Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Pasha


__ADS_3

Disebuah bagian kasta terbawah kerajaan termegah. Sosok anak kecil berlari dengan kakinya yang kecil dan rapuh sembari mengendong sepotong roti, ia berlari sembari dengan hembusan nafas lelah, mencoba untuk kabur dari kejaran seseorang.


Anak kecil itu berbelok kearah gelapnya lorong rumah yang sempit, bersembunyi dalam balik kotornya tempat sampah berharap ia tidak ditemukan. Tak butuh lama, langkah kaki terburu-buru terdengar beserta dengan cacian serta hinaannya yang terdengar diruas jalan yang ramai.


Anak laki-laki itu menghembuskan nafas leganya. Dengan mulut mungilnya ia memakan sepotong roti dengan lahap. Memang tidak membuatnya begitu kenyang, tapi setidaknya mampu membuatnya bertahan. Hidup diwilayah kotor, memaksanya untuk bertahan hidup, apapun caranya.


Anak itu menyeka keringat dengan kain kusut yang ia pakai. Ia memperbaiki nafasnya seraya dengan itu ia mengendap-endap secara senyap, berjalan pelan di lorong yang begitu gelap. Ia berjalan menuju tempat yang ia layak disebut rumah.


***


Pasha lahir dalam kemiskinan dan menjadi yatim piatu di usianya yang belia. Mencoba bertahan hidup diwilayah yang sangat tidak bersahabat. Tidak memiliki orang tua, ia hanya bergantung kepada sosok kakak yang selama ini melindunginya, dan memberikannya sebuah kasih sayang.


Pasha duduk dikursi yang rusak. Jarinya ia ketukan disertai senyum ketidaksabaran. Sebentar lagi matahari terbenam, yang berarti kakak laki-lakinya akan segera pulang, membawakannya makanan yang ia janjikan sejak matahari terbit. Roti yang tadi sempat ia makan, tidak sanggup menahan kelaparan pada perutnya yang mungil.


Suara langkah kaki terdengar pelan, sesaat denting suara pintu terbuka terdengar pada daun telinganya disertai senyuman kebahagian dari Pasha. Pintu itu terbuka, terlihat sosok yang mirip dengannya namun jauh lebih dewasa. Membawa kantong yang berisi roti dalam jumlah yang banyak. Melihat adiknya seperti sudah kelaparan membuatnya sedikit bersalah pulang lebih larut.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Pasha." Ujarnya. Tidak mendengar ucapan kakaknya, Pasha mengangguk dengan semangat karena ketidaksabaran.


Isaac tersenyum getir, seraya memberikan adiknya sekantong roti. Pasha memakannya dengan lahap. Melihat Pasha yang begitu bahagia disetiap lahapnya, membuat Isaac tersenyum kecil. Rasa letih dan sakit dari berbagai eksperimen yang telah ia jalani setiap harinya mulai memulih.


Baik Isaac dan Pasha menjalani sebuah program eksperimen khusus yang bernaung pada Kingdom of Norman. Pasha masihlah belia, ia menjadi bahan eksperimen yang tergolong ringan. Namun berbeda dengan Isaac, ia memiliki tubuh yang lebih kuat dari kebanyakan orang membuatnya menjadi bahan eksperimen yang sangat ekstrim yang bahkan tidak ada orang yang mengiranya.


Walaupun begitu, ia tetap harus menjalani eksperimen ini untuk bertahan hidup demi adik kesayangannya. Selagi ia masih bisa berfikir lurus.


***


Beberapa tahun kemudian, Isaac tumbuh menjadi tentara yang sangat kuat dalam divisi yang bernama Demon Hunter. Divisi yang dikhususkan membunuh atau mengatasi iblis atau makhluk Abyss yang merangkak masuk ke dalam Kingdom of Norman.


Eksperimen yang dilandasi oleh penyatuan energi kegelapan dari pecahan Dark Andura Stone mampu membuat berbagai prajurit menjadi lebih kuat, atau prajurit super. Membuat warga Kingdom of Norman bisa bernafas lega akan ancaman dari Noctrune.


Namun.


