
“Heh..”
Dalam malam yang cukup gelap Zephys terkekeh kecil. Dirinya yang kedua telah menghilang, dan itu artinya semua informasi yang didapatkan oleh Zephys kedua masuk kedalam pikiran Zephys yang asli.
Semua informasi yang Zephys kedua dapatkan begitu menarik. Tentang tata letak mansion Falconi, kemampuan, serta sifatnya, sudah cukup untuk menjabarkan sesuatu.
“Menemukan sesuatu?”
“Yah... Sesuatu yang menarik.”
Rodant menyeringai sedikit, setidaknya dia bisa melihat kemajuan pada perkembangan misi ini. Setelah membakar kebun bunga Demiana, kini Zephys masih memikirkan langkah selanjutnya. Dia tidak mau kembali ke Sarah dan Sin dengan tangan kosong.
“Lalu apa mau kau lakukan?”
Itu benar, saat ini Zephys masih memikirkan langkah selanjutnya. Ingatan Zephys kedua telah masuk seluruhnya, membuat dia begitu paham pengaruh Falconi yang besar. Hal ini cukup krusial karena mungkin saja jejak yang kelompok Zephys lakukan bisa terdeteksi.
Zephys masih memikirkan kembali. Dia tahu siapa yang bisa memanipulasi informasi dan media, maka sama saja dia bisa memanipulasi pemikiran masyarakat. Dengan kata lain, Falconi berada pada puncak rantai.
Zephys mengambil dan memakai pakaian anggota Black Swan. Dia memikirkan sesuatu yang menarik.
“Untuk sekarang ayo menyamar.” Ujarnya tersenyum kecil.
***
Zephys menyamar menjadi anggota dari Black Swan, apalagi dengan tambahan topeng gagak. Maka penyamaran Zephys sangat sempurna.
“Untuk apa kau menyamar?, Bukankah clone-mu berhasil mendapatkan informasi?”
“Ada satu hal yang ingin aku pastikan.”
“Hmm, aku yakin kau melakukan hal yang perlu.”
Zephys tidak menanggapi Rodant. Zephys sebenarnya masih memikirkan kekuatan dari Falconi itu sendiri. Secara asumsi ia telah menduga kekuatan Falconi, namun asumsi tanpa dibarengi bukti maka hanyalah halusinasi.
Sambil berjalan ditengah keramaian. Gagak Jackdaw datang dan menghampiri Zephys.
“Awasi aku dari atas.” Ujarnya pelan.
Jackdaw terbang cukup tinggi dan mengikuti pergerakan Zephys.
“Sekarang hanya tinggal sedikit perhatian..” Gumamnya.
Zephys memutar arah dan mulai memasuki lorong gelap. Layaknya jalan yang keramat, perbedaan antara jalan utama dan setapak yang ia lalui begitu besar. Jujur Zephys masih belum beradaptasi dengan hal ini.
Semakin dalam semakin jelas Zephys rasakan. Dalam remang-remang, Zephys melihat berapa orang yang sedang mabuk dan mengkonsumsi Black Dust. Zephys yang melihat itu tersenyum.
Zephys dengan sengaja menabrakkan dirinya kearah salah satu diantara mereka. Seperti reaksi orang mabuk biasa, mukanya merah dan terlihat amarah yang kuat.
“Mau apa kau hah?!”
Tanpa basa-basi Zephys langsung memukul pria itu, dia jatuh tanpa sadarkan diri. Melihat itu mereka semua lari menjauh, sebenarnya cukup mudah untuk mengejar mereka. Tapi itu bukanlah hal yang Zephys lakukan. Zephys mengambil botol berisi air yang didalamnya terlarut Black Dust.
“Semoga ini cukup.”
__ADS_1
Zephys kemudian berjalan jauh kedalam lorong yang semakin gelap. Apalagi pencahayaan dilorong ini hanya pada pancaran bulan, membuat situasi cukup mencekam. Tapi dengan adanya skill Night Vision maka itu tidak menjadi masalah.
Zephys membenarkan topeng gagaknya sebagai konfirmasi atas kegelisahannya. Semakin dalam ia masuk, semakin ia tahu tujuannya.
