
Dataran rendah atau lebih tepatnya lahan tandus dengan coklat sebagai warna dominan. Terlihat kekacauan jelas terjadi. Benturan logam dari mereka, anak panah dari kedua kubu, serta berbagai macam sihir yang menghiasi langit serta dataran. Membuat keadaan menjadi cukup suntuk
Warna coklat yang seharusnya mendominasi namun kini merah cukup menguasai. Memang banyak dari mereka yang mematikan mode Gore, namun bagi mereka yang tidak maka bisa dipastikan ia akan muntah saat itu juga. Kecuali mereka yang memiliki kemampuan khusus atau lebih tepatnya seorang Psikopat
Memang banyak dari kubu manusia dikuasai oleh pemain, namun NPC jelas ikut ambil bagian sebagai bala bantuan. Bagi pemain tentu mati adalah hal yang tak cukup menakutkan dipermainan ini, tapi jikalau menyangkut NPC maka itu beda lagi
Mereka layaknya penghuni asli dunia ini, kematian tentu hal yang harus mereka hindari. Keluarga, hubungan persahabatan, dan cicilan hutang merupakan beberapa hal yang mengharuskan mereka untuk hidup dalam peperangan ini. Walaupun beberapa mereka harus menerima nasib
Tak jauh berbeda. Makhluk hijau yang malang juga bernasib sama, penyumbang terbesar warna merah dalam lahan perang ini tak lain adalah kubu Goblin. Tak perlu lagi dijelaskan sebenarnya benda apa itu yang berwarna merah itu, tapi yang jelas pemandangan ini jauh lebih menakutkan daripada apapun yang pernah sebagian orang lihat
Tebasan serta sayatan yang mengukir tragis tubuh mereka, lesatkan proyektil serta anak panah yang menembus tubuh kecil mereka, serta berbagai sihir yang mengalahkan habis yang mereka punya. Mereka mencoba apa yang mereka bisa namun apa?. Menyebalkan memang, tapi kualitas tidak akan pernah tunduk pada kuantitas
Tapi perang tetaplah perang, jatuh korban merupakan hal yang biasa dan merupakan lumrah. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk meredam ini adalah dengan perdamaian dan untuk mencapai itu. Kekuatan adalah hal yang mutlak
Diantara itu
Sebuah kilatan perak terlihat bergerak dengan kecepatan yang tinggi, ia melewati satu persatu makhluk hijau. Layaknya sebuah angin tajam, satu-persatu dari mereka meregang nyawa saat itu juga. Dia adalah satu-satunya orang yang berpengaruh terhadap peperangan ini, atau lebih tepatnya kompas kemenangan
"Hah..."
Ia mengambil nafas sejenak, pedang perak serta hitamnya terlukis dengan warna merah yang kotor, walaupun begitu ia tidak mampu melihatnya, karena mode Gore menghalanginya.
Ia melirik sekitar dengan cukup malas, jelas terlihat goblin mengelilinginya. Namun ia tak terlalu khawatir dengan itu. Dan mereka lah yang seharusnya khawatir.
Rambut silver nya tersapu angin, membuat tatapan dinginnya terlihat begitu jelas. Jujur dari awal ia tak terlalu menikmati perang ini, ia sudah terlalu kuat untuk levelnya yang terbilang tak berimbang. Goblin didepannya juga berlevel tinggi, apalagi Jenderal Goblin yang berada dibelakang juga berlevel sama dengannya,
Tapi itu tak menghilangkan kalau ia adalah yang terkuat didalam lahan perang ini.
"Majulah..." Ucapnya sambil mengisyaratkan mereka untuk maju
Walaupun ia berkata demikian namun para goblin yang mengepungnya jelas tak paham karena perbedaan bahasa diantara mereka. Namun, sebuah gerakan provokasi dari manusia berambut silver sudah cukup dimengerti apa yang coba disampaikan olehnya
Tapi walaupun begitu langkah kaki mereka tak berani melangkah, rasa takut yang seharusnya tak pernah ada pada dalam diri mereka secara langsung muncul kepermukaan. Sudah berapa banyak yang rasnya yang dibunuh oleh manusia ini?. Tak ada yang mampu menghitungnya karena jumlahnya sangatlah banyak
Goblin dengan ukuran yang besar mendekati secara perlahan. Kaki ia langkahkan cukup ragu, namun kapak besar ia genggam dengan keyakinan yang kuat. Ini adalah momentum yang bagus untuk mendapatkan pujian dari Jenderal yang selama ini ia akui
"Groa!"
