
Dataran rendah luas layaknya padang savana, namun bukan hijau melainkan padang tandus dengan kecoklatan sebagai warna dominan. Monster hijau dalam jumlah besar mengisi bagian utara dengan begitu rapat, senjata tajam serta anak panah telah disiapkan pada tubuh mereka. Gigi pendek dan runcing, menikung tajam kebawah, mengisyaratkan begitu buasnya mereka walaupun selama ini telah diremehkan
Tubuh kekarnya duduk disalah satu kuda dengan gagah, dengan pedang berbilah perak yang tersarung rapih, menandakan ia tidak ingin memulai secara terburu-buru. Ia berbeda dengan rasnya yang lain, derajat antara ia dan rasnya yang lain begitu berbeda. Membuatnya layak untuk disebut Jendral Perang
Ia menatap kebelakang, melihat rasnya yang selama ini direndahkan, diremehkan, dan direndahkan. Namun kali ini berbeda, tatapan mereka penuh dengan amarah, nafsu, dan haus akan kemenangan. Membuat darahnya begitu bergejolak ketika melihat rasnya begitu bersemangat
Ia menatap kedepan, melihat sebuah pasukan yang merupakan lawannya kali ini. Jumlah rasnya lebih banyak, namun ia tidak boleh lengah walaupun menang dalam kuantitas. Tapi itu tidak masalah, rasnya yang telah dipenuhi amarah membuat kekuatan mereka meningkat walaupun hanyalah sugesti, tapi setidaknya moral mereka naik membuat peperangan ini masih bisa dimenangkan dengan mudah.
"Manusia..." Geramnya, kalimat kedengkian terdengar begitu jelas bagi mereka yang mendengarkan
Penderitaan rasnya yang begitu dipecundangi oleh mereka begitu membekas, ia masih mengingat rasnya diadu dalam arena dan dipaksa membunuh sesamanya untuk bertahan hidup, ingatan mereka tertawa atas penderitaan rasnya masih begitu membekas. Tapi itu adalah sumber kekuatan untuk rasnya, kali ini ia yakin bisa menang
Sementara itu
Bagian selatan, sebuah pasukan perang manusia berbaris rapih. Secara kuantitas memang kalah, tapi kualitas tidak pernah berbohong. Digaris depan terlihat sosok pemain, namun berbeda dengan jendral lawannya yang begitu gagah dengan kudanya sebagai pesona utamanya.
Ia duduk bersila dengan kedua pedang berbilah perak dan hitam, ia membersihkan kotoran pada setiap pedangnya dengan hati-hati, rambut silver nya diterpa angin membuatnya begitu menawan. Beberapa pemain bergender perempuan juga terpesona, walaupun ini adalah dunia game, namun pemain itu tidak mengubah apapun dan hanya mewarnai rambut hitamnya dengan silver sebagai dominannya.
"Barisan depan seperti biasa, yah?"
Suara lembut terdengar pada daun telinga, sosok perempuan dengan rambut ungu dengan pedang Rapier yang tersarung rapih pada pinggangnya bisa ia lihat dengan retinanya.
"Oh Queen" Ia menatap Queen sejenak. "Cantik seperti biasa, yah?" Sambungnya
Tidak menghiraukannya, Queen menatap lurus ke utara, makhluk hijau dengan jumlah yang cukup banyak jelas terlihat pada matanya, namun kegaduhan dan kebisingan terdengar dibelakangnya. Ia menoleh kebelakang dan melihat anggota guildnya sedang berbisik, namun segera berhenti ketika ia melihatnya
"Kau seharusnya tidak perlu berbicara seperti itu Sancaka" Queen sedikit protes pada sang sumber masalah. "Oh ayolah kita sudah bersama sejak kita masih Newbie" Balasnya dengan sedikit tersenyum nakal
__ADS_1
Melupakan rivalitas mereka, Queen dan Sancaka sebenarnya sudah berteman saat masih Newbie. Queen sendirilah yang membimbing Sancaka serta membantunya Leveling, namun hal yang tidak terduga terjadi. Sancaka malah tumbuh menjadi pemain dengan kekuatan yang begitu besar, membuatnya begitu susah untuk Queen raih.
Ia sempat menyerah karena tidak mampu bersaing dengan Sancaka, namun dengan berbagai kesulitan ia berhasil dan menjadikan Sancaka sebagai rivalnya.
"Kali ini Goblin, kah?. Aku kira akan Ogre atau Orc" Ucapnya lalu berdiri dengan kedua pedangnya yang telah di sarungkan
"Yah begitulah, kau tidak akan bisa menebak Monster Event" Balas Queen dengan nada yang begitu cuek, membuat Sancaka sedikit tersenyum masam
Setiap Athanor Online update, maka secara rutin akan terjadi invasi para monster atau nama kerennya Monster Event. Hal ini ditujukan untuk melihat seberapa besar perkembangan pemain, disisi lain Monster Event juga merupakan ajang untuk menaikan level serta hiburan untuk pemirsa televisi.
Monster Event juga cukup berpengaruh, karena di Monster Event inilah pemain-pemain dengan kualitas tinggi terlihat. Rata-rata pemain profesional pertama kali dikenal melalui Monster Event. Oleh karena itu, Monster Event merupakan ajang unjuk diri kemampuan masing-masing pemain.
