
Kala ini, pagi menjelang siang. Sang surya bersinar cerah, langit biru dihiasi oleh awan-awan putih yang indah dimata. Diaz memandangi langit itu, walau cukup terik namun masih bisa untuk ia nikmati. Diaz dengan pakaian yang rapih, duduk di motor sport miliknya yang terparkir tepat didepan rumah mewah seorang idol wanita.
Diaz masih tidak terbiasa dengan ini. Ia menatap rumah mewah didepannya, mungkin orang lain akan kagum dengan rumah ini. Tapi dimata Diaz, rumah ini adalah kandang harimau. Jujur keluarganya adalah keluarga yang kaya, namun jika dibandingkan dengannya ini adalah hal yang berbeda.
Setiap kali melihat rumah ini, sebuah perasaan malu dan insecure begitu Diaz terasa. Yah, memang untuk sekarang ia belum bisa mewujudkan impiannya. Namun tidak ada kata terlambat untuk menggapai mimpi.
Suara gerbang terbuka, menyadarkan Diaz dari lamunannya. Perempuan seumurannya keluar perlahan dari balik gerbang. Ia melangkah, mendekat kearah Diaz.
"H-hai sudah lama?." Ujarnya
Layaknya harum aroma bunga yang mekar. Diaz terhipnotis oleh paras indah didepannya. Memang benar, pakaiannya terlihat biasa, namun sebuah kharisma serta perasaan anggun begitu terasa. Diaz mengaguminya jauh lebih dari ini.
"Kenapa?." Ujar Melody melihat Diaz yang terdiam.
Sudah lama sekali sejak Diaz kagum akan hal seperti ini. Diaz menyukai sesuatu yang indah, entah itu gerakan bela diri yang indah, musik bernada indah, kopi beraroma indah, serta dia yang indah. Diaz sadar akan keindahannya, entah siapapun yang hendak memilikinya dimasa depan. Bisa Diaz simpulkan, dia adalah laki-laki paling beruntung.
"Tidak apa-apa, aku hanya baru sadar kalau kau sangat cantik." Ujarnya dengan senyum penuh arti.
Melody tersenyum balik, ia tahu laki-laki didepannya bukanlah seseorang yang senang menggoda. Namun ketika ia mendengar perkataannya detak jantung semakin cepat. Menahan rasa malu dan bahagia, Melody menatap mata Diaz lebih dalam. Tangan kecil dan lembut miliknya, menyentuh rambut hitam Diaz. Dengan senyum penuh percaya diri, ia menjawab.
"Sejak kapan kau pandai menggoda?."
Sedikit belaian lembut disurai hitamnya, membuat wajah Diaz memerah seketika. Tidak ada alasan yang pasti, tapi yang jelas ia tidak pernah se-malu ini ketika ia berkontak langsung dengan seorang perempuan.
Melody yang melihat sisi berlawanan Diaz yang kala itu sangat percaya diri dan tenang, tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum penuh arti. Melihat wajah laki-laki didepannya yang merah padam, membuat sebuah alasan mengapa ia tidak bisa berhenti tersenyum.
"Kau manis saat kau tersipu malu, Diaz." Ujarnya tersenyum jahil. Menyadari Melody yang semakin terbawa suasana, Diaz langsung mengenyahkan tangannya. Tentunya dengan lembut.
"Tidak, siapa yang malu." Ujar Diaz sambil terburu-buru memakai helmnya, untuk menutup wajahnya yang merah padam.
Note : Wuuu... Protag Cowok kok Tsundere
Melody tersenyum kecil melihat tingkah laku sosok laki-laki yang menurutnya sangat dewasa ini. 'Dia seperti anak kecil' Batinnya, Melody terbatuk, untuk sekedar membersihkan tenggorokannya.
"Mau jalan-jalan kemana?."
