
Disebuah kisah masa lalu, tidak tertulis dan tidak terbuku. Sebuah dunia Athanor tercipta dari elemental berlawanan, yaitu Cahaya. Sebuah konsep yang terlahir dan fasih dalam berpola. Benar, sebuah kekuatan kuno berbentuk gambar pola tidak terbaca dan rumit. Hanya mereka yang berbakat yang bisa melakukannya, sebuah kekuatan dari tata letak pola dan membentuknya esensial baru. Benar, Sihir.
Beberapa orang menyebutkan bahwa kekuatan ini adalah salah satu pembentuk Athanor. Beberapa entitas tertinggi pernah memiliki kekuatan ini, Bright adalah yang paling mencolok diantara mereka. Memimpin sebuah kelompok kecil beranggotakan orang-orang terpercaya, ia mulai membentuk sebuah desa kecil.
Menyebarkan serta mengajarkan kekuatan yang bernama Sihir. Semua orang tertarik dengan desa kecil yang dibangun oleh Bright. Satu persatu dari mereka bergabung, dibawah pengajaran serta didikan langsung dari Bright, mereka akhirnya menguasai Sihir pada tingkat yang tinggi. Namun ada seseorang yang resah karena tidak mampu menguasainya.
Dengan wajah yang tegang ia memberanikan diri melangkah maju mendekati sang Archmage Bright.
"T-tuan Bright, saya sudah bekerja keras, tapi mengapa sampai saat ini saya belum bisa menguasai Sihir?." Ucap anak berusia belasan tahun itu.
Namun suara yang ia ajukan tidak bisa didengar oleh sang Archmage Bright. Karena puluhan siswa dari sekolah sihir Archon mengerumuni sang Archmage. Ia mengurungkan niatnya untuk mempertanyakan permasalahannya. Dan memilih pergi dari situ dengan segenggam buku sihir yang ia rangkul di dadanya.
Ia duduk disalah satu bangku taman yang terletak. Ia membuka dan membaca satu persatu lembar buku sihir itu untuk bisa memecah dan mengartikannya. Beberapa jam berlalu, namun dirinya masih berada pada tahap yang sama.
Ia membuka telapak tangannya dan mulai menggambar pola yang ia coba pelajari sebelumnya. Ia menutup matanya, mencoba mengumpulkan konsentrasi yang tinggi, perlahan ia memusatkan energi sihirnya pada telapak tangannya. Namun, tidak terjadi apapun.
Menyadari itu, ia menghela nafasnya berat. Perasaannya kecewa terhadap dirinya sendiri, dimana sihir yang merupakan kekuatan yang terkuat saat ini, dan merupakan hal yang umum di Archon. Tapi hanya dia yang tidak bisa menguasainya, perasaan kecewa jelas terlihat diwajahnya yang sayu.
"Hei, lihat itu."
"Bukankah dia Volkath?. Seorang jenius dan murid kesukaan tuan Bright."
__ADS_1
"Benar, kudengar dia telah menjadi dewan sekolah sihir Archon diusianya yang sangat muda."
Beberapa bisikan terdengar ditelinganya. Ia menatap kedepan, melihat seorang anak seusianya berwajah tampan sedang berjalan. Ia tahu siapa dia sebenarnya, berbeda dengannya yang merupakan bentuk kecacatan, dia merupakan bentuk kesempurnaan itu sendiri. Seorang jenius dan berbakat, memiliki pemikiran yang hebat, cerdas, dan sangat berpengaruh. Itulah Volkath.
Ia meremas kuat telapak tangannya. Perasaan iri bergejolak pada hatinya yang besar. Ia sudah berkerja keras jauh daripada siapapun di Archon tapi mengapa dia tidak mendapatkan hasil yang sama. Ia ingin sebuah perhatian, sebuah penghormatan serta perlakuan yang baik, ia telah lelah tertindas dan sihir merupakan satu-satunya harapan yang tersisa.
"Volkath memang jenius, tapi ingatlah semua orang adalah jenius. Namun beberapa dari mereka belum menemukan jalan untuk jeniusnya sendiri." Sebuah nada bijak dan berkharisma terdengar ditelinganya. Ia menoleh ke samping dan menemukan sosok yang ia kagumi. "Tuan Bright?." Ujarnya.
