
Diantara suara detak jantung beserta urat nadi cepat, tidak mampu menahan kerasnya suara ketukan ring pada kedua orang. Ruah serta ricuhnya keadaan semula tak lagi terlihat, hanya tatapan kosong dan tanpa berkedip dari setiap tatap mata yang menontonnya.
Begitu sunyi, hanya sebuah suara dari benturan tulang yang terdengar. Tendangan dibalas dengan hal yang sama, begitu pula dengan gerakan kaki yang menawan, beserta tarikan nafas yang mengisi keheningan mereka. Lantai ring terlihat bergetar secara tidak normal, mengerti yang mereka tonton bukanlah sebuah pertandingan. Melainkan harga diri dari seorang Master.
Wanita itu begitu liar, serangan maupun tendangan begitu mempesona bagi siapapun yang melihatnya. Dalam saat ini, wanita itu memiliki dominasi yang kuat. Dia unggul dalam banyak sekali aspek, baik kekuatan, kecepatan, bahkan teknik. Dalam beberapa keadaan, tendangannya begitu halus dan dingin, tak mampu bisa dibayangkan bahkan oleh musuhnya.
Sementara Zephys, bertahan dengan fokusnya yang sama sekali tak berkurang. Mengerti musuh memiliki segalanya, baik tekanan serta dominasi yang begitu unggul. Zephys masih dalam fokusnya, tangannya ia gunakan untuk bertahan, kedua kaki ia gunakan untuk menyerang balik, dan kepalanya ia berusaha untuk tetap dingin.
Bukan hanya otot, tapi tentang bagaimana kau bisa memandangnya dari arah yang berbeda. Tetap tenang dan fokus, melihat keseluruhan sudut, serta bagaimana kau bisa membalikkan keadaan. Ini yang sedang Zephys lakukan.
Namun tetap, ia dalam kondisi yang paling buruk. Sebuah tendangan berat mengarah pada lehernya, Zephys dengan sigap menahannya. Namun, harga yang ia bayar terlalu banyak.
“Sudah lama sejak aku bersungguh-sungguh..” Ujar wanita itu puas
Zephys tidak bisa lagi untuk menanggapi perkataannya, kedua lengannya tampak sudah terkuai, begitu pula dengan kakinya yang mulai lemas. Walaupun tingkatan ini sama seperti dengan Errol, tapi bisa Zephys rasakan. Wanita ini jauh segalanya dibanding dirinya. Karena itulah, Zephys kembali mengangkat kedua lengannya dan membangun kembali kuda-kudanya. Menarik nafasnya dalam, begitu pula dengan fokusnya yang tenggelam begitu dalam.
“Bagus-” Ujarnya itu tersenyum kecil, wanita itu kembali menendang dengan sudut yang begitu tajam. Dengan kendali pada tubuhnya, ia mengincar leher Zephys. “Memang seperti itu harusnya!.”
Zephys kembali menerima berat pada kedua lengannya, dalam kurun waktu terbilang singkat, rentetan tendangan kembali mendarat pada lengannya. Ketepatan serta waktu tendangan itu begitu berbahaya, satu kali saja ia terkena tendangan itu, maka sudah dipastikan ia akan kalah saat itu juga.
Namun, Zephys menunggu momen tepat dimana ia bisa membalikan sebuah keadaan. Tapi, Zephys melupakan sesuatu yang penting. Lawannya bukanlah seorang keroco, satu tendangan melesat kuat pada lengan Zephys. Ia tahu kalau serangan yang wanita itu hadirkan begitu kuat. Namun, serangan ini begitu berbeda.
Serangan itu mendarat pada lengan kanan Zephys, sebuah berat yang sangat tidak wajar ia rasakan. Matanya memekik keras, ia tidak kuat dengan beban yang terasa ini. Sepersekian detik ia menerima tendangan itu, Zephys jatuh kelantai dengan keras. Entah apa yang terjadi dengan lengannya, tapi yang pasti ia sudah tidak lagi merasakannya.