Melody kembali ke topik utama. Diaz yang sudah sembuh dari rasa malunya, ia tersenyum kecil dibalik helm motornya. Ia mengambil helm satunya dan memasangnya dengan lembut, Diaz nampak berhati-hati agar surai indah insan didepannya tidak kusut. Melody masih belum bisa terbiasa dengan perlakuan Diaz yang nampak sederhana, namun jelas membuatnya nyaman.
"Ikut saja.."
***
Disebuah ruangan putih yang nampak elegan. Sosok pria bersetelan jas hitam duduk dikursi dan mengangkat kedua kakinya ke-meja kerja didepan. Ia cukup muak dengan berbagai berkas yang seharusnya menjadi pekerjaan utamanya sebagai CEO.
'Persetan dengan berkas', itu sering menjadi bahan konflik dipikirannya. Dikala pekerjaannya sebagai CEO cukup membuatnya pusing dan muak, setidaknya ia ingin bersantai sejenak, melupakan segala sesuatu yang merepotkan dan duduk dengan iringan musik.
Bersandar pada kursi nyaman, ia mencoba untuk terlelap. Sama seperti Diaz yang sangat menyukai kucing, ia juga memilikinya. Kucing berwarna putih menggeliat dan melingkarkan pada pundaknya. Kucing putih itu mendengkur kecil bersama dengan majikannya yang mungkin akan segera terlelap.
__ADS_1
*Tok Tok Tok
Terdengar ketukan pintu, sepertinya ada seseorang yang memiliki urusan entah itu pribadi atau menyangkut tentang proyek perusahaan yang sedang ia jalani. Namun apapun itu, ia tidak peduli. Ia memilih kembali menutup matanya yang sempat terpejam.
*Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan semakin keras terdengar, sepertinya orang dibalik pintu tidak cukup sabaran. Namun semuanya seakan terlambat. Karena baik kucing putih serta majikannya sudah berada pada alam berbeda. Bukan alam kematian, melainkan sesuatu lebih manusiawi yaitu alam mimpi.
Mengerti tidak ada tanggapan, sosok perempuan dibalik pintu mengambilnya sebuah kuda-kudanya. Ia mengatur pernafasannya, ketika semua persiapan sudah selesai. Sebuah tendangan keras ia layangkan, pintu yang terlihat kokoh itu terdobrak.
Walaupun suara keras dobrakan pintu terdengar, itu masih belum cukup untuk membangunkan laki-laki yang tertidur pulas itu.
"Astaga, kak Reno." Ujarnya
Wulan menghela nafas, tidak bisa ia percaya kalau atasannya tidur pada jam kerja, yang seharusnya tidak diperbolehkan. Namun itu bukanlah fokus utamanya, Wulan menoleh kebelakang melihat sosok pria paruh baya mengenakan jas dengan sebuah kursi roda. Wulan tersenyum kecut.
"Master maaf, sepertinya kak Reno sedang tidur." Ujarnya dengan bibir yang gemetar
Pria yang dipanggil master itu melihat kedepan, melihat sosok yang merupakan pemimpin Citra Organization tengah tertidur dengan belain dari kucing putih. Pria itu tersenyum kecil melihat Reno yang tengah tertidur.
"Tak apa." Ujarnya
Wulan menggigit lidahnya pelan, mengerti pria yang ada didepannya merupakan tamu yang sangat penting. Mengapa Reno harus tidur disaat seperti ini, mungkin itu yang terpikir oleh perempuan anggun berkacamata itu.
"Ngomong-ngomong, tadi itu tendangan yang bagus." Ujarnya sambil mengarahkan jempolnya, Wulan hanya bisa tersenyum kecil ketika pria itu memujinya.
Sama seperti Diaz dan Reno, Wulan juga merupakan ahli beladiri. Mereka bertiga merupakan satu perguruan yang sama, walaupun kodratnya sebagai seorang wanita lebih lemah. Tapi ketrampilannya lebih dari kebanyakan pria.