Sang Archmage menolehkan kearah anak itu dengan senyuman indahnya, membuat anak itu gugup karena orang yang paling ia kagumi berada disampingnya. Sang Archmage menatap kembali Volkath yang berjalan pelan.
"Lorion, kau merupakan setengah iblis, bukan?." Ujar sang Archmage membuat Lorion terkejut. Keberadaannya merupakan sebuah tabu bagi Archon, tapi ia masih aman karena tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Tapi mengapa sang Archmage mengetahui hal ini?.
Melihat wajah tegang Lorion membuat sang Archmage tersenyum kecil. "Tidak perlu takut, aku tidak melakukan hal yang buruk padamu." Ujar sang Archmage dan hanya dijawab diam oleh Lorion karena masih tegang.
"Kau penuh dengan kekurangan, Lorion." Ujar sang Archmage dan secara sadar ia melukai perasaan Lorion. Namun ia kembali tersenyum, "Dan Sihir merupakan kekuatan yang tidak menerima sebuah kekurangan." Tambah sang Archmage.
Jawaban dari Archmage membuat hati Lorion terluka, tapi sekali lagi ia kembali merenung sejenak. "Aku menginginkan sihir, jauh lebih apapun dari dunia ini." Ujarnya tersedu menyadari kenyataan yang selama ini ia hindari.
Sebuah tepukan kecil menyentuh kepalanya. Hangat dan nyaman, hanya itu yang ia rasakan. Menoleh kearahnya, ia melihat senyuman cerah dari sang Archmage Bright. "Kalau Sihir tidak menerimamu, maka ada suatu kekuatan misterius yang pasti akan menerimamu." Ujar sang Archmage.
Menyadari kalau ia masih ada pekerjaan yang belum ia selesaikan, membuatnya beranjak berdiri. Meninggalkan kursi taman, namun ia mendengar sebuah teriakan. "Kekuatan apa itu tuan Bright!?." Teriaknya
__ADS_1
Sang Archmage menoleh, sambil tersenyum ia menjawab. "Dia masihlah sihir, namun sangat berlawanan dengan apa yang aku ajari selama ini." Ujarnya dan setelah itu menghilang layaknya cahaya, meninggalkannya Lorion yang bingung atas semua ini.
Entah berapa tahun atau abad lamanya. Sebuah sosok duduk disebuah singasana, ia menatap kedepan, tidak ada sesuatu disana selain kekosongan itu sendiri. Ia telah menemukan dan menguasai sebuah kekuatan dibalik kebenaran dari Athanor, yang disembunyikan rapih oleh sang primordial.
Namun ketika hendak meraihnya, ia malah bernasib sama seperti sang Archmage Bright. Yaitu jatuh oleh muridnya sendiri, ia menghela nafasnya lelah ketika mengingat hal itu.
"Darcy.." Ujar pelannya sambil mengingat nama murid yang mengasingkannya didalam ruang kekosongan. Ingatan kejadian itu masih terbesit dalam pikirannya, pengkhianatan dari sang murid yang paling ia sayangi cukup membuat Lorion terluka. Perasaan cinta serta kasih sayang mungkin tidak lagi tersisa oleh sang murid. Kebencian serta kekecewaan lah yang paling terasa pada setiap detak jantungnya.
"GROAA!."
Sebuah raungan terdengar memecah keheningan ruangan ini selama berabad-abad. Ia terkejut dengan kedatangan raungan itu. Ia tertawa kecil ketika mengetahui ada seseorang yang berhasil menarik sang belati perang, bola-bola hitam melayang disekitar singasana-nya yang mencerminkan ia senang akan kehadiran dia.
"Darkush, suara ini sungguh familiar bukan?" Ujarnya, sebuah suara lain dari dalam dirinya menjawab. "Benar, ini Rodant." Ujarnya, disambut tertawaan kecil oleh Lorion.
_________________________
LORION
Bukan milik saya, milik AOV seorang :)
__ADS_1
Trivia : Lorion merupakan sosok kuat dengan pengaruh sama dengan Volkath.
Shunizu ba vawhor!