
"Ice Age!."
Hawa dengan suhu dingin menyeruak keluar dari tangan Zephys. Menyebar luas layaknya wabah, membekukan secara perlahan namun menyapu bersih semuanya. Es biru yang menyelimuti tebal di keseluruhan sudut ruangan.
Kekhawatiran Errol benar terjadi bersamaan dengannya yang tak luput terkena Es dalam jumlah yang besar. Pedang hitam logamnya tidak cukup kuat untuk menahan dingin dari es membuatnya berada pada kondisi yang sama.
Zephys tersenyum puas melihat rencananya berhasil. Memang benar, kehilangan dua belati kembarnya cukup membuat Zephys murung. Sebelumnya ia telah memperbaiki Blade of Agni dan Ice pada NPC penempa untuk tampil pada performa yang baik.
Tapi sayangnya, hanya dalam satu ayunan serius dari Errol belati itu harus menemui ajalnya. Dan ini sama sekali tidak bisa diprediksi oleh Zephys, kekuatan serta teknik yang dikuasai Errol sudah pada titik tertinggi yang bisa manusia raih.
"Jujur, Sebuah kehormatan bisa bertarung dengan mu. The World Strongest Swordsman, tidak lebih tepatnya The Black Blade ." Ujar Zephys sambil sedikit menunduk sebagai penghormatan.
Sebelum Errol menjadi The World Strongest Swordsman, The Black Blade melekat erat pada sosoknya. Hingga pada akhirnya ia mencapai tingkat tertinggi. Yaitu membunuh salah satu titisan dewa petir Thorder yang dahulu menjabat sebagai kepala hukum di Archon, hingga mengalahkan The World Strongest Swordsman sebelumnya yaitu Chen.
Hingga pada akhirnya nama The Black Blade semakin pudar dan berganti menjadi The World Strongest Swordsman. Walaupun begitu, tidak mengubah apapun serta tidak menurunkan apapun.
Zephys melihat kearah Errol yang sepenuhnya membeku. Untuk Errol yang berlevel satu terkena salah satu Skill Ultimate dari Berus, maka sudah tidak perlu ditanyakan lagi pemenang diantara mereka.
Zephys melihat sekeliling. Patung ksatria, karpet merah penghormatan, serta tahta kekaisaran Azeroth semuanya membeku tanpa sisa. Zephys kemudian berjalan, mendekati tahta yang disalah satu lengannya terdapat bilah hitam berkarat yang tertancap. Menurut perasaannya, belati itu adalah pusaka Nakroth.
"Aku harus cepat mengambilnya."
Zephys melangkah kakinya, berharap ini semua segera selesai. Karena bagaimanapun juga ia sudah terlalu lama di Athanor Online, ia tidak mau sampai terlalu mendewakan game ini. Melainkan dunia nyata adalah kebenaran yang satu.
Langkah kaki Zephys semakin cepat. Namun, sebuah suara retakan keluar dengan nada sedang. Zephys yang mendengar suara itu cukup kesal.
"Cih, Tidak cukup rupanya."
Zephys sudah menduga bahwa es miliknya tidak akan bisa menahan Errol, namun ia tidak menyangka kalau akan secepat ini. Bukankah Errol hanya Undead berlevel satu?, Mengapa ia begitu kuat?, Apakah teknik mampu membuat jarak yang sangat lebar antara dirinya dan Errol?. Zephys masih belum paham. Tapi yang pasti ia kembali akan berhadapan dengan Errol.
Retakan es semakin besar hingga pecah dan membebaskan Errol. Armor hitamnya lebih mengkilap dari biasanya begitu juga dengan pedang hitamnya. Errol menyapu bersih es yang tersisa pada armor hitamnya.
Zephys yang melihat Errol keluar dari jerat esnya langsung bersiaga dengan Berus yang berada pada kepalannya. Zephys tidak menyangka kalau ada Undead berlevel satu yang sebegitu kuatnya. Dunia begitu luas, Zephys layaknya katak dalam sumur yang tak mengerti luasnya dunia.
Melihat kondisi Zephys, Errol kemudian menyarungkan bilah hitam panjang dibalik punggungnya. Melihat itu Zephys memiringkan kepalanya namun jelas terlihat kerutan kecil pada dahinya, yang menandakan ia sedikit kesal.
"Apa maksudmu?." Ujar Zephys dengan nada yang cukup dalam, mengerti seolah Errol mempermainkannya.
"Melihat kemampuanmu, rasanya memakai pedang andalanku cukup berlebihan. Majulah tangan kosong sudah cukup untukmu."
__ADS_1
"Kau pikir kau itu tidak terkalahkan!."