Ketiganya sangat segan terhadapnya, mengesampingkan dirinya yang hanya bisa duduk dikursi roda. Tapi tetap aura serta perasaan gemetar terasa begitu kuat. Ketiganya merasa hormat padanya, sebagai seorang Master atau mungkin seorang Ayah. Sama seperti Diaz yang menganggap Reno sebagai kakak laki-lakinya atau Wulan sebagai kakak perempuannya.
"Wulan, bangunkan dia." Ujarnya
Wulan mengangguk, ia menepuk pelan pundak Reno berharap untuk segera bangun, namun seperti yang diduga Reno masih saja terlelap, sepertinya ia sangat kelelahan atas semua pekerjaannya yang sangat membebani.
Wulan menatap kearah masternya, ia nampaknya tidak tega membangunkan laki-laki didepannya. Pria itu tersenyum kecil, mengerti akan perhatiannya Wulan kepada putranya. Dari dulu mereka berdua terkenal dekat namun tidak sepenuhnya spesifik, mereka memendam perasaan masing-masing dan mencoba untuk menyembunyikannya. Hanya Diaz dan dirinya yang tahu akan hal ini.
Ia mengambil tongkatnya yang sembari tadi ia bawa. Mengerti yang akan dilakukan oleh master beladiri nya, Wulan hanya bisa menutup matanya dan berdoa agar Reno selamat. Setidaknya kali ini.
Namun pria itu mengurungkan niatnya, pria itu mengatur pernafasannya mengerti fisik serta mentalnya yang tidak lagi muda. Ia kembali menyimpan tongkat besinya, sementara Wulan terlihat bingung. Pria itu tersenyum dan berkata.
"Sampai kapan kau tidur?, Apakah kau ingin aku hajar, Reno?." Ujarnya
Reno yang sembari tidur membuka matanya, ia sedikit melemaskan jemarinya yang cukup kaku. Dengan senyuman cerah dan penuh rasa hormat serta kasih ia menjawab.
"Ingin kopi, Ayah?."
***
__ADS_1
Cakra Danuarta. Sosok politikus serta ahli beladiri yang terkemuka, beberapa kali ia mendapat penghargaan diberbagai bidang, baik itu beladiri, pemecah permasalahan, serta tuntasnya berbagai masalah politik yang berakar pada korupsi. Dirinya merupakan pendiri sekaligus CEO asli dari Citra Organization.
Dan yang kita tahu, Reno bergerak atas perintah Cakra atau ayahnya yang merupakan CEO asli. Maka dari itu, sesekali ia berkunjung kesini untuk sekedar melihat keadaan perusahaannya. Sebenarnya tak masalah baginya untuk menyerahkan keseluruhan Citra Organization kepada Reno. Namun karena berbagai alasan akhirnya ia memutuskan untuk berkata tidak terlebih dahulu.
Kecerdasan intelektual serta cara bertindak dengan matang dan mengerti akan resiko yang diambil. Semuanya telah Reno kuasai. Dalam berbagai aspek Reno telah menjadi sosok CEO yang jauh lebih dari brilian. Namun, Cakra tahu ini belumlah saatnya.
"Jadi kenapa kau datang kesini ayah?. Apakah ada yang membuatmu tertarik?." Ujar Reno sambil menyerahkan kopi hitam panas spesial buatannya, sementara Wulan duduk diantara mereka.
Cakra diam sejenak, mengangkat cangkir berisi kopi panas, aroma buah sangrai kopi menusuk pernapasannya. Hangat dan nyaman, serta perasaan relaksasi yang begitu memuaskan ia dapati walau hanya mencium aroma kopi dicangkir hitamnya. Memang benar, harus diakui bahwa Reno memang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun di perguruannya baik dalam seni beladiri ataupun sekedar menyeduh kopi.
