Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Gas Beracun


__ADS_3

Tiga hari setelah pertemuan West digelar. Terjadi banyak sekali perubahan dikota Westburg, lebih tepatnya disisi gelap Westburg. Tanda persaingan antara kerajaan Falconi yaitu Black Swan mulai menunjukan taringnya secara perlahan.


Kelompok Sarah yang merupakan dalang utama pembakaran kebun Demiana menjadi incaran Black Swan, pembakaran itu sama seperti bendera perang yang telah berkibar. Mereka memang bermusuhan satu sama lain, namun aksi mereka masih dalam tanda wajar.


Pembakaran kebun Demiana, membuat kelompok Sarah berada pada posisi yang kurang menguntungkan namun masih bisa menang. Tapi untuk sekarang mereka kembali bersembunyi di markas rahasia, yaitu tentunya rumah bordil milik Sarah.


“Sepertinya aku terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan.” Ujar Sarah cukup frustasi.


Pembakaran kebun Demiana sudah cukup membuat para Baron dan bahkan Count Aldiron menargetkan kelompoknya.


“Dengan kekuatan kita mungkin kita bisa mengimbangi para petinggi Black Swan dan penjaga kuat para bangsawan.” Ujar Sin.


“Tapi yang menjadi masalah adalah kita kekurangan prajurit.” Ujar Blaze menambahkan perkataan Sin.


Sekali lagi membuat mereka kembali memutar otak. Keadaan ini membuat mau tidak mau kelompok Sarah bertahan. Jujur saja anak buah Sarah cukup banyak, namun jika dibandingkan orang-orang Black Swan maka inilah yang menjadi permasalahannya.


“Dengan memperhitungkan persenjataan, kekuatan perorangan, serta jumlah pasukan. Sepertinya kita berpeluang besar kalah melawan Black Swan.” Ujar Sarah dengan perhitungannya.


“Ditambah lagi Black Swan mendapatkan lampu hijau dari para Baron membuat keadaan semakin buruk.” Tambah Tomoe layaknya mengisi kekosongan.


Zephys, Blaze, dan Sin yang berada di ruangan sama juga nampak terdiam memikirkan langkah selanjutnya.


“Jadi apa rencana kita?” Ujar Sarah kepada semua orang dalam ruangan ini.


“Apa perlu kita meminta maaf dan membayar kerusakan lagi?” Ujar Tomoe.


Perkataan ini nampak biasa bagi Sin dan Sarah. Namun, ekspresi tidak senang jelas nampak pada wajah Blaze dan Zephys.


“Lagi?” Ujar Blaze mematahkan kesunyian.


“Benar lagi.”


Mendengar itu Blaze langsung serius dibawah topi jingga miliknya.


“Inilah mengapa aku benci seorang perempuan memimpin sebuah organisasi.” Ujar Blaze.


Tentunya hal ini membuat Tomoe langsung bereaksi, namun hal itu berhasil diredam ketika Sarah memegang tangannya. Sebuah gestur untuk membuatnya tetap tenang.


Sarah yang jelas mengerti maksud Blaze tentunya sedikit tersinggung.


“Bagaimana rencanamu?” Ujar Sarah yang nampak dingin.


“Tidak perlu mengalah apalagi meminta maaf, yang perlu kita lakukan hanyalah menyerang mereka.” Ujarnya tegas.


Sepenuhnya memang masuk akal, namun tetap hanya sebuah spekulasi tidak membuat adanya sebuah aksi. Mengingat kekuatan yang dimiliki oleh Blaze membuatnya begitu percaya diri, apalagi dengan adanya bantuan kekuatan dari Zephys, membuat dirinya semakin yakin.


Namun, untuk menyadarkan seorang NPC cukup sulit. Terlihat Sarah yang mendengar itu menunjukan tanda ketidaksukaan. Namun, sebelum Sarah membuka kembali pertanyaan Blaze dengan cepat memperkokoh pernyataannya.


