
Kilatan cahaya merah menghantam tubuh penuh zirah es milik sang Cerberus. Pukulan demi pukulan Zephys lancarkan, namun es tebal dengan mudahnya meredam setiap gempuran yang Zephys lancarkan. Memang Zephys tahu ini akan terjadi, tapi ia tidak menyangka akan seburuk ini
Zephys melompat mundur mengerti kalau serangannya serasa sia-sia.
"Zirah es itu sungguh merepotkan!"
Zephys tidak henti-hentinya mengeluh tentang hal ini. Setiap serangan, baik itu belati atau pukulannya, sama sekali tidak berbekas. Selain perbedaan level diantara mereka yang tinggi, daya tahan diantara mereka berdua juga tidak berimbang. Zephys harus mengeluarkan kekuatan penuhnya untuk setidaknya mengurangi Hp Cerberus sekitar 10%
Zephys menarik nafasnya dalam, mata Zephys menatap kosong kearah Cerberus. Tapi bukan tatapan kosong seperti biasa, melainkan tatapan kosong penuh siasat. Zephys menajamkan fokus pada kondisi yang lebih ekstrim, ia sudah memikirkan berbagai hal dan ia juga telah melakukan yang terbaik. Menang atau kalah, itu adalah hasil murni
Biru yang melihat aura Zephys yang mendadak berubah, ia mundur beberapa langkah. Entah apa yang terjadi, tapi yang pasti insting murninya mengatakan sosok manusia didepannya merupakan sosok yang berbahaya
'Fokus yang luar biasa'
Mata tajamnya menatap cukup dalam sosok manusia didepannya. Benci rasanya, namun fakta tentang fokusnya yang ekstrim cukup membuatnya bergetar.
Bertumpu pada ujung kaki, Zephys melesat jauh lebih dari biasa. Membuat Biru sedikit terkejut dengan penambahan kecepatan yang tiba-tiba. Tidak ingin berdiam diri. Dengan perintah biru, puluhan tombak es muncul dari dalam tanah mencoba merobek tubuh Zephys
Tapi dengan kecepatan gerak yang sekarang bukan masalah yang besar bagi Zephys. Ia melesat kearah Biru dengan kepalan tinju yang berat, tapi sebelum itu terjadi. Sebuah tombak panjang datang dari bawah kaki Zephys dan menghantam perut Zephys
Tombak itu menusuk Zephys secara dalam. Sang Cerberus yang melihat itu tersenyum puas. Tapi sepenuhnya menghilang ketika ia melihat secara lebih detail lagi, mata tombak esnya bukanlah menusuk perut Zephys melainkan menusuk bilah biru miliknya
"Hampir saja.." Ucap Zephys sambil terengah-engah
Dengan bilah birunya Zephys melompat ke udara. Zephys membidik kearah mata Biru, dan dengan bidikan yang tepat Zephys melempar bilah birunya. Melesat begitu cepat dan menusuk dalam mata Biru
"GROAA!"
Biru berteriak keras, luka pada matanya cukup membuatnya tersentak. Zephys yang masih berada di udara melesat ke bawah dengan kaki kanan yang ia angkat keatas secara sejajar
"Axe!"
Zephys turun kebawah dengan salah satu jurus beladiri yang telah ia pelajari. Kaki kanan Zephys menghantam kepala Cerberus dengan berat. Tidak berniat berhenti begitu saja, Zephys berakselerasi pada kedua tangannya. Ia kemudian menumpuk energi pada kaki kanannya, dan dengan momentum yang masih ia pegang.
'Aku akan akhiri ini dengan cepat, sebelum aku mencapai batasnya' Batin Zephys. Ia tahu Mode F yang ia pakai sudah pada batasnya apalagi fokus yang ia gunakan sudah pada titik yang paling ekstrim
Zephys menendang dagu Biru dengan keras. Rasa dingin zirah es begitu terasa, namun walaupun begitu Zephys tidak berniat berhenti. Untuk sekali lagi Zephys menumpuk energi pada kaki kanannya, tapi kali ini jauh lebih besar
"Acrobatic Art Series!"
Tidak tinggal diam, Biru melayangkan kuku tajamnya. Seraya kuku tajam dari samping, tapi tendangan bertenaga Zephys jauh lebih cepat.
"Series One : Enrage!"
Sebuah tendangan keras mengenai dagu Cerberus. Benturan keras antara kaki Zephys dan zirah es milik Cerberus terdengar begitu keras. Tapi yang pasti dampak tendangan Zephys mampu membuat tubuh Cerberus melayang diudara
Melihat kesempatan emas, Zephys kemudian melompat ke atas dan mengambil rantai-rantai yang menjulai besar pada atap ruangan. Zephys dengan susah payah melemparkan rantai besar kearah leher Biru. Setelah dirasa telah mengikat kuat pada leher Biru. Zephys memutuskan untuk mengakhiri semua ini
__ADS_1
"Matilah kau serigala imut!"
