
Sebuah lorong panjang dengan berbagai lukisan yang cukup erotis, beserta dengan banyak penampilan cukup dewasa dari berbagai arah. Ruangan yang penuh dengan erangan, beserta dengan berbagai aroma yang cukup tidak mengenakan bagi seseorang seperti Zephys.
Banyak pasang mata yang menatap Zephys dengan penuh curiga. Topeng gagak yang ia kenakan dimana-mana cukup menarik perhatian. Namun, kini berbeda layaknya surganya keanehan. Hampir semua orang dilorong serta kamar memakai sebuah topeng pesta.
Langkah Zephys berhenti disalah satu kamar dengan pintu yang terbuka. Mengesampingkan beberapa orang disana yang melakukan berbagai hal panas, mata Zephys memandang sebuah butir layaknya pasir berwarna hitam. Secara kasat mata pasir itu mengeluarkan semacam udara berwarna hitam transparan.
“Black Dust, kah?” Lirih pelan Zephys.
Ia kembali melangkahkan kakinya, mengikuti Sin didepannya. Black Dust, merupakan obat yang mengandung energi adaptif yang begitu parah. Obat inilah yang membuat permasalahan dunia gelap atau sisi lain dari indahnya Westburg. Berbagai informasi tentang obat ini Zephys dapatkan dari penjelasan Sin.
Bersifat adiktif, membuatnya seseorang yang mengkonsumsinya menjadi halusinasi, meningkatkan hormon, dan berbagai hal itu menyebabkan efek negatif pada tubuh ataupun mental manusia. Zephys mengerti Black Dust tidak lebih dari Sabu-sabu.
Karena efek inilah obat ini begitu diminati. Zephys menyadari orang yang dipanggil Falconi begitu jenius dalam pemasaran Black Dust. Dia mengincar seseorang dengan kesejahteraan rendah, membuatnya candu, dan memaksa mereka untuk tunduk kepadanya dengan bantuan Black Dust.
Seorang wanita secara sengaja memegang lengan Zephys mencoba menggoda dengan tubuh yang cukup serius. Zephys sedikit panik, dan dengan lembut melepaskannya secara perlahan. Menyadari ia tidak tahan dengan perlakuan serta tatapan beberapa wanita kepadanya, Zephys kemudian mengeluh.
“Masih lama?” Ujarnya dengan nada yang mendesak. Sin tidak berbalik namun ia bersuara. “Santailah...” Ujarnya pelan.
Zephys hanya bisa tersenyum kecut namun ia kembali bertanya.
“Sebenarnya kau ingin bertemu siapa? Tolong berikan sesuatu secara spesifik.” Keluh Zephys. Sementara Sin hanya menghela nafasnya kesal tak kuat mendengar rengekan Zephys. “Mucikari yang banyak memiliki informasi kurasa!?” Ujar Sin dengan nada kesal.
Zephys hanya menghela nafasnya, tak ingin membuat Sin marah. Karena bagaimanapun juga ia pernah dibabat habis oleh Sin, tentu perasaan segan jelas begitu terasa. Walaupun begitu setidaknya mampu menahan berbagai godaan diberbagai sisi lorong ini.
Hingga pada akhirnya Sin berhenti disebuah pintu ruangan yang tertutup rapat. Sin mengetuk pintu beberapa kali, dengan respon yang tidak terlalu cepat seseorang mengintip dari salah satu lubang kecil. Memperhatikan seseorang dibalik pintu, Sin menyadari itu dan memberikannya isyarat untuk membiarkannya masuk.
Pintu terbuka beserta dengan masuknya Zephys dan Sin. Sosok wanita cantik mengenakan topeng pesta dengan pakaian yang cukup erotis duduk disebuah sofa panjang berwarna merah, dengan balutan sedikit kain mewah berwarna merah juga. Berbagai minuman serta kue mahal jelas tersaji rapih didepan.
Sin duduk sebelum wanita itu mempersilahkannya. Sementara itu Zephys melirik seseorang yang sebelumnya berdiri didepan pintu. Zephys tidak menyangka bahwa penjaga seorang wanita. Walaupun begitu tatapan Zephys kembali mengarah pada wanita berpakaian gaun merah didepannya.