“Satu-satunya cara memenangkan perang adalah membuat mereka tidak berdaya. Jika kau meminta maaf, maka kau akan melakukannya lagi dan lagi.” Tegas Blaze.


Blaze yang nampaknya sangat serius kembali mengeluarkan pendapatnya.


“Jikalau kau terus menerus meminta maaf, ada pihak dari kelompokmu yang tidak puas. Dan mungkin saja kau akan dilengserkan.” Lanjut Blaze.


Mendengar ucapan Blaze semua orang di ruangan itu cukup tersentak. Namun, berbeda dengan Zephys yang sembari diam kini lebih bisa menguasai pemikirannya.


Dirinya yang sembari tadi diam, sebenernya yang ia lakukan adalah membuat sebuah skema serta berbagai rangkaian rencana yang mungkin berguna ketika melawan Black Swan.


Ucapan Blaze cukup membuat sebuah keraguan, yang tentunya membuat sebuah kebuntuan. Yang diucapkan Blaze memang benar adanya, namun Sarah masih ragu akan keputusannya. Karena ia tidak yakin dengan koneksi serta kekuatan dari anggotanya mampu mengalahkan Black Swan.


Melihat adanya kebuntuan. Zephys berdiri, membuat semua perhatian tertuju kepadanya.


“Kau ingin kemana?, Diskusi kita mengalami kebuntuan.” Ujar Sarah.


“Karena itulah aku pergi.” Balas Zephys.


Zephys membuka pintu ruangan dan melangkah keluar. Blaze sempat ingin mengikuti Zephys, namun dengan gestur mata Zephys menyuruhnya untuk tetap disini. Blaze tahu, Zephys ingin bergerak sendiri.


Namun karena ini Zephys, seseorang yang ia kagumi maka Blaze dengan senang hati menurutinya. Ketika Zephys pergi, Blaze kembali memulai pembicaraan.


“Zephys akan selalu berpihak kepada kita, lebih baik kita lanjutkan diskusi kita.” Ujarnya.


***


Sementara disisi lain kota, lebih tepatnya disebuah mansion cukup besar terlihat salah satu Baron yang terduduk diruang kerjanya. Benar, mansion ini adalah milik salah satu dari tiga Baron lebih tepatnya Baron Reksai.


Dia terduduk sambil menganalisis alur uang bentuk kerjasama mereka. Hal ini cukup wajar, karena tentunya ia kehilangan banyak uang akibat tercuri dari seseorang bernama Zed.


Reksai sendiri tidak mengetahui asal-usul dari Zed, ia tiba-tiba muncul beberapa hari lalu dan entah apa yang dipikirkannya ia mencuri sumber uang miliknya. Karena hal itulah Zed cukup menjadi perhatian kelompok mereka.


Apalagi terbunuhnya kakak perempuan oleh si Tongkat Api membuat keadaan keluarga Reksai cukup terpuruk. Dia yang merupakan adik tertua mau tidak mau harus mengambil alih keluarga Reksai ini.


Sambil menganalisa jalur uang miliknya, Reksai masih memikirkan sosok Zed yang sebenarnya cukup misterius. Namun, dia tidak mengkhawatirkannya karena ia telah memasang angka pada kepalanya, apalagi angka itu sangatlah banyak.


“Aku mendengar kabar cukup buruk dipertemuan West sebelumnya.”


Reksai kembali melirik kearah sumber suara, terlihat wanita cantik dengan rambut pirangnya serta mata yang sangat tajam bisa ia lihat. Sebagai tanggapan dari perkataannya Reksai kembali berbicara.


“Tenanglah nona Falconi, seseorang yang kita panggil Zed tidaklah menjadi ancaman bagi kita.” Ujarnya dengan sedikit menghela nafasnya.