Eksperimen tetaplah eksperimen. Mereka yang gagal akan bermutasi menjadi sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dimana subjek berubah wujud, berteriak keras layaknya lolongan serigala yang tak kunjung selesai. Mereka yang gagal dan bermutasi akan dibasmi secara masal.


Mengikuti perjuangan Isaac, Pasha yang memang pemalu dan gugup entah bagaimana berhasil melewati berbagai uji coba eksperimen yang mematikan. Ia berjiwa kuat jikalau kakaknya berada disampingnya, bersama dengan rekan serta Isaac, Pasha bergabung dengan pasukan Demon Hunter walaupun ia adalah yang terlemah diantara mereka.


"Wilayah hutan bagian selatan?." Ujar Isaac


"Benar, ada rumor mengatakan bahwa seekor iblis lumayan kuat berdiam disana." Ujar seseorang yang nampaknya adalah orang yang penting.


Ia adalah Jenderal Edmund, sosok yang bertanggung jawab atas eksperimen yang selama ini dijalankan diwilayah Kingdom of Norman bagian selatan. Ia merupakan pimpinan organisasi Demon Hunter, juga merupakan sosok yang sangat berpengaruh. Bagi seseorang yang telah berhasil melewati uji coba eksperimen, Jenderal Edmund adalah sosok ayah bagi mereka.


"Bagaimana dengan Dante?."


"Ia baru saja pulang dari misinya yang panjang, tidak enak kalau aku harus memberikannya lagi." Ujarnya.


Isaac hanya mengangguk pelan. Dante merupakan sosok Demon Hunter terkuat yang pernah ada, jauh lebih kuat darinya. Sosok yang pernah menahan imbang Jenderal perang terkuat di kekaisaran Azeroth, yaitu Nakroth. Bahkan memukul mundur pasukan Abyss Legion yang dipimpin langsung oleh Demon Lord Maloch, yang digadang-gadang merupakan sosok Demon Lord paling bengis yang pernah ada.


Dante merupakan satu-satunya subjek eksperimen yang malah terbiasa dengan energi dari Dark Andura Stone. Menyatu dengannya bahkan telah merasuk sampai ke DNA nya. Membuatnya sangat sulit dibunuh, dan kebal akan senjata tajam.


"Baiklah, sesuai perintah anda." Ujar Isaac.


***


Rombongan Demon Hunter yang dipimpin oleh Isaac, berjalan perlahan menyusuri setiap langkah memasuki hutan yang gelap. Setiap dari mereka fokus dan mengincar tujuan yang sama. Informasi tentang iblis kuat menjadi senjata mereka.


Pedang, tombak, serta busur mereka persiapkan. Menyatu dalam keheningan hutan, menyelinap dan diam tanpa instruksi. Isaac berjalan paling depan diikuti oleh Pasha dibelakangnya, agar Isaac bisa mengawasi adik satu-satunya.


Mereka sangat terlatih, insting berburu mereka sudah pada level yang tinggi, dimana masing-masing indera mereka telah ditingkatkan melalui energi Dari Andura Stone. Membuatnya rentan akan situasi. Bau darah seketika tercium, Isaac berhenti sejenak.


Dalam diam dia mencoba mengkonfirmasi, begitu pula dengan yang lainnya. Sementara itu, Pasha tertunduk takut, bau darah begitu menyengat di hidungnya. Memang, Pasha sangatlah lemah dan terkenal cengeng diantara mereka. Pasha si Cengeng itu adalah julukan yang ia dapatkan semenjak bergabung pada Demon Hunter.


Isaac membelai rambut lembut adiknya mencoba menenangkan pikirannya. Walaupun tanpa sepatah kata, Pasha bisa mengerti dari tatap mata sang kakak. Mereka tidak boleh berbicara dan hanya bisa berkomunikasi lewat gerakan gestur. Dikarenakan Iblis mempunyai indera yang sangat tajam.

__ADS_1


Isaac dan kelompoknya akhirnya menemukan sosok itu. Sosok iblis merah tua besar bersayap serta dua cula dikepalanya. Iblis itu duduk tertidur diatas tumpukan mayat. Demon Hunter yang seharusnya tidak gentar, namun sekarang mereka ragu. Karena para mayat itu, tidak lain adalah para Demon Hunter.