Suara sorakan penonton bar begitu ricuh, seakan mereka melihat siapa pemenangnya.
“Kau menunggu aku melakukan kesalahan serta membuka celah bukan?-” Ujar wanita itu menggantung, ia melemaskan otot-otot yang terkesan kaku lalu ia kembali melanjutkannya. “Aku bukanlah seorang amatir..” Ujarnya.
“Tapi yah, aku ucapkan terimakasih dengan ini aku bisa tidur dengan nyenyak.” Ujar wanita itu, ketika hasil kemenangan sudah terlihat begitu jelas.
Wanita itu berniat melangkahkan kakinya keluar dari ring. Namun Zephys kembali bangkit, tapi walaupun begitu wanita itu tidak terlalu menggubrisnya. Karena menurutnya Zephys juga sudah mengakui kekalahannya.
Zephys berdiri disamping ring, ia menatap penonton bar. Matanya melihat sebuah air dalam salah satu gelas kaca yang dipegang oleh salah satu penonton di dekatnya. Zephys meraih gelas kaca itu, menenggak habis air didalamnya. Terlihat pemiliknya sedikit ingin memprotes, namun ia mengurungkan niatnya karena mungkin ia akan dihajar habis-habisan.
“Hah..”
Puas akan dahaganya, Zephys sedikit memainkan gelas kaca yang ia pegang. Menggenggamnya dengan erat, matanya kembali menajam. Zephys melempar gelas kaca itu, ia mengarahkan pada lawannya yang ingin keluar dari ring. Menyadari itu tentu wanita itu bisa menghindarinya dengan mudah. Alhasil gelas kaca itu hanya melewatinya.
Wanita itu kembali menatap Zephys dengan tatapan tanda tanya. Mendapatkan perhatiannya, Zephys kembali memasang kuda-kudanya. Sang wanita hanya membuang nafasnya.
“Kau kolot sekali es krim..”
Wanita itu nampak tidak lagi tertarik pada Zephys. Rasa puasnya sudah ia puaskan, saat ini ia hanya ingin tidur nyenyak dimalam yang penuh akan bintang ini. Namun, Zephys berfikir kalau ini belumlah selesai.
Diantara lengahnya wanita itu, Zephys bergerak cepat. Ia berdiri tepat didepan wanita itu, beserta tendangan tajam yang bisa ia lancarkan. Terlalu lengah wanita itu dengan mampu menghindari tendangan itu. Namun, setelah ia melihat kedepan lawannya menghilang. Tapi hawa tidak mengenakan terasa dibalik punggungnya.
__ADS_1
Dan benar saja, Zephys berada dibelakang. Menendang punggung wanita itu dengan keras, terlalu mendadak wanita itu sedikit tersungkur. Tapi sebelum itu, Zephys kembali sudah berada didepannya dengan tendangan yang kini mengarah langsung pada perutnya. Tidak siap akan hal itu, lawannya terkena tendangan telak. Wanita itu tersungkur dipojok ring.
“Berbeda dengan yang tadi bukan?.”
Dalam rasa sakit yang cukup tinggi, ia tersenyum kecil. Sepertinya pria didepannya sangat benci kekalahan.
“Tidak buruk.”
Wanita itu kembali berdiri, namun Zephys kembali melesat. Kini merupakan titik balik, Zephys bergerak dengan langkah kaki yang kilat. Menyerangnya dengan tendangan yang rumit dan cepat, cukup sulit untuk siapapun yang melihatnya. Namun, dengan kemampuan serta dedikasi tinggi dari wanita itu, tentu bukanlah hal yang sulit.
Zephys menyerang kembali dengan tendangannya yang begitu berat, wanita itu tampak sedikit kesulitan ketika harus meladeni tendangan yang cukup merepotkan. Namun, tatap matanya berbanding terbalik. Ia tampak merencanakan sebuah skenario.