Sevilla de Falconi Sepertinya namanya, dia merupakan adik perempuan Falconi. Sosoknya sendiri cukup krusial, dia sebagai bendahara serta pengawas keuangan kelompok Black Swan. Jadi wajar bila ia mengunjungi kediaman Reksai sebagai bentuk respon atas kehilangan cukup banyak uang organisasi.


“Tenang katamu, kita tidak membicarakan soal uang itu. Ini masalah tentang bagaimana mungkin ada seseorang yang menunjukan taring mereka dihadapkan organisasi kita!.” Tegas Sevilla.


Ini bisa diartikan cukup wajar. Sudah cukup lama organisasi ini berdiri, tentunya uang bukanlah menjadi ancaman. Melainkan sosok yang memamerkan taring kepada merekalah yang menjadi ancaman. Karena bagaimanapun juga sudah lama sekali mereka mendominasi wilayah ini, dan ketika ada seseorang yang mengancam tentunya menjadi fokus utama.


Sepertinya bisnis, ketika sudah menguasai pasar dan tiba-tiba ada kompetitor baru dengan produk berkualitas. Maka sebuah perhatian tentunya sangat layak.


“Yah, semoga saja orang yang kau panggil Zed tidak terlalu berbahaya.” Ujar Sevilla.


Bertepatan dengan itu sebuah pintu terbuka.


Sosok pelayan wanita masuk keruangan Reksai tentunya dengan ketukan pintu terlebih dahulu.


“Tuan, keluarga anda telah menunggu dimeja makan.” Ujar pelayan itu.


Reksai yang mendengar itu kemudian berdiri dari tempatnya, dia sedikit melirik kearah Sevilla sebagai sebuah ajakan.


“Mau makan bersama kami?” Ujarnya

__ADS_1


Sevilla hanya menggeleng kepalanya sebagai konfirmasi, melihat itu Reksai melangkah pergi. Namun, dia melihat wajah ketakutan serta cemas pada pelayan perempuan itu. Membuat Reksai cukup curiga.


“Kau kenapa?”


“Tidak apa-apa tuan.” Ujarnya cukup kikuk.


Tidak ingin larut dalam pemikirannya, ia kembali berjalan secara pasti kearah ruang makan. Disepanjang koridor yang ia tapaki terlihat sangat sepi, namun tetap saja ia tidak terlalu memikirkannya.


Tidak butuh waktu lama ia sampai keruang itu, membuka pintu yang cukup mewah ia memasuki ruangan makan. Dia melihat putra dan putrinya serta wanita yang merupakan istrinya dan tentunya semua anggota keluarga Reksai terlihat duduk dan menunggunya.


Sepertinya ia cukup terlambat.


Reksai duduk dan mulai mempersilahkan anggota keluarganya mulai memakan hidangan yang jujur saja begitu penuh.


Mereka terlihat memakan makanan dengan cukup santai berbarengan dengan pembicaraan ringan antara anggota keluarga lainnya.


Mereka terlihat menikmati waktu serta hidangan dengan begitu nikmat. Hingga pada menjelang akhir sesi makan malam bersama, sebuah pintu terdorong keras dan memaksa perhatian semua orang yang merupakan keluarga besar Reksai mengalihkan pandangannya.


Sosok pria dengan pakaian komandan militer Jerman serta topeng gas terlihat. Dia langsung mengangkat lengannya keatas sebagai simbol negara yang ia bela.


“Sieg Heil!” Ujarnya lantang.


Mereka semua terkejut dengan kehadiran sosok yang seharusnya sangat tidak diundang. Respon yang paling cepat adalah Reksai yang langsung mengeluarkan pisau dan melemparkannya kearah Zed. Dan tentunya hal itu sangat mudah untuk dihindari.


“Kasar sekali, padahal aku hanya ingin menyantap makanan.”


“Tidak ada makanan untuk mu!” Ujar geram Reksai.


Namun sepertinya perkataan itu tidak ditanggapi serius oleh Zed. Dia malah berjalan kearah salah satu kursi yang ditempati oleh wanita muda yang mungkin saja sepupu Reksai.