"Jadi?, Cuman Red Garuda dan Edelweis?" Sancaka menanyakan dan hanya dibalas anggukan kecil oleh sang perempuan berambut ungu
Nafas lelah ia keluarkan sejenak, entah apa yang terjadi namun sepertinya itu membuat Sancaka sedikit emosi, tapi tak apalah menurutnya perang ini masih bisa ia kendalikan. Sancaka melirik kesamping, melihat Hercule dan Viqi yang juga sudah bersiap, membuat pemain berambut silver itu tersenyum kecil
Sementara itu, sang Jenderal Goblin menatap dengan penuh siasat pada beberapa manusia yang menurutnya sangat berbahaya, ia ingin memikirkan sebuah siasat namun sepertinya begitu sia-sia. Lahan perang kali ini adalah tanah tandus tanpa hutan, yang ada hanyalah hamparan luas yang tidak memungkinkan untuk melakukan serangan kejutan ataupun gerilya.
Dengan kata lain yang menentukan menang atau tidaknya adalah kemampuan individu dari mereka, yang berarti ini hanyalah Perang Murni. Namun itu tidak masalah, dengan jumlah rasnya yang mungkin dua kali lipat dari tentara lawannya, membuat ia percaya diri
Kuda yang ia tumpangi menggeliat keatas, pedang perak yang selama ini bersih pada sarungnya ia lepas dengan satu tarikan panjang. Ia menjunjung tinggi pedang peraknya yang menandakan perang akan segera dimulai
"Maju!" Ucapnya tentu dengan bahasa Goblin
Tak terhitung Goblin bergerak maju secara cepat, walaupun jarak diantara kedua kubu termasuk jauh tapi dengan kelincahan seorang Goblin maka itu bukanlah masalah. Dengan rahang yang terbuka lebar, serta gigi runcing yang tajam, mereka maju tanpa takut sedikitpun terlihat pada ekspresi mereka
"Oi semangat sekali mereka" Ucap Sancaka dengan membentuk kedua tangannya seperti teropong, jujur Queen tidak bisa cukup melihat Sancaka yang begitu kekanak-kanakan
__ADS_1
Sancaka melihat makhluk hijau memenuhi lahan kosong yang bergerak begitu cepat kearah pasukannya, namun tidak ada tanda-tanda dari pasukan manusia untuk maju. Tapi walaupun begitu mereka sudah sangat siap, terlihat mereka semua menyiapkan senjata serta kuda-kuda mereka sebagai tanda kesiapannya
Melihat itu Sancaka sedikit tersenyum. Namun secara tidak ia duga, seorang pemain dengan penampilan full armor hitam lengkap dengan helmnya menerjang masuk kearah gelombang Goblin sendirian
Layaknya dewa Ares, ia mempermainkan tombaknya dengan begitu menawan, tidak lebih tepatnya kejam!. Terlihat mata tombaknya menembus tenggorokan dan tubuh Goblin secara sadis.
Tidak puas, ia mengembalikan tombaknya dan mengambil pedang berbilah merah, ia menitikberatkan tenaga pada kakinya dan segera melakukan lompatan jauh. Tapi lompatan itu tidaklah bermaksud untuk kabur, ia malah melompat jauh kedalam kerumunan Goblin
Sancaka yang melihat itu sedikit kagum dan tersenyum tertarik. "Sepertinya akan ada seorang pemain berkualitas lahir kali ini." Pikirnya
Walaupun pemain dengan full armor hitam itu sudah maju sampai ketengah lautan musuh. Tapi Sancaka tidak melihat pasukannya berniat menyerang, membuatnya tersenyum masam. Sebenarnya tidak masalah kalau mereka menyerang sekarang sama seperti pemain dengan armor hitam itu, tapi sepertinya perintah memang begitu membelenggu
Tapi sebelum itu, Sancaka memegang tangan Queen secara tiba-tiba, jemarinya bisa merasakan bagaimana lembutnya tekstur.
"Aku akan melindungi mu Queen", Berharap akan dibalas dengan baik namun sayang, "Urus saja dirimu sendiri" Balasnya sambil mengenyahkan tangan Sancaka dan segera maju untuk berperang
Hercule serta Viqi yang melihat ketuanya ditolak hanya bisa menahan tawa.
'Wanita memang sulit untuk dimengerti...' Pikirnya
Sancaka sebenarnya tahu kalau Viqi dan Hercule sedang menertawakannya, namun ia memilih untuk diam saja. dengan helaan nafas panjang, Sancaka kemudian maju dengan kedua bilah pedangnya, karena yang paling penting disini adalah peperangan ini
Viqi kemudian mengisyaratkan untuk segera menyusul ketua mereka masing-masing, berbeda dengan Hercule yang maju bersama Sancaka. Viqi memilih untuk berdiri dibarisan belakang dengan membidik satu persatu Goblin yang menurutnya menghalangi jalan sang pemain berambut perak
Dan alhasil bentrok kedua belah pihak segera terjadi
_______________________
__ADS_1
Min chonghoran iwing! (Kita lebih kuat bersama!)