Zephys mengubah Rodant yang merupakan sabit menjadi dua buah belati panjang. Karena memainkan sabit dalam lorong yang cukup sempit cukup sulit. Hingga pada akhirnya sebuah sebuah layar biru terlihat.
“{Jackdaw meminta melakukan Synchronization}.”
Zephys yang melihat layar biru itu hanya tersenyum kecil. Layaknya ikan yang terkena umpan, Zephys hanya butuh tarikan besar. Zephys tidak menjawab panggilan dari Jackdaw karena jujur saja ia bisa merasakan kehadiran sosok itu melalui skill Sense, yang merupakan salah satu skill Shadow Reaper.
‘Dia datang.’
Lesatan kuat mengarah kearah Zephys dari atas. Zephys yang sigap langsung menghindar dari tubrukan yang mengarah padanya.
“Bukan anggota Black Swan biasa, eh?” Ujarnya.
Sosok pria dengan topi berwarna jingga dengan setelan merah gelap bisa Zephys lihat. Dia menggunakan senjata pemukul baseball. Jujur Zephys baru pertama kali melihatnya.
“Kau orang yang dirumorkan itu?, Memburu penjahat dalam malam?, Apakah kau ingin menjadi Batman?” Ujar Zephys dengan nada cemoohan.
“Begitu yah?, Penjilat Marvel benar-benar membuatku muak!.” Ujarnya sambil mengayunkan tongkat baseball.
Tidak menghindar Zephys mengeluarkan dua belati hitam yang merupakan Rodant. Menahannya pada titik berat, cukup untuk menghentikan laju serangan tongkat itu.
‘Lebih berat dari dugaan ku, dia pasti mempunyai Str yang tinggi.’ Batin Zephys tertekan.
Dia melanjutkan kembali serangannya, laju tongkat cepat dan kuat mulai menghujam Zephys. Untuk pertama kalinya Zephys merasakan kengerian dari seorang Player. Dimana ia terpojok, bahkan untuk keluar dari rentetan serangan itupun juga kesusahan.
Dengan kata lain, lawannya kali ini merupakan seorang Super Rookie sama seperti Zephys.
Dengan raungan semangat, pria itu mengayunkan tongkat secara horizontal. Mengincar dada Zephys yang terbuka cukup lebar, mengerti ia tidak bisa menghindar Zephys terpaksa menahan laju tongkat baseball itu dengan dua belatinya.
Layaknya dihantam kuat, tangan Zephys bergemetar.
‘Jangan bilang Str dia lebih tinggi dariku!’ Batin Zephys tak percaya.
“Homerun!”
Tidak berakhir disitu, lonjakan tenaga Zephys rasakan pada lengannya sudah pada titik gila. Zephys terlempar cukup jauh dari posisinya.
Zephys terjatuh terkapar butuh beberapa saat untuk dirinya bangkit kembali. Namun kenyataan bahwa dia terlempar dari pemain dengan level yang hampir setara itu cukup menggairahkan.
Sepertinya bukan hanya dirinya yang telah merusak standar kekuatan pada level Rookie. Bisa dibilang player didepannya, memiliki stat Str yang lebih tinggi dari Zephys. Dan dengan kecepatan pemukulan, bisa Zephys simpulkan player didepannya juga memiliki Dex yang tinggi.
“Cuman segitu?” Ujarnya sembari mengarahkan tongkat baseball berwarna merah gelap itu.
Zephys yang memang tidak suka kalah, jelas sekali bahwa dia terprovokasi ucapan sederhana itu.
Dibarengi senyuman tidak percaya, Zephys menghilang dari pandangan player itu.
Ditengah kebingungan, sebuah lesatan horizontal mengincar leher player itu. Dia yang memang cukup tanggap berhasil menghindar walaupun jarak diantara mata pisau dan lehernya sangatlah tipis.
Sedikit mengambil jarak, Zephys kembali menghilang dari pandangan. Player itu hanya mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Assassin...” Gumamnya pelan.
Player itu menfokuskan inderanya, mengerti kalau lawannya merupakan Assassin yang termasuk handal. Player itu mengeratkan genggaman pada tongkat baseball miliknya, mengerti bahwa ancaman mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Kilatan ungu mengincar tengkuk leher player itu. Namun dengan sedikit senyum meremehkan, Player itu menghindari serangan Zephys hanya dengan menggeser tubuhnya.
