Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Terkontaminasi


__ADS_3

Hawa angin perlahan berubah, Zephys yang menyadari bahwa Errol hendak melakukan sesuatu yang mengancamnya, segera melakukan tindakan. Zephys melompat mundur bersama bilah hitam milik Errol.


"A-apa ini?" Ujarnya menyaksikan sesuatu yang belum pernah ia lihat


Dinding serta lantai ruangan perlahan menghilang, berubah bentuk menjadi biru langit. Kaki Zephys menginjak lantai ruangan, namun bukan pondasi sebuah bangunan melainkan udara. Dinding ruangan berubah menjadi awan putih dengan langit biru yang menghiasi. Hingga ia menyadari kalau dirinya bukanlah diruangan tahta kekaisaran Azeroth, melainkan ia sedang berdiri dilangit yang biru.


Namun bukan keindahan yang menakjubkan melainkan awal mimpi buruk bagi Zephys. Karena..


"{Anda memasuki Ki Domain milik Errol, All status - 47,531%}."


Zephys melebarkan matanya seraya tidak percaya apa yang ia lihat, namun Ia kembali menatap kedepan, melihat Errol yang perlahan berdiri, baik luka tusuk pedang yang menempel perlahan memulih. Zephys hanya bisa mendecak lidahnya.


Errol bangkit dan melakukan sedikit peregangan, sebuah tatapan sangat berbeda ia arahkan. Zephys yang melihat tatapan itu hanya bisa menelan ludahnya. Dingin dan tajam hanya itu yang bisa ia gambarkan, mengerti Errol akan melakukan pergerakan diluar nalar, Zephys memilih untuk menyiapkan kuda-kudanya sebelum terlambat.


"Permainannya sudah berakhir, Zephys." Ujarnya dengan tiadanya respon dari Zephys. Errol menyelaraskan tangan kanannya seraya memanggil buah kasihnya. "Kemarilah, Night Sky." Dipanggil oleh tuannya, bilah hitam panjang itu melepaskan diri dari genggaman Zephys dan kembali pada pemiliknya.


Tidak banyak gaya, Errol langsung menyiapkan sebuah serangan terbaiknya, ia memegang bilah hitamnya dengan kedua tangannya. Konsentrasi pada matanya sangat tajam, Zephys yang mengerti akan hal itu segera menyadari bahwa serangan kali ini adalah sungguhan, dan bentuk keseriusan Errol sendiri.


"Cobalah untuk bertahan, Zephys.." Lirihnya. Dengan pergerakan lengan Errol memulai serangan


"Evening Breeze Series." Dengan ayunan kebawah, pedang hitamnya jatuh bersamaan dengan bergantinya langit biru menjadi gelapnya malam.


"Series Seven : Wind Whisper!."


Tanpa suara, senyap layaknya dinginnya malam dengan tanpa respon. Zephys melirik lengan kanannya yang terpotong rapih, entah apa yang terjadi, tapi yang pasti sebuah gelombang berkecepatan tinggi memotong lengan Zephys, bersamaan dengan itu rasa sakit terasa begitu dalam.


"Argh!."


Zephys langsung tertunduk, rasa sakit yang begitu terasa membuatnya meringis kesakitan. Sambil menahannya ia mencoba berdiri. Namun sebuah keanehan mengganjal dipikirkan Zephys.


'Kenapa tangan kananku tidak tumbuh kembali?.' Batinnya, Zephys pernah mengalami hal seperti ini saat ia menghadapi Goblin King, normalnya rasa sakit serta anggota tubuh yang hilang akan perlahan terobati dengan perintah sistem. Tapi mengapa kali ini tidak?.