“Lama tidak bertemu Sin.” Ujarnya dengan senyum hangat. Sementara Sin hanya terdiam, menenggak minuman didepan dan menjawabnya. “Baru tiga hari.” Ujarnya
Wanita itu tersenyum kembali, namun tatap matanya melihat kearah Zephys dengan senyum yang cukup berarti.
“Jadi siapa lelaki manis ini?, Kau ingin aku mempekerjakan dia?” Ujarnya lembut beserta dengan makna tersirat. Sin tertawa kecil, menjawabnya dengan setengah nada tenang. “Walaupun dia mesum, tapi aku tidak ada niatan untuk membuatnya bekerja disini.” Ujarnya.
Zephys yang mendengar itu ingin sekali memberontak namun ia tahan selama mungkin. Walaupun Zephys pernah melihat Sin yang kala itu cukup panas, namun sebenarnya yang ia lihat hanyalah tato naga pada punggungnya. Dia sama sekali tidak mesum, melainkan kagum dengan seni yang terlukis. Tapi walaupun begitu, rasanya begitu percuma. Zephys hanya bisa menghela nafasnya.
“Dia dipihak kita jadi langsung saja Sarah, apa yang ingin kau sampaikan pada ku?, Kuharap itu sangat berguna.” Ujar Sin serius.
“Tentu saja-” Ujarnya sedikit memotong. Wanita mengambil sebuah peta, ia menunjuk sebuah daerah yang sepertinya kawasan hutan. “Aku menemukan bahan utama membuat Black Dust, didaerah ini dijaga ketat oleh pasukan Falconi.” Ujarnya
__ADS_1
“Jadi kau ingin kami menghancurkan bahan utama itu?” Ujar Sin bersama dengan ketukan pada meja. “Benar, tapi untuk benar-benar menghancurkannya kita membutuhkan seseorang yang ahli dalam menyelinap.” Ujarnya.
Sin mengangguk pelan, namun secara perlahan tatapannya mengarah pada Zephys. Begitu pula dengan Sarah yang mengerti arah tatapan Sin.
“Hmm... Dia?” Sarah dengan kipas anggun menutupi mulutnya. Sin hanya mengangguk pelan beserta dengan nada keyakinannya.
“Baiklah aku akan menyelinap dan menghancurkan bahan itu. Tapi bahan utama itu apa?” Ujar Zephys.
“Tanaman jenis bunga yang bernama Demiana, berwarna ungu serta memiliki bentuk indah.” Balas Sarah.
Zephys terdiam sejenak, jika benar bahan utama Black Dust adalah bunga maka cara terbaik untuk menghancurkannya adalah dengan dibakar habis. Tapi itu akan menarik banyak sekali perhatian. Sarah yang cukup tajam tersenyum dibalik kipasnya.
“Kau boleh membakarnya-” Ujarnya, ia kemudian mengambil sebuah Scroll berwarna coklat. “Didalam Scroll ini menyimpan sihir api, gunakan ini untuk membakar bunga itu.” Ujarnya
Sebuah jendela sistem kembali terlihat
___
Quest
Pemberi Quest : Sarah
Jenis Quest : Penghancuran
Sarah memerintah kamu untuk menghancurkan ladang Bunga Demiana. Hancurkan dan kembali dengan berita bagus!.
Reward : Peningkatan Relasi Sarah, Peningkatan Relasi Sin.
___
Melihat jendela Quest Zephys tersenyum tipis. Ia mengambil Scroll sihir api dan menerimanya. “Baiklah akan aku lakukan tugasmu.” Ujarnya percaya diri. Namun wanita itu kembali bertanya. “Oh iya, siapa namamu?” Ujarnya
“Ze-” Ketika hendak menjawab sebuah suara memotong jawaban Zephys. “Es krim, namanya es krim.” Ujar Sin dengan jempol yang ia angkat, Sarah hanya bisa tersenyum kecut dibalik kipasnya.
“Zephys namaku...” Ujarnya pelan.
“Baiklah Zephys aku nantikan kerjasamanya.” Ujar Sarah ramah dan dibalas anggukan kecil oleh Zephys.
“Kalau begitu kita beralih pada informasi kedua.” Ujarnya beserta menutup kipas dan memperlihatkan mulutnya yang cukup indah. Baik Sin dan Zephys mendengarkan secara seksama.
“Aku mendengar ada seseorang yang juga musuh dari Falconi, mungkin dia bisa diajak bekerjasama.” Ujar Sarah dengan serius.