Tendangan horizontal mengarah pada leher wanita itu. Ia tersenyum menanggapi hal itu, disaat tendangan melesat cepat tangan wanita itu menangkapnya. Zephys jelas tersentak, namun tangan lainnya datang mencengkram perutnya. Wanita itu mengangkat tubuh Zephys dan membantingnya kebawah.
Wanita itu langsung mengambil langkah mundur demi mengambil nafasnya, tendangan Zephys tadi cukup menguras tenaganya. Wanita itu tidak terlalu bringas seperti sebelumnya, kini ia berdiri dan menunggu Zephys bangkit dari jatuhnya.
Sementara itu Zephys sedikit sakit, baik itu tubuhnya dan harga dirinya. Bukan hanya dihajar, ia bahkan dibanting oleh wanita itu beberapa kali, kini ia sedikit berfikir. Apakah wanita itu jauh lebih baik darinya,
‘Sepertinya aku terlalu percaya diri.’ Batinnya
Itu benar, beberapa kali wanita itu membuka celahnya dan membuat Zephys menyerang, dan itu ia manfaatkan untuk menyerang balik. Berbanding terbalik dengan Zephys yang selalu tertekan, bahkan mencari celah pun ia sangat kesulitan.
Zephys bangkit kembali, bersama sorakan dari penonton. Pertandingan seru seperti ini sangatlah langka, sangat beruntung bagi mereka yang melihat pertarungan seperti ini secara gratis.
“Kau sangat kolot sekali es krim.”
“Berhenti memanggilku es krim, namaku Zephys.”
Baik Zephys dan wanita itu tersenyum kecil, mereka kembali memasang kuda-kuda mereka. Menarik nafas secara bersamaan, fokus yang selalu mereka pertahankan sama sekali tak berkurang, beserta setiap tenaga dalam serangan mereka juga pada kualitas terbaik.
“Tapi kau manis sekali Zephys, seperti es krim.” Ujar wanita itu dengan senyum jahilnya, Zephys hanya terkekeh kecil.
Mereka berdua bergerak bersamaan. Tinju mereka kembali beradu, bersama dengan lengkungan senyum puas akan pertarungan yang mereka jalani.
Mereka kembali mengambil jarak, namun wanita itu bergerak jauh lebih cepat. Tendangan rumit kembali ia perlihatkan, walaupun begitu lama kelamaan Zephys menunjukan sikap terbiasa. Ia mulai mengikuti pergerakan dari wanita itu.
Perasaan tidak mengenakan begitu terasa pada wanita itu, tanpa sadar ia melakukan tendangan yang sangat ceroboh. Zephys tentu memanfaatkannya dengan baik.
Ia mendaratkan pukulan berat pada perut wanita bertato naga itu, tanpa memberikan nafas. Pukulan lain datang dari bawah dan menghantam dagu keras wanita itu, begitu kesakitan Zephys kembali menyerang. Ia memegang kedua pipi wanita itu, dan menghantamkan pada lututnya. Tidak sampai disitu, Zephys berputar berserta dibawanya tendangan berputar, masih dalam keadaan yang buruk tendangan itu memukul telak pipi kanan wanita itu.
Sakit pada pipinya, cukup membuatnya pandangannya kabur. Secara perlahan ia jatuh, berserta dengan sorakan penonton yang tidak mempercayai hal tersebut. Sementara Zephys hanya berdiri bersandar pada tali karet ring, ia menyadarkan lengannya sekedar memastikan bahwa dia masih bisa berdiri.
‘Wanita ini tidak akan kalah semudah itu.’
Walaupun begitu, Zephys masih tidak bisa mempercayai ini. Wanita itu menyerangnya begitu ceroboh dan membuat Zephys mampu menyerangnya dengan begitu telak. Walau begitu, Zephys tidak tahu wanita itu jauh lebih tangguh darinya. Dan benar saja wanita itu kembali berdiri, walaupun dengan begitu kesusahan.