“Bodoh!, Serangan yang sama tidak mungkin mempan melawanku!.” Ujarnya keras.
Player itu membalikan badannya, dan dengan ayunan yang sama juga dengan kekuatan yang sama. Pukulan itu dengan cepat mengarah kearah Zephys.
“Begitu pula dengan ku, dasar bodoh!.” Ujar Zephys keras.
Zephys menahan laju tongkat baseball dengan kedua kakinya. Pada saat itu, Zephys menang terhadap gravitasi. Yang tinggal ia lakukan adalah melawan tenaga pada tongkat itu.
Kedua kaki Zephys menginjak tongkat itu, dan dengan seluruh tenaganya Zephys menolaknya dengan kuat. Alhasil putaran tongkat itu berbalik arah, dan tentunya membuat player itu kehilangan keseimbangan.
Melihat ruang yang begitu besar, Zephys menyayat badan player itu secara vertikal. Tapi karena sudut yang kurang maksimal sayatan itu masih terbilang dangkal.
‘Satu kali lagi!’
Zephys mengubah pijakannya dan dengan manuver pada tangannya Zephys mengincar kembali tubuh player itu. Namun, tongkat datang dari bawah mengenai pergelangan tangan Zephys, membuat belatinya terhempas keatas.
Mengerti dia dalam situasi yang tidak menguntungkan. Player itu langsung melompat mundur untuk mengambil jarak seraya menurunkan momentum musuh. Sementara itu Zephys menangkap salah satu belati yang terlepas darinya dengan santai.
Zephys mengarah salah satu belatinya kearah player tersebut dan dengan nada yang begitu meremehkan Zephys bilang. “Cuman segitu?”
Dia yang sama-sama benci kekalahan dengan mudahnya terpancing provokasi sederhana itu. Yah, dari awal memang dia yang memulai terlebih dahulu.
Player itu mengambil topi jingga yang sebelumnya terjatuh. Dia memakainya kembali, beserta dengan genggaman erat pada tongkat baseball miliknya.
Suhu diantara mereka tiba-tiba meninggi. Zephys yang sepertinya tahu akan hal ini segera bersiap-siap sebagai kondisi terburuk.
Dan benar saja kobaran api besar langsung terlihat pada tubuh player itu. Panas dan begitu terang, bahkan lorong yang sebelumnya remang-remang kembali terang layaknya siang hari. Bukan Zephys yang pertamakali menanggapi hal ini, tapi Rodant lah yang pertama.
“Oi sebaiknya kau serius sekarang Zephys, bocah ini sama sekali tidak normal!” Ujar Rodant panik, Zephys hanya mengangguk sebagai konfirmasi.
Bahkan dari matanya, Zephys bisa melihat siluet burung Phoenix yang tergambar persis dibelakang player itu. Menandakan player didepannya merupakan abnormal sama seperti Zephys.
“Hanya karena goresan sedikit kau merasa dirimu hebat?, Tidak aku sangka kelas teri sepertimu bisa besar kepala!.” Ujarnya dengan nada merendahkan.
“Oi Zephys jangan termakan omongannya!” Sementara Rodant yang membantu menenangkan Zephys. Tapi pemikiran Zephys sangat berbanding terbalik.
‘Kelas teri?, Siapa?, Aku?, Aku kau bilang kelas teri?!.’ Batin Zephys geram.
Dirasa menganggu Zephys melepas kuat topeng gagaknya. Beserta dengan emosi yang meluap-luap energi kegelapan menyelimuti tubuh Zephys layaknya malam tanpa bintang, Begitu gelap dan begitu senyap.
Energi itu semakin lama kian semakin pekat. Bahkan cahaya api milik player tersebut tidak sanggup menerangi pancaran kegelapan pada tubuh Zephys. Layaknya Zephys yang juga melihat seekor Phoenix, player tersebut juga melihat sosok pria dengan sabit panjang dibelakang Zephys.
Membalas provokasi sederhana dari lawannya, Zephys mempersembahkan senyum sakit jiwa pada lawannya.
“Seseorang harus mengajarimu sopan santun benar bukan?!.”
___________________________
__ADS_1
Trivia : Author lupa kalau ada Athanor Online.