Tidak tahan dengan rasa sakit yang begitu liar, Zephys memutuskan untuk meminum Hp potion, untuk sekedar meredakan rasa sakit. Mengabaikan lengan kanannya yang terpotong rapih, ia melihat langit malam kembali memudar dan berubah menjadi tembok dengan hiasan patung prajurit. Zephys menyadari kalau ia kembali ke ruangan tahta Azeroth bukan lagi dilangit. Sepertinya ini adalah salah satu Skill milik Errol.


Zephys menatap kedepan melihat Errol yang sepertinya nampak kecewa.


"Bahkan aku tidak bisa mempertahankan Domain lebih dari 30 detik, betapa lemahnya aku.." Ujarnya kecewa, mendengarnya Zephys cukup kesal. 'Lemah?, Lalu aku ini apa?', mungkin begitu pikirnya.


Tapi fokus utamanya adalah lengan kanan yang sampai saat ini belum juga pulih. Mengerti tatapan heran milik Zephys. Errol membuka sedikit pengertian.


"Walaupun kau seorang Immortal Creature, tapi tebasanku jauh lebih dari itu." Ujarnya


Zephys mendecak lidahnya kesal. Namun, Errol kembali memposisikan serangannya. Ia melesat membuat Zephys kembali waspada. Tapi dengan kecepatan yang tidak masuk akal, Errol membelakangi Zephys dengan bilah hitamnya. Dan sebuah rentetan pemberitahuan sistem memenuhi penglihatan Zephys.


"{Anda menerima damage 379!}, {Anda menerima damage 751!}.........."


Merasa dikejutkan dengan rentetan damage yang bahkan tanpa disadari oleh dirinya. Yang Zephys lihat hanyalah kilatan hitam yang melewatinya, tapi tanpa sadar saat itu Errol melancarkan rentetan tebasan dalam satu kali gerakan. Zephys salah tingkah akan hal itu.


'Jadi selama ini dia menahan diri?, Sekuat apa orang ini!.' Batin Zephys.


Errol kembali melayangkan pedang hitamnya secara horizontal, sebuah es membentuk pedang secara rapih. Menahan bilah hitamnya dengan sebuah bilah biru yang dingin. Tak berhenti disitu, Errol melancarkan rentetan tebasan rumit yang tidak pernah Zephys bayangkan.


Menggores setiap badan serta Hp point miliknya. Zephys melompat mundur mengambil jarak mengetahui ia tidak memiliki kesempatan. Membiarkan musuh selamat adalah aib seorang pendekar pedang, membuat Errol maju dengan serangan tusukan. Zephys menahan laju pedang dengan sisi pedang yang di horizontalkan.


"Aku pinjam serangan mu, Zephys." Ujarnya dibalas dengan tatapan bingung Zephys.

__ADS_1


Errol membenturkan bilahnya, Dengan tangan kanannya sebagai tumpu, Errol memutar pedangnya secara vertikal layaknya kincir. Bilah tajamnya dengan bringas memangkas es, pedang es menahannya namun jelas perbedaan kelas dari keduanya senjata mereka berbeda.


Bilah hitam mengikis bilah es padat. Zephys mulai mundur menyadari serangan ini adalah serangan yang digunakan untuk memukul mundur Errol sebelumnya, namun Errol tidak membiarkannya begitu saja. Errol melompat dan melancarkan tebasan vertikal, Zephys segera bersiaga.


"Tornado Strike!."


Errol jatuh dengan bantuan gravitasi, pedang hitamnya mendarat dengan kekuatan penuh. Sementara itu Zephys menyiapkan sebuah skill untuk mengantisipasi serangan mematikan milik Errol.


"Fire Pillar!."


Seraya bilah hitam jatuh dengan kekuatan penuh, kobaran api menyambutnya. Api melingkar pada sekitar Zephys, membuat sebuah lingkaran api yang melindunginya secara mutlak. Membuat serangan Errol tidak berguna, setidaknya itulah pikirnya.


"Tidak kali ini Errol." Ujar Zephys menyadari kalau serangan Errol gagal karena kobaran api miliknya. Namun


"Benar, tidak kali ini Zephys." Ujar Errol yang entah bagaimana berada dibelakang punggung Zephys.


