
Disebuah wilayah dengan penuh keseimbangan abadi, dimana energi magis secara alami berkumpul pada pusat kehidupan. Sebuah wilayah yang terkenal dengan ahli beladiri serta kaya akan kemampuan serta ajaran yang unik.
First Land of Lonia
Sebuah daratan penuh akan kekuatan, dihuni oleh banyak ras yang masing-masing dari mereka memiliki banyak kemampuan yang berbeda. Berbatasan langsung dengan wilayah fraksi Terra, Lonia memiliki cukup banyak cadangan energi dari sang pohon dunia, Yggdrasil.
Namun, dibalik keseimbangan itu. Terdapat sebuah wilayah yang sangat terkenal akan kekejaman, kerusuhan, serta mencerminkan kemusnahan itu sendiri. Kerajaan Trixter, semenjak dikudeta oleh pihak militer kini mereka sangat berbeda. Kejam dan bengis, mereka akan selalu berperang demi memperluas negara mereka. Dan Lonia merupakan salah satu incaran mereka.
Walaupun begitu, kekaisaran Azeroth benar-benar berjuang untuk meredam gempuran prajurit Trixter. Karena bagaimanapun juga hanya mereka yang benar-benar mampu berdiri seimbang dengan kerajaan Trixter, itupun kekaisaran Azeroth harus meminta bantuan dari berbagai pihak dari Lonia, tentunya untuk benar-benar meredam gempuran prajurit Trixter.
Disebuah wilayah bagian di Lonia, terlihat dengan jelas bendera dari kemegahannya kerajaan Trixter. Menandakan bahwa wilayah itu telah berhasil direbut oleh kerajaan Trixter. Terlihat anak-anak yang seharusnya bermain dengan kawan sebaya. Namun pemandangan ini jauh dari kata nyaman.
“Gerakan kaki dan tangan kalian!.” Ujar Pria garang itu.
Dia adalah Boram, sosok yang berhasil menguasai wilayah ini. Dia begitu kejam, membunuh siapapun, bagaimanapun, dan entah apapun caranya. Kecuali anak-anak.
Boram menajamkan seuntai pecut panjang, dengan sebuah ayunan kuat mengenai sosok anak kecil berumur tak lebih dari belasan tahun. “Bergeraklah!.” Ujarnya bengis, berbanding terbalik dengan anak kecil itu yang nampak tak lagi bisa bertahan.
Anak kecil itu jatuh kebawah dengan berbagai luka lebam serta sayat dari pecut panjang miliknya. Boram menatap anak kecil itu dengan dingin. “Cih, buang dia jangan biarkan menggangu latihan bocah yang lain.” Ujarnya
Sementara bawahan Boram segera menyingkirkan anak malang itu, salah satu anak yang tak jauh dari barisannya melihatnya dengan iba. Namun, anak itu mengalihkan pandangannya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Boram berhasil menaklukkan wilayah ini, menyapu bersih semua orang disini, baik pria, wanita, bahkan mereka yang tua sekalipun. Boram hanya menyisakan anak laki-laki untuk ia jadikan anak emas, tentunya untuk perang demi kemenangan kerajaan Trixter.
Kerajaan memerintahkannya untuk membuat sebuah karya perang sejati. Benar, sosok manusia tanpa belas kasih dan hanya bergantung pada insting berburu. Untuk membuat sosok seperti itu, haruslah dimulai dari awal. Dan anak kecil adalah perantara.
Boram memaksa tubuh rapuh mereka untuk mengayunkan pedang. Dan Kayn, adalah salah satunya.
“Kayn.”
Anak laki-laki itu menoleh ketika namanya dipanggil, seorang anak yang tak lebih tua darinya memanggil dengan nada yang cukup ceria. Walaupun sebenarnya disekitar mereka cukuplah kelam. Saat ini sesi istirahat jadi mereka memiliki waktu senggang walau tak banyak.
Kayn tersenyum.
“Nakuri, ada apa?."