__ADS_1
Ia berteriak keras sebagai tanda kemegahannya. Kapak besar berayun mengincar manusia berambut silver, namun ayunan terbilang sangat monoton dan terkesan hanyalah keberanian yang dipaksakan.
Sebagai tombak tertajam pemain tentu hal yang mudah baginya. Dengan pergerakan lengan yang sederhana, Sancaka membenturkan bilah hitamnya dengan satu tangan. Benturan logam serta kekuatan mereka berdua beradu. Tapi kualitas Sancaka bagai langit dan bumi, mudah baginya untuk membuat kapak besar itu terlempar jauh
Kehilangan kapak cukup membuatnya terguncang. Tapi apalah daya, sebuah tebasan pedang menyayat begitu dalam pada dada sang Goblin, membuatnya berteriak begitu kencang
"Berisik sekali"
Sancaka memposisikan bilah hitamnya, layaknya sebuah anak panah yang sedang berusaha membidik. Matanya menatap tajam kearah tempat sasarannya. Dengan angka presisi yang tinggi, pedang hitam menusuk kearah jantung Goblin besar itu. Namun sebuah lesatan proyektil mendahuluinya
Sebuah proyektil melesat dan bersarang pada jantung Goblin, membuatnya jatuh tak berdaya. Sementara itu, Sancaka hanya tersenyum kecil dan menengok kebelakang melihat arah lesatan proyektil tersebut. Ia sama sekali tidak melihat pasukannya, karena bagaimanapun ia sudah sangat jauh kedalam pasukan goblin. Tapi ia tahu proyektil ini bukanlah sebuah kebetulan semata
"Aku masih tak terbiasa dengan bidikan mu yang mengerikan ini, Viqi" Ucapnya sambil tersenyum masam
Ia menoleh ke samping, ia melihat tumpukan mayat gobiln yang sengaja ia susun dengan rapih. Bukan hanya itu, tinggi darinya sudah pada titik yang menyeramkan. Inilah alasan mengapa para goblin yang mengepungnya jelas bergetar hebat. Dan sampai sekarang pun mereka tak berani menyentuh Sancaka lagi
Sancaka sedikit mengisi tenaga pada kakinya dan melesat dengan cepat kearah puncak tumpukan mayat gobiln. Sangat berlebihan memang, namun dengan ini ia bisa melihat dengan jelas keadaan pasukan lawan serta pasukannya
Sancaka melihat jauh kebelakang, ia melihat berbagai pemain yang sedang menikmati diri mereka sendiri. Masing-masing mereka memamerkan kebolehan nya, membuat Sancaka tersenyum kecil. Ini kesempatan bagus untuk mereka yang masih belum memasuki guild, dengan kemampuan yang dipamerkan bukan menutup kemungkinan kalau ada dari guild tertarik dengan mereka
"Dimana dia?"
Mata Sancaka melirik ke berbagai arah untuk mencari seseorang, setelah beberapa saat mencari. Ia melihat sosok perempuan dengan rambut ungu yang merupakan daya tarik utamanya. Melihatnya membuat Sancaka tersenyum kecil
Ia memainkan Rapier nya dengan begitu elegan, jauh berbeda dengannya yang begitu buas ketika menggenggam dua bilah pedang. Wajah yang terbilang cantik, gerakan Rapier yang indah, serta rambut ungu yang begitu menawan membuat Sancaka tak bisa berhenti memandangnya
Sudah lama sekali ia tidak melihat salah satu partnernya bertarung. Melihatnya cukup membuat Sancaka sedikit bernostalgia pada saat mereka masih Newbie. Dulu Queen begitu perhatian padanya namun sekarang dingin begitu dingin, itu cukup membuat hati kecil Sancaka terluka
Yah bagaimanapun itu
Mata Sancaka beralih kedepannya. Sudah lama sekali ia melihat sosok pemain yang berada dibarisan depan jauh lebih depan darinya. Berbeda dengan yang lain, ia melompat masuk kedalam kerumunan Goblin dan bahkan langsung berhadapan satu lawan satu dengan Jenderal musuh. Entah ia yang begitu sinting, atau begitu kuat. Tapi apapun itu dia adalah seorang pemain yang menarik dimata Sancaka Si Pedang Keselarasan
"Sudah lama sekali aku tidak melihat pemain semenarik ini"
Sancaka mengukir senyum diwajahnya. Jujur sudah lama sekali ia melihat ada sosok pemain yang berada digaris depan jauh lebih depan darinya. Membuatnya begitu bersemangat, dengan ketinggian mayat gobiln yang ia susun. Sancaka bisa melihat dengan jelas pertarungan mereka
Permainan pedang, tombak, dan tameng, yang ia mainkan sudah pada tingkat yang tinggi. Berbeda dengannya yang hanya fokus pada aliran pedang ganda, namun pemain berarmor hitam didepannya sangat fleksibel dengan kemampuan menggunakan senjata yang ia kuasai mampu mendominasi pertarungan
__ADS_1
"Siapa dia?, Jikalau kemampuannya begitu hebat, kenapa aku tidak pernah melihatnya?."