Dengan sedikit kalimat satir dan segenap kekuatannya, Zephys membanting tubuh besar Cerberus kebawah. Tapi ia bukan membantingnya ke sembarang tempat, tetapi ia membantingnya ketempat dimana tombak es yang hampir merenggut nyawanya
*Jleb
*GROAA!!"
Teriakan keras jelas keluar dari mulut Biru. Rasa sakit begitu berasa pada perutnya, ia melihat kebawah dan melihat dirinya tertusuk oleh tombak es panjang yang seharusnya merobek perut Zephys
Darah merah mewarnai birunya es. Darah kotor keluar dari mulut tajamnya, ia mencoba keluar dari tombak es, namun yang menunggunya hanya rasa sakit dan perih yang begitu amat terasa. Ia melihat kedepan dan menemukan sosok manusia yang sedang tersenyum picik
Mata benci memekik tajam. Kalau saja rantai yang mengekang kebebasannya tidak ada, maka sudah dari tadi manusia didepannya mati. Mengerti akan tatapan biru, membuat Zephys tertawa kecil
Ia kemudian mengeluarkan bola emas dari penyimpanannya. Sang Elemental Cerberus yang paham akan situasi ini, dengan cepat pergi. Namun tombak es yang menusuk tubuhnya seakan menolak keinginannya. Zephys kemudian mengarahkan bola emas itu kedepan wajah Cerberus.
"Maaf tapi-", Zephys cukup menikmati ekspresi wajah dari Biru, sambil tersenyum picik ia melanjutkan. "Otak melawan otot, serigala imut."
***
Ditempat yang belum diketahui secara pasti, sesosok manusia berjalan dengan tenang ditengah cahaya remang-remang bulan dan diantara pohon-pohon yang tinggi. Mata birunya melirik kesetiap arah melihat serta waspada dengan keadaan lingkungan yang belum ia ketahui
Langkah kakinya terlihat pelan namun suara yang ditimbulkan serasa jauh lebih keras dari yang seharusnya. Cukup membingungkan bahkan untuk dirinya sendiri. Angin kencang tiba-tiba menghantam tubuhnya, membuat topi jingga kesukaannya terjatuh
Rambut pirang serta mata birunya terlihat begitu indah, dan kulitnya yang putih layaknya batu pualam merupakan perawakan khas miliknya. Ia memungut topi jingga kesukaannya dan memasangnya dengan benar kali ini
Pepohonan yang menjulang tinggi, malam yang begitu dingin nan gelap, serta cahaya bulan yang tidak bisa menembus dedaunan lebat, membuat keadaan semakin buruk. Namun, langkah kakinya terus maju untuk melangkah jauh lebih dalam kearah kegelapan itu sendiri
Ia mencabut pedang dari sarung yang terletak pada punggungnya. Senyuman kecil terlihat melengkung diwajah rupawan miliknya. Bukan tanpa alasan, tapi ia merasakan ada sesuatu yang sedang mengintainya
Dan benar saja, sepuluh iblis dalam berbagai bentuk mengepungnya. Walaupun begitu, rasa khawatir serta ketakutan tidak terlihat pada wajahnya. Iblis disekelilingnya bukanlah iblis yang lemah oleh karena itu, ia tidak akan menahan diri lagi
Ia memasukan energi panas pada pedang peraknya, sebuah api merah terlihat begitu ganas menempel pada bilah perak yang indah. Api merah itu tidak melelehkan bilah peraknya, tapi justru memperkuatnya
Sepuluh iblis yang mengepungnya secara cepat bergerak kearahnya. Tapi seakan percuma, karena gelombang tebasan api menghantam tubuh mereka dan membuatnya hangus terbakar secara perlahan. Jeritan mereka terdengar menggema disetiap sudut hutan
Tapi ia tidak terlalu peduli, ia menyarungkan bilah perak dan kembali melanjutkan langkahnya. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus ia temukan didalam hutan yang gelap ini. Sesuatu yang mampu membuatnya tidak terkalahkan dan setidaknya bisa berdiri seimbang dengan seseorang yang ia tahu
Ia terus berjalan semakin dalam dan dalam membuat cahaya bulan tidak lagi nampak. Ia mengambil obor dan menyalakannya dengan bilah perak yang diselimuti api merah miliknya. Walaupun dengan cahaya obor tapi tetap saja kegelapan ini bukanlah kegelapan biasa
Setelah ia berjalan cukup lama, ia menabrak sesuatu yang bahkan tidak bisa ia lihat. Ia sedikit tersentak, ia kemudian melangkah lebih dalam tapi sesuatu menghalanginya. Tangan kanannya mencoba masuk namun percuma
"Dinding tidak terlihat, kah?."