Nakuri, satu-satunya sahabat atau seseorang yang paling dekat dengan Kayn. Dia merupakan teman masa kecil dimana keduanya sangatlah dekat, walaupun kejadian orang tua mereka berdua cukup menyedihkan.
Nakuri merangkul pundak sahabatnya, walaupun Kayn memiliki sifat yang dingin namun ia masihlah hangat pada mereka yang ia dekat. Nakuri merangkulnya namun tatapan ceria tak lagi terlihat. Ia menatap kedepan melihat kawan sebayanya yang mulai sekarat.
“Menurutmu apa yang terjadi pada kita?.” Ujar Nakuri
Kayn diam tak bisa menjawab apapun. Ia tahu ini adalah sebuah permainan bertahan hidup dimana yang berhasil atau lolos akan selamat. Tentunya dengan sebuah rantai yang mengikat leher mereka yang selamat. Kayn tahu ini tidaklah mudah.
Sudah banyak rekan sebayanya yang juga telah tiada. Walaupun berusia tak lebih dari tiga belas tahun, tapi tetap perlakuan Boram terhadap rekannya sangatlah kejam.
Kayn sendiri adalah sosok yang sangat berbakat dalam ilmu beladiri. Disaat Nakuri dan kawan sebayanya menguasai tombak dan pedang, Kayn menguasai semua itu. Ia pandai berbagai senjata baik senjata jarak jauh maupun dekat. Kayn ditakdirkan untuk sesuatu yang besar, ia merupakan anak yang jenius dilihat dari berbagai sudut pandang.
Namun hawa keberadaannya sangatlah kecil, membuatnya sangat sulit untuk diketahui. Dan akan menjadi senjatanya. Entah seberapa menakutkan dia dimasa depan.
“Tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja.” Ujar Kayn tersenyum.
“Aku tau kau pasti bicara begitu.” Nakuri hanya bisa menghela nafasnya.
Nakuri kembali menatap kedepan, wajah kesakitan serta ketakutan jelas terlihat diantara karib mereka. Namun, perasaan bertahan hidup jauh lebih besar. Itulah sebabnya mereka memutus tali pertemanan dan memulai untuk berdiri sendiri. Hanya agar bisa bertahan hidup. Nakuri tahu perasaan seperti pertemanan akan sangat merugikan dalam hal ini.
Walaupun begitu, Kayn adalah sahabatnya.
“Hei..” Ujar Kayn membuyarkan lamunan sahabatnya.
Nakuri masih melihat kedepan, namun secara perlahan menoleh kearah sahabatnya. Raut wajah serius serta tatapan tabah jelas terlihat, begitu pula mulutnya yang bergetar. Kayn hanya diam, mengerti ini ada sesuatu yang jauh lebih penting dari apapun diantara mereka.
“Kau tahu Kayn, diantara kita semua. Hanya satu yang selamat.”
Kayn hanya terdiam, menyadari bahwa ini adalah sebuah pernyataan yang buruk. Nakuri melepaskan rangkulannya dan berjalan pergi.
“Jangan terjebak didalam tali persaudaraan.” Ujar Nakuri.
Kayn menatapnya dari jauh, menggenggam erat pergelangan tangannya. Ia tahu saat dimana dirinya dan Nakuri akan menjadi seperti ini. Dan Kayn bimbang akan hal ini.
***
Keesokan harinya, seluruh anak-anak baik Kayn dan Nakuri dikumpulkan disebuah sawah yang penuh akan lumpur. Boram berdiri disebuah tempat tinggi, berbeda dengan pecut panjang yang selalu ia bawa, kini pedang berdarah yang telah membantai semua yang hidup jelas terlihat indah di pinggangnya.
“Semuanya sudah terkumpul.” Ujar salah satu prajurit dan dibalas dengan anggukan ringan.
Kayn menatap Boram dengan tatapan kurang mengenakkan. Rasa ingin melakukan berbagai hal mengerikan merasuk disemua pikirannya. Ia merupakan mimpi buruk bagi semua anak disini, membunuh orang tua mereka, merebut semua yang berharga bagi mereka. Bahkan hak mereka untuk hidup dan kebebasan itu sendiri.