Isaac menelan ludahnya, baru kali ini ia melihat iblis yang mampu membantai pasukan Demon Hunter sebanyak ini. Ia melirik kearah Pasha yang terlihat ingin menangis, ia ingin menenangkannya tapi dirinya juga begitu gelisah. Mata Isaac mengarah kepada sosok yang ia percaya.


Naka itu namanya, Naka memberikan gestur tangan. Mengatakan untuk langsung menyerangnya, selagi iblis itu lengah. Isaac sedikit ragu, namun dengan pertimbangan yang matang ia mengizinkannya. Naka dengan gestur rumit, memerintahkan setengah kelompok mengikutinya.


Mereka berjalan pelan, menyusuri semak dalam kegelapan. Naka beserta sebagian besar kelompok, melesat cepat namun begitu senyap kearah sang iblis yang sedang tertidur. Insting yang telah mereka asah selama eksperimen berlangsung membuat darah mereka menjadi superior dan tangguh. Peningkatan kekuatan serta kecepatan sudah melebihi batas manusia normal. Namun, mereka melupakan suatu hal. Iblis itu bukanlah sosok yang biasa.


Pedang panjang yang entah darimana datangnya, menebas semua Demon Hunter termasuk Naka. Membuat mereka tewas dalam satu ayunan panjang. Isaac yang melihat itu terdiam sambil menggigit lidahnya, sementara itu Pasha terbungkam atas ketakutannya.


Namun.


"Naka!."


Kekasih Naka berteriak melihat tubuh sang pujaan hati terbelah menjadi dua. Hal ini membuat iblis merah tua itu mengetahui lokasi para Demon Hunter. Tanpa aba-aba, tebasan panjang memotong rapih leher sang gadis. Sosok iblis itu sangatlah cepat, bahkan indera yang mereka tingkatan tak bisa mengikuti arah gerak iblis itu.


Tak sampai disitu iblis bergerak layaknya kilat merah, memotong dan mencabik-cabik para Demon Hunter dengan sangat brutal. Anggota tubuh mereka berceceran beserta dengan aroma darah yang mengikat. Di gelapnya hutan selatan, jeritan sakit para Demon Hunter tak terdengar. Tertutupi oleh pepohonan yang rapat. Melihat itu Isaac mengeratkan genggaman pedangnya, mengambil keputusan yang terbaik.


"Lari Pasha..." Lirih Isaac


Namun, rasa ketakutannya yang begitu besar membuat kakinya lemas tak terkuai. Matanya menangis disertai dengan wajah pucat tak berdaya.


"Lari Pasha!." Teriak Isaac


Pertama kalinya ia mendengar bentak dari sang kakak, membuatnya tersadar akan ketakutannya. Ia kuat ketika bersama dengan Isaac, sembari berfikir seperti itu, Pasha melangkah cepat. Isaac tersenyum.


"Setidaknya hanya kau..."


Isaac menarik pedangnya dalam keyakinan penuh, membenturkan bilahnya menahan bilah lain yang mengincar lehernya. Perbedaan kekuatan terlihat begitu jelas, kedua tangannya mengalami rasa sakit yang begitu besar, hanya untuk menahan serangan iblis merah tua itu, yang mungkin bahkan ia tidaklah serius.


Iblis itu menatap datar Isaac, wajahnya yang sangat mengerikan memandangnya rendah. Isaac takut untuk pertama kalinya, namun berubah dengan cepat. Ketika pupil mata sang iblis menatap kearah lainnya. Isaac yang tersadar kemana iblis itu melihat dengan cepat bereaksi.


"PASHA LARI LEBIH KENCANG!."


Mata sang iblis tertarik melihat Pasha. Pedang panjang yang terselimuti darah ia simpan kembali, tangan serta kuku panjang sang iblis mencoba meraih Pasha. Namun.


"Jangan sentuh adikku!."


Dari belakang seruan Isaac terdengar disertai dengan tebasan pedang yang dipenuhi keyakinan. Namun, keyakinan saja tidak cukup untuk mengalahkan iblis merah tua itu. Sang iblis membalikan badannya, mengarahkan kuku tajamnya kearah Isaac.


