
Di warung makan sederhana, atau manusia kost menyebutnya warteg. Diaz duduk menikmati secangkir kopi hitam dengan alunan musik khas Jawa sambil menunggu makanannya disiapkan oleh "Mba-mba warteg".
"Ini mas Diaz." Ujarnya membawa hidangan rumahan yang dilihat cukup sederhana, namun sangat enak untuk dimakan, "Terimakasih." Ujar Diaz
Diaz memakan hidangan rumahan itu. Setiap kali memakannya, membuat Diaz ingat akan rumahnya yang sebenarnya tak jauh dari Jakarta. Kalau Diaz mengendarai motor sportnya, butuh sekitar 6-12 jam untuk sampai di kampung halamannya.
Tapi ia memilih untuk tidak memikirkan lebih dari itu. Ia tahu orang tuanya pasti tidak terlalu bagaimana senang melihat anaknya pulang. Diaz bisa membayangkan tatapan dingin orang tuanya yang selama ini cukup menghantui Diaz saat tertidur.
"Darkin, kah?."
Diaz masih terpikir oleh pembicaraannya dengan Reno. Tidak ada informasi apapun mengenai Darkin di Antharis Online, begitu pula kekuatan bernama Aspect. Bright juga sama sekali tidak menyinggung Darkin maupun Aspect.
Membuat Diaz sedikit bingung asal usul dari Darkin maupun Aspect. Diaz menghela nafasnya, sudah cukup ia fokus ke Athanor Online, untuk sekarang bagaimana ia bisa menikmati kehidupan didunia nyata. Ia memiliki sedikit uang, tinggal bagaimana Diaz bisa mengunakan uang itu untuk refreshing sejenak.
Diaz cukup letih dengan Athanor Online, apalagi Errol merupakan makhluk paling gila yang pernah ia lawan. Memikirkan gerakan indah miliknya masih ada dikepala Diaz. Mengingatnya cukup membuat Diaz merinding.
"Jika ingin bersenang-senang maka harus ada teman, tapi.. ya sudahlah." Ujar Diaz dengan hela nafasnya lelah.
Ia baru menyadari kalau ia sama sekali tidak mempunyai teman ditempat rantaunnya. Diaz terlalu fokus mencari pekerjaan hingga ia lupa untuk bergaul dengan orang terdekat, setidaknya teman kostnya. Diaz menyesali itu.
Diaz membuka ponselnya dan segera mengecek forum Athanor Online, untuk sekedar melihat barang dagangannya laku atau tidak.
"Sepertinya equipment di Black Lair cukup diminati, apakah aku kesana lagi untuk mencari equipment baru?."
Bicara tentang equipment, Diaz cukup sedih ketika menyadari kalau belati kembarnya harus hancur berkeping-keping oleh pedang hitam milik Errol. Bahkan durabilitas Berus juga sangat terkuras habis, karena harus beradu ketajaman dengan pedang hitam itu. Entah apa yang membuat pedang itu kuat, namun yang jelas Diaz ingin memilikinya.
Diaz sangat kagum dengan pedang hitam milik Errol. Ketajamannya mampu membuat belati kembarnya hancur, sekaligus durabilitas milik Berus terkuras habis, padahal Berus merupakan ekstraksi dari Elemental Cerberus yang merupakan makhluk Abyss.
Tapi ya, Darkin atau Rodant memang menjadi daya tarik utamanya.
"Yang aku ingat, aku Log Out ketika aku berhasil menarik senjata Darkin itu. Setelah itu, apa yang terjadi?."
__ADS_1
Diaz memijat kepalanya, mencoba untuk memproses kejadian apa yang terjadi. Saat itu, pikiran Diaz terbang diberbagai arah. Menyebar secara acak ketempat yang belum dijamah. Dalam kekurangan informasi, pikiran Diaz tenggelam hingga ia menyadari sesuatu. Sebuah pertanyaan yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Tunggu, Errol pernah bilang kalau, 'Aku masih percaya pada cahaya. Hanya saja tidak pada mereka yang mengaku membawanya'. Cahaya...?, Bright?-" Diaz bergumam bersamaan dengan informasi yang terolah secara perlahan, hingga ia menyadari. "Begitu yah, Archon." Ujarnya
Diaz tersenyum kecil, menyadari sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui.
"Volkath merupakan murid Bright yang berkhianat, tapi mengapa Volkath berkhianat?. Lalu mengapa Errol sangat membenci Archon?. Dan mengapa Errol membunuh Thorder?."
Pikiran Diaz tenggelam dalam palung pemikiran yang dalam. Spekulasi liar berdatangan dari berbagai arah, mulai masuk dan mencerna satu persatu informasi yang Diaz terima. 'Semua ras adalah Villain', perkataan Reno masih terbayang di pikiran Diaz, hingga satu kesimpulan liar berkata.
"Atau jangan, para Archon adalah munafik?."
Diaz berfikir bukan tanpa alasan. Archon atau dewa merupakan esensi tertinggi dari ras yang ada di Athanor. Dan semakin tinggi tingkat atau derajat seseorang maka akan semakin rendah pula orang itu menatap sesuatu yang berada dibawahnya.