__ADS_1
Mungkin, ia akan menjadi sebuah trauma ketika mereka dewasa. Itupun kalau mereka bisa bertahan hidup.
Kayn mengalihkan pandangannya kearah Nakuri yang berdiri cukup jauh darinya. Tatapan serius serta wajah penuh fokus jelas terlihat, Nakuri menoleh ketika ada seseorang yang memperhatikannya. Mereka bertemu dalam kejauhan, tampak rasa dingin dari Nakuri membuat Kayn sedikit tidak enak.
Nakuri kembali menatap kedepan, meninggalkan Kayn yang penuh akan tanda tanya.
‘Apa maksudnya ini..’ Batin Kayn
Nakuri sangatlah ceria, dalam kondisi apapun ia nampak begitu ceria. Namun, tatapan dinginnya membuat perasaan Kayn tidak enak. Ia memiliki jawaban akan hal ini, namun ia tidak berharap akan jawaban itu. Ia bahkan tidak menginginkan jawabannya benar. Mengeratkan genggamannya memutuskan untuk bertahan hidup apapun yang terjadi.
“Semuanya!.” Peking tinggi Boram menajam, membuatnya menjadi perhatian bagi mereka. Boram menunjukan kesebuah tempat yang tak jauh dari sawah berlumpur itu.
Sebuah tempat dimana berbagai perlengkapan perang tersedia dengan rapih, rompi armor berat maupun ringan, pedang, busur, serta tombak tersusun rapih.
“Pakailah perlengkapan itu sebanyak dan sesukamu. Dan setelah itu cepat kembali ke sawah.”
Anak-anak lain dan Nakuri segera ketempat itu memilih berbagai perlengkapan perang mereka. Pedang maupun tombak, baja berat maupun ringan. Nakuri memilih sebuah pedang panjang dan besar, Nodachi namanya. Sebuah pedang dengan satu bilah tajam, sangat cocok untuk menjaga jarak serta menyerang.
Sementara anak-anak lain sibuk memilih. Kayn diam disawah berlumpur itu. Ia melirik kesamping, melihat sebuah sabit petani yang cukup besar. Ia pun mengambilnya, mengayunkan sabit itu sedikit. Dan tersenyum setelahnya.
Setelah semuanya selesai, mereka pun kembali ke sawah itu. Boram tersenyum puas.
“Ini akan menjadi pelatihan terakhir kalian semuanya, ketika pelatihan ini selesai kalian akan bebas.” Ujar keras Boram.
Mendengar itu membuat semua anak-anak itu melihat harapan. Kebebasan adalah hal mutlak setiap orang bahkan ketika masih dalam kandungan. Namun didesa ini, Boram mengutuk itu. Ketika semuanya seakan gelap kini mulai ada secercah cahaya kebebasan. Itulah yang mereka semua pikirkan.
“Tugas kalian sederhana-”, Ujar Boram yang nampak terpotong membuat anak-anak lain begitu tak sabar. Mereka haus akan kebebasan, dan Kayn mengetahui dan menginginkan hal itu. “Bunuh semuanya dan jadilah yang terakhir!.” Ujar Boram dengan senyumnya yang lebar.
Mereka diam membeku, seakan terguncang oleh harapan yang mereka tunggu, sebuah mahakarya perang harus membuang semuanya bahkan emosi itu sendiri. Dan Boram menginginkan emosi itu tidak ada. Memutuskan sebuah tali persaudaraan serta perasaan akrabnya sebuah pertemanan. Adalah hal yang mendasar.
“Apa yang kau lakukan!, Aku kakakmu..” Ujar seorang anak laki-laki yang perlahan jatuh dengan perut yang tertancap sebuah pedang. “Maaf kak, aku hanya ingin hidup.” Ujar sang adik.
Layaknya sebuah pemantik api. Kejadian itu membuat sebuah alasan mengapa mereka harus bertarung. Satu persatu mereka saling melirik, bukan mencari teman melainkan lawan itu sendiri. Tak lama dari itu, sebuah benturan logam terdengar dari berbagai sumber.