Kuku tajam sang iblis menusuk perut Isaac. Menembusnya dan mencabik-cabik organ Isaac. Memang tubuh Isaac yang ditingkatkan secara magis dengan energi Dark Andura Stone membuat tubuhnya diatas rata-rata manusia normal, tapi itu tidaklah kebal. Namun setidaknya ia melakukan tugasnya sebagai seorang kakak.


Dengan mata kepalanya sendiri Pasha melihat cakar keji itu menembus tubuh seseorang yang paling ia sayangi. Ia kuat karena Isaac, tapi tanpanya?.


Sebuah potongan energi Dark Andura Stone menemukan keraguan pada hati Pasha. Batu itu mulai berbisik dikepala Pasha, perlahan menariknya kedalam kegelapan.


***


Desas desus gugurnya kelompok Demon Hunter yang dipimpin oleh Isaac terdengar oleh Jenderal Edmund. Ia tertunduk sedih, disertai tak bernafsunya makan. Ia menatap kosong dokumentasi korban yang gugur dihutan bagian selatan.


"Isaac..." Lirih Edmund


Ia bersalah, menganggap dirinya paling bersalah. Namun ia harus kuat karena Pasha jauh lebih sakit.


Pasha yang memang sangat tertutup kembali jauh lebih tertutup ketika kehilangan sang kakak. Edmund bertanggung jawab atas Pasha, mengantikan tugas seorang kakak merawat Pasha dengan kasih sayang yang besar dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Ia adalah satu-satunya Demon Hunter yang selamat, iblis merah tua itu membiarkannya pergi begitu saja.


Namun terlepas nasihat orang-orang disekitarnya Edmund tidak bisa melepaskannya. Ia yang bersalah akan hal ini maka ia akan bertanggung jawab penuh atas Pasha.


Setiap malam sunyi dimana dia sendirian, dia akan mendengar suara yang seakan berbisik ditelinganya. Suara itu berkata.


"Pergi tinggalkan tempat ini, atau kau akan menjadi kematian mereka. Dan juga dirimu sendiri."


Pasha terus menyembunyikan kepalanya didalam selimutnya yang tipis, dan mengabaikan suara itu. Dan yang dilakukannya hanya membuat suara itu jauh lebih keras dan jauh lebih jelas. Pasha segera menyadari bahwa suara itu seperti tidak asing, lebih dari sesuatu yang biasa ia dengar dan pada kenyataannya itu adalah suaranya sendiri.

__ADS_1


Pasha menyimpan rahasia itu sendiri satu-satunya orang yang ia percayai telah meninggalkannya pergi. Dan suatu hari Pasha juga akan melakukannya, menuju kesebuah tempat dimana ia akan melihat saudaranya lagi. Jika bisa ia menginginkan hari itu segera datang dengan cepat. Maka Pasha berhenti bersembunyi dalam rumahnya yang kotor dan berhenti menangis.


***


Dalam sebuah pertarungan melawan monster iblis, anak laki-laki pemalu dan gugup itu tak lagi terlihat, Pasha mulai bertarung dengan semangat dan amarah yang hampir dibilang gila. Saat itu julukannya mulai berganti, orang-orang menyebutnya. Pasha si Gila.


Dalam kemarahan yang luar biasa, Pasha tidak memperhitungkan peraturan dan kerap melanggar ketentuan Demon Hunter yang berlaku, bahkan keselamatan dirinya sendiri. Maka sosok mentor sekaligus ayah, Edmund dengan berat hati mengurung dan merantai Pasha diruang isolasi yang gelap. Dengan harapan Pasha bisa menenangkan pikirannya sebelum menghancurkan dirinya sendiri.


Tapi Edmund tidak mengetahui siksaan yang dialami oleh Pasha, suara bisikan itu menyiksa Pasha dari siang sampai malam didalam kurungannya. Memang, salah satu alasan Pasha berjuang begitu keras adalah agar ia bisa tidur begitu lelah sehingga ia akan langsung terlelap sehingga ia tidak lagi mendengar bisikan itu.