Zephys menoleh kebelakang, menutupi rasa terkejutnya dengan senyum getir. "Bagaimana kau bisa berada disini?." Ujarnya, Errol membalasnya. "Sederhana saja, aku ini angin." Ujarnya disertai dengan sebuah tendangan melingkar mengenai telak leher Zephys.


Zephys terlempar kuat, keluar dari lingkaran api miliknya dan menabrak dan terduduk lemas di kursi tahta. Rasa sakit menyeruak keluar dari punggungnya, saat itu Zephys menyadari kalau Errol hanya bermain-main dengannya. Cukup kesal, tapi disisi lain Zephys tidak bisa membayangkan sekuat apa Errol saat pada waktu primanya.


Zephys melirik lengan kanannya yang sampai sekarang masih belum tumbuh, membuatnya mendecak lidahnya kesal. Ia memandang kedepan melihat Errol yang sedang mengayunkan pedang serta memperlihatkan bilah tajamnya. Ia melirik kearah Berus yang berada digenggam lengan kirinya


___


•Berus


Dur : 42


___


Ia melirik kearah samping dan melihat sebuah bilah berkarat yang terpaku dalam pada lengan singasana bagian kanan. Melihat Errol yang semakin mendekat, tanpa pilihan lain Zephys langsung memegang bilah berkarat itu.


Namun


'Berat sekali!.'


Belati berkarat itu tidak mau tercabut layaknya menolak kehadiran Zephys. Melihat itu Errol tersenyum kecil.


"Hanya mereka yang layak, yang bisa mencabut bilah itu." Ujarnya


Mengabaikan perkataan Errol, Zephys menambah beban pada lengan kirinya.


"Cepatlah!."


Dengan nada yang tinggi, perlahan bilah berkarat itu naik. Sebuah aura hitam kental keluar secara perlahan, menyebar keseluruh sudut ruangan. Errol menjatuhkan pedang hitamnya seraya terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Argh!." Erang Zephys kesakitan


Bersamaan dengan naiknya belati berkarat, Zephys merasakan sakit yang kuat bada sekujur tubuhnya. Dengan jarinya meleleh menuju kegelapan dan bersatu dengan bilah berkarat itu, energi misterius masuk kedalam lengan kiri mengalir terus hingga ke lengan kanannya, ia tumbuh namun berbeda.


Sebuah lengan menakutkan, gelap seperti langit yang malam. Kuku yang begitu tajam serta aura hitam yang terus menerus keluar. Benar, sebuah lengan paling menakutkan yang pernah seseorang lihat. Lengan Iblis.


"{Anda telah terkontaminasi energi dari Darkin Blade}."


"{Anda ?? Mendapatkan ?? ?? ??}."

__ADS_1


"{?? ?? ??}."


"{Sistem mendapati bug diakun anda}."


"{Log Out : 3 2 1}"


Seraya kesadaran Zephys yang telah hilang. Sebuah belati berkarat itu tergenggam erat pada lengan iblisnya. Belati itu terbang, sebuah energi gelap terserap kedalamnya. Ia menggeliat karat mulai terkelupas, membentuk sebuah belati hitam dengan corak yang begitu indah dan menawan.


Namun, belati itu perlahan berubah menjadi sebuah sabit berukuran besar dengan sebuah rantai berkarat pada pangkalnya. Melihat itu Errol langsung bertekuk lutut menyambut sahabat serta sosok yang paling dipercaya oleh Nakroth.


Sabit itu hidup, ia berdetak seperti mempunyai jantung. Tapi yang pasti sabit hitam itu mengarahkan pisaunya kearah dada Zephys dan menusuk dalam, luka itu menyebar keseluruh tubuh, mengkontaminasi seluruh tubuh Zephys.


