Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Lahirnya Gallag


__ADS_3

Diaz yang kini menjadi Zephys berdiri di pintu masuk dungeon Black Lair yang sudah menjadi tujuannya dari awal. Sebuah dungeon yang menurut informasi dari Raya yang berkemungkinan besar menyimpan sebuah pusaka milik Nakroth, entah apa itu bentuknya.


Berdiri didepan pintu dungeon yang penuh dengan tanaman rambat serta berbagai rerumputan yang begitu tinggi serta simbol bentuk lingkaran jelas terlihat,


___


Black Lair


Sebuah reruntuhan kuno yang dikuasai iblis jahat entah dari kapan tidak ada yang mengetahuinya


___


Penjelasan singkat dan minim informasi membuat Zephys sendiri cukup was-was ketika memutuskan untuk masuk, tidak ada informasi yang detail dari dungeon Black Lair, pemetaan yang baru sekitar 10%, serta berbagai jebakan yang begitu rumit membuat Zephys sedikit ragu


Namun kalau ia tidak melanjutkan atau memasuki dungeon ini, maka perkembangan misi ini akan sangat terhambat. Zephys hanya menghela nafas karena mau tidak mau ia harus memasuki dungeon yang minim akan informasi ini


Berbeda dengan sebelumnya, Zephys memulai dengan dua bilah merah dan biru untuk menjadi senjata utamanya. Zephys juga membawa begitu banyak Hp dan Energi Potion untuk berjaga-jaga, Zephys juga melakukan berbagai persiapan yang menurutnya berguna nanti,


"Oke... Semoga aku beruntung"


Sambil melemaskan otot jemarinya, Diaz melangkah masuk kedalam dungeon Black Lair


"{Anda memasuki Dungeon!}"


Sebuah suara anorganik terdengar begitu datar. Begitu pula dengan atmosfer yang berubah secara tiba-tiba layaknya siang dan malam. Aroma tidak mengenakan juga begitu menyengat, jujur Zephys mempunyai firasat yang kurang mengenakkan kali ini


"Kenapa bisa tiba-tiba berubah seperti ini?"


Sambil mempertanyakan pada dirinya sendiri, Zephys memutuskan untuk menghentikan langkahnya, dan memilih untuk mengobservasi untuk mengetahui sesuatu hal


Zephys menunduk dan memegang tanah atau lantai dungeon, tekstur kasar bebatuan dan pasir yang tebal terasa begitu nyata pada jemari tangannya. Zephys sedikit mengusap lantai dan ia melihat pola lantai berbentuk lingkaran di setiap tengah batuan yang tersusun rapi. Zephys juga sedikit mengetuk salah satu dinding untuk mendengarkan solid atau tidaknya sebuah ruangan


'Ini..'


Zephys cukup aneh dengan struktur yang bisa dibilang cukup penuh dengan rongga, Zephys bisa mengetahui ini dengan suara ketukan yang terdengar jauh lebih keras dari yang seharusnya, menandakan didepan pasti ada sesuatu hal


Diaz kembali melihat lantai dungeon dengan lebih teliti, menyadari ia mendapatkan sesuatu. Zephys mengambil salah satu batu berukuran kecil lalu melemparkannya ke lantai dungeon yang menurutnya cukup mencurigakan


Dan benar saja seakan pemicu telah diletuskan, puluhan anak panah muncul dari dalam tembok dungeon dan menghujani deras kearah lantai yang sebelumnya Zephys singgung.


"Baru masuk harus sudah ada jebakan yah?"


Zephys memang mendapatkan informasi kalau dungeon ini memiliki jebakan yang sangat banyak dan tersebar begitu merata diberbagai tempat dungeon, namun ia tidak menyangka kalau ada jebakan tepat didepan pintu masuk dungeon. Membuat Zephys sedikit mengeluh karena menyadari ini tidak akan semudah dengan apa yang ia lakukan di Blue Lair

__ADS_1


Zephys berjalan pelan, kedua bola matanya terfokus pada lantai dungeon sementara belati yang ada disalah satu tangannya dengan sengaja ia benturkan ke tembok dungeon. Hal ini untuk memastikan Diaz tidak terkena jebakan yang mungkin akan sangat merepotkan


Dungeon tempat yang begitu dingin dan gelap, tidak ada yang tahu apa didalamnya dan apa yang terjadi didalamnya. Tidak ada orang yang tahu terkecuali mereka yang layak dan pantas untuk menundukkan tempat dingin ini


Cahaya obor kemerahan berjejer begitu rapih seolah meredakan dingin serta gelapnya tempat ini. Cahaya obor memanjang dan mengecil pada jalan lorong yang lurus sekaligus sunyi, hanya bunyi ketukan belati yang terdengar dengan jelas. Walaupun begitu, Zephys masih dengan perlahan melanjutkan langkahnya


Berbagai jebakan terlihat begitu menyakitkan dengan kepiawaian ia berhasil menghindarinya. Hantaman kayu, hujanan anak panah, tombak tajam dari dalam tanah, semua berhasil Zephys tundukkan. Kemampuan membaca serta memahami struktur bunyi membuat Zephys berhasil dalam setiap percobaan


Langkah Zephys terlihat sedikit lebih cepat, tempo nafas serta detak jantungnya terdengar lebih baik dari sebelumnya. Menandakan ia telah beradaptasi dengan keadaan gelap, dingin serta berbahaya lorong ini.