Tubuh, darah, senjata, dan kemanusiaan itu sendiri jatuh pada tanah berlumpur ini dengan sebuah iringan dari jeritan rasa sakit. Kayn menatap mereka dengan ironis. Ia melirik kearah jauh. Melihat Nakuri dengan pedang Nodachi yang penuh akan darah.
Nakuri menyadari itu, Nodachi panjang ia tebaskan kearah anak lain yang lengah. Memotong bagian dari mereka secara rapih, ia bergerak maju dan setiap tebasan dari Nodachi miliknya selalu memakan korban. Anak-anak lain mencoba mengeroyoknya namun dengan satu tebasan serta jarak yang jauh membuatnya menjadi pemenang.
Kelihaiannya menjadi daya tarik Boram dan para prajuritnya. Boram tersenyum melihat sebuah mahakarya yang akan menjadi lebih sempurna. Kayn melihat sahabatnya itu, ia menggenggam erat sabit petani.
“Jadi ini..”
***
Tak butuh waktu lama, 20 menit semuanya seakan tak tersisa. Mayat anak kecil tak lebih dari belasan tahun itu tergelak. Tubuh serta organ mereka berceceran dimana-mana. Mewarnai lumpur ini menjadi merah, beserta mmbubui lahan ini dengan bau amis yang tak tertahankan.
Diantara itu hanya ada dua anak yang berdiri. Kayn berdiri menatap kearah sahabatnya, Nakuri. Wajahnya penuh akan cipratan darah, begitu juga dengan Nodachi yang ia pakai yang terlukis warna merah yang kental.
Diantara mereka Nakuri lah yang banyak memakan korban. Tapi tetap Kayn bukanlah sosok yang lemah.
“Kau bermandikan darah, Nakuri.” Ujar Kayn sedikit memulai pembicaraan tak seperti biasanya, Nakuri membalasnya dingin.
“Semua orang memang terlihat lebih baik dengan warna merah.”
Nakuri menyiapkan Nodachi, dengan langkah yang pasti ia menebas Kayn. Tapi sayang sebuah logam menghentikan laju tebasan itu. Kayn melihat tatap mata sahabatnya, sebuah perasaan sayang yang kalah dengan sebuah keinginan untuk bebas. Kayn tahu pasti, karena Nakuri adalah sosok terdekatnya.
Kayn menghempas Nodachi milik Nakuri. Membuatnya kehilangan keseimbangan ditanah yang berlumpur, ia jatuh setengah badan. Kayn bergerak gesit diatas tanah berlumpur, melayangkan berbagai serangan dengan sudut yang tajam dari sabitnya.
Nakuri menghindari serangkaian serangan itu, walaupun tanah berlumpur ini sangatlah sulit untuk menjaga keseimbangan. Namun dengan gerakan yang halus, Nakuri melompat kebelakang untuk menjaga jarak.
Kayn kembali memotong jarak, namun sebelum itu sebuah tusukan horizontal dengan cepat mengincar perutnya. Kayn segera menahannya dengan sabitnya. Nodachi adalah senjata yang digunakan dalam pertempuran, memiliki keuntungan dalam jarak menengah. Menjaga jarak adalah kunci sebuah kemenangan bagi pengguna Nodachi.
“Aku tak ingin melukaimu, Nakuri!.”
“Buktikan kalau ucapanmu benar!.”
Nakuri kembali melesat, suara benturan logam sangat menarik ditelinga Boram. Ia melihat dari kejauhan seorang anak sedang menari diatas tanah yang tak stabil. Mereka sangat memiliki potensi yang jauh lebih gila dari yang pernah dibayangkan olehnya.
Boram tersenyum, tak sabar melihat siapa pemenang dari pertarungan ini. Ia sangat berharap pemenang dari pertarungan ini akan menjadi jalan untuk kerajaannya. Sebuah mesin pembunuh dimedan perang. Dan Boram memiliki bagian kecil dari mesin itu, mereka berdua masihlah berlian yang kasar. Namun dengan sedikit polesan, mereka akan menjadi mimpi buruk itu sendiri.