“Nona bisakah kau minggir?” Ujarnya lembut.


Namun, karena ketakutannya yang cukup tinggi membuat wanita itu tidak merespon perkataan Zed. Menyadari perkataannya tidak didengar Zed langsung mengeluarkan revolver hitam legamnya kearah kepala wanita itu dan tentu saja, membunuhnya.


“Kau!”


Reksai yang nampaknya dipenuhi amarah langsung mengambil pedang yang tersembunyi dari bawah meja makannya. Namun, dengan santai Zed membidik revolver miliknya kearah perempuan yang Reksai panggil istri. Tanpa ragu Zed menembakkannya, namun kali ini sengaja ia meleset.


“Jangan bergerak Reksai atau..., Yah kau pasti tau sendiri.” Ujar Zed yang nampak terganggu.


Melihat Zed yang nampaknya tidak main-main membuat Reksai cukup segan. Apalagi dia bisa melihat semua anggota keluarga besar Reksai dilanda ketakutan hebat, pasalnya Zed membunuh salah satu keluarganya tanpa ragu-ragu sedikitpun.


“Kalau begitu ayo kita menyicipi hidangan ini!” Ujarnya yang nampak begitu ceria.


Dengan nada ceria ia mulai melihat kearah piring, namun nada ceria itu berubah menjadi nada kecewa. Bisa ia lihat hidangan yang tersaji hanyalah olahan daging tidak ada sayur-sayuran sama sekali. Hal ini membuat Zed yang tadinya tenang menjadi cukup marah.


Dia mengebrak meja kuat membuat kaget semua orang begitu pula ketakutan pada mereka semua. Namun, Zed kembali tenang.


Zed menatap kearah Reksai dengan tajam.


“Kau tahu, aku sangat menyanjung tinggi pemimpinku dan aku juga merasa harus mengikuti semua yang ia teladani.” Ujarnya tenang.


Namun, perkataan selanjutnya terdapat sedikit sebuah ancaman yang tentunya bagi semua orang disini.


Beserta nada dingin yang mulai menggila. Zed kembali berbicara.


“Dia merupakan seorang vegan yang sangat membenci daging, dia yang merupakan teladanku tentunya aku mengikuti gaya hidupnya. Lalu mengapa kalian menyajikan makanan daging kepadaku!” Ujar Zed geram.


Tatapannya kembali mengarah ke Reksai yang nampaknya cukup panik. Karena dia hanya sendiri, berbeda dengan waktu pertemuan West ia memiliki cukup banyak rekan.


“Ayo bicara bisnis, Baron Reksai.” Ujar Zed.


Anggota keluarga lainnya panik dan ingin keluar dari pintu. Namun, sebuah bongkahan es besar menutup pintu itu dengan rapat membuat mereka semua terjebak didalam ruang makan itu bersama Zed.


Zed tidak mempermasalahkan reaksi anggota keluarga Reksai, dan memilih memerintahkan Reksai untuk duduk di kursinya. Melihat Reksai yang nampaknya penurut, Zed lalu menjelaskan mengapa ia datang kesini.


“Aku menemukan hal yang cukup menarik dari sisa-sisa bangunan pada kebun Demiana. Sebuah senjata yang terbuat dari bunga Demiana cukup membuatku tertarik.” Ujarnya dengan tertawaan yang cukup sikopat.


“Aku tidak mengetahui itu.” Ujar Reksai sembari menahan rasa takutnya.


Mendengar itu membuat Zed cukup terkejut.


“Begitu yah, sepertinya Black Swan bermain sangat aman.”


Mendengar itu Reksai menaikan alisnya, sepertinya ia memang tidak mengetahui apapun tentang bunga Demiana. Yang ia ketahui adalah uang yang dihasilkan oleh bunga Demiana sangatlah banyak. Tipe bajingan rakus seperti biasa.