Apakah ia diremehkan, atau ia direndahkan?. Keduanya sangat Zephys benci. Mengeratkan genggamannya, Zephys melesat kedepan dengan tendangan kuat kearah leher Errol. Namun bukan hal yang sulit bagi Errol untuk mengatasinya.
Tidak berhenti begitu saja, Zephys memutar dan berakselerasi pada kakinya. Pukulan Zephys begitu bebas dan gesit membidik bagian tubuh Errol, pergerakan Zephys sangat agresif membuat siapapun kagum. Namun Errol begitu disiplin dalam pemilihan sudut dan waktu, membuat serangan Zephys tidak mengenainya.
Zephys meletakkan kedua telapak tangannya pada lantai sebagai sumbu. Zephys berputar pada sumbunya, dan melancarkan terjangan tendangan meliuk begitu cepat kearah Errol. Sebuah serangan bagai putaran kincir helikopter cukup membuat Errol kerepotan.
Tapi bukanlah kerepotan yang berarti. Ditengah terjangan tendangan, Errol menghindar dan pada tempo yang tepat menangkap kaki Zephys, memaksanya untuk berhenti.
Tidak ingin kehilangan momentum. Zephys mengisi tenaga pada kedua telapak tangannya untuk membantunya melayang diudara. Pada posisi tegak, Zephys kembali melancarkan tendangan kritis kearah kepala Errol. Namun sekali lagi Errol mampu menangkap kaki Zephys.
Mengerti kedua kakinya terkunci serta dirinya yang masing memiliki keuntungan diudara. Membuat Zephys kembali melancarkan serangan. Zephys menyatukan kedua tangannya. Zephys kembali mencoba melukai kepala Errol.
Melihat ancaman didepan muka. Errol melempar kedua kaki Zephys dan mengacaukan gerakannya. Akibatnya, Zephys harus memperbaiki postur tubuhnya, namun sebuah tendangan mematikan mengarah pada lehernya. Zephys mengerti akan hal itu, dan dengan cepat menyilangkan kedua lengannya.
Zephys terhempas kebelakang karena menahan berat tendangan milik Errol. Zephys berakselerasi pada kakinya dan mendarat sempurna, Zephys langsung mengambil nafasnya untuk mengantisipasi akan datangnya serangan Errol. Namun sebuah suara tepukan terdengar.
"Bagus sekali, kau begitu tenang dalam mengambil keputusan. Kau juga mengerti apa yang harus dilakukan pada posisinya yang sulit. Kau mengingatkanku pada seseorang yang aku kagumi." Ujar Errol terkesan.
"Apakah itu pujian?."
Tidak berniat menjawabnya, namun Errol terkekeh kecil. Ia begitu tertarik dengan Zephys. Bagaimana ia mengambil keputusan saat dalam posisi sulit, bagaimana saat ia memanfaatkan momentum, bagaimana saat ia mundur. Semua begitu disiplin dan sangat teratur.
"Kemampuanmu membaca gerakan begitu hebat, tapi bagaimana dengan jarak pandangmu?."
Pernyataan Errol cukup membuat Zephys kebingungan, namun kilatan cepat mengarah pada tubuhnya. Satu? Tidak, tiga tendangan dari arah yang berbeda mengarah pada tubuhnya. Tidak sempat bereaksi, Zephys terkena tiga tendangan dan kembali tersungkur.
'Apa.. Itu?...' Batinnya
Melupakan rasa sakit pada tubuhnya, Zephys masih merespon serangan apa yang barusan ia terima. Melihat itu Errol tersenyum kecil.
"Kau memang memiliki kemampuan membaca yang hebat, namun jarak pandangmu terlalu sempit." Ujar Errol sambil tersenyum dibalik helm bajanya, melupakan Zephys yang masih bingung dengan apa yang coba Errol sampaikan.
"Kau terlalu tergantung pada kemampuan membaca pergerakan untuk memprediksi gerakan selanjutnya, dan itu sangatlah menguras fokusmu, serta bertarung seperti itu sangat tidak dianjurkan untuk pertarungan dalam jarak waktu yang lama." Ujar Errol dengan nada tanpa tekanan.
Zephys bingung dengan apa yang Errol sampaikan. Namun setelah beberapa saat merenung ia mengerti apa yang coba Errol sampaikan kepadanya.
"Maksudmu aku terlalu fokus pada satu serangan, begitu?." Ujar Zephys dibalas dengan lirikan tertarik dari Errol.