Ia memang sempat tersentak namun ia tidak terkejut dengan hal ini. Ia kemudian mengambil pedang berbilah perak miliknya, ia membenturkan pedang peraknya kearah dinding tidak terlihat
Tiada bukti namun yang pasti, secara perlahan dinding yang menghalanginya menghilang secara misterius. Sepertinya pedang yang ia bawa bukanlah pedang sembarangan.
__ADS_1
Dinding tidak terlihat merupakan teknik yang hanya segelintir orang yang bisa melakukannya, namun ia dengan mudah menghalau dinding tidak terlihat itu. Dan itu membuktikan ia bukanlah sosok manusia biasa, atau setidaknya memiliki hubungan rumit dengan apa yang ia cari
Ia memasuki dinding tidak terlihat. Dan entah apa yang terjadi hawa panas begitu menyengat. Matahari masihlah belum terbit namun rasa panas yang ia rasakan pada kulitnya jauh lebih tinggi dari biasanya. Bahkan siang yang terik sekalipun tidak bisa dibandingkan dengan ini
Tapi bukannya khawatir ia malah tersenyum, karena ia tahu sesuatu yang ia cari semakin dekat. Ia berlari jauh lebih dalam, hawa panas semakin menusuk namun ia tidak mempedulikan itu. Dan setelah berlari cukup lama ia melihat apa yang ia cari selama ini
Disebuah pohon yang tinggi, seekor makhluk burung berukuran raksasa yang diselimuti api merah terlihat begitu pulas tertidur. Namun matanya secara perlahan terbuka karena merasakan tanda kehidupan berada didekatnya
Ia mengepak sayap apinya membuat hawa panas kembali jauh lebih terasa. Burung api itu memandang kearah manusia dengan topi jingga. Sudah cukup lama ia tidak melihat manusia, dan ketika manusia berada disini jelas membuatnya sedikit terkejut
"Jadi kau yang mengganggu tidurku!."
Dengan kepakan sayap, ia turun ketanah dan berhadapan secara tatap muka dengan manusia didepannya. Ia melihat tidak ada rasa takut dimata manusia itu dan ini cukup mengejutkannya. Namun manusia itu memiliki pandangan yang berbeda.
___
Ignel - The Ancient Phoenix
Titel : ????
Level : ????
___
Tangan manusia bertopi jingga sedikit gemetar. Melihat salah satu makhluk tertua atau malah salah satu makhluk pertama yang hidup di dunia Athanor ini. Namun inilah yang selama ini ia cari, sesuatu yang bahkan bisa memberikannya kekuatan tanpa batas
Sekali lagi, sang kuno mengepak sayap apinya. Suhu panas serasa begitu menekan pada kulit manusia bertopi jingga, jika dibiarkan bukan tidak mungkin kulit tubuhnya akan melepuh karena tidak kuat menahan panas.
Mata sang Phoenix menatap bilah perak indah yang tersarung rapih pada punggung manusia bertopi jingga. Bilah perak yang terasa tidak asing baginya, membuat ia tahu kalau manusia bertopi jingga didepannya adalah sosok yang terpilih.
"Jadi begitu yah. Pedang RedNight."
Pedang RedNight adalah pedang dengan klasifikasi paling tinggi diantara jajaran pedang kuat lainnya. Pedang yang konon adalah pedang paling berdarah yang pernah ada. Kobaran api abadi yang melekat pada bilah peraknya yang indah, merupakan bukti seberapa berdarahnya pedang ini.
Banyak makhluk kuno yang menyaksikan kobaran bilah ini, namun jarang sekali dari mereka yang berhasil selamat setelah menyaksikan kobaran api merahnya. Korban serta darah yang begitu banyak, membuat pedang ini begitu terkutuk. Banyak sekali orang kuat yang memakai pedang ini, namun nasib mereka sama. Yaitu mati oleh pedang mereka sendiri
Namun, mata sang Phoenix sedikit kebingungan. Pedang RedNight yang seharusnya begitu merah layaknya darah, namun kali ini putih dan bersih. Membuatnya sedikit tidak terima, mengingat bagaimana buasnya pedang ini dimasa lampau. Bilah merah darahnya adalah simbol kutukan sebagai buasnya pedang ini. Namun keberadaan putih yang mengambil alih bilah, membuatnya sedikit kesal karena seolah-olah dosa pedang ini sepenuhnya terhapus
"Jadi apa kau mau Manusia?." Ucapnya sambil menaruh tekanan pada setiap katanya
Mendengar itu cukup membuat lengkungan senyum puas terlihat dibalik topi jingganya yang cukup besar. Ia mencabut bilah peraknya dengan satu tarikan panjang, energi mengisi begitu juga dengan kobaran api merah yang memperkuat pedang peraknya.
Sambil membenarkan topi jingganya ia berkata
"Aku ingin api milikmu!."
_________________________
__ADS_1
Trivia : Informasi tentang Ignel - The Ancient Phoenix akan terbuka kalau Athanor Online melakukan Update
Shunizu ba vawhor! (Beradaptasi dan mengatasi!)