__ADS_1
Mendengar itu Sin tersenyum kecil. Salah satu faktor kemenangan adalah mempunyai sekutu yang banyak. Walaupun begitu ini merupakan informasi yang cukup berharga, satu orang melawan satu organisasi maka bisa ditebak orang itu cukup kuat. Menarik dia menjadi sekutu adalah pilihan yang tepat.
“Bisa kau jelaskan lebih jauh?” Ujar Sin tertarik.
“Aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi yang aku tahu dia berkeliaran dimalam hari, memburu anggota Black Swan tanpa memandang bulu.” Ujarnya beserta sebuah foto tak berwarna yang ia tampilkan diatas meja. Bentuk fisiknya tidak begitu kelihatan namun bisa Zephys dan Sin lihat sosok itu diselimuti api.
“Dia memiliki elemental api, aku tidak bisa memberikan informasi lebih jauh. Tapi jikalau kalian ingin bertemu dengannya, mungkin bisa diwaktu malam hari.” Ujarnya.
Baik Zephys dan Sin mengangguk pelan sebagai konfirmasi. Informasi yang Zephys dapat begitu menarik, dengan adanya informasi lahan bunga Demiana Zephys mampu menghancurkan Black Swan secara finansial. Begitu pula dengan bertambahnya sekutu beban mereka menjadi jauh lebih ringan. Zephys kemudian berdiri.
“Kalau begitu aku pergi dulu, akan aku bakar lahan bunga itu!” Ujar Zephys semangat.
***
Malam dimana semua hal terasa begitu gelap, bangunan menjulang tinggi disebuah lokasi strategis. Seorang penjaga terlihat berpatroli didalam bangunan besar itu, dengan pedang yang ia sarungkan pada pinggangnya seolah mengisyaratkan bahwa ia siap dalam keadaan apapun.
Namun hawa serta keadaan begitu berbeda dari biasanya. Rasanya begitu sepi dan juga senyap, bahkan suara hewan nocturnal yang biasanya menghiasai malam bersamanya kini hilang. Penjaga yang berpatroli itu menghentikan langkahnya.
“Mungkin perasaanku saja...” Lirih penjaga itu.
Ia kembali melangkahkan kakinya.
Bayangan merambat dijalan yang penjaga itu tapak, penjaga itu menoleh cepat layaknya menyadari kalau ia sedang diikuti. Namun, ia tidak dapat melihat apapun. Atau mungkin ini hanya perasaannya saja, ia kembali melangkahkan kakinya.
Bayangan kembali merambat didinding yang dilewati oleh penjaga itu. Bayangan itu merayap pada keheningan lorong dalam, membawa sebuah perasaan ngeri pada sang penjaga itu.
Ia menaikan laju kecepatan langkahnya, menyadari perasaan yang tidak mengenakan menghantui setiap langkahnya. Sesuatu muncul dibelakang punggungnya, dengan reflek ia langsung menoleh kebelakang beserta pedang yang ia tarik.
Namun, tidak ada siapapun.
Penjaga itu dengan nafas yang begitu berat berjalan mundur kebelakang dengan pedang yang masih ia angkat sebagai bentuk waspada. Ia mundur perlahan hingga tak bisa lagi mundur karena membentur sebuah tembok lorong.
“Perasaan apa ini...” Ujarnya ketakutan.
Kegelapan kembali merayap dibelakang penjaga itu. Tanpa disadari, sebuah tangan muncul didalam dinding persis dibelakang penjaga itu. Membungkamnya dengan keras, penjaga itu berontak dengan perasaan ketakutan.
Namun belati menusuk lehernya begitu dalam. Menembus tenggorokannya membuat dia jatuh kebawah tanpa disadari dia telah pergi. Jatuhnya penjaga itu menjadi konfirmasi positif dari sosok itu.
Ia keluar dari dalam tembok. Sosok dengan pakaian serba hitam dengan penutup kepala sebagai tameng perlindungan. Dia tersenyum kecil melihat penjaga yang ia habisi, menurutnya membuat seseorang ketakutan lalu mengeksekusinya merupakan sebuah karya seni.
“Ok Zephys kedua, waktunya untuk bekerja.”
__ADS_1
________________________
Trivia : Black Dust mirip dengan Sabu-sabu