Cakra meminum kopi hitamnya, setelah itu kembali pada topik utama. "Aku dengar Diaz melakukan berbagai hal menarik di Athanor Online." Ujarnya penuh antusias
Reno dan Wulan saling memandang sesaat, mengerti sepenuhnya kalau Ayah atau Master mereka cukup tertarik pada Zephys atau Diaz pada Athanor Online. Reno tersenyum kecut, dan segera menjawab pertanyaan dari sang Ayah.
"Yah, dia melakukan berbagai hal yang menarik. Menarik Darkin Blade sebagai contohnya.." Ujarnya disambut oleh naiknya alis sang Ayah menandakan ia sangat tertarik.
Cakra tersenyum ketika mendengar hal itu, dengan adanya Darkin Blade pada tangan pemain. Maka Main Story Athanor Online semakin meluas, dengan ini sebuah cerita yang ia bangun selama bertahun-tahun akan semakin menarik.
Cakra merupakan orang yang menulis cerita pada Prequel Athanor Online yaitu Antharis Online. Begitu pula dengan Athanor Online. Namun, berbeda dengan dulu ketika ia menulis cerita secara utuh serta padat. Kini ia hanya menulis sifat para NPC dan pemain lah yang akan menentukan jalan cerita.
Dan tokoh penting dari cerita ini adalah pemimpin dari setiap fraksi, Cakra telah memberikan sifat masing-masing kepada mereka, dan yang memutuskan berkawan atau bermusuhan itu tergantung pemain. Dan itu akan sangat berpengaruh terhadap jalan cerita ini.
"Aku pikir Diaz akan berada pada kubu Archon. Tapi jika dia menarik Darkin Blade maka-" Ujarnya terhenti ketika otaknya mulai memproses, "Dia akan menjadi musuh utama digame ini, bukan?." Sahut Reno antusias.
Jujur dia sudah muak tentang pahlawan, semua cerita baik itu novel atau game pahlawan selalu menang. Tapi, kali ini Reno berharap Diaz menjadi musuh utama di Athanor Online. Yah, anggap saja sebagai hasrat pribadi.
"Itu bisa jadi benar, kalau Darkin miliknya berhasil mengambil alih tubuh Diaz atau Zephys tepatnya." Potong Wulan.
Reno menghela nafasnya, jika Zephys berhasil dikendalikan oleh Darkin. Maka otomatis Zephys, karakter Diaz tidak dapat lagi untuk digunakan atau singkatnya telah hilang. Dan akan terganti oleh NPC yang tentunya adalah Darkin tersebut.
"Jadi Ayah, bisakah kau sebutkan apa yang terjadi di Athanor?. Setidaknya pemimpin Fraksi, agar kita tahu sejauh mana game ini telah berkembang selama satu tahun terakhir ini." Ujar Reno
Sebenernya Reno tidak tahu menahu tentang seluk-beluk cerita atau latar dari Athanor Online. Dia hanya membeberkan sedikit kisah yang ia ketahui di Antharis Online itupun dari sang Ayah.
"Hm.."
Cakra sedikit ragu, jujur ini berat baginya. Karena ia juga tidak memiliki bukti yang akurat tentang apa yang terjadi pada tokoh yang terbilang penting bagi alur cerita game ini. Namun setidaknya ia masih bisa memprediksikan secara garis besar.
"Singkat saja, pertama Ratu Tell Annas tertidur kembali. Kedua, jiwa Volkath terpecah menjadi dua tubuh. Ketiga, The Ghost Walker Hayate masih hidup, Dan yang terakhir Omen sempat terbangun."
Baik Reno dan Wulan tak bisa berbicara banyak. Jika saja Diaz ada disini, maka informasi yang terbilang sederhana ini akan sangat membantu. Yah, setidaknya ia tahu harus kepada siapa ia berpihak.
***
Berpindah, kini Diaz dan Melody sampai kesebuah tempat. Dimana tidak ada kesan mewah, Melody menatap tempat itu.
"Taman bermain?."
__ADS_1
Diaz hanya tersenyum kecil, ia memegang tangan Melody dan melangkahkan kakinya masuk menuju taman bermain.
______________________