__ADS_1
Namun ada sebuah kejanggalan, wanita itu menatap Zephys dengan tatapan tajam. Layaknya sebuah naga yang memberikan sebuah tekanan, wanita itu diam namun bisa Zephys rasakan hawa ini tidak begitu baik.
Wanita itu menghilang didepan matanya. Membuat Zephys sedikit panik, namun rasa sakit tiba-tiba terasa pada perutnya. Ia melirik kebawah dan melihat wanita itu jelas meninju berat perutnya.
‘Wanita ini menyembunyikan kekuatannya!.’ Pekiknya dalam hati.
Zephys mencoba membalikan keadaan dengan melayangkan sebuah pukulan, namun dengan mudahnya wanita itu menghindar. Bahkan menyerang balik dengan pukulan berat diperut Zephys kedua kalinya, tidak sampai disitu wanita itu memukul pipi Zephys dengan begitu keras. Membuatnya langsung tersungkur, namun ia langsung mencari posisi berdiri.
Tapi serangan beruntun kembali wanita itu berikan, Zephys begitu kewalahan beberapa pukulan mendarat ditubuhnya. Namun, dengan fokus yang sama sekali tidak berkurang, Zephys menemukan celah dan kembali melancarkan tendangan kuat membuat wanita itu mundur dan mengambil jarak.
Zephys memanfaatkan ini dengan mengisi nafasnya begitu pula dengan wanita itu, tapi wanita itu kembali tersenyum.
“Hei es krim, antara tinju dan tendangan. Kau percaya diri yang mana?.” Ujarnya
“Tendangan.”
Benar, daripada tinju Zephys jauh lebih percaya diri dengan tendangannya. Walaupun begitu, dalam kekuatan penuh dikakinya pun, sama sekali belum bisa membuat wanita didepannya kalah.
“Kalau begitu ini akan menjadi serangan terakhir, antara tendangan milikku atau milikmu mana yang terkuat!.” Ujar wanita itu dengan senyum yang penuh semangat, begitu pula dengan Zephys yang juga tidak kalah antusias.
“Ide bagus!.”
Baik Zephys dan wanita itu menyiapkan tendangan terbaik mereka, mereka kembali mengambil nafasnya. Mempersiapkan tendangan terbaik mereka, ini adalah serangan terakhir yang menentukan menang atau kalah. Tentu mencurahkan segala adalah sesuatu yang jelas.
Ketika denting jam terdengar nyaring. Baik Zephys dan wanita itu bergerak, beserta dengan tendangan terbaik yang masing-masing mereka kerahkan.
“Enrage!.”
“Ryuu!.”
Enrage milik Zephys mengenai tepat leher wanita itu, begitu pula dengan Ryuu milik wanita itu mengenai tepat leher Zephys. Mereka berdua tidak berencana untuk beradu kekuatan tendangan, melainkan berencana untuk menjatuhkan musuhnya dengan tendangan terkuat mereka.
Setelah tendangan mereka kerahkan dan mengenai masing-masing mereka. Kini mereka terdiam, baik wanita itu maupun Zephys. Dalam kesunyian itu, Zephys jatuh perlahan, berbeda dengan wanita itu yang masih bisa berdiri. Menandakan wanita itu memenangkan pertarungan.
Penonton yang mendengar itu kembali bersorak, kini kemenangan jelas terlihat. Diatasnya sorakan, Wanita itu memandang Zephys yang jatuh tak berdaya didepannya.
“Sungguh tendangan yang mengerikan..” Ujarnya sambil menahan sakit pada lehernya.
Wanita itu tersenyum kecil melihat pria didepannya. Jujur sudah lama sekali ketika seseorang yang mampu membuatnya serius dan bersungguh-sungguh. Namun, tatap matanya melihat sebuah liontin yang terkalung pada leher Zephys. Wanita itu sepertinya menyadari liontin yang Zephys pakai.
“Jadi kau..” Ujarnya dengan tawa kecil.
________________________
Trivia : Pingsan dalam game, tidak menyebabkan efek samping dan hal yang buruk.
__ADS_1