Pasha tidak menyalakan Edmund atas terkurungnya dirinya. Ia tahu bahwa Edmund melakukan ini untuk melindunginya dan rekan rekannya. Dan dia tidak buta akan kebaikan yang selama ini sang jenderal curahkan kepada dirinya sejak kematian Isaac.


Hal itu adalah salah satu dari sedikit hal yang masih harus Pasha yakini sampai ia dibebaskan dari ruangan isolasi tersebut. Namun kabar buruk langsung menyambutnya, bahwa Edmund telah meninggal karena sakit karena terlalu banyak bekerja.


Pasha keluar dari tenda untuk menangis, menangis begitu keras tapi tidak ada siapapun yanh peduli. Setelah selesai, Pasha kembali dan bertemu dengan tentara yang tidak mengenalnya dalam perjalanannya kembali ke tenda tersebut.


"Hei lihat itu..."


"Kau kurus sekali?, Mau roti? Tapi kau harus menjilati sepatuku dahulu."


"Hei bocah, kau mirip sekali dengan cacing. Apa kau memang cacing?."


Pada prajurit itu menertawakan anak kurus dengan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Disisi Pasha sendiri, ia tidak mendengarkan olokan dari para prajurit, dia terus menundukan kepalanya dan terbenam atas kesedihannya sendiri.


Selama masa kurungannya dia telah memutuskan menceritakan segalanya kepada Isaac atau Edmund, namun mereka berdua telah tiada. Ia hanya memiliki suara dikepalanya yang selama ini terus berbisik kepadanya.


"Kau telah membunuhnya, dan kau akan membunuh lebih banyak lagi!." Ujar bisikan itu.


"Mengapa ini bisa terjadi?, Kenapa aku selalu saja yang bersedih?... Apa aku dikutuk?." Ujar Pasha


Melihat Pasha yang nampak bicara sendiri membuat para prajurit itu kembali mengolok-olok dirinya, merendahkannya, serta mengejeknya. Namun Pasha tidak mendengarnya, hanya satu suara yang terdengar yaitu suara bisikan itu.


"Kita membawa sesuatu yang lebih gelap dari kegelapan, dan menakutkan dari teror. Selama hal itu ada ia akan memakan semua kehidupan disekitar kita." Ujar bisikan itu.


"Tunggu... Kita?." Didalam kesedihannya Pasha bingung. "Kau siapa?."


Bisikan tersebut tertawa sebelum menjawabnya.


"Aku adalah kau, dan kau adalah aku!."


Di kebingungannya Pasha bertanya kepada pada bisikan itu.


"Bagaimana mematahkan kutukan ini?."


Diantara tertawaan keras dari para prajurit yang menganggap Pasha seperti orang gila. Namun tidak mengaburkan setiap kata yang terdengar pada bisikan dikepalanya.


"Mudah, sangat mudah. Mereka akan hidup jika kau mati!." Ujarnya disertai dengan gejolak energi Dark Andura Stone yang membuat lengan kanan Pasha berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan.


Pasha tiba-tiba tertidur akibat rasa kantuk yang kuat, dia kehilangan kesadaran sebelum mempertanyakan hal selanjutnya. Matanya terbuka lebar, merah dan buas.


Satu Pasha tertidur, maka Pasha yang lain terbangun.


***


Dan pagi itu, ditemukan mayat puluhan prajurit yang tewas dengan luka yang familiar. Demon Hunter tidak mempunyai pilihan lain selain memburu Pasha, dan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Dante untuk menangkap Pasha, untuk diadili atas kejahatannya.


Para pengejar kembali dan membawa berita kalau Pasha melawan saat ditangkap dan jatuh kedalam tebing yang tinggi dalam pertempuran yang sengit itu. Dari ketinggian tebing, hampir tidak ada kemungkinan untuk selamat. Para Demon Hunter menghormati pilihan Pasha, karena mereka memilih mati seperti itu dibanding mendekam disel dan tidak melihat matahari hingga ajal menjemputnya.


Dan saat perang diselatan berkecamuk. Nama Pasha hilang ditelan sejarah.


_______________________


Trivia : Pasha dan Pasha yang lain tidak pernah akur.

__ADS_1


__ADS_2