Zed mengeluarkan tiga benda yang nampaknya seperti granat. Dan dari granat itu muncullah asap berwarna ungu yang secara perlahan memenuhi ruangan yang sebenarnya cukup besar ini.


“Aku sangat menyanjung pemimpinku, maka dari itu aku juga mempresentasikan hal yang sama dengannya.” Ujarnya dengan senyuman licik dibalik topeng gasnya.


“Apa maksudmu?” Ujarnya kebingungan.


Namun tidak berlangsung lama kebingungan itu terjawab. Ketika gas ungu tersebut mulai mengisi sudut ruangan bersamaan dengan itu semua orang mulai mengalami sesak nafas. Menyadari hal itu Reksai langsung panik.


“Semuanya jangan hirup gas itu!” Ujarnya panik, sembari menutupi hidung dengan lengannya.


Namun nasi telah menjadi bubur, satu persatu dari mereka mengalami kejang-kejang hebat dan beberapa dari mereka mengeluarkan busa pada mulutnya.


Reksai lalu bergegas kearah sang istri dan anak-anaknya, sama seperti yang lainnya. Mereka kejang-kejang, dan tidak butuh waktu lama mereka telah terbunuh, begitu pula dengan semua anggota keluarga Reksai yang mati satu-persatu. Dan kini tinggal Reksai yang tersisa.


“K-kau!” Ujarnya dengan amarah yang sangat meluap-luap.


Zed tersenyum sinis dibalik topeng gas miliknya, yang tentunya membuat Zed aman dari gas beracun itu.


“Seni ini aku sebut Holo-caust!” Ujarnya beserta dengan tertawaan girang layaknya orang gila.


Dan tentunya tidak butuh waktu yang lama Reksai juga menyusul mereka. Tentunya kematian ini begitu menyakitkan.


Masih dengan tertawan yang hampir bisa dibilang orang gila. Karena jujur saja rencana ini sangatlah membuat hatinya begitu senang. Dengan mengulangi hal yang sangat tidak wajar didunia nyata, Zed merasakan kesenangan yang tiada tara.


*Bom!


Namun kesenangan itu berakhir ketika ia melihat pintu yang telah dipenuhi es itu hancur berkeping-keping. Dengan amarah yang meluap-luap ia melihat sosok perempuan berambut pirang yang tak lain adalah Sevilla, nampaknya ia memukul pintu itu dengan keras.


“Siapa yang berani menyela kesenanganku?!”


Sevilla menatap kearah gas ungu yang tentunya sangat ia kenal. Dan saat itulah dia menyadari kalau ia salah langkah. Dengan cepat ia langsung berlari menjauh dari ruangan itu.


“Dia kah yang namanya Zed?, Orang gila macam apa dia!” Ujarnya pelan.

__ADS_1


Sejujurnya ia agak curiga dengan kebisingan diruang makan milik Reksai. Karena penasaran ia memukul pintu itu dengan seluruh tenaganya, dan kini ia sangat menyesal.


Sevilla melihat kebelakang dan tentunya ia melihat Zed yang sedang mengejarnya. Udara disekitar Zed mendingin dan dengan cepat membentuk sebuah bongkah es tajam dan dengan cepat melesat kearah Sevilla.


Dia yang tahu akan sangat sulit menghindari es tajam milik Zed dengan cepat langsung memecahkan kaca jendela dengan tubuhnya dan melompat keluar dari mansion, yang padahal dirinya sedang berada dilantai dua. Sepertinya berfikir cepat bisa menyelamatkannya.


'Sialan, sialan, sialan.' Gerutu Sevilla dalam batinnya.


Dia segera bangkit dan kembali berlari kearah gerbang yang merupakan pintu keluar. Namun es tajam melesat dan mengenai kaki kanannya. Yang sayangnya membuat Sevilla terjatuh dan tidak bisa melanjutkan larinya.