Mata Sancaka menatap dengan menyelidik. Kemampuan pada persenjataan yang tinggi sudah cukup menjadi tombak yang menjanjikan, apalagi pengunaan masing-masing dari mereka sangatlah efektif. Hal ini membuat Sancaka yakin kalau pemain dengan armor hitam itu bukanlah pemain sembarangan
Sancaka tersenyum kecil, ia duduk diatas menara goblin yang ia buat. Ia tak berniat untuk membunuh banyak goblin lebih dari ini, karena ia ingin membagi kesempatan untuk mereka yang ingin memamerkan kebolehannya. Ia memilih duduk dan mengamati pertarungan pemain misterius itu
"Ini semakin menarik" Ucapnya sambil terkekeh kecil
Melihat jenderal goblin yang sepertinya berubah menjadi sosok yang tak terbayangkan sebelumnya. Baik aura ataupun kekuatannya meningkat secara signifikan. Entah baik atau tidak, yang pasti ini akan semakin menarik bagi Sancaka
"Sekarang, bagaimana rencanamu?."
***
*Trang
Tameng bulat berbenturan dengan pedang hitam sang jenderal. Serangkaian tebasan tajam mengarah padanya, memang tameng bulatnya mampu meredam serangan sang jenderal tapi jika untuk jangka waktu yang lama itu adalah keputusan yang buruk.
Dibalik helm bajanya ia menatap cukup ekstrim. Berbeda dengan dirinya yang sangatlah tenang ketika melawan musuh lainnya. Namun ketika ia melawan goblin, entah kenapa rasa psikopatnya begitu aktif. Bahkan saat ini ia tidak mematikan mode Gore yang berarti itu sudah cukup membuktikan
"Huft..."
Sang jenderal melompat mundur, bahkan dirinya yang sudah melakukan peningkatan kekuatan saja masih tak bisa menumbangkan sosok manusia berarmor hitam itu. Baik kecepatan serta kekuatan sudah pada genggamannya.
Namun jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda manusia berarmor hitam itu memiliki kualitas dalam menguasai senjatanya. Hal ini membuat ia yakin kalau manusia didepannya bukanlah sosok yang sembarangan
Mengambil nafas sejenak, aura hitam pada bilahnya semakin pekat. Merasa khawatir pemain berarmor hitam itu merapatkan kuda-kudanya, sementara itu sang jenderal mengayunkan bilah hitamnya kearah ruang kosong
Sebuah lesatkan gelombang hitam pekat bergerak jauh lebih cepat dari peluru. Hal ini membuat pemain berarmor hitam itu terkejut, karena serangan yang begitu cepat membuatnya telat merespon tapi beruntung serangan sang jenderal meleset dan nyaris mengenainya
Melihat serangannya yang meleset cukup membuatnya kesal, namun ia masih bisa memakluminya. Karena sudah lama ia mengeluarkan kekuatan penuh dan potensi terbaiknya. Ia mengarahkan bilah tajamnya kearah manusia berarmor hitam itu seolah-olah berkata, "Selanjutnya tidak akan meleset."
_______________________
Trivia : Sancaka begitu dingin pada perempuan, tapi Queen pengecualian
Shunizu ba vawhor! (Beradaptasi dan mengatasi!)
__ADS_1