Langkah Zephys terhenti dan tidak lagi membunyikan ketukan belati, matanya melihat sebuah sosok siluet berbadan cukup besar serta bercula dengan kapak di punggungnya, kulit hitam serta berbagai bintik merah darah tersebar secara merata pada bagian tubuhnya


"Minotaur? Tidak ini..."


Sempat beranggapan kalau siluet didepannya adalah monster banteng setengah manusia atau dikenal dengan Minotaur, namun pemikiran berubah ketika ia melihat siluet itu dengan jelas.


"Iblis yah.."


Ras paling gelap jauh lebih gelap dari kegelapan itu sendiri, ras yang gemar dan haus akan peperangan, pembantaian, serta berbagai tindak kejam lainnya. Reputasinya begitu hancur dan nyaris tidak ada dalam tatap mata di hampir semua ras


Layaknya diskriminasi ras lain yang begitu tinggi, ras iblis begitu ditinggalkan dan sangat terasingkan. Namun, hasrat perang dan haus akan darah sangat kental pada jiwa masing-masing mereka. Membuat mereka kuat, tidak terhentikan, dan membuatnya menjadi sosok ras yang diakui sebagai ras dengan kekuatan tempur yang besar


Dahulu kala paska kejadian perang besar butuh berbagai Fraksi serta berbagai Ras untuk benar-benar meredam kekuatan penuh dari ras iblis. Walaupun upaya mereka berhasil tapi banyaknya korban jiwa, membuat bendera kemenangan tidak lebih dari bendera biasa dan tidaklah berarti


Korban jiwa layaknya pegunungan mayat, berbagai ras kehilangan rumahnya, serta hancurnya ekonomi paska perang, benar-benar membuat dunia begitu terpuruk waktu itu. Zephys begitu paham, ingatan tentang tahap akhir Antharis Online masih terlihat begitu tajam. Tapi itu tidak masalah sekarang, karena jika iblis yang ditemui bukan didaerah Abyss maka itu tidak ada bedanya dengan monster mob biasa


Merasa ada yang aneh, namun itu telah terlambat. Tanpa ia sadari, sebuah belati berbilah merah menusuk dan menembus kulit dadanya, rasa sakit yang begitu kuat serta mengalir begitu deras membuatnya berteriak kesakitan. Tapi..


"Hushh..."


Mulutnya dibungkam oleh tangan seseorang, tangan yang tidak terlalu besar serta berwarna putih sedikit kecoklatan. Menyadari kalau itu adalah ras yang paling ia benci yaitu Manusia, dengan sekuat tenaga ia berontak. Namun, suara begitu lembut layaknya panggilan untuk tidur terdengar secara jelas bersamaan dengan itu ia menyadari kalau dirinya tak lagi bernyawa


"Assassinate memang sangat bernilai" Ucapnya sambil tersenyum puas


Ingatan Zephys tentang skill ini masihlah kuat, salah satu skill yang membuat dirinya begitu kuat pada levelnya. Zephys mengingat kembali masa saat ia baru bermain Athanor Online, mendapatkan bilah kembar dan beberapa skill yang hebat, jelas mengerti bagaimana beruntungnya Zephys ini


Mata Zephys berganti, menatap lurus kearah jalan yang ingin ia tempuh. Berbeda yang ia liat sebelumnya, Zephys melihat dua jalan bersebrangan disertai obor penerangan dimasing-masing jalan.


Zephys bukanlah orang yang polos serta sederhana, Zephys merendahkan tubuhnya dan segera mengobservasi kedua jalan yang bersebrangan itu, mulai dari ketukan sederhana, serta melihat tekstur lantai. Zephys juga mendapat simbol lingkaran disebelah kiri serta simbol segitiga disebelah kanan


Zephys sedikit memutar otaknya, berbagai konsekuensi ia pikirkan dari berbagai bukti atau informasi yang tersebar begitu rapih. Zephys mengangguk pelan dan memutuskan untuk melangkah masuk kedalam lorong sebelah kiri


"Ini akan jauh lebih menarik"

__ADS_1


***


Sementara disebuah sudut wilayah yang belum ada pemain jamah, sosok makhluk berukuran dua kali tubuh manusia tergeletak lemah disebuah wilayah bekas perang


Dengan hidung yang besarnya ia berusaha bernafas, dengan gigi yang runcing ingin sesuatu untuk ia kunyah, dengan berbagai kesulitan ia mencoba bertahan hidup, luka parah yang ia alami paska perang sudah tak ia rasakan kembali atau lebih tepatnya ia sudah tak lagi merasakan tubuhnya.