Namun, dia masih bisa berdiri dan mencoba berjalan cepat dengan satu kaki miliknya. Namun es tajam kembali melesat dan mengenai kaki kiri Sevilla membuatnya tidak bisa berjalan lagi.


“Kau pikir kau bisa lari setelah merusak kesenanganku?” Ujar dingin Zed yang mencoba mendekati Sevilla.


“Tentu.” Ujarnya tanpa rasa takut sedikitpun.


“Haha... Lelucon yang buruk.” Ujarnya dingin.


Zed menyiapkan sebuah revolver hitam miliknya dan dengan perlahan membidik kearah kepala milik Sevilla. Yang tentunya membuat Sevilla begitu panik.


Dibalik ketenangannya dalam mengahadapi sesuatu, tentunya berbeda dengan ketenangannya ketika menghadapi kematian. Dengan tatapan tidak percaya ia melihat kearah pucuk revolver milik Zed.


‘Jadi yang dikatakan Reksai kalau Zed tidak berbahaya sepenuhnya bohong kah?’ Ujarnya yang nampak cukup pasrah.


“Ada kata-kata terakhir.” Ujar dingin Zed.


Sevilla tidak membuka mulutnya, namun bisa ia lihat senyuman mengejek jelas terlihat. Senyuman itu membuat Zed sangat kesal. Dengan lirikan mata yang tajam ia segera manarik pelatuk revolver miliknya.


Namun, sebuah tombak tajam mengarah kearah revolver miliknya. Zed yang terkejut dengan tidak sengaja melepas revolver miliknya.


“Siapa lagi?!” Ujarnya sambil melihat kearah datangnya tombak silver itu.


“Peribahasa yang cocok dengan ku sepertinya, 'Aku datang mencari perunggu tapi mendapatkan emas.', benar begitu tentara Jerman?” Ujarnya.


Zed melihat sosok dengan pakaian serba hitam dan sebuah topeng gagak yang sepertinya identitasnya. Yang tentunya sosok itu adalah Zephys, namun Zed jelas tidak mengetahuinya.


Tanpa basa-basi Zed langsung mengeluarkan pisau panjang pada punggung kedua tangannya.


“Senjata itu... Apakah kau terinspirasi dari Assassin Creed?” Ujar Zephys.


“Benar sekali, karena aku tidak suka melukai jariku aku memasangnya dengan terbalik. Dan kau tahu-”


Sebelum Zed menyelesaikan perkataannya, sebuah sabit melesat dan mengincar lehernya. Dan tentunya serangan itu dengan cukup sigap berhasil ditahan dengan kedua pisau miliknya.


“Aku membuatnya lebih panjang dan besar agar bisa menepis sesuatu seperti ini.” Ujar Zed yang nampaknya mencoba menyelesaikan perkataannya.


“Heh... Itu menarik.”


Zed dan Zephys kembali beradu senjata dengan ringan. Dan sebagai bentuk waspada Zed langsung mengambil jarak. Membuat Zephys berhasil setidaknya membuat Sevilla aman walaupun sementara.


Baik Zed dan Zephys menyiapkan kedua senjata mereka. Dan dengan satu momentum yang pasti mereka berdua bertabrakan satu sama lain. Zed dengan permainan cepat serta lincah, dan Zephys dengan permainan kuat dan presisi.


Pisau Zed datang kearah Zephys, yang tentunya bukan masalah bagi Zephys dia dengan mudah menghindar dan dengan cepat langsung mengayunkan sabitnya sebagai serangan balik. Sabit itu tertahan oleh kedua pisau milik Zed.


Namun, Zephys membalasnya dengan tendangan memutar kearah leher yang sangat fital. Zed yang tidak mengira langsung terkena serangan itu. Membuatnya terpental cukup jauh.


“Luar biasa...” Pelan Sevilla.


Baru kali ini dia melihat permainan indah dari seseorang. Dan lagi orang itu menyelamatkan nyawanya, membuat Sevilla semakin kagum.