Bright merupakan sosok yang bijak, kasih, dan jauh dari kata tercela. Namun mengapa Volkath sampai mengkhianatinya?, Alasan masih belum jelas dipikirkan Diaz. Tapi, tunggu. Jika Bright gugur saat Volkath membunuhnya di invasi pertamanya. Maka setelah perang itu, siapa yang memimpin Fraksi Archon?.
Apakah 'Pemimpin Baru Archon', seorang yang bijak, kasih dan jauh dari kata tercela seperti Bright. Atau malah sesosok rakus, picik layaknya Iblis?. Diaz mencoba mengingat kembali, game Antharis Online yang pernah ada dalam pikirannya.
Diaz yang kala itu Zephys, hidup sebagai titisan dari Bright. Dan mengemban misi untuk mendamaikan dunia. Zephys hidup pada masa dimana Noctrune memulai invasi yang kedua. Lebih tepatnya saat Volkath berhasil keluar dari dimensi kekosongan milik Darcy.
"Ratu Ilumia?."
Satu nama, satu informasi dan satu spekulasi terjadi. Diaz tersenyum kecil, ia kembali mengisi plot yang masih belum terisi penuh. Ia masih bisa salah akan pemikirannya, namun dengan ini ia bisa melangkah lebih jauh. Darkin, Aspect, Noctrune, dan Archon pasti memiliki hubungan satu sama lain.
Untuk saat ini Diaz tidak tahu, tapi yang pasti ini akan menjadi sangat menarik. Jika benar Archon adalah munafik, maka Diaz berfikir. Apakah Noctrune merupakan suatu Fraksi perkumpulan iblis biasa yang ingin menguasai dunia?. Atau malah sebuah fraksi yang kecewa atas peraturan dan muak atas otoritas para Archon yang selama ini dijalani?. Jika iya maka...
"Siapa sebenarnya musuh utama pada Athanor Online?."
Diaz tertawa lepas hingga menarik perhatian sebagian pengunjung warteg. Tidak ada yang lebih menarik lebih dari ini, perkembangan cerita dari Athanor Online sangat diluar nalar. Diaz tidak bisa membayangkan kalau para Dewa atau Archon munafik, dan para makhluk bengis Noctrune merupakan revolusioner. Tidak ada yang lebih lucu dan ironis dari ini.
Diaz berhenti tertawa dan mengubah tatapan matanya datar. Pikirnya kembali tenggelam. Kembali sebuah pertanyaan terlontar.
__ADS_1
"Nakroth, dahulu kau berada di pihak mana?."
Errol membenci Archon, yang berarti Nakroth tidak berada pada sayap cahaya milik Archon. Sementara itu, Nakroth memiliki pecahan Dark Andura Stone yang merupakan kunci kekuatan utama sang Dark Lord Volkath, yang berarti Nakroth juga tidak bersekutu dengan Noctrune.
Tidak ada informasi lebih lanjut, membuatnya tidak bisa berspekulasi lebih dari ini. Bukan pihak Citra Organization selaku developer game ini, tapi pemain lah yang menulis cerita dalam game ini. Itulah mengapa ada pemilihan fraksi disaat pembuatan karakter. Diaz menyadari akan hal ini.
Jika suatu saat ada peperangan antar fraksi seperti sama halnya ketika saat Antharis Online masih ada. Maka bukan hal yang mustahil kalau, pemain antar fraksi akan saling bermusuhan. Membayangkan saja membuat Diaz tersenyum dalam ironi.
"Hahh.. Sungguh, ini terlalu memusingkan."
Diaz menghela nafasnya. Ia kembali memakan hidangan rumahan itu yang sebelumnya telah ia lupakan karena jatuh kedalam pemikiran yang dalam. Ia melahap secara perlahan hingga habis tak bersisa. Setelah tenaganya kembali terisi, Diaz berdiri dan membayar makanannya.
Ketika hendak pergi, sesuatu menarik perhatiannya.
"Kau dengar tidak?, Kalau Melody sudah tidak menyanyi lagi."
"Bukan tidak menyanyi lagi, dia sedang rehat."
"Lah, bukanya sama saja?."
"Tentu saja beda, dasar bodoh!."
Menyimak salah satu pelanggan, Diaz tersenyum kecil. Benar, kenapa ia bisa lupa. Di kota ini, hanya Melody lah satu-satunya orang yang bisa dianggap teman. Diaz ingin bersenang-senang, terlepas penatnya kesibukan di Athanor Online. Diaz membuka ponselnya dan segera memilih nomer kontak.
"H-halo." Ujarnya canggung di ponselnya. Diaz terkekeh kecil, menyadari Melody masih canggung dengannya.
"Hai, mau jalan-jalan?."
_________________________
Trivia : Archon merupakan Fraksi perkumpulan para makhluk yang mengaku Dewa.
__ADS_1
Nakroth (Full Armor + Helm perang) dan Rodant