“Matilah, Kayn!."
Nakuri melayangkan rentetan tebasan, namun dengan kelincahan milik Kayn, mampu membuatnya menghindari semua rangkaian tebasan.
Kayn mengayunkan sabitnya, namun serangannya dipenuhi oleh sebuah perasaan keraguan. Nakuri tersenyum, rencananya seolah akan berjalan sukses saat Kayn ragu. Nakuri tahu kalau Kayn sangatlah menyayanginya, karena Kayn menganggap nya sebagai saudara. Itulah yang membuat Kayn ragu, rasa pertemanan atau persaudaraan sangatlah mengganggu dalam pertarungan ini.
Ketika keraguan Kayn merasuk, sebuah perkataan Nakuri terdengar dipikirannya. ‘Jangan terjebak didalam tali pertemanan.’
__ADS_1
Mendengarnya membuat Kayn kembali fokus, dan di saat itu, dia memutuskan untuk mengerahkan segala kemampuannya.
Dengan pedang di sabitnya, Kayn menyerang Nakuri tanpa ada keraguan pada serangannya. Kali ini Nakuri lah yang terkejut, namun dia tak punya pilihan selain meneruskan rencana. Serangan Nakuri semakin terasa tajam dan berbahaya seraya dia menantang Kayn.
Duel itu berakhir saat keduanya melancarkan satu serangan terakhir. Kayn menancapkan sabitnya di dada Nakuri, namun bilah senjata Nakuri berhenti di saat-saat terakhir, nyaris menusuk tenggorokan Kayn. Saat itu Kayn menyadari ada sesuatu yang salah.
“Mengapa?.” Kayn kebingungan.
“Aku tak punya siapa-siapa selain kau. Setidaknya tetaplah hidup-…" Nakuri terjatuh dengan nafasnya yang tidak kembali pulih. Darah merah mewarnai lumpur ini, menjadikannya lebih mengerikan.
Sementara itu Kayn diam membisu, namun tepukan tangan Boram terdengar beserta suara kerasnya terdengar nyaring.
“Menakjubkan, kau akan menjadi bintang perang kerajaan ku. Dan aku akan mendapatkan hadiah dari sang raja!.” Ujar Boram disertai dengan tawanya.
Namun Kayn masihlah membisu. Ia menatap tubuh sahabatnya yang tak bernyawa. Dari tangannya muncul sebuah asap hitam disertai dengan kegelapan yang kental. Kegelapan itu menyelimuti tubuh Kayn secara merata. Ini adalah sihir.
Kayn menyembunyikan kekuatan ini, dari siapapun. Hujan turun begitu deras menyapu warna merah dari lumpur secara perlahan. Disertai itu Kayn menghilang dari semua pandangan dari prajurit Boram.
“Kemana dia?.”
Disaat prajurit itu mencari Kayn, sebuah sosok terselimuti bayang keluar secara perlahan dibelakangnya. Dengan sabit besar ia pegang, dan seterusnya hanya terdengar sebuah jeritan.
Boram segera menengok kearah jeritan itu, melihat mayat prajuritnya yang terkena luka dalam. Menyadari itu Boram segera menarik pedangnya, dan segera menyuruh prajuritnya agar waspada.
“Kalian semua segera bersiap!.”
Namun para prajurit hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun. Membuat Boram kebingungan, tapi dalam waktu bersamaan mereka semua jatuh ketanah dengan luka yang sama.
“Mereka... Mati?.." Ujarnya tak percaya.
Saat kenyataan sudah menjalar, saat ketakutan sudah merasuki, dan saat karma sudah menuai, maka mimpi buruk dari salah mereka yang menjadi korban akan sangat menyakitkan.