Sebuah sosok manusia tak lagi terlihat. Sabit hitam berselimut merah darah mencerminkan kekejaman, tanduk yang mencuat disetiap sisi kepala mencerminkan kepribadian, serta wajahnya yang kejam dan angkuh mencerminkan superior nya ia. Ia yang tak lagi Zephys duduk di singgasana Nakroth dengan santai tanpa beban.


Inang yang menurutnya layak akhirnya ia temukan tidak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia dari ini. Ia menatap kebawah melihat sosok pendekar pedang yang sangat ia kenal.


Errol meletakan tumitnya kelantai. Memastikan kesetiannya pada iblis yang duduk di singgasana Nakroth. Tidak, dia bukanlah iblis melainkan sosok Nakroth itu sendiri, sosok yang paling berpengaruh terhadap Nakroth sekaligus paling Nakroth percaya. Ia tunduk kepadanya, karena kebangkitannya merupakan langkah awal bangkitnya Naktroth.


"Anda mengubah tubuh anda menjadi sabit, apakah inang itu begitu penting?." Ujar Errol


Iblis itu tertawa kecil. Ia berubah tubuhnya menjadi sabit, bukan tanpa alasan. Ia akan merubah wujudnya seperti apa yang terbaik dan paling nyaman bagi inangnya. Nakroth memilih belati, tapi inang barunya memiliki potensi yang besar dengan sebuah Sabit.


Errol bangkit, naik dan kembali berlutut didepan sang iblis. Ia menyerahkan pedang hitamnya sebagai hadiah perpisahan. Iblis itu menerimamu dengan senang hati, ia sedikit melirik bilah hitam itu. Kilap hitam nan tajam cukup membuatnya nostalgia


Puas. Ia menusuk Orb of Creature yang terpasang pada tubuh Errol dengan bilah hitamnya. Memaksanya untuk menahan rasa sakit yang tinggi, namun itu tidak masalah karena ia semakin dekat dengan komandannya, Nakroth.


Orb of Creature menyerap jiwa serta tubuh Errol. Tidak ada kesedihan serta rasa perih yang terpasang pada wajahnya melainkan kebahagiaan yang terlukis. Orb of Creature menyerap habis dan membentuk kabut berwarna hitam, secara perlahan bergabung dan berubah menjadi seekor gagak hitam. Gagak itu bertengger pada lengan singasana.


"Hahaha.."


Tertawaan kecil terdengar dari mulut sang iblis. Ia bangkit dengan perasaan senang, menyabet sabitnya kedepan dan membuat ruangan itu terpotong menjadi dua bagian.


"GROA!!."


Ia berteriak sebagai selebrasi kebebasannya, sekaligus menyampaikan pada dunia. Makhluk paling bringas di medan pertempuran telah terlahir kembali. Tapi disisi lain, teriakan atau raungan itu juga sebagai isyarat peringatan pada musuh-musuhnya, karena ia akan segera membalaskan dendamnya.


***


Disebuah kota manusia terlihat beberapa pemain sedang berkumpul sembari berbincang santai.


"Haha..."


Namun, sebuah tertawaan kecil terdengar dari sebuah pistol yang tersarung di pinggang salah satu mereka.


"Kau ini kenapa, Dextern?." Ujar manusia menatap heran pistolnya yang merupakan teman sekaligus senjata terbaik yang pernah ia miliki. "Tidak apa-apa, hanya teman lama." Ujarnya


Manusia itu memiringkan kepalanya kebingungan.


"Oi Viqi, ayo cepat pergi dari sini." Ujar Hercule


"Ah iya, sebentar." Ujarnya dan segera pergi dari situ, mengesampingkan pistolnya yang sedang terkekeh bahagia.


"Kematian, Kegilaan, dan Perang. Yah ini akan sangat lezat." Ujarnya dengan kekehan bahagia.


________________________

__ADS_1


Trivia : ?


__ADS_2