tidak diketahui semakin memendek diantara mereka.


"Mau pulang?"


Diaz segera mengajukan topik karena Diaz cukup menyadari tatapan dalam yang sedari tadi Melody beri, sebuah tatapan yang cukup berbahaya namun disisi lain juga sangat menenangkan. Melihat sosok gadis yang begitu mempesona merupakan kejadian yang langka bagi Diaz


Melody masih menatap Diaz dengan dalam atau mungkin semakin dalam, butuh beberapa saat perkataan Diaz sampai ke telinga Melody. Tapi walaupun sudah mendengarnya Melody butuh beberapa saat untuk menanggapi


"Tidak mau"


Diaz hanya tersenyum kecut mendengarnya. Mengacuhkan tatapan dalam Melody, Diaz memanggil pelayan dan segera melakukan pembayaran


Pelayan itu datang tapi untung saja ia tidak melihat kearah Melody yang sedang tidak memakai masker hal ini membuat identitas Melody terbongkar dan itu cukup mengkhawatirkan, toh karena ia tidak melihatnya jadi bisa diasumsikan bahwa ini akan baik-baik saja


Setelah selesai melakukan pembayaran, Diaz kemudian berdiri namun tidak ada tanda-tanda Melody berdiri, Melody masih menatap Diaz membuatnya sedikit tersenyum kecut. Diaz memegang tangan Melody untuk sekedar membangunkannya


"Yuk pulang.."


"Eh iya!"


Melody tersentak sedikit, ia secara tidak sadar menatap Diaz terlalu dalam dan lama, membuatnya sedikit terlena. Menyadari wajahnya akan segera memerah malu, Melody kemudian memakai masker dengan cepat untuk menanganinya. Namun hati Melody cukup bahagia dan berbunga hari ini


Diaz dan Melody melangkah keluar, mereka bergerak kearah motor sport Diaz yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Namun ketika Diaz hendak kesana, mata Diaz bertemu dengan pria berperawakan seperti preman. Preman itu tidak sendirian karena terlihat jelas dibelakangnya ada tiga orang yang berperawakan sama sepertinya. Baik Diaz dan orang berperawakan preman itu mengenal satu sama lain walaupun baru bertemu satu kali. Pria itu adalah


Andre


__________________________

__ADS_1


Min chonghoran iwing!


__ADS_2