__ADS_1
"Benar, kau memiliki kelebihan dalam membaca serangan sekaligus fokus yang tinggi. Namun kau tidak memanfaatkan kelebihan mu sebagai senjata yang kuat. Akan sangat disayangkan kalau kau hanya bisa fokus pada satu serangan, padahal kau lebih dari itu." Ujar Errol, yang sebenarnya keluhan yang ia dapatkan ketika bertarung dengan Zephys.
Sebuah Shock Therapy menyeruak masuk kedalam tubuh Zephys. Memang terlalu berlebihan, namun bagi Zephys ini adalah hal yang mengejutkan. Ketika dalam duel yang intensif, Zephys sangat fokus dan membaca satu persatu serangan yang dikeluarkan dari musuhnya, dan dari satu serangan itulah Zephys membaca dan memprediksi gerakan selanjutnya.
Walaupun terlihat mengesankan tapi justru itulah kelemahan Zephys yang sebenarnya. Membaca gerakan lalu memprediksi gerakan selanjutnya membutuhkan fokus yang tinggi, dan itu sangatlah membuang banyak tenaga.
Jadi bagaimana kalau ia tidak fokus terhadap satu lingkup gerakan melainkan pada lingkup keseluruhan?. Maka ia tidak perlu lagi melihat satu persatu namun melihat dalam keseluruhan.
Dan secara tidak sadar membuat gerakan Zephys terasa tumpul. Karena Zephys berfikir terlalu berat tentang membaca gerakan musuh selanjutnya hingga ia lupa hal yang terpenting. Bagaimana ia bisa mencegahnya?, Bagaimana ia bisa memotong geraknya?, Bagaimana ia bisa menyerang balik?.
Mungkin bagi musuh biasa Zephys tidak akan kesulitan. Namun jika berhadapan dengan musuh sekelas Errol, maka Zephys hanya sekedar cecenguk biasa yang terlalu biasa. Itulah mengapa Errol mampu membongkar setiap gerakan Zephys dan membalas setiap gerakan.
Zephys tersenyum puas dan segera berdiri. Melihat senyuman cerah milik Zephys membuat Errol berfikir kalau ia telah menemukan apa yang Errol coba sampaikan.
"Kau sepertinya paham apa yang aku sampaikan." Ujar Errol dan hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Zephys
Kembali, tiga kilatan tendangan keluar dan mengarahkan cepat kearah tubuh Zephys. Namun Zephys yang mengerti dengan cepat langsung menangkap pergerakan kaki Errol dengan satu tangan. Melihat serangannya gagal membuat Errol tersenyum kecil.
Errol kembali melancarkan tendangan rumit, namun Zephys mampu membongkarnya dan menangkis semua serangan. Errol tersenyum kecil dibalik helm bajanya, mengerti kalau musuhnya mulai berkembang dan itu tidak disayangkan oleh Errol.
Tidak seperti sebelumnya yang dirinya harus terseok-seok oleh serangan Errol. Kini Zephys mulai bisa mengikuti serangkaian tendangan cepat dan presisi tinggi milik Errol. Walaupun ia harus beradaptasi dengan kemampuannya yang baru ini. Ditengah-tengah itu Errol menghentikan serangkaian tendangannya.
"Katakan padaku Zephys, sebenarnya untuk apa kau datang kemari?." Ujar Errol serius, mengerti kalau Errol bukanlah sosok yang jahat. Zephys akhirnya meluruskan niatnya.
"Aku disini untuk mengambil pusaka Nakroth, dan membangkitkan hidupnya."
Mendengar pernyataan itu, membuat Errol membeku seketika. Membangkitkan komandannya?, Anak ini?, Lagipula siapa yang memilih anak ini?. Apapun itu ia adalah yang terpilih.
Errol menunjuk kearah belati berkarat yang menancap pada lengan tahta. "Itu yang kau cari." Ujarnya
Seketika Zephys menoleh, melihat belati yang sepenuhnya berkarat. Tapi ia tidak menyangka pusaka Nakroth adalah belati berkarat, tapi apapun itu jalan Zephys semakin dekat. Mengerti tatapan milik Zephys membuat Errol kembali bersiaga.
"Kalau kau menginginkannya, kau seharusnya tahu apa yang kau lakukan, bukan?."
"Yah, aku tahu."
Baik Errol dan Zephys mengeratkan genggamannya, karena pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Saat ini juga.
_______________________
__ADS_1
Trivia : Errol tahu akan datang dimana seseorang yang akan mewarisi kekuatan dari Nakroth. oleh karena itu ia selalu menjaga pusaka Nakroth. Untuk menilai apakah yang terpilih, layak atau tidak menerima kekuatan sekaligus takdir dari Nakroth.
Shunizu ba vawhor!.