Disaat kacaunya pikiran Boram, sosok anak laki-laki yang tak lebih dari belasan tahun, merayap dibelakangnya. Tubuh mungilnya dilapisi oleh kegelapan sejati, ia tidak diketahui. Sebuah sabit memotong tangan milik Boram tanpa ia sadari.
“Argh!.”
Boram jatuh berlutut, menahan rasa sakitnya. Melihat kearah belakang namun ia tidak melihat siapapun. Kejanggalan semakin menjadi, namun sebuah bilah menusuknya dari arah lain.
Boram tak bisa beraksi, ia jatuh tersungkur dengan lubang pada perutnya. Walaupun tidak mengenai organ vitalnya namun tetap ini sangat menyakitkan. Boram berniat berdiri namun tubuhnya tertahan oleh kaki kecil sang pelaku.
“Aku pikir kau begitu kuat, sehingga aku harus menyusun rencana ini begitu matang. Jikalau aku tahu, kau selemah ini!. Maka dari awal aku harus membunuhmu!." Ujar Kayn penuh dengan amarah, sabitnya kembali menukik kebawah memotong lengan yang lain.
‘Benar, jika aku melakukannya lebih awal. Maka Nakuri bisa tetap hidup.’
Kayn tidak bisa lagi menyalahkan dirinya atas kematian sahabatnya Nakuri. Namun nasi telah menjadi bubur, dan kenyataan bukanlah mesin waktu. Ia menatap dingin kebawah, melihat Boram layaknya seekor belatung.
“Kau menginginkan mahakarya perang bukan?, Selamat kau berhasil.”
Sabit jatuh kebawah, beserta nyawa yang ia ambil.
Anak itu telah tiada, yang ada hanya seorang pembunuh.
***
Setelah kabar hancurnya desa Provance menyebar diseluruh ibu kota. BloodFlag ditugaskan untuk mengecek tempat desa tersebut, desa yang indah dan asri berganti rupa menjadi desa dengan genangan darah serta mayat yang bergelimpangan diseluruh sudut kota
Setiba di tempat mengerikan itu. Pemimpin mereka, Nakroth, mengetahui area ini tak memiliki kekuatan tempur yang cukup serta tidak mengerti manfaat dari segi taktik, yang pada akhirnya hanyalah pembantaian sepihak. Pembantaian ini ditujukan sebagai sebuah pesan. Sepertinya kerajaan musuh tak menunjukkan pengampunan disini.
Sebuah pantulan cahaya dari baja menarik perhatiannya. Seorang anak yang berumur tak lebih dari tiga belas tahun berdiri di lumpur yang disekelilingnya hanya ada mayat prajurit, ia mengangkat sabit berkaratnya kearah sang jenderal, tangan serta sabit berkaratnya dipenuhi darah.
Mata anak laki-laki ini menatap sang jenderal dengan haus darah, mata anak laki-laki ini juga menyimpan rasa sakit yang melebihi umurnya. Tapi matanya masih belum mati dan masih menunjukkan rasa amarah yang besar serta memiliki dendam yang sangat pekat.
Sang jenderal tersenyum tertarik lalu mengulurkan tangannya dan menyambut Kayn ke dalam BloodFlag.
***
Zephys terbangun dengan nafasnya yang terengah-engah. Ia memegang kepalanya yang nampak sedikit pusing. Hingga pada akhirnya sebuah jendela digital keluar didepan matanya.
“{Ekstraksi ingatan dari Kayn berhasil, Selamat anda mendapatkan Special Class : Shadow Reaper}.”
Zephys tersenyum, ingatan yang tadi ia lihat sangatlah menarik. Namun, tatapan matanya melihat dibalik semak disekitarnya. Puluhan goblin mengerumuninya layaknya semut. Zephys tersenyum kecil.
“Micah.”
Sosok pria berkulit pucat keluar dari bayangan Zephys, pria itu bertekuk lutut disampingnya layaknya menunggu sebuah perintah. Zephys menepuk kepala Micah beserta dengan senyum percaya diri
“Waktunya leveling.”
__ADS_1
________________________
Trivia : Kayn merupakan satu-satunya murid Nakroth.