Namun, Zed kembali bangkit dengan sedikit peregangan pada lehernya. Tatapannya menajam, membuat Sevilla yakin kali ini Zed akan sangat serius. Tidak ingin ada seseorang yang mati karena dirinya Sevilla segera memberi peringatan.


“Dia sangat berbahaya, sebaiknya kau pergi dari sini!” Tegasnya.


Namun, sosok bersabit itu malah mengencangkan kuda-kudanya. Bersikap seolah siap untuk bertarung.


“Untuk apa?, Aku pernah menghadapi orang yang lebih berbahaya darinya.” Ujar Zephys pelan, yang tentunya membuat Sevilla secara tidak sadar menjadi tenang.


Zephys tidak berbohong, orang itu adalah Errol.


Zed melesat keduanya kembali membalas setiap serangan. Pergerakan mereka cepat dan begitu presisi, hampir bisa Sevilla lihat mereka sama sekali tidak membuat gerakan yang tidak perlu.


Zed menyerang dari sudut vertikal mengincar dagu Zephys mengunakan pisaunya. Zephys segera bergerak mundur sebagai antisipasi, namun Zed yang cerdik menendang kaki Zephys membuatnya kehilangan keseimbangan.


“Mati kau!” Ujar Zed.


Pisau panjang mengincar wajah Zephys yang tertutup topeng gagak, terlihat juga Sevilla juga sangat panik. Namun, dengan ketenangannya Zephys membenturkan pisau Zed dengan pangkal sabitnya, membuat serangannya berbelok sedikit dan hanya mengenai topeng gagak miliknya.


Sebuah celah jelas terlihat, Zephys menangkap tangan kanan Zed yang hampir mengancam nyawanya, dan dengan tebasan tanpa ragu memotong lengan kanannya.


“Argh!”


Zed yang kesakitan langsung melompat mundur sebagai antisipasi. Sementara itu topeng gagak Zephys hancur berkeping-keping membuat wajahnya terlihat begitu jelas oleh Zed dan tentunya Sevilla.


Zed tersenyum kecil.


“Sepertinya kita telah mendapatkan sesuatu yang berharga bagi masing-masing dari kita.” Ujarnya sembari memasukan kembali pisaunya.


“Kau benar.” Tanggapan yang sama seperti Zed.


“Kita akan bertemu lagi, bertarung dengan melindungi seseorang sepertinya bukan sesuatu yang bagus untukmu.” Ujarnya sambil berjalan pergi.


Bagaimanapun juga ia telah mendapatkan apa yang ia dapatkan. Melangkah lebih serakah hanya menimbulkan dampak yang negatif. Sepertinya Zephys juga berfikiran yang sama dengan Zed.


Zephys berbalik dan melihat kedua kaki Sevilla yang nampaknya terluka cukup parah.


“Dengan kaki seperti itu, seperti berjalan saja kau akan kesusahan.” Ujar Zephys.


Sevilla yang sembari tadi memperhatikan Zephys hanya bisa mengangguk kecil dengan wajah yang semerah tomat.


Mengerti kalau akan berbahaya jika Sevilla dibiarkan saja disini, dan juga dengan keadaannya seharusnya mustahil ia bisa berjalan. Zephys dengan tanpa ragu menggendong Sevilla dengan gaya tuan putri yang tentunya cukup fantastis bagi seorang wanita.


“Eh tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri.”


“Sudahlah, aku akan mengantarmu pulang.” Ujar Zephys dan hanya dijawab anggukan kecil Sevilla.


Zephys lalu segera pergi meninggalkan mansion Reksai, dengan menggendong Sevilla de Falconi yang merupakan adik musuh besarnya. Melihat kejadian ini membuat Rodant tertawa terbahak-bahak.


“Sungguh rencana yang menarik!”

__ADS_1


_______________________


Trivia : Obsesi Zed adalah...


__ADS_2