Ia menatap langit, bukan langit cerah nan biru yang selama ini ia agungkan namun langit hitam pekat yang ia lihat. Namun itu tidak masalah sekarang, entah itu langit biru atau hitam kenyataan kalau desa yang selama ini ia dibesarkan serta saudara yang selama ini selalu berbagi kasih telah binasa.


Ia tahu kalau sebentar lagi mungkin akan tidak bernyawa, nafasnya sudah pada titik yang berat, paru-parunya memompa tak lagi seperti biasanya, jantung yang selalu bersemangat kini semakin pudar. Tapi matanya masihlah hidup, tatapan benci serta keinginan untuk balas dendam terhadap apa yang mereka lakukan kepada saudara-saudaranya begitu terlihat dengan jelas


Tidak ada lagi rasa sakit paska perang, tidak ada lagi rasa belah kasih, tidak ada lagi kesedihan. Yang ada hanyalah amarah serta dendam terhadap mereka, Manusia


"Aku... butuh... kekuatan..."


Ia ingin sekali berteriak keras seraya menyebutkan keinginannya, namun kondisi tubuh seolah tak berpihak kepadanya. Ia tidak ingin mati sebelum mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Ia merapatkan gigi runcingnya dan berteriak dalam hatinya


'Aku mohon kepadamu Tuhan!, aku mohon kepadamu Dewa!, aku mohon kepadamu Lord Abyss!, aku mohon kepadamu Monarch!, aku mohon kepadamu Dunia!, aku mohon kepadamu siapapun yang mendengarku!. Aku butuh kekuatan untuk membalas perbuatan mereka!'


Ia berteriak keras, tapi ia tahu tak ada yang bisa mendengarnya. Semua makhluk yang berada pada rantai makanan teratas tidak akan pernah peduli tentang apa yang terjadi dibawah mereka, mereka menganggap rasnya Ogre hanyalah hewan ternak yang bisa mereka jual belikan untuk ajang bersenang-senang. Membuatnya begitu muak, namun ia tahu kalau rasnya hanyalah pecundang perang, membuatnya merasa harus menerima takdir sekeji apapun itu.


Namun setidaknya ia telah berusaha sebisa ia bisa walaupun pada akhirnya hanya pahit yang ia terima. Mata kehidupan terasa sudah sangat pudar, tarikan nafas panjang yang sepertinya untuk terakhir kali ia hembuskan, baik paru-paru serta jantungnya tak lagi memiliki daya seperti sebelumnya. Ia mengerti hal apa yang ia tunggu selepas ini


Namun


"Kau butuh kekuatan?"


Nada lembut terdengar begitu indah ditelinga runcingnya, ia berusaha menoleh namun lagi-lagi tubuhnya tidak menuruti keinginannya. Suara kepakan sayap terdengar begitu sayu dan senyap


Ia melihat siluet bersayap yang terbang diatasnya, bak dewi yang turun dari khayangan ia mendarat secara perlahan dengan ujung jari kakinya. Sayap berwarna putih bersih, kulit indah namun pucat, bola mata berwarna hitam, wajah yang begitu cantik, serta suara indah nan menawan membuatnya lebih pantas disebut Dewi daripada Iblis


Iblis wanita itu tersenyum anggun kepada Ogre yang terkapar lemah, ia senang karena akhirnya ada seseorang yang mendengarkan permohonan yang selama ini ia keluarkan


"Iya... aku... butuh... kekuatan..."


Iblis wanita itu kembali tersenyum anggun karena mendapat sesuatu yang menarik, ia memang tidak bermaksud untuk menyelamatkannya namun karena tatap matanya yang terpenuhi dengan dendam serta amarah, membuat ia merasa melihat dirinya masa lalu yang juga bernasib malang seperti apa yang dialami Ogre ini


Tangan kanan iblis wanita itu menyentuh kulit dada Ogre, cahaya ungu gelap terpancar masuk kedalam tubuh sang Ogre, luka parah yang terbesit ditubuhnya kembali memulih, tenaga miliknya terasa jauh lebih panas namun ia bisa merasakan kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya begitu deras, aura berwarna ungu terlihat disekitar tubuh sang Ogre dan kemudian menghilang secara perlahan. Menandakan kalau ini telah selesai


"Siapa namamu?" Ucapnya masih dengan begitu anggun namun sedikit ada penekanan, seolah-olah berkata kalau Ogre ini telah menjadi bawahannya


Walaupun ia tahu kalau ia harus tunduk kepadanya namun itu adalah hal yang tidak perlu ia khawatirkan, selama ada kekuatan maka keinginan balas dendamnya akan segera terwujud


"Namaku Gallag"

__ADS_1


_______________________


Zhamban ing-zhochonnga vonna!.


__ADS_2